author-banner
Nic Arshy
Author

Novel-novel oleh Nic Arshy

Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini

Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini

Dua tahun menikah, Stella baru menyadari jika pernikahannya adalah neraka; tidak hanya diperlakukan lebih buruk dari pembantu, ia diabaikan oleh Sean yang memiliki wanita lain, hingga dipaksa menggugurkan buah hatinya. Tak lagi sudi menjadi pijakan keluarga Anderson, Stella pun mengajukan perceraian. Namun, kepergian Stella yang tiba-tiba melukai harga diri Sean dan memicu obsesi gila yang tak pernah ia duga. "Jika kamu membenciku, silakan benci. Tapi kamu harus tetap di sampingku. Sampai mati pun, statusmu tetap istri seorang Sean Anderson!"
Baca
Chapter: Apa itu?
Sean tiba-tiba mengecup pipi Stella. "Kau menggairahkan malam ini," bisiknya sambil menyapu rambut basahnya ke belakang, lalu meraih selimut yang sempat terdorong ke sudut kasur. Tanpa rasa bersalah, Sean menarik Stella ke dalam pelukannya dari belakang, melingkarkan lengan tegapnya di pinggang sang istri. Hawa panas dari tubuh Sean terasa kontras dengan tubuh Stella yang mendadak dingin dan kaku. Bagi Sean, apa yang baru saja terjadi adalah pembuktian mutlak bahwa Stella masih miliknya sepenuhnya, seorang istri yang tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari genggamannya, betapa pun berkas perceraian itu telah berada di depan mata."Tidurlah, Stella. Jangan buat masalah lagi besok," bisik Sean santai, suara seraknya begitu dekat di telinga Stella sebelum deru napasnya perlahan teratur tanda pria itu telah lelah dengan kepuasan penuh.Perlahan namun pasti, Stella menggeser lengan tegap Sean yang menindih pinggangnya. Setiap pergerakan terasa sangat berat. Tubuhnya begitu remuk, peg
Terakhir Diperbarui: 2026-08-14
Chapter: Ah! Jangan, Kak.
Stella mematung saat punggungnya terhempas ke atas kasur yang empuk. Ujung jarinya menegang, meremas sprei satin hitam dengan ketakutan yang mendadak membumbung tinggi. Matanya menatap lurus pada sepasang manik hitam Sean yang dipenuhi oleh keangkuhan dan dominasi yang pekat.Bayangan Nenek Anderson yang sedang beristirahat di lantai bawah mendadak terlintas tajam di benaknya. Keributan sekecil apa pun di kamar ini pasti akan langsung merusak suasana dan mengganggu kesehatan wanita tua itu yang kian melemah. Rasa hormat yang mendalam pada satu-satunya orang yang bersikap baik padanya di rumah ini melumpuhkan seluruh niat Stella untuk berteriak."Lepaskan aku, Kak Sean," bisik Stella dengan suara bergetar namun sarat akan penolakan yang jelas. Ia berusaha menggeser bahunya, mencoba mendorong dada bidang Sean yang masih basah dengan sisa kekuatan yang ia miliki.Sean tidak bergeming sedikit pun. Cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Stella justru makin mengerat di atas kepala, me
Terakhir Diperbarui: 2026-08-14
Chapter: Paksaan
“Buat apa bahas hal ini di saat makan malam? Jangan bikin malu,” potong Sean tajam.Suaranya yang berat memotong keheningan ruangan. Tatapan matanya menajam, menusuk Stella dengan implikasi teguran yang teramat jelas, bahwa Sean paling benci membahas masalah pribadi bersama orang lain, apalagi hal sesensitif dan seprivat itu di hadapan seluruh keluarga besar.Mendengar respons Sean, wajah Nyonya Anderson yang tadinya sempat pucat pasi seketika berganti warna menjadi merah padam.Wanita paruh baya itu menunduk tajam, meremas kain serbet di pangkuannya demi menutupi rasa malu dan kecemasan yang sempat membakar dadanya. Jika saja Nenek Anderson tidak berada di ujung meja, pasti dia sudah membentak Stella habis-habisan.Sementara itu, Jessica duduk terpaku dengan napas tertahan. Di bawah taplak meja kayu jati yang tebal, jemarinya meremas kain gaunnya sendiri. Matanya berkilat menatap Stella dengan dendam yang membara. Berani-beraninya wanita tanpa latar belakang ini mencoba memancing to
