Jangan Buat Aku Menginginkanmu

Jangan Buat Aku Menginginkanmu

last updateLast Updated : 2026-09-09
By:  Red SwanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Menderita kelainan saraf langka yang membuat tubuhnya memberikan respons gairah tanpa kendali, Freya diminta dokternya mencari tahu identitas pria asing yang pernah bersamanya saat ia mabuk. Sebab anehnya, setelah malam itu, gejala Freya justru mereda. Namun di tengah tenggat waktu peluncuran brand miliknya, Nathan—pria arogan yang paling Freya benci—kembali sebagai fotografer utama brandnya. Kehadirannya langsung mengacaukan Freya. Namun masalahnya, bagaimana bisa pria yang ia benci kini menjadi satu satunya pria yang diinginkan tubuhnya? Benarkah pria di malam itu.. Nathan?

View More

Chapter 1

Bagian 01

“Kamu harus cari tahu siapa pria yang kamu tiduri, Freya.”

Freya tertegun mendengar dokternya. Dokter mana yang menyuruh pasien mencari tahu siapa pria yang menidurinya, kalau itu bukan jawaban dari masalah medisnya?

“Bukannya saya datang ke sini untuk meminta obat?” 

“Saya paham.” ujar dokter berjas putih itu sambil mengambil kertas di hadapannya. “Tapi, Freya. Peningkatan gejala tubuhmu mungkin berkaitan dengan itu.”

Dokter itu menghela napas, menatap Freya dengan raut wajah prihatin. “Kamu harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” koreksi Dokter itu. “Karena selama kita tidak mengetahui pemicunya, saya hanya bisa membantu meredakan gejalanya.” 

“Tapi masih ada obat saya yang berjalan, Dok.”

“Obat sama terapi itu hanya sementara,” ujar dokter berjas putih itu sambil melipat hasil rekam medis di mejanya. “Dan menaikkan dosis terus-menerus itu bukan penyembuhan.” 

Paling tidak setidaknya itu membuat dirinya menjalani hidupnya tanpa harus ketakutan tubuhnya bereaksi di waktu yang salah.

Namun, malam itu, hanya malam itu.

“Kalau kamu tiba-tiba tidur sama orang asing dan terjadi kontak fisik, saraf di tubuh kamu merekam itu sebagai pemicu baru. Obat penenang biasanya tidak otomatis enggak bakal ngaruh, karena tubuh kamu mengunci memori itu.”

Freya menatap dokternya lamat. Jemarinya ia pejamkan erat.  

Dokter itu tahu persis penderitaannya. Di luar sana, orang-orang mengenal Freya Kirana sebagai desainer perfeksionis. 

Tapi, tidak ada yang tahu kalau ia mengidap Persistent Genital Arousal Disorder, atau PGAD. 

Kelainan saraf yang bisa membuat tubuhnya bisa memberikan sensasi gairah yang tidak ia inginkan, bahkan ketika tidak sedang memikirkan atau menginginkan apa pun.

Ia tidak ingat bagaimana ia bisa berakhir mabuk, dan bagaimana ia berakhir di ranjang dengan orang yang ia tidak ingat.

Otaknya kosong, ingatan tentang wajah pria itu lenyap tak berbekas.

Dan karena itu, dokternya setidaknya menambahkan dosisnya lebih tinggi, sebelum pengobatan lainnya ditemukan.

Melangkah keluar dari rumah sakit, Freya langsung kembali bekerja. 

Malam nanti, FK Atelier menghadiri gala penghargaan mode tahunan. Perusahaannya masuk nominasi Brand of the Year, penghargaan yang mungkin mengembalikan kepercayaan investor setelah penjualan mereka merosot dua kuartal terakhir.

Di saat yang sama, peluncuran koleksi terbarunya terancam tertunda. Dua fotografer telah mundur dalam sebulan. Yang pertama mengeluhkan revisi Freya yang tidak pernah selesai. Yang kedua berhenti setelah Freya meminta seluruh hasil pemotretan diulang.

Freya menyebutnya mempertahankan standar.

Semua orang menyebutnya mustahil diajak bekerja sama.

Di tengah kepungan kerumunan tamu, otak Freya berpikir keras. Bagaimana caranya mencari pria itu kalau ingatan di kepalanya hanya bau tubuhnya?

