Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!

Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!

last updateDernière mise à jour : 2026-08-01
Par:  SAKABIYAMis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Note. 1 commentaire
6Chapitres
23Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

"Bukankah kamu Janda? Tapi, kenapa sesempit ini ....?" Aku terpaksa menikahi duda angkuh yang dingin demi tokoku kembali, tanpa tahu status janda perawanku justru membuat malam pertama kami menjadi gairah yang membara ....

Voir plus

Chapitre 1

1. Video Call Gila

“Terus, Sayang! Lakukan sambil berdiri…” 

Freya seketika membeku. Tangannya yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar untuk memanggil Rendra, suaminya selama dua tahun ini, seketika gemetar.

“Mas Rendra… Kamu…”

Suara itu terdengar menjijikan, bukan suara wanita, tapi Freya sedang mendengar suara seorang pria sedang beradu erangan dan desahan dengan Rendra. 

Apa mereka sedang melakukan Video Call? Freya sampai mual mendengarnya.

“Apa-apaan ini?” gumam Freya, tangannya mendekap mulut. Jijik sekali mendengar suaminya sedang 'memuaskan hasrat masing-masing' secara virtual lewat sambungan video call. 

“Sakit tapi enak, Beb! Aahhh, sumpah aku nggak sabar kita ketemu dan ngelakuinnya secara nyata ...” Rendra mendesah manja. 

“Aku juga ....” 

“Terus ya ... aaah, terus ....” 

“Aku udah keluar.” 

“Aku juga ... aaah, enak banget, Sayang. Jadi kapan kamu ke Jakarta?” 

Freya semakin ternganga, perasaannya berantakan dan perutnya seakan sedang diremas-remas sampai mual. 

“Kita nggak bisa ngelakuinnya di Jakarta, Sayang. Kamu kan aktor terkenal, kamu nggak punya privasi di sana, jadi mending kamu aja yang nyamperin aku ke sini. Di sini banyak pasangan yang go public.” 

“Jadwal aku masih padat, tapi kalo emang kamu mau, ya udah deh aku akan ke Berlin akhir minggu ini.” 

“Oke, aku tunggu ya. Oh iya, gimana dengan istri kamu? Apa dia akan ikut?” 

“Ikut? Yang nggak lah! Ide buruk kalo aku ajak dia buat ketemu kamu! Lihat kamu yang ganteng plus gagah, bisa-bisa dia jatuh cinta sama kamu! Itu nggak boleh! Kamu itu Cuma milik aku!” 

“Ha ha, bisa aja kamu, Sayang.” 

Freya mendengar percakapan sesat itu dan rasanya dunianya berhenti berputar. 

Diselingkuhi dengan wanita cantik, No. 

Diselingkuhi dengan pria tampan dari Jerman, Yes. 

Hidup memang sebercanda itu bagi Freya! 

Kini ia tahu alasan kenapa Rendra tak pernah menyentuhnya. Ternyata bukan karena dia jelek atau bau ikan asin, tapi faktanya lebih menjijikan dari yang ia duga, rupanya suaminya itu adalah seorang penyuka sesama jenis. 

Percakapan laknat itu sudah tak terdengar lagi, Freya pun mulai memutar knop pintu dan membukakannya perlahan. 

Rendra, yang baru saja mematikan layar ponselnya dengan gerakan panik, mematung di depan cermin. Wajahnya yang biasanya dipuja jutaan penggemar sebagai aktor papan atas, kini terlihat pucat pasi, bercampur dengan sisa-sisa nafsu yang masih tertinggal di matanya. 

Freya tidak bergerak. Tangannya yang tadi memegang gagang pintu terkulai lemas di samping tubuhnya. Matanya yang bening perlahan mengabur karena genangan air mata, 

“Freya...” Suara Rendra terdengar serak, ia mencoba mendekat, namun Freya mundur selangkah, menjaga jarak seolah Rendra adalah sesuatu yang menjijikkan. 

“Jangan sentuh aku!” desis Freya. Suaranya nyaris tak terdengar, namun sarat dengan getaran luka yang dalam. “Jangan pernah menyentuhku dengan tangan yang baru saja... melakukan hal itu.” 

Rendra mengangkat wajahnya, sorot matanya kini menjadi tajam. “Sekarang kamu udah tau, terus kamu mau apa, huh? Mau membocorkan rahasia ini ke Publik? Menghancurkan reputasi dan masa depan karirku, gitu?” 

“Tobat, Mas! Yang kamu lakuin ini dosa!” ucap Freya dengan tubuh gemetar.

“Halaah! Nggak usah bawa-bawa dosa! Ini urusanku!”

“Karir kamu bisa hancur andai orang-orang tau ini semua ....”

“Orang-orang nggak akan tau kalo kamu tetap diam dan menjaga rahasia ini!” sambar Rendra, ia sudah mulai bersikap keras dan mengecam. Rasa paniknya lenyap, membalikan keadaan membuat Freya dalam posisi tersudut saat ini. 

Rendra semakin mendekat lalu mencengkram wajah Freya dengan kasar lalu mengancam, “Kalo kamu berani buka mulut soal ini, aku pastikan hidup kamu nggak akan pernah tenang, Frey! Hidupmu, keluargamu, bisnis kecilmu, aku pastikan akan hancur dengan cara yang menyakitkan!” 

Mendengar ancaman Rendra, Freya mulai gentar. Ia tak berani menyahut. Rendra adalah sosok yang akan melakukan apapun demi mencapai ambisinya, bahkan jika itu harus menghancurkan hidup orang lain. Freya pun hanya diam. 

