Share

Alumnus Terbaik!

Penulis: Nic Arhsy
last update Tanggal publikasi: 2026-09-23 22:25:03

"Biar aku saja yang duduk di situ, Sean. Daripada dikosongkan dan dilihat orang lain tidak enak," seloroh Chelsea lembut seraya menyunggingkan senyum penuh harap. Ia sudah hendak menarik kursi di samping kanan Sean, siap mengambil alih posisi sang Nyonya Utama.

"Jangan sentuh kursi itu, Chelsea! Ini milik Stella istriku." tegur Sean tegas, suaranya dipenuhi penekanan dingin yang menembus keheningan meja VIP.

Chelsea tersentak kaku di tempatnya berdiri, tangannya mengambang di udara. Pengusiran
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Liss02
Video apaan sih yang akan diputar?? Sepertinya akan menjatuhkan Stella ini mah.
goodnovel comment avatar
Liss02
The best banget penghargaan buat Stella Syailendra. Ia alumni angkatan terbaik yang menjadi dokter spesialis bedah berprestasi yang sangat membanggakan.
goodnovel comment avatar
𝙽𝚊𝚟𝚎𝚍
ehbemangbada video apaan ko kynya mau ngejatuhin stella sh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Merangkak

    Sinar matahari pagi masuk lewat jendela kaca rumah kayu Alpen, menghangatkan sudut ruangan tempat Liam Alexander sibuk bereksplorasi. Bayi yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan itu terlihat sangat lincah. Dengan gigi susu kecil yang baru tumbuh dua di bagian bawah, Liam merangkak dengan cepat mengejar bola kain warna-warni yang digelindingkan oleh ibunya."Wah, jagoan Mama sudah pintar sekali merangkak, ya? Mau ke mana, hm?" gemas Stella sambil berlutut di atas karpet bulu, tertawa kecil saat Liam berhasil menangkap bola itu dan langsung mendongak menatapnya dengan mata bulat yang sangat jernih, mata yang begitu mirip dengan milik Sean.Sofia Von Bern yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi cangkir teh langsung tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Ia meletakkan nampannya di atas meja lalu ikut duduk bersila di samping Stella."Dia cepat sekali besarnya, Stel. Perasaan baru kemarin kamu melahirkan anak ini dalam kondisi darurat di atas ranjang itu, dan sekarang

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Praktek

    Cairan beralkohol dengan kadar tinggi itu membakar kerongkongan Sean, meninggalkan rasa perih yang teramat sangat, namun sama sekali tidak mampu menumpulkan rasa sakit yang mencengkeram dadanya. Sean meletakkan botol wiski tersebut kembali ke atas meja bar dengan kasar hingga menimbulkan suara benturan keras. Napasnya memburu, sementara pandangannya menerawang kosong menembus kaca jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai penthouse-nya.Di bawah pengawasan ketat psikiater, pelampiasan semacam ini sebenarnya sangat dilarang. Namun malam ini, pertahanan mental Sean benar-benar runtuh hingga ke titik terendah. Bayangan wajah Stella saat terakhir kali menatapnya dengan penuh kekecewaan terus berputar-putar di dalam kepalanya, menghantui setiap detik keheningan yang ia lalui.Tiba-tiba, suara ketukan pelan namun tegas terdengar memecah keheningan ruang kerja pribadinya. Pintu berderit terbuka, menampilkan sosok Samuel yang melangkah masuk

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Journaling

    Hari-hari berikutnya di pedesaan Swiss berjalan dengan keindahan yang menenangkan. Udara pegunungan Alpen yang sejuk berpadu sempurna dengan kehangatan di dalam rumah kayu peninggalan nenek Sofia. Stella menikmati setiap detik perannya sebagai seorang ibu bagi Liam Alexander. Bayi mungil itu tumbuh dengan sangat sehat, mewarisi keindahan fisik perpaduan antara ayah dan ibunya serta ketenangan yang membuat hari-hari Stella dipenuhi senyuman. Di sela-sela waktu mengurus Liam, Stella tetap konsisten menepati janjinya untuk membantu Sofia. Setiap sore, ketika Liam tertidur pulas di dalam boks kayunya, Stella duduk di dekat meja kerja beralaskan cahaya lampu temaram, meneliti lembar demi lembar data patologi klinik milik Sofia. Analisis seluler dan penyusunan jurnal medis internasional itu bukan sekadar bentuk balas budi, melainkan terapi mental yang menjaga pikirannya tetap tajam dan terarah. Semua rahasia keberadaannya di Swiss terjaga dengan sangat rapat. Tidak ada satu pun cel