Terakhir Diperbarui: 2026-08-14
Chapter: Dokter Kandungan
Di ujung sambungan telepon yang telah terputus secara sepihak, Sean berdiri diam di koridor lantai atas Seasons Hotel. Jemari kokohnya menggenggam ponsel dengan erat, memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangannya yang membuat penampilannya terlihat sangat jantan.Namun, kejengkelan yang sempat merayapi benaknya perlahan mengendur, berganti dengan ketenangan dingin yang kembali menguasai perawakannya yang karismatik. Napas Sean berembus perlahan dari hidung bangirnya.Meski tadi Stella bereaksi tak biasa, tapi wanita itu tetap langsung menurut dan bertekad menemuinya begitu mendengar nada bicaranya yang meninggi.Dengan kata lain, keberadaan Stella di atas panggung tadi hanyalah bentuk rekayasa singkat bersama Julian untuk memancing cemburunya. Wanita itu masih berada dalam genggamannya.Sean kembali mengoperasikan ponselnya, mendial nomor istrinya.“Stella,” ucap Sean saat panggilan kembali terhubung. Nada suaranya terdengar sangat tenang, namun sarat akan otoritas yang dominan
Terakhir Diperbarui: 2026-08-14
Chapter: Pengacara - Adnan
Gema tepuk tangan riuh masih terdengar di dalam ballroom Seasons Hotel saat Stella menuruni anak tangga panggung utama. Plakat kristal dan piala penghargaan bernuansa emas berada dalam pelukannya. Fokus seluruh isi ruangan masih tertuju pada sosok wanita yang baru saja dinobatkan sebagai peneliti terbaik tahun ini.Julian yang menunggunya di bawah panggung menyambut Stella dengan raut bangga. Tanpa membuang waktu, Julian membimbing Stella menuju jajaran tamu VIP di sisi kanan ballroom, tempat para petinggi industri medis dan investor internasional berkumpul.“Kamu memang sangat mengagumkan, Stella,” bisik Julian rendah dengan senyum tipis. “Mari, beberapa pimpinan konsorsium internasional ingin mendiskusikan implementasi paten formulamu secara langsung.”“Julian, aku tidak menyangka, kamu masih mencantumkan namaku di sana. Aku bahkan sudah melupakannya.” Bisik Stella dengan mata berkaca-kaca terharu.“Tentu, itu adalah hasil kerja kerasmu. Dan kamu berhak mendapatkan tepuk tangan seme
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Chapter: Julian
Sean tidak memberikan bantahan atas pernyataan Samuel. Pria itu hanya mengulas senyum tipis di bibirnya yang tampan, sebuah senyuman berwibawa yang penuh karisma, memancarkan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang mendalam.“Sudahlah. Kita ke dalam,” kata Sean dengan nada suara bariton lembut—sangat berbeda dari intonasi dingin dan berjarak yang selalu ia gunakan saat berbicara dengan Stella. “Tidak baik bagi Chelsea berdiri terlalu lama.”Stella baru tahu Sean bisa bicara selembut itu. Selama ini, Stella berpikir cara bicaranya yang dingin itu memang sudah menjadi kepribadiannya. Ternyata, sikapnya juga tergantung pada siapa dia berbicara.Dari balik pilar marmer, Stella mengamati bagaimana jemari Sean yang kokoh memegang siku Chelsea dengan penuh hati-hati. Sikap protektif berkarisma dari pria tampan itu, sesuatu yang tidak pernah Stella dapatkan selama dua tahun menjalankan peran sebagai istri, kini diberikan sepenuhnya kepada wanita lain.Pikiran Stella bekerja dengan sangat cepa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-13
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status