MasukElena tahu hidupnya di dunia novel saat ini tidak mudah. Jika boleh memilih ia ingin masuk menjadi tokoh protagonis yang nasibnya baik dan hidup dengan nyaman. Namun, pasti ada alasan kenapa ia menjadi tokoh menyedihkan dalam cerita novel ini. Dari bab yang ia baca, memang banyak rahasia yang perlu diungkap dalam kisah ini. Mungkin Tuhan sedang memberikan kesempatan untuk menebus dosanya yang memilih mengakhiri hidup dan memberinya kesempatan kedua dengan membantu tokoh malang dalam kisah cerita fiksi yang ia baca.
“Aku harus menyusun rencana bagaimana membatalkan pertunangan itu. Aku tidak boleh membiarkan tubuh ini mengalami nasib menyedihkan sepertiku.” Elena bertekad dalam dirinya.
Lily melangkah masuk sambil membawa nampan berisi teh siang. Begitu pintu tertutup, ia berbalik dan hampir menjatuhkan nampan tersebut saat melihat Clarissa berdiri di dekat jendela. Ia terperangah, matanya terbelalak.
"Nona Clarissa...? Demi Tuhan, itu Anda?"
Elena berbalik perlahan, tersenyum tipis.
"Kenapa, Lily? Ada yang salah dengan penampilanku?"
Elena mengenakan gaun potongan tegas berwarna marun satin yang elegan, rambutnya tidak lagi diikat gaya remaja seperti biasanya, melainkan disanggul modern yang rapi. Riasan wajahnya minimalis namun mempertegas garis wajahnya yang kini tampak jauh lebih dewasa dan berwibawa.
Lily meletakkan nampan dengan tangan gemetar, menatap Elena dari atas sampai bawah.
"Anda ... Anda tampak sangat berbeda, Nona. Sejak terjatuh dari tangga kemarin, Anda seperti ... berubah. Anda terlihat sangat dewasa, sangat anggun. Aura Anda benar-benar membuat saya takjub. Pakaian itu sangat cocok untuk Anda."
Elena berjalan mendekat, langkahnya tenang dan pasti.
"Terima kasih, Lily. Sudah saatnya aku berhenti terlihat seperti anak kecil yang bisa mereka kurung selamanya. Hari ini, aku harus keluar. Aku butuh udara segar, dan jujur saja, aku butuh beberapa pakaian baru."
Senyum Lily seketika pudar, wajah itu berubah gelisah.
"Keluar?! Tapi Nona, perintah Tuan Besar sudah jelas. Anda tidak boleh meninggalkan kamar ini, apalagi rumah, sampai kondisi Anda benar-benar pulih total. Di luar pintu ada dua pengawal berbadan kekar yang siap menghadang siapa saja!"
Mata Elena berkilat penuh tekad.
"Karena itu, Ly... kita harus punya rencana. Dan kau akan membantuku."
Elena menarik Lily mendekat ke meja rias, berbisik dengan nada konspiratif.
"Dengar. Jam dua siang nanti adalah waktu pergantian sif pengawal, tapi biasanya ada jeda lima menit di mana mereka menerima laporan di ujung koridor Barat. Nah, sebelum itu terjadi, kau harus memancing perhatian dua pengawal di depan pintu kamar ini."
Lily menelan ludah, gugup. "Ba—bagaimana caranya, Nona?"
"Bawa nampan teh kosong ini keluar. Pura-pura terpeleset dan jatuhkan nampannya tepat di depan mereka. Teriaklah seolah kau terluka parah atau melihat sesuatu yang mengerikan di lorong sebelah kanan."
"Lalu, setelah mereka berdua memeriksa arah lorong itu?" Lily kembali bertanya dengan wajah memucat.
"Aku akan keluar lewat pintu interkoneksi ke kamar sebelah, lalu turun lewat tangga pelayan di sayap timur. Kita bertemu di gerbang belakang dekat taman dalam sepuluh menit. Mengerti?"
Lily mengepalkan tangan, mencoba berani.
"Baik, Nona. Saya akan lakukan demi Anda. Tapi... bagaimana jika mereka sadar Anda tidak ada di kamar? Dan bagaimana dengan pengawal yang lain?”
