ログインFreya melangkah masuk ke dalam kamar Resort yang diberikan Yasa dengan perasaan yang berkecamuk.
Kamar itu cukup mewah, hangat, dan sangat nyaman—kontras dengan kekacauan yang sedang terjadi di hidupnya. Ia meletakkan kopernya di sudut ruangan, lalu segera mencari stopkontak untuk mengisi daya ponselnya yang mati total.
“Awas aja Kak Fiona! Bener-bener tega ya mempermainkan aku kayak gini!” gerutu Freya sangat kesal.
Begitu ponsel menyala, Freya berharap ada notifikasi pesan atau panggilan tak terjawab dari Fiona, tapi ternyata tidak ada! Tidak ada sama sekali!
Freya mencoba menekan tombol panggil untuk kesekian kalinya.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...”
“Arghhhhhh!” Freya melempar ponselnya ke atas kasur dengan frustrasi. Kakinya lemas, ia terduduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan halaman Resort yang hijau dan asri.
Ia menyadari satu hal yang pahit, ia telah dipermainkan oleh Kakak kandungnya sendiri.
“Kenapa, Kak Fiona? Apa salahku?” gumamnya lirih.
Liburan yang ia bayangkan akan jadi liburan yang menyenangkan, malah diawali dengan kekacauan yang tak tekendali.
Tapi karena sangat lelah, Freya pun sampai terlelap tak lama kemudian berharap kalau saat terbangun nanti ia akan segera mendapat penjelasan dari sang Kakak.
***
Freya tidak bisa menikmati liburannya, walaupun sesekali ia keluar Resort untuk mengunjungi beberapa titik wisata ikonik di sekitar Ubud, tapi yang ada di dalam pikirannya hanya tentang kelicikan Fiona.
Dan sejak malam itu, Freya juga tak pernah lagi bertemu dengan sosok Yasa.
Tepat di malam terakhir ia menginap di Resort itu, Freya pun berinisiatif meminta nomor kamar milik Yasa pada resepsionis dan ia mendapatkannya.
Jantung Freya berdegup kencang, ia berdiri di depan pintu kamar mewah yang memiliki privat pool cantik itu. Freya meremas jemarinya sendiri. Walau segan, ia merasa harus berterima kasih pada pria matang yang dicapnya sebagai ‘Om Arogan itu’.
Tok. Tok. Tok.
Bunyi ketukan itu terdengar nyaring di area yang sunyi.
‘Biarpun nyebelin, tapi aku wajib berterima kasih, karena dia, seenggaknya aku bisa nginap dengan nyaman si sini,’ batin Freya sembari menunggu pintu itu terbuka.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan sejak detik pertama Freya dibuat tercekat oleh sang pemilik kamar.
“Astagaa!”
Yasa berdiri di sana, tepat di ambang pintu.
Pria itu baru saja selesai mandi, rambutnya yang hitam masih basah dan meneteskan air ke bahunya yang bidang. Ia hanya mengenakan sehelai handuk putih yang dililitkan di pinggang, membiarkan dadanya yang bidang dan otot perutnya berkotak-kotak terpampang jelas di hadapan Freya.
“Kamu ...? Saya kira kamu petugas Resort!” sapa Yasa, seperti biasa, angkuh dan tidak ramah.
“Hm, saya Cuma mau ....” Freya mendadak kelu, ia memalingkan wajah untuk menghindari pemandangan hot dan seksi itu.
Yasa mengerutkan kening, tak terlihat panik atau malu sedikit pun. Ia justru bersandar pada bingkai pintu, melipat tangannya di depan dada, menciptakan gestur yang sangat intimidatif meski ia hanya berbalut handuk.
“Mau apa, hm? Mau minta bantuan lagi?” tanya Yasa membuat Freya tambah deg-degan.
“Bu-bukan kok. Saya Cuma mau bilang makasih.” Freya membantah dan wajahnya masih berpaling.
“Oh.”
“Ini malam terakhir saya di sini, saya juga mempercepat jadwal kepulangan saya ke Jakarta. Jadi, takutnya kita nggak ketemu lagi, so, saya memberanikan diri untuk datang langsung ke sini untuk mengucapkan terima kasih.”
“Oke.”
“Dan ....” Freya merogoh tas kecilnya lalu mengeluarkan kartu nama toko kuenya. “Sebagai ucapan terima kasih, saat nanti Anda sudah pulang ke Jakarta, Mampir lah ke toko kue saya, saya akan menggratiskan setiap kunjungan Anda.” Freya menyodorkan kartu itu.
