LOGINSatu kalimat untuk Sean dong kakak
Malam pertama Stella di pedesaan Swiss berlalu dengan keheningan yang menghanyutkan. Udara dingin pegunungan Alpen berembus pelan di balik dinding-dinding kayu pinus rumah panggung peninggalan nenek Sofia. Di dalam kamar tidur bernuansa hangat, Stella terlelap dalam tidur nyenyak yang tak pernah ia rasakan selama berbulan-bulan, dilindungi oleh rasa aman dan hangatnya selimut tebal.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.Saat fajar pertama menyingsing di balik puncak gunung bersalju, menyinari padang rumput hijau yang dipenuhi embun, sebuah gejolak tak biasa mulai membakar tubuh Stella. Rasa mulas yang tajam mendadak datang menyengat, menjalar dari pinggang bawah hingga menembus perut bagian depannya dengan skala nyeri yang belum pernah ia alami sebelumnya."Ngh..." Stella terkesiap bangun. Napasnya langsung memburu dan dangkal. Jemari lentiknya meremas erat kain sprei putih, menahan dorongan mules hebat yang datang berturut-turut tanpa jeda panjang.Sebagai seorang dokter bedah
"Masuklah, udara di sini cepat sekali dingin kalau menjelang sore," ujar Sofia Von Bern seraya merangkul hangat bahu Stella dan membimbingnya melangkah melewati ambang pintu rumah kayu tersebut.Aroma khas kayu pinus yang hangat dan wangi lavender kering langsung menyambut indra penciuman Stella. Interior rumah panggung gaya Alpen itu terasa sangat bersahaja namun menenangkan. Perabotan kayu antik peninggalan nenek Sofia tertata rapi di sekeliling perapian batu yang menyala redup, memberikan kehangatan alami yang melenyapkan sisa-sisa rasa lelah Stella dari perjalanan jauh lintas benua."Duduklah di sofa dekat perapian ini, Stel," pintanya lembut sambil menumpuk dua bantal empuk di belakang punggung Stella untuk menopang pinggangnya yang kian sarat. "Aku sudah menyeduh teh chamomile hangat untukmu. Sangat bagus untuk menenangkan otot dan memperlancar sirkulasi darah ibu hamil.""Terima kasih banyak, Sofia," desah Stella pelan, meluruskan kakinya yang sedikit membengkak dengan rasa leg
"Putar balik sekarang! Bawa helikopter itu kembali ke gedung utama!" suara menggelegar Tuan Anderson terdengar memecah keheningan kabin melalui sambungan telepon satelit yang langsung terhubung ke sistem radio navigasi pilot.Pilot yang terkejut langsung menatap layar indikator sebelum menoleh gugup ke arah Sean. Di dalam kabin helikopter yang melayang di atas langit malam Jakarta, Sean membeku. Pria itu menyambar interkom dengan rahang mengetat tajam."Jangan berani-berani memutar balik, Kapten! Tetap lanjutkan penerbangan!" bentak Sean dengan suara bariton yang sarat akan dominasi."Gunakan otakmu, Sean!" potong Tuan Anderson dari seberang telepon, intonasinya meninggi penuh amarah yang menekan. "Kamu pikir tindakan nekadmu menerobos malam ini dengan membawa pasukan helikopter akan menyelesaikan masalah? Hah?! Kamu hanya akan membuat Stella ketakutan setengah mati!""Pa, Stella sedang sendirian di luar sana! Aku harus memastikan kondisinya…”"Tutup mulutmu!" gertak Tuan Anderson ta
Seusai melayanan sapaan hangat para menteri dan donatur terkemuka, Sean melangkah tenang menuju lorong VIP di belakang panggung utama. Riuh gemuruh tepuk tangan dan alunan musik simfoni malam amal masih samar-samar bergema dari dalam ballroom, namun fokus pria itu sudah sepenuhnya berpindah. Di sudut lorong yang relatif lengang, Samuel berdiri menunggunya dengan sebuah helikopter mini dan tim pengawal yang sudah berjaga rapat."Tim dari influencer tadi sudah melakukan siaran langsung dan peliputan, bukan?" tanya Sean seraya membetulkan kancing jasnya. "Pastikan semua media sosial dipenuhi berita ini. Aku mau acara ini akan masuk trending topic dunia. Jadi di mana pun Stella berada, dia pasti akan melihat ini mau tidak mau."Samuel mengangguk mantap seraya memegang ponselnya. "Semua aman, Sean. Media luar negeri juga sudah ada dari masing-masing perwakilan negara besar, terutama yang kerja sama dengan Anderson Group. Peliputan global sudah berjalan maksimal.""Bagus," puji Sean sin
Kemilau lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya di atas panggung utama ballroom termegah di Jakarta. Malam Amal Anderson Group yang digelar serentak di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial berlangsung amat megah dan spektakuler. Ratusan jurnalis dari berbagai media nasional berkumpul, sementara jajaran pembesar negara, pengusaha ternama, hingga donatur kelas atas memadati area VIP.Di barisan depan, Menteri Kesehatan dan Menteri Sosial duduk berdampingan dengan Tuan Anderson dan Nyonya Selvie serta keluarga besar Anderson. Terlihat pula nenek Anderson ada di barisan itu.Suasana hangat berbalut kemewahan menyelimuti ruangan, merayakan program bantuan medis dan sosial terbesar tahun ini.Setelah sesi pembukaan dan penyerahan simbolis dana bantuan medis selesai, pembawa acara menyerukan nama yang paling ditunggu-tunggu malam itu."Hadirin sekalian, mari kita sambut CEO Anderson Group, Tuan Sean Anderson!"Tepuk tangan b
"Lalu kenapa kau membiarkan noda itu merusak rumah tanggamu?!" gertak Tuan Anderson, langkahnya menerobos maju hingga jarak di antara mereka nyaris tak berjarak. Cengkeraman tangannya di koper kecil melemas hingga benda itu terhempas berat ke lantai marmer.Mata Tuan Anderson menyala merah, dipenuhi amarah yang membakar namun terpancar jelas kehancuran seorang kepala keluarga yang gagal menjaga ketenteraman atapnya sendiri."Kau membiarkan wanita ular itu menginjak-injak harga diri Stella di rumah ini! Kau biarkan dia memakai tuduhan anak haram untuk menyiksa batin istrimu! Kau tahu betapa sakitnya wanita yang dipaksa melihat suaminya menampung wanita lain yang mengaku mengandung darah dagingnya?!""Sean bodoh, Pa! Sean tahu Sean salah!" raung Sean, suaranya pecah tercekik di tenggorokan. Pria perkasa yang tak pernah merunduk di hadapan ratusan saingan bisnisnya itu kini mengepalkan kedua tangan di samping tubuh, gemetar hebat ditimpa remuk penderitaan. "Sean percaya pada jebakan i