Elena tersenyum misterius. “Aku akan melipir ke ruang kerja ayah. Jadi jika ada pengawal yang melihatku di sisi lain, aku akan mengatakan ingin bertemu dengan ayah. Bukankah hari ini mereka ada pertemuan dengan keluarga Sterling? Lalu aku akan keluar lewat jendela besar yang mengarah ke lorong sisi lain mansion. Aku rasa dalam waktu itu mereka tidak akan menyadari dan saat mereka sadar, aku sudah berada di dalam mobil sahabatku menuju pusat perbelanjaan."
Ketegangan di Koridor
Lima belas menit kemudian. Rencana dijalankan. Lily keluar kamar, dan beberapa detik kemudian terdengar suara dentangan nyaring nampan perak yang jatuh, disusul teriakan histeris Lily.
"Astaga! Tolong! Kakiku! Ada... ada penyusup di lorong Barat!"
Mendengar kegaduhan itu, kedua pengawal di depan pintu langsung terpancing dan berlari ke arah suara Lily.
Elena memanfaatkan momen itu. Dengan gerakan cepat dan anggun, ia keluar dari jalur pelarian sayap timur. Sepatunya mengetuk lantai dengan ritme cepat. Ia berhasil.
Melihat satu pengawal yang berjalan cepat di depannya, segera ia berujar. “Aku ingin menemui ayah di ruang kerjanya.”
Pengawal itu mengangguk dan segera berlalu dari sana karena ia sudah mendengar jika ada penyusup. Ia segera membantu rekannya yang lain.
Sementara itu di ruang kerja milik Andreas Sinclair. Pria paruh baya itu duduk di sofa single. Sementara itu anak dan istrinya duduk di sofa panjang di sisi yang lain.
“Kita harus meyakinkan Tuan Gideon tentang pertunangan itu. Bagaimana pun tanah di selatan harus menjadi milik kita,” ujar pria paruh baya itu.
“Seandainya saja kita bisa menukar pertunangan mereka, pasti putri kita tidak perlu mengorbankan perasaannya dan menderita,” ujar wanita paruh baya itu dengan raut sedih. Tangannya mengusap lembut tangan sang putri.
“Mah, jangan bicara seperti itu. Aku hanya sedikit berkorban untuk keluarga ini. Lagi pula, Kak Clarissa sangat mencintai Kak Sebastian, mana mungkin dia mau mengganti tunangannya dengan Tuan Gideon.” Gadis anggun itu berucap lembut sembari melirik sang papa yang terlihat menghela napas beberapa kali.
“Kamu memang pengertian, Sayang.” Anna memeluk putri tercintanya. Ia beralih pada sang suami yang masih diam. “ Lihat, Eleanor, Pah. Aku tidak mengerti kenapa ayahmu bersikeras menunjuk anak tidak berguna itu sebagai pewaris. Padahal putriku juga turut andil dalam perkembangan perusahaan. Sedangkan anak tidak berguna itu tidak melakukan apa pun pada perusahaan.”
“Sudah cukup! Tidak perlu mengulang hal yang sama setiap kali kita membahas tentang perusahaan. Kita tahu betul apa yang sedang kita rencanakan. Kita melakukan ini juga untuk masa depan Eleanor. Berkorban sedikit lagi tidak masalah, Bukan?” Andreas menatap tajam pada sang istri dan berhasil membuat wanita paruh baya itu bungkam dengan kekesalan.
“Pah, tapi aku masih khawatir dengan pelayan setia Kak Clarissa. Sepertinya dia tahu kalau kejadian di tangga itu ak—”
“Cukup, Eleanor!” Jangan membahas apa pun tentang kejadian itu. Pelayan kecil itu tidak akan mengatakan apapun pada Clarissa. Ingat pesan papah, jangan bahas apa pun lagi tentang kejadian itu.” Andreas menatap marah pada putrinya.
Ketiga orang itu tidak menyadari jika Elena yang berhasil mengelabui pengawal sedang berdiri di luar ruangan tersebut. Lewat celah pintu yang sedikit terbuka ia bisa mendengar percakapan mereka.
“Sudah kuduga, ada yang salah dengan kejadian itu. Mana mungkin aku seceroboh itu jatuh dari tangga.” Elena mengepalkan tangan, tetapi sesaat kemudian senyum miring terbit di sudut bibir wanita itu. “Bagaimana kalau wanita gatal dan putrinya itu tahu siapa tua bangka itu sebenarnya.”