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Liam Alexander

    "Sebuah nama..." gumam Stella lirih. Tatapannya menerawang lembut ke arah wajah mungil putranya yang sedang tidur lelap di dalam dekapan hangatnya.Cahaya matahari pagi yang menerobos celah jendela kaca rumah panggung bergaya Alpen itu memantulkan kilau keemasan di atas rambut tipis sang bayi. Di tengah kesendirian dan badai luka masa lalu yang perlahan mereda, kehadiran malaikat kecil ini adalah satu-satunya alasan terkuat bagi Stella untuk kembali bangkit. Ia tidak lagi merasa rapuh. Ada kekuatan baru yang mengalir deras di dalam aliran darahnya sejak tangisan pertama bayi itu pecah di ruangan ini.Sofia Von Bern berdiri di sisi tempat tidur, melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum penuh kehangatan. "Bagaimana kalau namanya bernuansa alam Swiss? Atau sesuatu yang melambangkan ketenangan setelah badai?"Stella menggeleng pelan, namun senyuman manis terukir di bibirnya. Jemari lentiknya mengusap lembut pipi mulus sang bayi yang bergerak pelan dalam tidurnya. "Tidak, So

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Ketukan Pintu

    Ketukan pintu yang terdengar di lantai bawah rumah panggung kayu bergaya Alpen itu kontan membuat Sofia Von Bern menghentikan langkahnya yang hendak merapikan peralatan medis. Ia menoleh ke arah tempat tidur, mendapati Stella yang baru saja terlelap dengan napas tenang di samping bayi mungil mereka. Mengingat tempat itu adalah kediaman pribadi mendiang nenek Sofia yang terpencil di pedesaan Swiss, kedatangan tamu asing di pagi buta tentu menjadi sebuah kejutan besar."Istirahatlah, Stella. Biar aku yang turun mengecek siapa yang datang," bisik Sofia lembut seraya melangkah pelan keluar kamar, memastikan pintu tertutup rapat agar tidak mengusik ketenangan ibu dan bayi baru lahir tersebut.Dengan langkah berhati-hati, Sofia menuruni anak tangga kayu berderit menuju lantai dasar. Suara langkah kaki di luar sana terdengar makin jelas, disusul ketukan tegas pada daun pintu utama. Sofia merapikan kardigan rajutnya, menarik napas sejenak, lalu memutar gagang pintu dan membukanya perlahan.

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Welcome World

    "Teruslah mengejan, Stella! Tarik napas dalam-dalam, lalu dorong!" seru Sofia Von Bern dengan suara bergetar, kedua telapak tangannya siap menadah di ujung kain steril.Keringat dingin bercucuran deras membasahi pelipis Sofia. Sebagai seorang patologis klinik yang terbiasa menganalisis sampel jaringan di balik meja laboratorium steril, menghadapi proses persalinan darurat secara langsung di hadapan sahabat karibnya membuat jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Tidak ada ruang untuk ragu; ini adalah pertarungan hidup dan mati bagi Stella dan bayinya di tengah keterpencilan desa Alpen."Hah... hah... hah..." Stella mengambil napas panjang dengan dada kempas-kempis, seluruh tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit luar biasa yang seolah meremukkan tulang panggulnya.Di tengah gelombang kontraksi yang kembali menghantam tanpa belas kasihan, bayangan wajah Sean Anderson di panggung malam amal kembali berkelebat di benaknya. Pengakuan tulus, air mata penyesalan, dan janji suci pria

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status