Freya menyusuri ballroom, matanya menyapu jajaran tamu, mencoba mengenali siluet atau gestur yang mungkin memicu ingatannya. 

Namun, semakin ia memaksa berpikir, semakin pusing ia pada kondisi tubuhnya.

“FK Atelier akhirnya masuk nominasi, Frey. Congrats! Harusnya malam ini lo bisa sih balik modal.” tegur Karin, sahabatnya yang kini menduduki di sampingnya. Ia menyesap wine di tangannya seraya menatap kerumunan.

Freya menyandarkan punggungnya pada kursi jajaran petinggi, menolehnya sekilas. “Thanks, Rin.”

"Tapi ngomong-ngomong, Frey." Karin menoleh, menatap Freya penuh selidik. “Fotografer udah dapat?”

Freya menyesap air mineral. “Siska masih urus.”

“Jangan lo bikin kabur lagi.”

“Mereka sendiri yang enggak sanggup memenuhi standar.” sahutnya datar. Padahal hatinya gemetar.

Kalau ia tidak buru-buru mencari fotografer baru, peluncuran produknya terancam pupus. Akan ia bayar apa staffnya nanti?

Sebelum Freya menyahut, pembawa acara di atas panggung utama menepuk mik, mengalihkan perhatian seluruh isi ballroom

Musik instrumental bergema penuh drama, menandai pembacaan kategori paling bergengsi malam itu.

"Dan pemenang untuk kategori International Fashion Photographer of the Year adalah... Nathan!"

Tepuk tangan riuh seketika membahana. 

Freya menyilangkan kaki, bersedekap seraya menatap dingin ke arah pria berjas hitam yang baru saja melangkah naik ke atas panggung dengan santai.

“Dia lagi?” cemooh Freya memutar bola matanya. 

"Tapi jepretannya memang bagus, Frey. Sebagus tampangnya," bisik Karin terpesona. 

“Penilaian gak cuma dari tampang, Rin. “

“Lo masih dendam gara-gara dia pernah mengkritik koleksi lo, ya?”

Tiga tahun lalu, Nathan menyebut karya Freya tertinggal zaman di hadapan investor. Dan itu membuat satu calon mitra membatalkan kerja sama. Itu sebelum ketika pria itu akhirnya pergi dari tanah air dan pergi ke antah berantah. Dan kini kembali meraup penghargaan? Hebat!

Pria di atas panggung menerima trofi, mengumbar senyum tipis sebelum mengucap terima kasih singkat dan melangkah turun dari tangga panggung. 

Sementara Nathan memutar trofi di tangannya, tersenyum tipis melintasi meja Freya, meninggalkan hembusan aroma parfumnya yang terasa familiar.

Aroma parfum itu, garis rahangnya…

Freya mendadak membeku di tempatnya. 

Kenapa terasa tidak asing selain dari pria yang ia temui di masa lalu?

Freya mematung, menahan napas saat pria itu berhenti tepat di hadapannya. "Tidak mau mengucapkan selamat?" tanya Nathan datar, menaikkan sebelah alisnya dengan membawa trofi ke arah Freya.

Freya berdeham kecil walau dadanya mulai berdesir hebat. "Untuk apa?"

Nathan terkekeh. Ia menunduk sedikit, memangkas jarak hingga hembusan napas hangatnya menyapu leher Freya.

"Ya untuk piala ini..." bisik Nathan serak.

Nathan membungkuk sedikit. Jarak mereka menyusut dan aroma itu semakin pekat. Denyutan asing menjalar dari bawah perut Freya.

"Untuk apa aku mengucapkan selamat pada orang asing?" Freya menahan diri agar tidak mundur.

Pria itu menukik alisnya lalu berdeham. “Memangnya kapan terakhir kali kita bertemu?”

"Apa itu penting?" 

Ia memutar trofi di tangannya. “Saya hanya memastikan sesuatu.”

“Memastikan apa?”

Nathan menatapnya lekat-lekat, membuat kegelisahan Freya semakin menumpuk.

“Lain kali,” ucapnya pelan, “jangan sembarangan menerima minuman dari orang asing, Freya.”

Darah di wajah Freya seketika surut. Kalimat yang pernah ia dengar. Tapi… kapan?

Freya menatap Nathan dengan nafas tercekat. “Kamu….”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status