Elena berbalik pergi meninggalkan ruangan itu. Ada hal lain yang harus ia lakukan.
Tidak ada seorang pun yang berani mengucapkan sepatah kata setelah pertanyaan Clarissa menggantung di udara.Eleanor masih terpaku di tempatnya. Wajah angkuh itu terlihat pucat. Jemarinya bergetar, sementara pikirannya dipenuhi penyesalan.Sebastian yang menyadari keadaan itu segera melangkah maju. "Clarissa."Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Kau salah mengerti."Clarissa mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang memerah menatap Sebastian dengan penuh harap."Salah mengerti?"Sebastian mengangguk cepat."Ya. Maksud Eleanor bukan seperti yang kau bayangkan.""Lalu seperti apa?"Sebastian menarik napas panjang. Dalam hitungan detik, dia memaksa otaknya mencari alasan yang paling masuk akal.“Saat malam pertunangan itu ... Eleanor memang mencariku."Tatapan Clarissa tidak beralih sedikit pun. Menunggu alasan Sebastian selanjutnya."Eleanor sedang mengalami kepanikan. Dia terlalu banyak minum hingga emosinya tidak stabil. Saat itu dia menangis dan meminta bantuanku.""It
“Bukankah Paman juga lebih berani sekarang? Sejak kapan kaki paman sudah sembuh?” Clarissa menatap Gideon dengan senyum mengejek. “Jangan berpura-pura lugu di depanku, Clarissa. Dan … berhenti memanggil aku dengan sebutan itu. Jika tidak ….” “Jika tidak ….” Clarissa mengulang ucapan pria itu dengan alis yang berkerut. Pria itu menghela napas kasar. “Lupakan!” Dia tahu gadis di hadapannya saat ini sudah tidak bisa dikendalikan lewat ancaman. Clarissa yang sekarang begitu sangat berani. Ancaman baginya bukan untuk ditakuti tetapi untuk tantang. Gideon melangkah mendekat hingga hanya menyisakan beberapa langkah di antara mereka."Clarissa. Percayalah padaku.""Dengan cara apa? Dengan terus merahasiakan semuanya dariku?"Tatapan Gideon tetap tenang. "Ada hal-hal yang belum boleh kau ketahui.""Kenapa?""Karena waktunya belum tiba."Clarissa tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar hambar."Jawabanmu selalu sama.""Belum waktunya. Percaya padaku.""Lalu aku harus menunggu sampai kapa
Ucapan sederhana itu membuat dada Sebastian terasa semakin sesak.Namun, dia tetap menganggukkan kepala.Clarissa kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Sebastian.Tepuk tangan kembali menggema lebih meriah dari sebelumnya."Selamat kepada pasangan malam ini!" seru pembawa acara.Tepuk tangan memenuhi aula.Kilatan kamera seolah tak berhenti mengabadikan setiap detik momen tersebut.Di mata seluruh tamu, malam itu adalah malam yang sempurna.Malam ketika dua keluarga besar resmi dipersatukan dalam sebuah ikatan pertunangan.Tidak ada yang mengetahui bahwa di balik senyum para tokoh utama, tersimpan sebuah rahasia yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan semuanya.Clarissa tersenyum sambil menatap cincin di jarinya. Senyum yang lebih mirip seperti sebuah seringai tipis. Kenapa semua malah jadi seperti ini? Suara musik dari aula pesta perlahan memudar, berganti dengan keheningan yang menyelimuti seluruh mansion. Para tamu mulai berpamitan, sementara para pelayan sibuk memberesk
Andreas tidak langsung menjawab.Beberapa saat kemudian, dia berkata lirih, "Keduanya."Pria paruh baya itu menghela napas."Biarkan pertunangan tetap berlangsung. Setelah acara selesai, kita akan mencari jalan keluar secara kekeluargaan."Audrey memandang pria di hadapannya cukup lama.Sebagai seorang ibu, dia sangat kecewa pada Sebastian. Namun, sebagai Nyonya keluarga Sterling, keputusan gegabah hanya akan menyeret kedua keluarga ke dalam kehancuran."Baik." Satu kata itu akhirnya keluar."Tapi dengarkan baik-baik, Andreas."Nada suara Audrey berubah dingin."Ini kesempatan terakhir. Jika Sebastian kembali mengkhianati Clarissa ... atau jika Eleanor kembali mendekati putraku …."Audrey menatap Andreas."Aku sendiri yang akan membatalkan pertunangan itu di depan semua orang."Andreas mengangguk pelan. "Itu tidak akan terjadi."Namun jauh di lubuk hatinya, pria itu tidak benar-benar yakin.Sebab untuk pertama kalinya, dia merasa putri bungsunya bukan seorang gadis penurut yang bisa d
