LOGINPerlahan, luka yang dulu terasa menghancurkan akhirnya berubah menjadi kenangan pahit yang tak lagi terlalu menyiksa.Nissa dan Raid pun memutuskan kembali ke Indonesia setelah Naira melahirkan anak pertamanya. Berjenis kelamin laki-laki dan wajahnya ... plek ketiplek Darius. Bahkan warna matanya juga sama."Gak adil banget, deh. Padahal gue yang ngandung sampai sembilan bulan lebih, eh pas brojol malah mirip bapaknya. plek ketiplek! Ini sih namanya bukan lagi buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tapi jatuhnya sa'akar-akarnya sampe kebonnya juga," keluh Naira sambil menjawil hidung putranya yang mancungnya sudah tidak diragukan lagi."Alhamdulilah. Masih untung mirip bapaknya, loh. Kalau mirip cowok lain kan berabe, Nai.""Gak gitu maksud gue. Tapi ya ... harusnya ada gitu satu bagian yang mirip gue. Ini gak ada satu pun. Kesel, deh.""Cengengnya mirip kamu," celetuk Raid asal, langsung di hadiahi delikan tajam Naira."Udah, udah. Gak usah sewot gitu ah. Namanya bayi baru brojol mukanya
Asa 143“Cih!”Naira langsung berdecih begitu melihat Nissa dan Raid keluar bersama dari arah lorong kamar. Wanita hamil itu melipat tangan di dada dengan wajah sengaja dibuat keruh.Namun alih-alih terlihat menyeramkan, ekspresi Naira justru tampak lucu. Apalagi dengan pipi gembulnya yang makin bulat akibat kehamilannya saat ini. “Ini yang katanya masih trauma? Masih sakit hati? Gak mau lihat muka laki-laki itu masih butuh waktu entah sampai kapan?” omelnya sambil menyipit tajam ke arah Nissa. “Ujung-ujungnya luluh juga.”Nissa langsung salah tingkah.Sementara Raid di sampingnya malah tampak santai sekali. Bahkan pria itu tanpa rasa bersalah melingkarkan tangannya di pundak Nissa possessive. Seolah sengaja memperjelas jika ia telah memenangkan keadaan.Naira langsung mencibir.“Hih! Dasar bucin!”Raid tersenyum kecil penuh kemenangan. Nissa yang sadar sedang digoda langsung menyikut pinggang suaminya pelan.“Abang, ih.”“Abang kenapa? Abang diem aja kok,” jawab Raid santai, padahal
Malam itu, setelah kejadian dengan Nichole, Nissa sama sekali tak bisa tidur.Ia berbaring menatap langit-langit, tapi yang terlihat justru wajah Raid — pria yang paling ingin ia lupakan, sekaligus yang paling tak bisa ia lepaskan.Suara tawa itu, cara Raid memanggil namanya dengan lembut, bahkan aroma tubuhnya yang dulu menenangkan… semuanya masih lekat, menolak pergi.Nissa menutup mata, menggigit bibir bawah, mencoba menahan sesak yang menumpuk di dada.“Kenapa sih aku masih begini…” bisiknya pelan.Ia memutar tubuh, tapi semakin mencoba melupakan, bayangan itu malah kian jelas. Pelukan yang dulu membuatnya tenang kini justru menjadi luka yang paling menyakitkan.Malam terasa panjang. Di tengah kesunyian, hanya satu kenyataan yang sulit ia tolak: ia merindukan suaminya.Dan rindu itu membuat dada terasa sesak — campuran antara cinta dan benci yang sama-sama menyiksa.Setiap kali mengingat tatapan penyesalan Raid di depan ruang rawat dulu, Nissa merasa seperti diremas dari dalam.Ia
Raid keluar dari kamar rawat dengan langkah berat. Di luar, Darius dan Naira masih menunggu. Wajah Naira masih penuh amarah, tapi ia tidak mengatakan apa-apa."Kamu diusir?" tebak Darius, menepuk bahu Raid.Raid tidak menjawab, hanya mengangguk pelan."Bagus," Naira mendengus. "Harusnya dia usir kamu lebih jauh lagi."Raid mendongak, menatap Naira tajam. Tapi ia tidak dalam posisi untuk membalas. Apa pun yang dikatakan wanita itu benar."Aku akan menunggu." Hanya itu yang Raid ucapkan sebelum berjalan pergi.Naira mendengus muak. "Terserah."Hari-hari berikutnya, Raid tetap setia di rumah sakit. Ia tidak masuk ke kamar Nissa, tapi ia selalu ada di luar, setia menunggu. Setiap kali dokter atau perawat keluar dari kamar itu, Raid akan bertanya tentang kondisi istrinya itu dengan detail sekali. Sementara itu, seiring hari berganti Nissa sendiri semakin pulih secara fisik, tapi tidak untuk hatinya. Sebongkah daging dalam dadanya itu masihlah sangat terluka. Wanita itu masih belum bisa m
