Se connecter"Bukankah kamu Janda? Tapi, kenapa sesempit ini ....?" Aku terpaksa menikahi duda angkuh yang dingin demi tokoku kembali, tanpa tahu status janda perawanku justru membuat malam pertama kami menjadi gairah yang membara ....
Voir plus“Terus, Sayang! Lakukan sambil berdiri…”
Freya seketika membeku. Tangannya yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar untuk memanggil Rendra, suaminya selama dua tahun ini, seketika gemetar.
“Mas Rendra… Kamu…”
Suara itu terdengar menjijikan, bukan suara wanita, tapi Freya sedang mendengar suara seorang pria sedang beradu erangan dan desahan dengan Rendra.
Apa mereka sedang melakukan Video Call? Freya sampai mual mendengarnya.
“Apa-apaan ini?” gumam Freya, tangannya mendekap mulut. Jijik sekali mendengar suaminya sedang 'memuaskan hasrat masing-masing' secara virtual lewat sambungan video call.
“Sakit tapi enak, Beb! Aahhh, sumpah aku nggak sabar kita ketemu dan ngelakuinnya secara nyata ...” Rendra mendesah manja.
“Aku juga ....”
“Terus ya ... aaah, terus ....”
“Aku udah keluar.”
“Aku juga ... aaah, enak banget, Sayang. Jadi kapan kamu ke Jakarta?”
Freya semakin ternganga, perasaannya berantakan dan perutnya seakan sedang diremas-remas sampai mual.
“Kita nggak bisa ngelakuinnya di Jakarta, Sayang. Kamu kan aktor terkenal, kamu nggak punya privasi di sana, jadi mending kamu aja yang nyamperin aku ke sini. Di sini banyak pasangan yang go public.”
“Jadwal aku masih padat, tapi kalo emang kamu mau, ya udah deh aku akan ke Berlin akhir minggu ini.”
“Oke, aku tunggu ya. Oh iya, gimana dengan istri kamu? Apa dia akan ikut?”
“Ikut? Yang nggak lah! Ide buruk kalo aku ajak dia buat ketemu kamu! Lihat kamu yang ganteng plus gagah, bisa-bisa dia jatuh cinta sama kamu! Itu nggak boleh! Kamu itu Cuma milik aku!”
“Ha ha, bisa aja kamu, Sayang.”
Freya mendengar percakapan sesat itu dan rasanya dunianya berhenti berputar.
Diselingkuhi dengan wanita cantik, No.
Diselingkuhi dengan pria tampan dari Jerman, Yes.
Hidup memang sebercanda itu bagi Freya!
Kini ia tahu alasan kenapa Rendra tak pernah menyentuhnya. Ternyata bukan karena dia jelek atau bau ikan asin, tapi faktanya lebih menjijikan dari yang ia duga, rupanya suaminya itu adalah seorang penyuka sesama jenis.
Percakapan laknat itu sudah tak terdengar lagi, Freya pun mulai memutar knop pintu dan membukakannya perlahan.
Rendra, yang baru saja mematikan layar ponselnya dengan gerakan panik, mematung di depan cermin. Wajahnya yang biasanya dipuja jutaan penggemar sebagai aktor papan atas, kini terlihat pucat pasi, bercampur dengan sisa-sisa nafsu yang masih tertinggal di matanya.
Freya tidak bergerak. Tangannya yang tadi memegang gagang pintu terkulai lemas di samping tubuhnya. Matanya yang bening perlahan mengabur karena genangan air mata,
“Freya...” Suara Rendra terdengar serak, ia mencoba mendekat, namun Freya mundur selangkah, menjaga jarak seolah Rendra adalah sesuatu yang menjijikkan.
“Jangan sentuh aku!” desis Freya. Suaranya nyaris tak terdengar, namun sarat dengan getaran luka yang dalam. “Jangan pernah menyentuhku dengan tangan yang baru saja... melakukan hal itu.”
