تسجيل الدخولDua tahun menikah, Stella baru menyadari jika pernikahannya adalah neraka; tidak hanya diperlakukan lebih buruk dari pembantu, ia diabaikan oleh Sean yang memiliki wanita lain, hingga dipaksa menggugurkan buah hatinya. Tak lagi sudi menjadi pijakan keluarga Anderson, Stella pun mengajukan perceraian. Namun, kepergian Stella yang tiba-tiba melukai harga diri Sean dan memicu obsesi gila yang tak pernah ia duga. "Jika kamu membenciku, silakan benci. Tapi kamu harus tetap di sampingku. Sampai mati pun, statusmu tetap istri seorang Sean Anderson!"
عرض المزيد“Gugurkan janin itu, Stella. Putraku menikahimu karena balas budi. Keluarga Anderson tidak ingin memiliki keturunan dari rahim seorang benalu. Kami bukan lembaga amal.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nyonya Anderson. Meski tanpa nada dan emosi tapi terlihat begitu dingin, hingga menyesakkan dada. Wanita tua itu bahkan tak sudi menoleh ke arah sang mantu. Begitu dalam kebencian di matanya. Sorot yang sama dengan wanita cantik di sebelahnya yang merupakan adik sang suami. “Mama benar, Kak!” sahut Jessica dengan nada halus. “Di mata kami, kamu hanya wanita penggoda yang melakukan apa pun demi uang. Di mana-mana, pelacur gak boleh sampai melahirkan. Apalagi, Kak Sean menikahi kamu cuma karena kasihan. ” Kedua tangan Stella bergetar hebat. Secara refleks, jemarinya yang dingin turun memeluk perutnya yang masih datar. Ada perih di hatinya. Bagaimana mungkin dia dipaksa harus membunuh darah dagingnya sendiri, di saat dia sendiri berharap bahwa anak itu adalah keajaiban untuknya agar keluarga Anderson menerima kehadirannya? “Tapi, Ma,” suara Stella terdengar pecah dan serak. Isak tangis menyumbat tenggorokannya hingga ia sulit bernapas. “Ini darah daging Sean, cucu Mama sendiri. Mohon berikan dia kesempatan untuk hidup.” Nyonya Anderson mendongak cepat. Tatapan matanya menusuk tajam, terlihat angkuh dan kejam. “Cucu? Jangan membuatku tertawa, Stella!” potong Nyonya Anderson dingin. Dia mendengkus pelan. “Justru karena itu darah daging Sean, makanya dia tidak boleh lahir dari perutmu. Jangan gunakan anak untuk menjerat Sean lebih jauh. Kamu sudah cukup menyanderanya dengan ayahmu, kan?” “Ma…” “Sudah aku katakan, jangan panggil aku mama kalau tidak ada Sean! Jijik aku mendengarnya. Gugurkan minggu ini, atau kuadukan kau menentang mertuamu pada Sean,” tegas Nyonya Anderson seraya berdiri dari duduknya. Stella diam menunduk sambil menyerap kata-kata itu, memegangi perutnya ketika mertua dan adik iparnya itu melenggang pergi. Ini bukan pertama kalinya Stella diperlakukan seperti ini. Selama dua tahun membina rumah tangga bersama Sean, dia kerap dibiarkan menyantap makanan sisa di dapur, dikucilkan dalam setiap acara keluarga, dicap sebagai wanita tak berguna, dan diperlakukan lebih rendah dari seorang pelayan rumah tangga. Bahkan, semua ini sudah dimulai sejak Stella pertama kali menjejakkan kakinya ke keluarga Anderson. Stella memang bukan berasal dari keluarga terpandang. Dulu, usaha keluarganya mengalami kebangkrutan akibat hutang yang menumpuk dan hal itu membuat mereka seketika jatuh miskin. Ayahnya yang merupakan satu-satunya keluarga, mengalami syok berat hingga terkena serangan jantung dan tak sadarkan diri. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan diputuskan bahwa ayah Stella harus dirawat intensif di ICU hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Stella sendiri adalah dokter, ia bekerja di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Tiap hari mengabdikan diri untuk mencari uang dan merawat ayahnya. Meski begitu, biaya perawatan itu tentu saja tidak murah. Sampai setahun kemudian, Stella bertemu lagi dengan Sean. Cinta lamanya di SMA. Pria itu datang dalam keadaan koma akibat kecelakaan maut yang dialaminya. Stella ditugaskan untuk merawatnya. Dan sejak itu, ia dengan setia mendampingi Sean. Setiap hari, Stella dengan telaten membersihkan tubuh pasien VIP tersebut, mengganti pakaiannya, melantunkan doa-doa kesembuhan, hingga membacakan cerita dan menyanyikan lagu untuk pria yang tak sadarkan diri itu. Ketulusan itu