“Kamu harus ikuti skenarioku! Aku akan melepaskan kamu dengan caraku, dan ingat satu hal, kamu harus tetap diam soal rahasiaku ini!” Rendra menghempas wajah Freya cukup kasar lalu ia masuk kembali ke dalam kamar, tepatnya ke dalam kamar mandi. 

Freya benar-benar terbungkam. Ancaman Rendra seperti obat bius yang melemahkannya. Tak dapat dipungkiri kalau ia sangat takut dengan kata-kata suaminya barusan.

***

Di meja makan, atmosfer yang seharusnya hangat justru terasa sedingin es. Freya duduk lemas di kursinya, jemarinya mencengkeram sendok dengan malas. 

Bayangan wajah Rendra yang kasar dan ancamannya di depan kamar tadi terus berputar di kepala, membuat perutnya mual setiap kali ia menatap pria yang kini sedang menyesap kopi dengan santai di sampingnya. 

“Freya!” Suara nyaring Yati, ibu mertua Freya, memecah kesunyian. Ia meletakkan cangkirnya dengan keras ke piring tatak. “Sudah dua tahun, Freya. Dua tahun! Kamu masih saja kosong. Apa kamu benar-benar nggak bisa ngasih cucu buat keluarga ini?” 

Freya menunduk dalam, tenggorokannya terasa tercekat. “Maaf, Bu...” 

“Maaf, maaf! Bisanya Cuma minta maaf terus! Kata-kata itu nggak akan membuat rahimmu terisi!” Yati mendengus sinis, matanya menatap Freya dengan tatapan merendahkan. “Ibu mulai curiga, apa mungkin kamu memang wanita yang nggak berguna? Lihat orang-orang, baru menikah hitungan bulan saja sudah pada pamer foto USG. Kamu? Cuma bisa nyusahin anakku! Dia itu aktor terkenal! Jadi kebawa-bawa jelek gara-gara kamu yang belum bisa kasih dia keturunan!” 

Freya masih diam. Biasanya, di saat seperti ini, ia akan berusaha membela diri, tapi setelah percakapan ‘laknat’ yang ia dengar tadi, lidahnya kelu. Rahasia besar Rendra membuat setiap kata yang keluar dari mulut Yati terasa seperti lelucon yang sangat tragis. 

Rendra, yang duduk tenang di samping Freya, justru menyandarkan punggungnya dengan angkuh. Ia meletakkan ponselnya, menatap Freya dengan sorot mata yang penuh intimidasi, seolah memberi peringatan melalui tatapan, ‘ingat ancamanku, Freya!’ 

“Freya memang nggak becus, Bu,” sahut Rendra dingin, suaranya terdengar datar dan tanpa empati. “Sepertinya selama ini aku terlalu sabar menunggunya.”

Freya mendongak, menatap Rendra dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Rendra akan memutarbalikkan fakta sekejam ini. 

“Maksud kamu apa, Mas?” tanya Freya lirih. 

Rendra mengabaikan pertanyaan Freya dan justru beralih menatap ibunya. “Bu, aku udah membuat keputusan. Aku udah nggak bisa mempertahankan pernikahan ini lebih lama lagi. Freya... rahimnya bermasalah, dia mandul. Udah berkali-kali aku memeriksakannya ke dokter, dan hasilnya nihil. Dokter bilang rahimnya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan.” 

“Apa? Jadi benar dugaan kita selama ini?” Yati memekik, wajahnya memerah karena amarah. “Jadi selama ini kamu membuang-buang waktu anakku, Freya?!” 

“Mas, jangan fitnah aku!” Freya akhirnya bersuara, suaranya gemetar menahan emosi yang meluap. “Kamu tahu itu nggak benar! Kamu sendiri yang ....” 

“Cukup!” Rendra memotong dengan suara menggelegar, membuat Freya tersentak. 

Rendra berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke arah Freya dengan tatapan mengancam yang kembali menggetarkan jiwa Freya. “Kamu nggak punya hak buat membantah, Frey! Keputusanku sudah bulat. Kita bercerai minggu ini. Dan ingat, jangan pernah berani menyinggung soal ‘alasan lain’ di depan siapa pun, atau kamu tahu apa akibatnya.” 

Rendra kemudian menoleh ke arah ibunya dengan wajah yang dibuat-buat sedih. “Aku sudah lelah, Bu. Aku butuh keturunan, dan sudah sangat jelas, Freya nggak  bisa ngasih keturunan buat aku, buat keluarga ini. Aku akan mengurus surat perceraian secepatnya.” 

Freya terdiam kaku. Ia menatap Rendra yang kini berakting seolah-olah dia adalah korban dari istri yang mandul. Kebohongan yang sangat sempurna untuk menutupi orientasi seksualnya yang menyimpang.

Di saat Rendra merencanakan pelariannya ke Berlin untuk menemui kekasih prianya, ia justru menginjak-injak harga diri Freya di depan mertuanya sendiri sebagai kedok terakhir. 

“Dengar itu, Freya! Segera kemasi barang-barangmu!” ujar Yati semakin angkuh. “Serahkan urusan perceraian pada kuasa hukummu, jangan banyak drama! Sudah cukup Rendra menderita mempertahankan wanita tak berguna sepertimu selama Dua Tahun ini! Dia berhak mendapatkan yang jauh lebih baik darimu!” 

Freya tetap diam tanpa bantahan. Ia menyadari kalau diam adalah pilihan terbaik untuknya. Ia pun melapangkan hatinya untuk menerima semua fitnah dan hinaan keji itu. 

“Baik, Mas! Ceraikan aku segera!”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

commentaires

Istiatun Rokhmaniah
Istiatun Rokhmaniah
Hai Kak Thor ...
2026-08-01 19:33:02
1
1
6
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status