Rendra mengangkat wajahnya, sorot matanya kini menjadi tajam. “Sekarang kamu udah tau, terus kamu mau apa, huh? Mau membocorkan rahasia ini ke Publik? Menghancurkan reputasi dan masa depan karirku, gitu?”
“Tobat, Mas! Yang kamu lakuin ini dosa!” ucap Freya dengan tubuh gemetar.
“Halaah! Nggak usah bawa-bawa dosa! Ini urusanku!”
“Karir kamu bisa hancur andai orang-orang tau ini semua ....”
“Orang-orang nggak akan tau kalo kamu tetap diam dan menjaga rahasia ini!” sambar Rendra, ia sudah mulai bersikap keras dan mengecam. Rasa paniknya lenyap, membalikan keadaan membuat Freya dalam posisi tersudut saat ini.
Rendra semakin mendekat lalu mencengkram wajah Freya dengan kasar lalu mengancam, “Kalo kamu berani buka mulut soal ini, aku pastikan hidup kamu nggak akan pernah tenang, Frey! Hidupmu, keluargamu, bisnis kecilmu, aku pastikan akan hancur dengan cara yang menyakitkan!”
Mendengar ancaman Rendra, Freya mulai gentar. Ia tak berani menyahut. Rendra adalah sosok yang akan melakukan apapun demi mencapai ambisinya, bahkan jika itu harus menghancurkan hidup orang lain. Freya pun hanya diam.
“Kamu harus ikuti skenarioku! Aku akan melepaskan kamu dengan caraku, dan ingat satu hal, kamu harus tetap diam soal rahasiaku ini!” Rendra menghempas wajah Freya cukup kasar lalu ia masuk kembali ke dalam kamar, tepatnya ke dalam kamar mandi.
Freya benar-benar terbungkam. Ancaman Rendra seperti obat bius yang melemahkannya. Tak dapat dipungkiri kalau ia sangat takut dengan kata-kata suaminya barusan.
***
Di meja makan, atmosfer yang seharusnya hangat justru terasa sedingin es. Freya duduk lemas di kursinya, jemarinya mencengkeram sendok dengan malas.
Bayangan wajah Rendra yang kasar dan ancamannya di depan kamar tadi terus berputar di kepala, membuat perutnya mual setiap kali ia menatap pria yang kini sedang menyesap kopi dengan santai di sampingnya.
“Freya!” Suara nyaring Yati, ibu mertua Freya, memecah kesunyian. Ia meletakkan cangkirnya dengan keras ke piring tatak. “Sudah dua tahun, Freya. Dua tahun! Kamu masih saja kosong. Apa kamu benar-benar nggak bisa ngasih cucu buat keluarga ini?”
Freya menunduk dalam, tenggorokannya terasa tercekat. “Maaf, Bu...”
“Maaf, maaf! Bisanya Cuma minta maaf terus! Kata-kata itu nggak akan membuat rahimmu terisi!” Yati mendengus sinis, matanya menatap Freya dengan tatapan merendahkan. “Ibu mulai curiga, apa mungkin kamu memang wanita yang nggak berguna? Lihat orang-orang, baru menikah hitungan bulan saja sudah pada pamer foto USG. Kamu? Cuma bisa nyusahin anakku! Dia itu aktor terkenal! Jadi kebawa-bawa jelek gara-gara kamu yang belum bisa kasih dia keturunan!”
Freya masih diam. Biasanya, di saat seperti ini, ia akan berusaha membela diri, tapi setelah percakapan ‘laknat’ yang ia dengar tadi, lidahnya kelu. Rahasia besar Rendra membuat setiap kata yang keluar dari mulut Yati terasa seperti lelucon yang sangat tragis.
Rendra, yang duduk tenang di samping Freya, justru menyandarkan punggungnya dengan angkuh. Ia meletakkan ponselnya, menatap Freya dengan sorot mata yang penuh intimidasi, seolah memberi peringatan melalui tatapan, ‘ingat ancamanku, Freya!’