mengetuk hati Mariam Anderson, Nenek Sean. Merasa berhutang budi dengan Stella, ia akhirnya menikahkan Stella dengan Sean ketika cucunya itu sudah pulih. Nyonya besar itu bahkan berjanji akan membiayai perawatan ayah Stella jikalau wanita itu menyetujui perjodohan ini. Stella tentu saja menerima tawaran tersebut. Tapi, keputusan itu ditentang sepenuhnya oleh keluarga Anderson yang lain. Hanya karena Sean, sosok yang paling dihormati oleh keluarga Anderson, menyetujuinya, mereka akhirnya terpaksa untuk setuju juga. Maka tidak heran saat Sean tak melihat, mereka semua akan merundung Stella. Dan Stella selalu membiarkan dirinya menjadi objek perundungan. Dia bahkan tidak pernah mengeluh atau mengadu kepada Sean, karena tidak ingin menambah beban sang suami yang sudah menghidupinya itu. Namun dengan kejadian hari ini, Stella sadar dia tidak boleh lagi berdiam diri ketika keluarga dari ayah janinnya menuntut untuk melenyapkan buah hatinya sendiri. ‘Aku harus jujur ke Kak Sean. Aku tidak bisa membiarkan mereka berlaku semena-mena pada anak kami, meski mereka keluarga Kak Sean sendiri. Kak Sean pasti akan melakukan sesuatu soal ini,’ bisik Stella dalam hati penuh harap. Stella akhirnya bangkit berdiri setelah beberapa menit terdiam dalam kehampaan. Dengan langkah tertatih dan pandangan yang kabur oleh genangan air mata, Stella memutar tubuhnya. Dia menyusuri koridor sunyi di lantai dua menuju ruang kerja pribadi milik Sean. Biasanya, Stella tidak pernah berani datang ke ruangan itu kecuali atas permintaan sang suami. Ini pertama kalinya ia datang dengan inisiatif berbicara dengan sang suami. Tapi, saat jemari dinginnya hendak menyentuh gagang pintu, langkah Stella mendadak terhenti. Pintu itu sedikit terbuka, menyisakan celah sempit. Samar-samar, terdengar suara baritone bernada rendah, serak, dan begitu memikat milik suaminya. Sean sedang berbicara melalui panggilan pengeras suara dengan sahabat dekatnya, Sam. “Jujur, aku kasihan melihat istrimu, Sean,” suara Sam terdengar berat dari seberang panggilan. “Ibu dan adik-adikmu memperlakukannya jauh lebih buruk daripada seorang pembantu. Kamu gak nyangka, bukan?” Keheningan melingkupi lorong sejenak. Jantung Stella berdegup kencang tak beraturan. Bahkan, sahabat Sean yang hanya sesekali bertemu dengan anggota keluarga Anderson yang lain menangkap situasinya. Di dalam ruangan, Sean tampak berdiri membelakangi pintu. Postur tubuhnya yang jangkung, tegap, dan berotot dibalut kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku. Jemari tangannya yang kokoh dan berurat menyangga sebuah gelas kristal berisi wiski. Sebuah tawa pelan dan rendah, yang terdengar amat tampan namun memancarkan aura dominasi yang kuat meluncur dari bibir pria itu. “Kamu bertanya apakah aku tahu, Sam?” sahut Sean tenang. Dentingan halus es batu yang bersentuhan dengan dinding gelas kristal terdengar sangat jelas saat jemarinya memutar gelas itu dengan santai. “Tentu saja aku tahu.” Jantung Stella serasa berhenti berdetak saat itu juga. Seluruh darah di tubuhnya membeku. “Serius kamu tahu?” tegur Sam dengan nada heran yang pekat. “Ya.” “Sean, kamu tahu dan kamu membiarkannya saja? Kamu tidak marah keluargamu memperlakukan perempuan yang berkorban untuk merawatmu sampai sembuh total saat koma seperti itu?” tanya Samuel. Sean menaruh gelas kristalnya ke atas meja marmer dengan gerakan perlahan namun teramat mantap. Setiap gerak-geriknya memancarkan pesona pria dewasa yang terbiasa mengendalikan segala hal di sekitarnya. “Aku sudah membalas pengabdiannya dengan memberikan status istri dan fasilitas keluarga Anderson. Dia sadar siapa yang memberikan support kepada keluarganya.” Sean memiringkan wajahnya sedikit, memperlihatkan sisi sampingnya yang sempurna dan teramat tampan, rahang tajam, hidung mancung, dan tatapan mata elang yang penuh kendali. Wajah yang sudah berhasil membuat Stella jatuh cinta. “Jadi, pengabdian pada keluargaku adalah harga yang memang pantas dia bayar untuk tetap tinggal di rumah ini. Dia tak pernah mengeluh, bukan? Artinya dia istri yang baik,” pungkas Sean datar. “Sudah selayaknya dia sadar