Yasa menerimanya dan membaca sekilas. Awalnya tidak peduli, tapi saat menyadari nama toko dan alamat yang tertera, tiba-tiba dahinya mengernyit dan kedua ujung matanya menyipit membaca ulang kartu nama itu.
“Pokoknya setiap kali Anda butuh Cake atau kue-kue cantik, Anda bisa datang dan semuanya gratis untuk Anda, anggap saja sebagai ungkapan rasa terima kasih saya ....” Freya terus mengungkapkan rasa terima kasihnya walau masih dengan wajah berpaling.
“Casa de Cake?” tanya Yasa.
“Ya! Itu toko yang saya kelola saat ini,” sahut Freya dengan bangga.
“Toko kue yang terletak di jalan Merdeka di samping kantor pemasaran Emerald Resident?” tanya Yasa lagi, seolah ia sudah sangat tahu tentang toko kue Freya.
“Ya! Itu benar! Ternyata Anda sudah tahu!” sahut Freya cukup girang, mulai berani kontak mata lagi dengan Yasa.
Air muka Yasa berubah, bingung dan muram, sama sekali tidak antusias padahal Freya telah memberikan kehormatan untuknya jadi pengunjung spesial di toko itu.
“Jangan lupa mampir ya, Om,” ucap Freya kali ini dengan seulas senyum manis yang tulus.
“Saya sudah membeli bangunan toko itu 2 hari lalu!”
Freya terdiam, mencoba memahami apa maksud Yasa.
“Ya! Toko ini! Lewat orang kepercayaan saya, saya sudah menyelesaikan transaksi pembelian bangunan toko ini!”
Freya kian terbungkam, hatinya bergemuruh kacau, maksud Yasa apa? Apa dia sedang berkelakar?
Rendra menunjukkan rasa tidak percaya, ia melirik ke arah area pesta lalu kembali menatap Freya dengan perasaan meragu. "Kamu jangan bercanda, Frey! Pake segala ngaku jadi calon pengantinnya Yasa Janitra, kamu halu apa gimana sih? Atau jangan-jangan kamu stress setelah cerai dari aku?" Rendra malah menuduh Freya halu dan stress. Freya tersenyum santai saja, tuduhan Rendra ia anggap radio butut saja, toh kenyataannya, dirinya memang calon istri seorang Yasa Janitra. "Eh, tuh mulut enteng bener ya ngatain Frey stress!" Tapi Mitha langsung bereaksi, jelas Mitha tak terima sahabatnya dikatai oleh Aktor hombreng itu. "Sembarangan aja bilang Frey stres setelah cerai dari kamu! Justru hidup Frey tuh sejuta kali lebih baik setelah lepas dari kamu!" lanjut Mitha dengan nada mengomel. Rendra sangat muram, ia tidak senang ditegur begitu oleh Mitha yang dianggap tidak penting. "Hey kamu! Bisa-bisanya ya, pelayan toko kue kamu bicara kenceng gitu ke saya? Kalau bukan karena kamu itu temann
Persiapan pernikahan yang mepet membuat Freya sibuk dan sejenak melupakan segala masalah yang membelitnya selama ini. Walau hanya 2 minggu saja, tapi Yasa tak asal-asalan untuk gelaran pernikahan keduanya kali ini. Gaun pengantin sudah siap, venue pernikahan sudah diset, undangan sudah disebar dan H-2, semua persiapan sudah mencapai 95%. Saat ini Freya sudah kembali menginjakkan kakinya di pulau Bali, ditemani Mitha, Ramon, Chef Daryl dan keluarga paman dari pihak Ayah, yang nantinya akan jadi wali nikahnya. Sementara Fiona? Jangankan hadir, kabarnya saja sudah tak terdengar lagi sejak buron dari orang-orang yang ditipunya. ~ Freya sedang termangu di sebuah Gazebo resort sambil memantau area halaman yang akan jadi tempat pernikahannya lusa. Acaranya digelar di luar ruangan, dengan dekorasi cantik dan view menghadap samudra langsung. "Pasti lagi mikirin, lusa malem bagusnya pake gaya apa ya?" Suara Mitha muncul bagai angin, spontan Freya menoleh. "Iih, ngagetin aj
