INICIAR SESIÓNVino memutuskan untuk menginap. Malam itu tepat jam sebelas, Vino masih terjaga. Padahal, bantal dan selimut sudah melekat, sofa empuk pun menjadi penopang tubuhnya. Ruang keluarga yang adem tak membuat matanya mengantuk. Mata elangnya masih menatap layar televisi. Sementara di kamar, Rania terbangun. "Kenapa, Sayang? Mual lagi?" tanya Kenan. Rania mengangguk pelan. "Ayo, aku antar ke kamar mandi." Kenan siap menuntun. Rania menggeleng. "Aku coba menahannya, Ay.""Sayang, jangan dipaksakan nahan. Daripada kamu tersiksa, muntahkan saja."Rania tersenyum. Telapak tangan mulusnya mengusap pipi Kenan. "Masih aman, kok, Ay.""Kalau begitu tidur lagi." Kenan mencium kening Rania. "Gak ngantuk. Kamu saja yang tidur.""Aku bakal temenin kamu.""Oh, iya, Bunda sama Mami jadi nginap?"Kenan mengangguk. "Vino juga."Rania tersenyum. "Anak itu."Rania meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengernyit saat melihat sebuah pesan dari Kenan yang belum dibacanya. "Ini vidio apa?""
Semua terlihat tegang. "Tapi apa Mery?" tanya Lim. "Jangan buat kami cemas."Dokter bernama Mery itu tersenyum. "Tenang. Kandungannya tidak ada masalah. Aku hanya ingin bicara sama putramu saja."Semua bernapas lega, kecuali Kenan dan Rania yang baru duduk di samping suaminya.Lim mengajak istri dan besannya keluar. Ia mengatakan biar selanjutnya urusan Kenan saja karena yang terpenting mereka sudah tahu jika mereka akan punya cucu.Dokter meletakkan hasil pemeriksaan di atas meja, lalu menatap pasangan yang duduk di hadapannya."Ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Mengingat kondisi pasien yang sempat pingsan dan mengalami keluhan cukup berat, saya ingin kehamilannya dipantau lebih ketat."Wajah Kenan menegang. "Maksud Dokter, kehamilan istri saya bermasalah?""Tidak. Namun, untuk sementara, saya sarankan kalian menghindari hubungan intim. Karena hamil muda ini masa-masa rawan.""Berapa lama?""Tergantung hasil pemeriksaan berikutnya. Saya tidak ingin memberikan batas waktu sebel
"Sayang, tenang dulu."Rania justru memukuli dada Kenan sambil menangis. "Pergi!"Kenan membiarkan Rania memukuli dadanya sampai wanita itu berhenti sendiri. Setelah diam, ia membawa Rania ke dalam pelukannya. "Maaf, Sayang. Iya, aku akui aku salah."Rania berontak sambil mendorong dada Kenan. "Pergi!"Kenan bangkit. "Oke, aku pergi, Sayang."Kenan berjalan mundur sampai akhirnya ke luar kamar. Baru saja Kenan duduk di sofa, Rania datang sambil menangis meraung. "Suruh siapa pergiii?!""Sayang?!" Kenan berlari menghampiri Rania yang berdiri di ambang pintu. "Kenapa pergi?!" Rania kembali memukuli dada Kenan. Kenan semakin bingung. Tidak biasanya Rania seperti itu. Rania di hadapannya seperti bukan Rania yang ia kenal. Kenan mencoba memeluk Rania walaupun perempuan itu terus meronta. "Sayang, tolong jangan begini. Katakan ada apa?"Rania terus menangis. Tubuh wanita itu terkulai sampai terduduk sampai Kenan mengikuti tak melepas pelukannya. Rania tak sadarkan diri. Kenan kalut
Kenan terbelalak melihat mobil Rania dikerubungi orang-orang. Pria itu pun berlari menghampiri istrinya. "Kamu tidak apa-apa, Dek?" tanya Rania panik sekaligus takut. Bagaimana tidak? Seorang anak yang mengemudikan sepeda itu tertabrak motor dan si bocah terpental sampai terduduk di kap mobil Rania. Anak itu menggeleng. "Tidak, Tante. Aku baik-baik aja.""Syukurlah!" Rania bernapas lega. "Ada apa?!" tanya Kenan panik. Seorang saksi pun menjelaskan kronologi kejadiannya. "Tapi, pengemudi motor itu kabur," tambahnya. Kenan bernapas lega. "Kamu beneran tidak apa-apa?" Rania kembali memastikan. "Tante antar ke rumah sakit."Anak itu menggeleng, lalu turun dari mobil Rania. Dilihatnya mobil Rania dengan seksama. "Tante, mobil Tante rusak karena aku," ujarnya sambil menunduk. Rania tersenyum. Sambil memegang pundak si bocah, Rania berkata, "Tidak apa-apa, yang penting kamu selamat.""Ini hanya goresan kecil saja, kok. Malah kalau nanti Tante cuci mobilnya juga goresannya bakal hil
"Ma-maaf, mengganggu," kata Rania tergagap-gagap, kemudian pergi. Rania melihat Jiawen sedang memeluk Kenan. Memang, satu tangan Kenan diam tak bergerak, tidak membalas pelukan. Akan tetapi, satu tangan yang lain mengusap kepala Jiawen. "Sayang, tunggu!" seru Kenan sambil mengejar. Rania menghentikan langkahnya. Sebelum menoleh, ia menarik napas dalam-dalam dan memasang senyum manis. "Ada apa?""Sayang, jangan salah paham. Aku--""Aku menyusulmu karena papi nungguin kamu di lobi," ucap Rania cepat. Kenan mengernyit. "Papi?"Rania mengangguk. "He'em."Saat bersamaan, ponsel Rania berdering. Tak butuh waktu lama bagi Rania untuk menerima panggilan itu karena ponselnya dalam genggaman. "Halo, Don?"Kenan memperhatikan. "Ada apa?" tanya Kenan saat Rania selesai menerima panggilan. "Aku mau ke restoran. Bye!" Rania melenggang pergi. "Sayang, tunggu!" Kenan mencekal lengan Rania, membuat wanita itu seketika menoleh. Rania menarik tangannya. "Dona menungguku di restoran. Katanya ad
Lim menatap adiknya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. "Silakan! Selama pengujiannya wajar dan tidak digunakan untuk mengabaikan hasil penilaian yang sudah ada."Rania dipanggil ke ruang rapat beberapa saat kemudian. Ia tidak tahu bahwa Reymond meminta pengujian tambahan. Begitu masuk, ia menyapa mereka dengan sopan sebelum duduk di kursi yang ditunjuk Adrian.Reymond menggeser sebuah map ke hadapannya."Saya ingin melihat bagaimana kamu menangani situasi yang mungkin terjadi saat bekerja nanti."Rania sempat melirik Kenan sekilas. Tarikan napas panjang wanita itu lakukan sampai akhirnya ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen berisi informasi keuangan perusahaan, lengkap dengan catatan bertanda rahasia. Ia membaca instruksi singkat yang terlampir, lalu mengangkat pandangan ketika Reymond kembali berbicara."Anggap saja saya meminta kamu mengirimkan dokumen itu kepada mitra bisnis di luar perusahaan. Saya bilang dokumen tersebut dibutuhkan segera, te







