FAZER LOGINKeesokan paginya, matahari pesisir memancarkan cahaya keemasan yang hangat, menyinari halaman rumah kecil tempat Dapur Mama Liam beroperasi. Setelah mengantar Liam ke sekolah dan kembali ke rumah dengan akting kemesraan publik yang terpaksa Stella tampilkan di hadapan para wali murid, rutinitas harian langsung mengambil alih. Stella segera mengenakan apron hijaunya, berdiri di dekat meja dapur utama untuk menyiapkan pesanan katering dalam jumlah besar yang harus diselesaikan hari itu.Di ruang tengah, Mbak Lastri sudah tiba lebih dulu dan tengah merapikan beberapa wadah bahan makanan. Menyaksikan kesibukan sang pemilik rumah yang tampak kewalahan seorang diri, Sean melihat sebuah celah emas. Mengingat aturan mutlak yang Stella tetapkan sendiri kemarin malam bahwa di hadapan orang lain mereka harus bersikap selayaknya pasangan suami istri yang harmonis pria itu langsung memasang senyuman lebar dan memanfaatkan situasi tersebut secara maksimal."Ste! Aku bantu cuci sayuran di dapur y
"Berikan aku waktu," jawab Stella akhirnya dengan suara parau, berusaha menepis getaran aneh yang menjalar di dadanya saat menatap sorot mata penuh keyakinan dari pria di hadapannya. "Aku tidak bisa langsung memutuskan hal sebesar ini hanya dalam hitungan jam, Sean."Sean mengangguk paham. Pria itu tidak berniat mendesak istrinya lebih jauh lagi, sadar betul bahwa luka dan trauma yang dipikul Stella selama tiga tahun belakangan tidak akan sembuh dalam sekejap."Baiklah, Ste. Aku tidak akan memaksa. Tapi kumohon, pikirkan kesehatan Liam," jawab Sean lembut.Tanpa membuang waktu lagi, keduanya berbalik menuju mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan. Perjalanan pulang menuju rumah kecil di perkampungan nelayan itu ditempuh dalam keheningan yang sarat akan pikiran masing-masing. Begitu kendaraan terparkir di depan halaman, Stella langsung turun tanpa menunggu Sean membukakan pintu, melangkah cepat masuk ke dalam rumah untuk menyibukkan diri dengan urusan dapur.Waktu berlalu begitu
"Monggo dilanjutkan sarapannya, Pak, Bu. Saya langsung ke dapur belakang dulu ya, bereskan bahan-bahan katering hari ini," pamit Mbak Lastri ramah sambil tersenyum penuh arti, lalu melangkah menuju bagian belakang rumah kayu kecil itu.Sean kembali duduk di kursinya, mendampingi Liam yang dengan lahap menyuapkan sisa sarapannya. Di seberang meja, Stella masih sibuk merapikan kotak bekal sang buah hati dengan gerakan yang sesekali tampak salah tingkah akibat godaan Mbak Lastri sebelumnya."Ayo, Pa, makannya cepetan dikit. Nanti gerbang sekolahnya keburu ditutup sama Pak Satpam yang suka galak itu," protes Liam lucu sambil melambaikan sendok kecilnya ke udara.Sean tersenyum lebar, segera menghabiskan sisa makanan di piringnya. "Siap, Komandan. Papa sudah selesai."Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bersiap. Setelah Liam memastikan tas kecil dan botol minumnya tersusun rapi, ketiganya melangkah keluar rumah menuju jalan setapak perkampungan nelayan. Pagi itu, udara pesisir terasa
"Pa, bangun! Matahari sudah tinggi, nanti Liam telat kalau jalannya tidak cepat!" seru Liam riang sambil menarik-narik ujung jaket Sean yang masih terlelap di atas sofa keras ruang tengah.“Jam berapa sekarang?” Tanya Sean malas karena dia pertama kali kembali tertidur lelap setelah tiga tahun belakangan.Udah jam enam pagi, Pa! Ayo bangun nanti mama marah…” bisik Liam lagi.Sean mengerjap perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pagi yang menembus celah jendela kayu rumah kecil itu. Begitu melihat wajah ceria putranya yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah biru, rasa lelah di tubuhnya seketika menguap begitu saja. Pria itu langsung tersenyum lebar, bangkit duduk, and merapikan rambut acak-acakan di kepalanya."Siap, jagoan! Papa siap-siap dulu. Papa bangun sekarang," balas Sean riang, menyambut pelukan hangat Liam penuh antusias.Di tengah kesibukan pagi itu, Liam tiba-tiba mendongak menatap sang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan di dekat meja dapur."M
"Melepaskan segalanya?" Stella tertawa sinis, meski suara tawa itu terdengar begitu getir dan bergetar di ujung tenggorokannya. Ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. "Kamu pikir Anderson Group itu mainan, Sean? Nenekmu di ibu kota sedang sakit-sakitan, mikirkan kamu yang justru meninggalkan perusahaan dan mungkin sedang goyah, dan ibumu... ibumu tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja hanya demi seorang wanita sepertiku!"Sean tidak gentar sedikit pun. Pria itu justru melangkah lebih dekat, menatap manik mata Stella dengan sorot penuh keyakinan yang tidak bisa dibantah."Keluargaku sudah tahu semuanya. Dan mereka sangat menyesal. Kita semua ingin kamu kembali ke hidupku, Stella," tegas Sean dengan suara rendah namun sarat akan ketetapan hati. "Selama tiga tahun aku hidup bagaikan mayat hidup, menyusuri jalanan dari satu kota ke kota lain demi mencari bayangan kalian, aku sudah membuang seluruh keangkuhan dan ambisi keluarga itu. Jabatan, harta, kekuasa
Suasana meja makan malam itu terasa begitu kontras. Di satu sisi, tawa renyah dan binar kebahagiaan terpancar jelas dari mata bulat Liam yang tak henti-hentinya menatap sang ayah dengan penuh kekaguman. Namun di sisi lain, udara di sekitar Stella terasa begitu pekat oleh keheningan yang kaku dan canggung."Yeay! Hari pertama makan malam dengan keluarga lengkap..." seru Liam riang gembira, lalu menoleh ke arah ayahnya. "Pa, besok anterin Liam ke sekolah, ya?""Pasti dong, Nak. Papa pasti antarkan kamu ke sekolah besok. Sekalian kenalan secara resmi sama Bu Guru dan teman-teman kamu..." jawab Sean penuh semangat, sambil melirik sekilas ke arah Stella yang tampak menekuri piringnya, menyuapkan makanan dalam diam.Stella masih bergeming. Wanita itu menyuapkan makanannya dengan lambat, sengaja menghindari tatapan mata Sean yang beberapa kali terarah kepadanya. Meski ia telah membiarkan pria itu masuk dan duduk di hadapannya malam ini, bukan berarti luka-luka lama di hatinya langsung sem