diri dan tidak mengeluh.”Sean tiba-tiba mengecup pipi Stella. "Kau menggairahkan malam ini," bisiknya sambil menyapu rambut basahnya ke belakang, lalu meraih selimut yang sempat terdorong ke sudut kasur. Tanpa rasa bersalah, Sean menarik Stella ke dalam pelukannya dari belakang, melingkarkan lengan tegapnya di pinggang sang istri. Hawa panas dari tubuh Sean terasa kontras dengan tubuh Stella yang mendadak dingin dan kaku. Bagi Sean, apa yang baru saja terjadi adalah pembuktian mutlak bahwa Stella masih miliknya sepenuhnya, seorang istri yang tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari genggamannya, betapa pun berkas perceraian itu telah berada di depan mata."Tidurlah, Stella. Jangan buat masalah lagi besok," bisik Sean santai, suara seraknya begitu dekat di telinga Stella sebelum deru napasnya perlahan teratur tanda pria itu telah lelah dengan kepuasan penuh.Perlahan namun pasti, Stella menggeser lengan tegap Sean yang menindih pinggangnya. Setiap pergerakan terasa sangat berat. Tubuhnya begitu remuk, peg
Stella mematung saat punggungnya terhempas ke atas kasur yang empuk. Ujung jarinya menegang, meremas sprei satin hitam dengan ketakutan yang mendadak membumbung tinggi. Matanya menatap lurus pada sepasang manik hitam Sean yang dipenuhi oleh keangkuhan dan dominasi yang pekat.Bayangan Nenek Anderson yang sedang beristirahat di lantai bawah mendadak terlintas tajam di benaknya. Keributan sekecil apa pun di kamar ini pasti akan langsung merusak suasana dan mengganggu kesehatan wanita tua itu yang kian melemah. Rasa hormat yang mendalam pada satu-satunya orang yang bersikap baik padanya di rumah ini melumpuhkan seluruh niat Stella untuk berteriak."Lepaskan aku, Kak Sean," bisik Stella dengan suara bergetar namun sarat akan penolakan yang jelas. Ia berusaha menggeser bahunya, mencoba mendorong dada bidang Sean yang masih basah dengan sisa kekuatan yang ia miliki.Sean tidak bergeming sedikit pun. Cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Stella justru makin mengerat di atas kepala, me
“Buat apa bahas hal ini di saat makan malam? Jangan bikin malu,” potong Sean tajam.Suaranya yang berat memotong keheningan ruangan. Tatapan matanya menajam, menusuk Stella dengan implikasi teguran yang teramat jelas, bahwa Sean paling benci membahas masalah pribadi bersama orang lain, apalagi hal sesensitif dan seprivat itu di hadapan seluruh keluarga besar.Mendengar respons Sean, wajah Nyonya Anderson yang tadinya sempat pucat pasi seketika berganti warna menjadi merah padam.Wanita paruh baya itu menunduk tajam, meremas kain serbet di pangkuannya demi menutupi rasa malu dan kecemasan yang sempat membakar dadanya. Jika saja Nenek Anderson tidak berada di ujung meja, pasti dia sudah membentak Stella habis-habisan.Sementara itu, Jessica duduk terpaku dengan napas tertahan. Di bawah taplak meja kayu jati yang tebal, jemarinya meremas kain gaunnya sendiri. Matanya berkilat menatap Stella dengan dendam yang membara. Berani-beraninya wanita tanpa latar belakang ini mencoba memancing to
Di ujung sambungan telepon yang telah terputus secara sepihak, Sean berdiri diam di koridor lantai atas Seasons Hotel. Jemari kokohnya menggenggam ponsel dengan erat, memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangannya yang membuat penampilannya terlihat sangat jantan.Namun, kejengkelan yang sempat merayapi benaknya perlahan mengendur, berganti dengan ketenangan dingin yang kembali menguasai perawakannya yang karismatik. Napas Sean berembus perlahan dari hidung bangirnya.Meski tadi Stella bereaksi tak biasa, tapi wanita itu tetap langsung menurut dan bertekad menemuinya begitu mendengar nada bicaranya yang meninggi.Dengan kata lain, keberadaan Stella di atas panggung tadi hanyalah bentuk rekayasa singkat bersama Julian untuk memancing cemburunya. Wanita itu masih berada dalam genggamannya.Sean kembali mengoperasikan ponselnya, mendial nomor istrinya.“Stella,” ucap Sean saat panggilan kembali terhubung. Nada suaranya terdengar sangat tenang, namun sarat akan otoritas yang dominan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر