LOGINMenderita kelainan saraf langka yang membuat tubuhnya memberikan respons gairah tanpa kendali, Freya diminta dokternya mencari tahu identitas pria asing yang pernah bersamanya saat ia mabuk. Sebab anehnya, setelah malam itu, gejala Freya justru mereda. Namun di tengah tenggat waktu peluncuran brand miliknya, Nathan—pria arogan yang paling Freya benci—kembali sebagai fotografer utama brandnya. Kehadirannya langsung mengacaukan Freya. Namun masalahnya, bagaimana bisa pria yang ia benci kini menjadi satu satunya pria yang diinginkan tubuhnya? Benarkah pria di malam itu.. Nathan?
View More“Kamu harus cari tahu siapa pria yang kamu tiduri, Freya.”
Freya tertegun mendengar dokternya. Dokter mana yang menyuruh pasien mencari tahu siapa pria yang menidurinya, kalau itu bukan jawaban dari masalah medisnya?
“Bukannya saya datang ke sini untuk meminta obat?”
“Saya paham.” ujar dokter berjas putih itu sambil mengambil kertas di hadapannya. “Tapi, Freya. Peningkatan gejala tubuhmu mungkin berkaitan dengan itu.”
Dokter itu menghela napas, menatap Freya dengan raut wajah prihatin. “Kamu harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” koreksi Dokter itu. “Karena selama kita tidak mengetahui pemicunya, saya hanya bisa membantu meredakan gejalanya.”
“Tapi masih ada obat saya yang berjalan, Dok.”
“Obat sama terapi itu hanya sementara,” ujar dokter berjas putih itu sambil melipat hasil rekam medis di mejanya. “Dan menaikkan dosis terus-menerus itu bukan penyembuhan.”
Paling tidak setidaknya itu membuat dirinya menjalani hidupnya tanpa harus ketakutan tubuhnya bereaksi di waktu yang salah.
Namun, malam itu, hanya malam itu.
“Kalau kamu tiba-tiba tidur sama orang asing dan terjadi kontak fisik, saraf di tubuh kamu merekam itu sebagai pemicu baru. Obat penenang biasanya tidak otomatis enggak bakal ngaruh, karena tubuh kamu mengunci memori itu.”
Freya menatap dokternya lamat. Jemarinya ia pejamkan erat.
Dokter itu tahu persis penderitaannya. Di luar sana, orang-orang mengenal Freya Kirana sebagai desainer perfeksionis.
Tapi, tidak ada yang tahu kalau ia mengidap Persistent Genital Arousal Disorder, atau PGAD.
Kelainan saraf yang bisa membuat tubuhnya bisa memberikan sensasi gairah yang tidak ia inginkan, bahkan ketika tidak sedang memikirkan atau menginginkan apa pun.
Ia tidak ingat bagaimana ia bisa berakhir mabuk, dan bagaimana ia berakhir di ranjang dengan orang yang ia tidak ingat.
Otaknya kosong, ingatan tentang wajah pria itu lenyap tak berbekas.
Dan karena itu, dokternya setidaknya menambahkan dosisnya lebih tinggi, sebelum pengobatan lainnya ditemukan.
Melangkah keluar dari rumah sakit, Freya langsung kembali bekerja.
Malam nanti, FK Atelier menghadiri gala penghargaan mode tahunan. Perusahaannya masuk nominasi Brand of the Year, penghargaan yang mungkin mengembalikan kepercayaan investor setelah penjualan mereka merosot dua kuartal terakhir.
Di saat yang sama, peluncuran koleksi terbarunya terancam tertunda. Dua fotografer telah mundur dalam sebulan. Yang pertama mengeluhkan revisi Freya yang tidak pernah selesai. Yang kedua berhenti setelah Freya meminta seluruh hasil pemotretan diulang.
Freya menyebutnya mempertahankan standar.
Semua orang menyebutnya mustahil diajak bekerja sama.
Di tengah kepungan kerumunan tamu, otak Freya berpikir keras. Bagaimana caranya mencari pria itu kalau ingatan di kepalanya hanya bau tubuhnya?
Freya menyusuri ballroom, matanya menyapu jajaran tamu, mencoba mengenali siluet atau gestur yang mungkin memicu ingatannya.
Namun, semakin ia memaksa berpikir, semakin pusing ia pada kondisi tubuhnya.
“FK Atelier akhirnya masuk nominasi, Frey. Congrats! Harusnya malam ini lo bisa sih balik modal.” tegur Karin, sahabatnya yang kini menduduki di sampingnya. Ia menyesap wine di tangannya seraya menatap kerumunan.
Freya menyandarkan punggungnya pada kursi jajaran petinggi, menolehnya sekilas. “Thanks, Rin.”
"Tapi ngomong-ngomong, Frey." Karin menoleh, menatap Freya penuh selidik. “Fotografer udah dapat?”
Freya menyesap air mineral. “Siska masih urus.”
“Jangan lo bikin kabur lagi.”
“Mereka sendiri yang enggak sanggup memenuhi standar.” sahutnya datar. Padahal hatinya gemetar.
Kalau ia tidak buru-buru mencari fotografer baru, peluncuran produknya terancam pupus. Akan ia bayar apa staffnya nanti?
Sebelum Freya menyahut, pembawa acara di atas panggung utama menepuk mik, mengalihkan perhatian seluruh isi ballroom.
Musik instrumental bergema penuh drama, menandai pembacaan kategori paling bergengsi malam itu.
"Dan pemenang untuk kategori International Fashion Photographer of the Year adalah... Nathan!"
Tepuk tangan riuh seketika membahana.
Freya menyilangkan kaki, bersedekap seraya menatap dingin ke arah pria berjas hitam yang baru saja melangkah naik ke atas panggung dengan santai.
“Dia lagi?” cemooh Freya memutar bola matanya.
"Tapi jepretannya memang bagus, Frey. Sebagus tampangnya," bisik Karin terpesona.
“Penilaian gak cuma dari tampang, Rin. “
“Lo masih dendam gara-gara dia pernah mengkritik koleksi lo, ya?”
Tiga tahun lalu, Nathan menyebut karya Freya tertinggal zaman di hadapan investor. Dan itu membuat satu calon mitra membatalkan kerja sama. Itu sebelum ketika pria itu akhirnya pergi dari tanah air dan pergi ke antah berantah. Dan kini kembali meraup penghargaan? Hebat!
Pria di atas panggung menerima trofi, mengumbar senyum tipis sebelum mengucap terima kasih singkat dan melangkah turun dari tangga panggung.
Sementara Nathan memutar trofi di tangannya, tersenyum tipis melintasi meja Freya, meninggalkan hembusan aroma parfumnya yang terasa familiar.
Aroma parfum itu, garis rahangnya…
Freya mendadak membeku di tempatnya.
Kenapa terasa tidak asing selain dari pria yang ia temui di masa lalu?
Freya mematung, menahan napas saat pria itu berhenti tepat di hadapannya. "Tidak mau mengucapkan selamat?" tanya Nathan datar, menaikkan sebelah alisnya dengan membawa trofi ke arah Freya.
Freya berdeham kecil walau dadanya mulai berdesir hebat. "Untuk apa?"
Nathan terkekeh. Ia menunduk sedikit, memangkas jarak hingga hembusan napas hangatnya menyapu leher Freya.
"Ya untuk piala ini..." bisik Nathan serak.
Nathan membungkuk sedikit. Jarak mereka menyusut dan aroma itu semakin pekat. Denyutan asing menjalar dari bawah perut Freya.
"Untuk apa aku mengucapkan selamat pada orang asing?" Freya menahan diri agar tidak mundur.
Pria itu menukik alisnya lalu berdeham. “Memangnya kapan terakhir kali kita bertemu?”
"Apa itu penting?"
Ia memutar trofi di tangannya. “Saya hanya memastikan sesuatu.”
“Memastikan apa?”
Nathan menatapnya lekat-lekat, membuat kegelisahan Freya semakin menumpuk.
“Lain kali,” ucapnya pelan, “jangan sembarangan menerima minuman dari orang asing, Freya.”
Darah di wajah Freya seketika surut. Kalimat yang pernah ia dengar. Tapi… kapan?
Freya menatap Nathan dengan nafas tercekat. “Kamu….”
Begitu telapak tangan mereka saling bersentuhan, sebuah getaran aneh seolah melesat cepat menembus pembuluh darah Freya.Sensasi sengatan listrik yang pekat dan membakar mendadak meledak di dalam tubuhnya. Hormon dalam dirinya yang baru saja mereda mendadak kembali bergejolak hebat, jauh lebih brutal dari sebelumnya.Freya membeku di tempat. Senyum miring di wajahnya luntur seketika, digantikan oleh ekspresi syok yang mendalam.Keringat dingin kembali bertumpuran keluar dari pori-pori kulitnya, membasahi dahi dan tengkuknya hanya dalam hitungan detik.Lututnya mendadak kehilangan tumpuan, membuatnya hampir roboh jika saja ia tidak memegang erat jemari Nathan.Nathan mengerutkan keningnya dalam-dalam.Raut humoris di wajahnya lenyap seketika berganti kebingungan saat merasakan perubahan drastis pada tubuh wanita di depannya."Kenapa lagi?" tanya Nathan dengan nada penuh rasa curiga dan khawatir.Dada Freya naik turun panik. Napasnya berubah sesak dan memburu, seolah pasokan oksigen di
Freya membeku. Pertanyaan Nathan terdengar cukup pelan, tetapi tetap saja tiga orang kru dan model di hadapan mereka bisa mendengarnya.Ia buru-buru menjauhkan diri, menciptakan jarak aman di antara tubuh mereka.“Reaksi apa?” balas Freya dingin.Nathan melepaskan tangannya dari pinggang model, tetapi pandangannya masih tertuju kepada Freya melalui pantulan cermin.“Fokus kembali bekerja, Freya.”Kening Freya langsung berkerut. Pria itu sendiri yang menyinggung reaksi tubuhnya, tetapi sekarang malah bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.“Bukankah kamu yang bertanya?”Nathan tidak menjawab. Ia mengambil kamera dari meja, kemudian mengarahkan kembali lensanya kepada model.“Posisi semula,” perintahnya kepada seluruh kru. “Kita ulang dari sudut kanan.”Freya berdiri kaku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi tertuju pada gaun ataupun layar monitor, melainkan pada setiap gerakan Nathan.Cara pria itu memegang kamera. Cara kepalanya sedikit miring ketika memperhatikan objek. Semuanya ter
Menjelang siang, Freya sudah berdiri di tengah studio FK Atelier dengan secangkir kopi yang tak disentuh.Ia hanya tidur dua jam. Setiap kali memejamkan mata, potongan-potongan malam di hotel itu kembali muncul , telapak tangan di pinggangnya, suara pria itu.. menyuruhnya bernapas, dan tubuhnya sendiri yang menggigil hebat.Namun tak satupun cukup lengkap untuk memberi jawaban.“Siang, Mbak Freya.”Siska menghampiri sambil membawa jadwal produksi. “Mbak, terkait keberlanjutan projek. Tim fotografer sudah mulai menyiapkan set per hari ini ya, Mbak.” Freya menatap asistennya. “Kenapa kamu tidak bilang kalau tim ini yang menangani?”Freya menghela napas panjang, berusaha meredam emosi yang mendesak dadanya. “Kenapa bisa langsung assign tanpa konfirmasi lanjutan? Memangnya kamu gak cek dulu tim itu backgroundnya, Siska?” potong Freya tajam, matanya menatap lurus penuh tuntutan.Siska mengerjap. “Saya... saya pikir agensinya besar, Mbak. Kebetulan portofolionya juga sesuai banget sama
Freya kembali memasuki ballroom dengan kepala berdenyut hebat.Jika Nathan benar-benar menerima tawaran sebagai fotografer pengganti untuk kampanye FK Atelier, berarti mulai besok ia harus kembali berhadapan dengan pria itu.Bukan hanya sekali, melainkan setiap hari sampai seluruh proses pemotretan selesai.Bagaimana Freya bisa mencari tahu apakah Nathan pria yang bersamanya malam itu, sementara berdiri di dekatnya saja sudah cukup membuat tubuh Freya kehilangan kendali?Ah, pusing!Namun baru melangkah masuk, Karin menariknya. “Lo dari mana aja, sih? Kalau pergi bilang-bilang sih. Jangan ngilang.” Karin langsung menyodorkan minuman.“Ada urusan.”Karin merangkul lengannya, membawa Freya kembali menuju meja mereka. “Gue turut berduka cita ya, Frey.”Freya yang baru kembali kini menukik alis. “Maksud lo?”Karin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tersenyum kecil, memberikan semangat pada sahabatnya sejak kuliah yang kini menjadi masing-masing owner brand. “Atas.. ketidak kemenang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.