Audrey memijat kepalanya yang mulai terasa pusing. Kekacauan ini benar-benar menguras pikiran dan emosi. Wanita paruh baya itu merasa dilema dengan keputusan apa yang harus diambilnya. Satu sisi dia sangat menyayangi Clarissa dan berharap gadis itu benar-benar menjadi menantunya. Namun, di sisi lain juga tidak mungkin membohongi Clarissa. Sudah cukup selama kebohongan yang ditutupi oleh keluarga besarnya selama ini, Audrey tidak mungkin menambah kekecewaan itu lagi. “Kita tidak bisa membatalkan pertunangan ini begitu saja, Kak. Ini menyangkut nama besar dua keluarga.” Gideon berucap dengan tenang namun tegas. Ketiganya menoleh dengan ekspresi yang berbeda. Sebastian dengan perasaan lega. Audrey dengan rasa tidak percaya. Elena dengan rasa kecewa yang kentara. “Apa maksudmu, Gideon?” “Kita tetap lanjutkan acara pertunangan ini. Clarissa tidak boleh tahu kekacauan malam ini.” Gideon berucap tegas tanpa ingin dibantah sedikitpun. “Gideon ….” Audrey sekali lagi melayangkan tatapa
Sementara itu, di aula utama. Audrey yang sedang berbincang dengan beberapa tamu penting mulai memperhatikan sekitar, mencari keberadaan Clarissa dan Sebastian. Pembawa acara sudah mengumumkan jika acara inti pertukaran cincin akan dimulai dalam waktu dua puluh menit lagi, tetapi dua bintang utama dalam acara itu malah tidak terlihat ada di aula. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu menghela napas lega saat melihat keberadaan adik satu-satunya sedang mendekat ke arahnya. “Saya permisi menemui adik saya dulu. Silakan nikmati pesta ini.” Audrey tersenyum hangat, pamit pada beberapa tamu. “Silakan, Nyonya Audrey.” Audrey juga berjalan mendekat ke arah sang adik. “Gideon, apa kau melihat Sebastian dan Clarissa? Acara inti sebentar lagi akan dimulai, tapi aku tidak melihat mereka,” imbuh Audrey setengah berbisik pada adiknya. “Perasaanku tidak enak” sambungnya sembari mengedarkan pandangan menyapu area aula. “Aku mendapat laporan
Suasana di dalam ruang pertemuan utama Mansion keluarga Clarissa terasa mencekam, kontras dengan kemewahan ruangan tersebut. Di satu sisi meja panjang, Andrea duduk dengan pelipis yang mulai dibanjiri keringat dingin. Di sampingnya, sang istri dan putrinya memasang wajah cemas yang dibuat-buat, m
Deru napas Elena masih sedikit memburu saat pintu mobil sedan hitam itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kemegahan mansion yang baru saja ia tinggalkan. Di balik kemudi, Victoria langsung menginjak pedal gas, membawa mereka menjauh dari gerbang belakang.Setelah memastikan situasi aman, Vic
“Clarissa kau kenapa?” Pria tampan itu menunduk, diraihnya pundak wanita itu dan membawanya menuju sisi tempat tidur. Membantu Elena untuk berbaring.Helaan napas berat terdengar dari hidung mancungnya. Ia pikir, Clarissa sengaja menjatuhkan diri ke lantai untuk mencari simpatinya.Sebastian Sterli
"Elena, jangan—!" Suara teriakan dari pria paruh baya tidak mampu menghentikan tekad seorang gadis yang sedang berdiri di sisi pembatas jembatan beton. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu memilih mengakhiri hidupnya dibandingkan harus menjadi tumbal keluarga pamannya. Ia dipaksa menikah dengan