“Freya memang nggak becus, Bu,” sahut Rendra dingin, suaranya terdengar datar dan tanpa empati. “Sepertinya selama ini aku terlalu sabar menunggunya.”
Freya mendongak, menatap Rendra dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Rendra akan memutarbalikkan fakta sekejam ini.
“Maksud kamu apa, Mas?” tanya Freya lirih.
Rendra mengabaikan pertanyaan Freya dan justru beralih menatap ibunya. “Bu, aku udah membuat keputusan. Aku udah nggak bisa mempertahankan pernikahan ini lebih lama lagi. Freya... rahimnya bermasalah, dia mandul. Udah berkali-kali aku memeriksakannya ke dokter, dan hasilnya nihil. Dokter bilang rahimnya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan.”
“Apa? Jadi benar dugaan kita selama ini?” Yati memekik, wajahnya memerah karena amarah. “Jadi selama ini kamu membuang-buang waktu anakku, Freya?!”
“Mas, jangan fitnah aku!” Freya akhirnya bersuara, suaranya gemetar menahan emosi yang meluap. “Kamu tahu itu nggak benar! Kamu sendiri yang ....”
“Cukup!” Rendra memotong dengan suara menggelegar, membuat Freya tersentak.
Rendra berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke arah Freya dengan tatapan mengancam yang kembali menggetarkan jiwa Freya. “Kamu nggak punya hak buat membantah, Frey! Keputusanku sudah bulat. Kita bercerai minggu ini. Dan ingat, jangan pernah berani menyinggung soal ‘alasan lain’ di depan siapa pun, atau kamu tahu apa akibatnya.”
Rendra kemudian menoleh ke arah ibunya dengan wajah yang dibuat-buat sedih. “Aku sudah lelah, Bu. Aku butuh keturunan, dan sudah sangat jelas, Freya nggak bisa ngasih keturunan buat aku, buat keluarga ini. Aku akan mengurus surat perceraian secepatnya.”
Freya terdiam kaku. Ia menatap Rendra yang kini berakting seolah-olah dia adalah korban dari istri yang mandul. Kebohongan yang sangat sempurna untuk menutupi orientasi seksualnya yang menyimpang.
Di saat Rendra merencanakan pelariannya ke Berlin untuk menemui kekasih prianya, ia justru menginjak-injak harga diri Freya di depan mertuanya sendiri sebagai kedok terakhir.
“Dengar itu, Freya! Segera kemasi barang-barangmu!” ujar Yati semakin angkuh. “Serahkan urusan perceraian pada kuasa hukummu, jangan banyak drama! Sudah cukup Rendra menderita mempertahankan wanita tak berguna sepertimu selama Dua Tahun ini! Dia berhak mendapatkan yang jauh lebih baik darimu!”
Freya tetap diam tanpa bantahan. Ia menyadari kalau diam adalah pilihan terbaik untuknya. Ia pun melapangkan hatinya untuk menerima semua fitnah dan hinaan keji itu.
“Baik, Mas! Ceraikan aku segera!”
Karena obrolan itu dirasa sangat serius, Yasa pun mempersilakan Freya untuk masuk ke dalam kamarnya, ia sendiri sudah memakai pakaian. Freya terduduk lemas di sofa, ia nampak shock, napasnya naik turun menahan marah dan kecewa. "Atas nama Fiona? Oke ... kirimkan semua bukti transaksinya, jangan lupa sertifikatnya juga! Oke ...." Sementara Yasa sedang menelpon orang kepercayaannya untuk konfirmasi ulang soal transaksi toko Casa de Cake itu. Saat nama Fiona disebut, hati Freya semakin hancur. Ternyata benar kalau Fiona memang sengaja mengirim Freya untuk liburan ke Bali agar dia bisa leluasa menjual toko kue miliknya. Yasa kembali fokus pada Freya setelah selesai menelpon. Yasa juga nampak gusar karena baru tahu kalau toko yang baru saja ia beli dari Fiona adalah milik bersama dengan Freya. "Saya udah urus soal transaksi jual beli ini sejak 2 minggu lalu, emangnya kamu nggak tau sama sekali?" tanya Yasa nampak kesal. "Aku sama sekali nggak tau. Aku sama sekali nggak curiga
Freya melangkah masuk ke dalam kamar Resort yang diberikan Yasa dengan perasaan yang berkecamuk. Kamar itu cukup mewah, hangat, dan sangat nyaman—kontras dengan kekacauan yang sedang terjadi di hidupnya. Ia meletakkan kopernya di sudut ruangan, lalu segera mencari stopkontak untuk mengisi daya ponselnya yang mati total. “Awas aja Kak Fiona! Bener-bener tega ya mempermainkan aku kayak gini!” gerutu Freya sangat kesal. Begitu ponsel menyala, Freya berharap ada notifikasi pesan atau panggilan tak terjawab dari Fiona, tapi ternyata tidak ada! Tidak ada sama sekali! Freya mencoba menekan tombol panggil untuk kesekian kalinya. “Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...” “Arghhhhhh!” Freya melempar ponselnya ke atas kasur dengan frustrasi. Kakinya lemas, ia terduduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan halaman Resort yang hijau dan asri. Ia menyadari satu hal yang pahit, ia telah dipermainkan oleh Kakak kandungnya sendiri. “Kenapa, Kak Fiona?
Freya jadi malu, jujur, kejadian di Cafe Bandara beberapa jam lalu masih melekat di ingatannya. Terlebih ia malu karena telah keliru menuduh pria itu menyerobot mejanya. “Kak? Bagaimana? Apa proses check in-nya mau dilanjutkan?” desak resepsionis itu nampak tak sabaran, mengetuk-ngetuk meja dengan pulpennya, membuat Freya makin kebingungan. “Saya, saya baru saja kehilangan uang di rekening saya, ... saya juga butuh waktu sebentar untuk menghubungi Kakak saya di Jakarta untuk meng-konfirmasi kode booking yang tadi,” ujar Freya dengan suara yang nyaris bergetar. Yasa Janitra, nama pria itu! Yasa melirik dan ia juga cukup kaget saat mendapati sosok gadis annoying itu kini sedang berdiri di meja resepsionis Resort yang sama dengannya. “Maaf, Nona, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Antrean di belakang sudah cukup panjang,” balas si resepsionis dengan nada yang mulai tidak ramah. Di sampingnya, Yasa baru saja selesai melakukan proses check-in kilat. Pria itu menerima kunci kamar dar
“Saya meninggalkan koper saya di sini sebagai tanda,” sahut Freya tegas, menunjuk koper silver yang ada di dekat si pria. “Dan saya Cuma pergi sebentar aja lho ke toilet.” Pria itu mengerutkan kening, menatap Freya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang seolah sedang menilai.“Bagaimana bisa Anda begitu santainya duduk di meja yang sudah ada pemiliknya ini? Padahal masih ada banyak meja kosong yang bisa Anda pilih!” Freya agak mengomel karena kesal. “Menurut kamu ini meja kamu? Dan ini koper milik kamu?” tanya pria itu masih dengan sikap dinginnya. “Ya! Jelas! Sebelum saya pergi ke toilet, meja ini adalah tempat saya!” tegas Freya. “Permisi, Kak.” Tak lama, di belakang Freya ada yang menyapa dengan sopan. Seorang petugas kebersihan Cafe. Freya menoleh dan merasa heran karena petugas itu menggeret sebuah koper yang sama persis dengan miliknya. “Apakah ini milik Anda?” tanya Office girl itu. “Oh ....” Freya kebingungan, ia memperhatikan koper itu lalu kemudian m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires