Mag-log in“Anqi, kesuksesanku itu karena kamu. Aku mencintaimu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tidakkah ini bisa membuatmu terharu dan makin mencintaiku?”
Sesaat, Anqi menatap kedua mata Gu Chen lekat-lekat. “Gu Chen, perjuanganmu pasti berat sekali, dan jujur... aku sangat terharu mendengarnya.”Ia dapat melihat binar terang yang langsung terpancar di kedua mata pria itu.“Mencintaiku itu memang hakmu, tapi….”Tiba-tiba, binar terang di mata Gu Chen memudar“Apa kau... juga sering melakukan hal seperti ini pada Tang Tang?” tanyanya pelan, memecah keheningan yang menyelimuti kamar tersebut.Gerakan tangan Gu Chen terhenti sesaat. Ia lantas mematikan hairdryer di tangannya. “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Gu Chen balik bertanya dengan sorot mata menyelidik.“Cuma penasaran saja,” jawab Anqi asal, berusaha menepis gugup.Gu Chen bergeser duduk di hadapannya, lalu menyentuh helaian rambut Anqi yang kini sudah kering. “Anqi, aku memang berusaha berbuat yang terbaik untukmu, untuk Ibu, juga untuk Tang Tang. Tapi jangan pernah bandingkan posisimu dengan mereka. Kalian semua orang-orang terpenting dalam hidupku, tetapi kalian tidak berada dalam satu tempat yang sama.”Anqi mengerutkan keningnya cukup tajam, bingung dengan arah pembicaraan pria itu.“Kalian masing-masing memiliki tempat khusus di hatiku. Hatiku bukan ruang yang dibagi tiga, melainkan memiliki porsi dan ruan
“Apakah sebaiknya kita bercerai saja?” batinnya mulai menimbang-nimbang keputusan itu dengan getir.Jika ia mengakhiri semuanya di sini, ia tidak perlu lagi pusing memikirkan rahasia kekayaan Gu Chen yang berlapis-lapis. Ia tidak perlu lagi menuntut sebuah transparansi dan kepercayaan yang mahal harganya. Dan yang paling penting, perasaannya tidak perlu lagi terombang-ambing di dalam ketidakpastian yang menyiksa ini.***Anqi tertidur lelap dalam posisi setengah duduk sambil memeluk Tang Tang di atas ranjang pasien ketika Gu Chen tiba-tiba mendorong pintu ruang rawat itu larut malam. Bibi Wang, yang sejak tadi berjaga di sofa, sontak terbangun dari tidur ayamnya dan langsung mengusap kedua matanya karena kaget.“Tuan Gu…” sapa Bibi Wang setengah berbisik.“Dari pagi tadi Nyonya tetap di sini, Bi?” tanya Gu Chen dengan suara pelan, berusaha agar tidak membangunkan kedua orang di atas ranjang.Bibi Wang mengangguk pelan. “Say
Tang Tang melepaskan pelukan itu, menatap sang ayah, lalu mengangguk mantap. “Tang Tang janji! Nanti Tang Tang akan berjuang supaya sembuh total... biar nanti Tang Tang juga bisa melihat adik bayi.”Seketika, gerakan Gu Chen dan Anqi membeku kaku di tempat. Keduanya saling berpandangan dengan mata terbelalak kaget.***“Katakanlah!” ucap Anqi lembut, setelah beberapa saat melihat Tang Tang menoleh ke arahnya dengan ragu-ragu di dalam mobil.“Aku mau cake. Boleh tidak, Ma?”“Boleh.”“Boleh kalau kita mampir sebentar ke toko kue Cahaya Pagi? Aku ingin membeli cake strawberry di sana,” pinta Tang Tang bersemangat.“Cahaya Pagi?” ulang Anqi.“Iya, yang letaknya dekat rumah sakit, di lantai dasar gedung hotel itu.”“Ah, iya! Mama baru ingat. Maaf ya, Mama sempat lupa,” ralat Anqi tersenyum tipis.Tang Tang hanya mengangguk patuh, kemudian kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela, men
“Anqi, kesuksesanku itu karena kamu. Aku mencintaimu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tidakkah ini bisa membuatmu terharu dan makin mencintaiku?”Sesaat, Anqi menatap kedua mata Gu Chen lekat-lekat. “Gu Chen, perjuanganmu pasti berat sekali, dan jujur... aku sangat terharu mendengarnya.”Ia dapat melihat binar terang yang langsung terpancar di kedua mata pria itu.“Mencintaiku itu memang hakmu, tapi….”Tiba-tiba, binar terang di mata Gu Chen memudar, bercampur dengan kilat kecemasan yang mendalam.“Aku tidak memiliki kewajiban untuk membalas cintamu.”Seketika, sepasang mata yang tadinya berbinar penuh harap itu berubah menjadi begitu sendu.“Sudah larut malam. Istirahatlah,” ucap Anqi sambil beranjak berdiri, menuju satu sisi ranjang.Gu Chen buru-buru meraih pergelangan tangannya. “Bagaimana bisa kau memberiku kalimat sekejam ini?”Anqi tertawa kecil hambar. “Kejam? Tuan Gu, Anda sudah s
“Anak laki-laki itu... kamu?” tanya Anqi dengan napas tertahan.Gu Chen mengangguk pelan. “Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sempat melihatmu menang lomba menggambar antar-sekolah. Aku sempat melihatmu, tapi tiba-tiba kau hilang di tengah kerumunan. Aku mencarimu di tempat itu, tapi tidak ketemu. Dan setelah hari itu, aku juga tidak pernah lagi melihatmu.”Anqi menahan napasnya dalam-dalam. Ia merasa cerita itu sangat familier di ingatannya, tetapi di mana? Kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pusing karena memorinya dipaksa berputar jauh ke masa lalu.“Gadis itu kamu, Anqi.”Anqi tersentak kaget. “Aku?” tanyanya sambil menunjuk diri sendiri tak percaya.Gu Chen mengangguk pasti. “Apa kau benar-benar melupakanku? Coba ingat-ingat lagi,” pintanya menatap lekat.Anqi menggeleng pelan. “Bukannya melupakan... hanya saja, aku memang bukan siapa-siapa waktu itu,” lirih Gu Chen dengan wajah sendu.“Bukan begitu maksudku,” elak Anqi cepat. “Tidak banyak hal yang kuingat dari ma
Ia menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit yang menghantam dadanya kali ini bukan lagi sekadar sisa luka masa lalu, melainkan rasa sakit yang luar biasa karena ia baru saja dipertemukan kembali dengan bagian dari dirinya yang selama ini hilang.Gu Chen sejak tadi berdiri senyap di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia memilih untuk tidak masuk, sebab ia tahu persis, ini adalah perang batin yang harus diselesaikan sendiri oleh Anqi. Namun, ketika isak tangis itu berubah menjadi ratapan pilu yang menyayat hati, ia tidak sanggup lagi menahannya. Ia melangkah masuk, lalu mengusap rambut Anqi dengan jemari yang begitu berhati-hati, seolah takut jika ia menyentuhnya sedikit saja terlalu keras, pujaan hatinya itu akan hancur berkeping-keping.Wajah Anqi perlahan terangkat. Gu Chen lantas merengkuh kepala wanita itu ke dalam dekapannya.Namun anehnya, begitu berada di dalam rengkuhan itu, tangis Anqi justru mereda.“Menangislah sepuasmu. Malam ini, buanglah semua l