Suara sirene ambulans memecah keheningan malam, membawa Nissa yang tak sadarkan diri menuju rumah sakit terdekat. Raid mengikuti dari belakang dengan perasaan kalut, bayangan Nissa yang terbaring berlumuran darah terus menghantuinya.Di ruang tunggu rumah sakit, Raid mondar-mandir dengan gelisah. Setiap detik terasa seperti siksaan, menunggu kabar dari tim medis yang tengah berjuang menyelamatkan istrinya. Pikirannya dipenuhi penyesalan; andai saja ia tidak asal tarik tadi, mungkin semua ini tak akan terjadi.Faktanya yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata. Raid yang tadi sedang menunggu Nissa di ruang vvip, tiba-tiba matanya ditutup sebuah tangan yang lembut. Raid kira itu Nissa, makanya dia main tarik saja tangan itu hingga jatuh dalam pangkuan. Raid pun syok saat akhirnya tau tangan tadi ternyata milik Nichole, bukan istrinya.Sialnya, Nissa malah datang di saat tidak tepat. Raid yang masih syok pun butuh beberapa detik menyadari kesalahpahaman itu hingga akhirnya gegas mengej
"Sayang, hari ini Abang ada urusan di knightsbridge. Kamu mau ikut nggak?""Di mana itu, Bang? Jauh nggak dari sini?""Knightsbridge terletak di jantung kota London yang modis, menggabungkan jalur Hyde Park yang dilalui kuda, kedutaan besar Belgravia, museum Kensington, dan kediaman seniman Chelsea. Saat ini, lingkungan itu dipenuhi dengan berbagai toko, restoran, townhouse bersejarah kelas dunia, dan merupakan rumah bagi dua properti Jumeirah . Di sana, kita juga bisa melihat sejarah Knightsbridge dan bagaimana ia bisa mempertahankan reputasi yang dimilikinya saat ini." Raid menjelaskan dengan sabar dan panjang lebar. "Nggak tahu ah, Bang. Nggak ngerti juga. Udahlah, Abang aja yang pergi. Nissa lagi mager," sahut Nissa kemudian dengan malas. Raid mengerutkan keningnya bingung. Beberapa hari ini entah kenapa Nissa memang berubah jadi pemalas. Tak seperti biasanya yang selalu antusias jika di ajak ke tempat baru. Apa mungkin Nissa sudah bosan tinggal di sini? Akan tetapi, mereka baru
Asa 125*Happy Reading*"Darius?"Raid langsung menggumamkan sebuah nama, saat mendapati seorang yang tadi menyapanya menghampiri di ruang ganti siang ini. Akhirnya dia datang juga. Raid mengulas senyum penuh makna."Hai, Raid. Sorry aku baru bisa datang sekarang," sapa bule bernama Darius, seraya mengh
*Happy Reading*Nissa tersentak halus saat sebuah tangan kekar melingkar di perutnya dari arah belakang. Napasnya tercekat, jantungnya mulai berdebar tak karuan. Tahu siapa si pemilik tangan besar itu, Nissa pun berusaha mengatur napas dan menekan degup jantung agar tak sampai terdengar pria yang kin
*Happy Reading*Sejak jam tiga pagi, kediaman Naira sudah terlihat sibuk dengan berbagai aktifitas. Apalagi, tentu saja semua demi mempersiapkan acara ijab qabul pernikahan Nissa dan Raid, yang akan dilaksanakan di Masjid dekat rumah Naira. Meski acaranya sendiri mulai jam sembilan pagi. Tetapi tahu
*Happy Reading*5000 gram emas. Di antara semua mahar yang Raid berikan. Hanya satu hal itu yang menyita perhatiannya. Bukan apa-apa, pasalnya Nissa jadi teringat obrolan mereka waktu itu, kala baru saja pulang dari cafe danau. "Kamu mau apa nanti untuk maharnya, Sayang?" Raid bertanya saat mereka ma