Seorang anak remaja laki-laki berjalan di belakang Yasa, wajah remaja itu nyaris mencetak jiplakan wajah Yasa, rahang tegas, tatapan tajam, dan alis tebal. Hanya saja, aura yang terpancar jauh lebih dingin dan memberontak. Freya sudah segan duluan, ia merasa kalau jalannya bersama Yasa tak akan semulus jalan tol seperti yang awalnya ia bayangkan. Keduanya dipersilakan masuk, duduk bersama di ruang tamu kecil itu dengan suguhan menarik yang tersaji di atas meja. Freya sangat gugup tapi berusaha bersikap sebiasa mungkin. "Nath, ini Freya," perkenalkan Yasa. Remaja bernama Nathan itu hanya menatap sekilas pada Freya seterusnya ia fokus pada layar handphone di tangan. "Sementara waktu kamu bisa panggil Freya 'Kakak', tapi secepatnya kamu harus belajar panggil dia 'Mama'," tambah Yasa. Nathan nampak muak, raganya memang duduk di ruangan itu tapi jiwanya jelas menolak baur di dalam momen perkenalan itu. "Hm, hai Nath ... salam kenal ya," sapa Freya, walau segan ia mencoba bersik
"Dan imbalannya adalah ... Casa de Cake ...." Freya sekali lagi menoleh ke seberang Cafe, menatap toko itu dengan tatapan nanar."Serius?" Suara Mitha tercekat tapi sangat antusias."Emang aku keliatan lagi becanda ya?" tanya Freya kekik."Terus kamu bilang 'iya' kan?"Freya mengangguk pelan, nampak yakin tidak yakin."Bagus! Aku sih yes! Aku dukung kalian 100%!" sambut Mitha, ia benar-benar bersemangat.Dengan antusiasme Mitha, rasa percaya Freya pada Yasa meningkat beberapa persen, hanya saja masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya.'Apa ini hanya pernikahan main-main? Apakah di pernikahan kedua ini aku bakalan jadi istri pajangan lagi?' batin Freya, perasaannya bergejolak, tapi keputusan sudah diambil.***Kalyla baru saja tiba dari Bali, ia tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan langsung mencari keberadaan Yasa di kantornya.Kalyla terlihat resah, wajahnya menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam."Maaf, Bu. Tapi saat ini Pak Yasa sedang ada rapat penting, Anda
Freya tercekat, matanya membelalak lebar menatap pria di hadapannya. Jantungnya yang tadinya berdegup kencang karena gugup, kini seketika seolah berhenti berdetak. "Om ... barusan Om bilang apa?" tanya Freya dengan suara gemetar, memastikan pendengarannya tidak salah tangkap. "Ini semacam candaan atau apa? Kita bahkan nggak sedang dalam hubungan apa pun lho Om dan tiba-tiba Om ngajak nikah?" Yasa tetap tenang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur penuh wibawa. Tatapannya tajam namun sulit dibaca. "Saya nggak pernah main-main dengan perkataan saya, Freya," jawab Yasa datar. "Kamu mau toko itu kembali jadi milik kamu dan saya butuh seorang istri secepatnya." Mitha masih memantau, ia tak bisa mendengarkan obrolan Freya dan Yasa, tapi kontras ekspresi Freya dan Yasa membuat Mitha bertanya-tanya. "Mereka lagi ngobrolin apa ya? Kok muka Frey kayak shock begitu sih? Duh ...." gumam Mitha dengan perasaan gelisah. Freya menggeleng pelan, kepalanya mendadak pusing mencerna s
"Bisa ketemu sebentar? ... saya tunggu di Cafe di seberang bekas toko kue kamu!"Yasa sangat to the point, ketika panggilannya tersambung, ia langsung mengutarakan maksudnya menghubungi Freya. Karena Yasa sangat berjasa, Freya tak memiliki alasan untuk menolak ajakan untuk bertemu itu.Setelah bersiap 15 menit dan menghabiskan waktu 15 menit perjalanan dibonceng Mitha, Freya pun sampai di Cafe yang dimaksud."Aku akan duduk di sisi lain Cafe buat memantau, sekalian mau liat wujud asli Om galak itu!" kata Mitha yang begitu bersemangat."Jangan sampai meleleh lho ya!" goda Freya sambil mematut penampilannya sekali lagi lewat kaca spion motor matic Mitha."Kayaknya spek Om-Om itu bukan my type! Mustahil aku meleleh sama seseorang yang kamu namai 'Om Galak' di kontak kamu itu!" Mitha sesumbar, begitu percaya diri mampu menahan diri untuk tidak tertarik pada sosok Yasa Janitra."We'll see," goda Freya lagi. Dan ketika ia sudah cukup pede untuk bertemu dengan Yasa, ia pun mulai melangkahka







