Share

128~BC

Author: Kanietha
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-30 13:29:44

Altaf tersenyum kecil setelah menutup pintu mobilnya. Dengan segera ia menghampiri Raksa, yang baru menghentikan motor sport-nya di depan pagar.

“Kirain sudah datang, Mas,” sapa Altaf setelah Raksa membuka helm full face-nya.

Raksa menghela sejenak, sambil mengacak-acak rambutnya. “Ada sedikit trouble di kantor, makanya aku baru sampe.” Telunjuknya kemudian mengarah ke pagar. “Ranu sudah tau kamu datang?”

“Belum,” jawab Altaf, “barusan mau telpon, tapi aku lihat kamu duluan.”

“Aku buka pagar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (24)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
ada apa sih sebenarnya sama dinda kok alot bgt ya sama raksa kasian aku sama raksa jadinya
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
lega, akhirnya altaf ranu dapat restu yah walau terpaksa
goodnovel comment avatar
Dinie Youli
ciara ga usah dpt jodoh jd perawan tua aja orang munafik ga bagus nikah...ga ya jgn bkin ciara happy end...ga bngt..keenakan tu si briana kalo anaknya happy..pokoknya jgn bkin briana ma anak2 happy end....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bias Cinta   BonChap~17

    “Waaah! Dunia ini ternyata beneran sempit.” Dinda memangku wajah dengan satu tangan, sambil mengaduk es cappucino di hadapan dengan sedotan. “Septy, Farhan, Noah. Ckckck!”Setelah mendengar penuturan Cinta, akhirnya Dinda mengerti, mengapa ekspresi Cibi berubah ketika bertemu Septy. “Tapi tau nggak.” Dinda meringis dan tertawa kecil. “Tadinya aku sempat ngira Cibi itu cemburu sama Septy. Biasalah, lagi cinta monyet ke Mas Nononya.”Cinta langsung melepas tawa yang sama. “Ya nggak salah juga. Soalnya umur-umur segitu emang masuk masa puber. Apalagi anak sekarang, dewasanya cepet banget.”“Hm.” Dinda menyeruput minumannya sebentar. “Nggak usah ngomongin Cibi, lihat aja Niel sama Bita. Kemarin-kemarin Niel sudah pesan, pokoknya nanti kalau SMP, sekolahnya mau sama Bita.”Tawa keduanya kembali pecah. Membahas perihal anak-anak, memang tidak akan pernah ada habisnya. “Eh, lanjut ngomongin Noah sama Septy bentar,” ujar Cinta kembali ke topik pembicaraan awal. “Mereka berdua itu, pacaranny

  • Bias Cinta   BonChap~16

    “Nggak usah bicara,” larang Cinta ketika melihat tangan Kiano baru saja terangkat. Ia menduga, pria itu hendak melepas masker oksigen yang terpasang di wajahnya. Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, Cinta menyadari banyak perubahan pada Kiano. Rambut yang dulu hitam kini telah memutih. Sementara guratan keriput di wajahnya, menjadi saksi bisu atas waktu yang terenggut oleh dinginnya dinding penjara.“Cukup dengarkan,” lanjut Cinta yang duduk di samping ranjang pasien. “Aku datang ke sini, cuma untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang anak. Bagaimanapun juga, Bapak tetap papa kandungku dan aku nggak bisa hapus kenyataan itu sampai kapan pun.”Cinta menarik napas panjang sebentar. “Selama ini, aku benar-benar belajar untuk ikhlas dan memaafkan,” lanjutnya dengan dada yang mulai terasa sesak. “Tapi, itu bukan berarti aku sudah melupakan semua luka yang pernah terjadi, karena semua masih ada di sini.”Cinta menyentuh dadanya sendiri. Ada jeda panjang yang menyesakkan ketika bayang masa

  • Bias Cinta   BonChap~15

    “Karena pagi ini kita ketambahan Mas Nono, Bu Denok, sama Pak Aspi, jadi kita bagi dua,” ujar Dinda sambil menunjuk sebuah mobil sedan dan MPV yang sudah siap membawa mereka ke Car Free Day.Setelah merayu Cinta dan Alma tadi malam, akhirnya ketiga bocah dari keluarga Manggala diperbolehkan menginap di kediaman Aryan. Rumah yang biasanya hanya diramaikan oleh ocehan Nia dan pertengkaran kecilnya dengan Niel, semalam berubah menjadi lebih riuh. “Bita sama aku,” ujar Niel cepat sambil menarik tangan Bita.“Aku sama Mas Niel!” timpal Nia langsung berdiri di samping sang kakak dan memeluk lengannya. “Ian sama Kak Cibi!” serunya sambil memeluk sang kakak yang sedang menguap. Terlihat jelas jika Cibi masih mengantuk, karena masih terlihat malas. “Bian sama Mami, ya,” ujar Noah langsung berbisik pelan di belakang Dinda, “Bisa sakit kepalaku kalau dengar dia ngoceh sepanjang jalan. Batrenya nggak habis-habis.”Dinda langsung berbalik dan geleng-geleng. “Itung-itung latihan punya anak. Mung

  • Bias Cinta   BonChap~14

    “Kata Dokter, Pak Kiano kena serangan jantung,” ujar Cinta memberi tahu Altaf apa yang telah disampaikan dokter padanya. Altaf menggeleng tak percaya, “Papa nggak punya riwayat penyakit jantung.” Setelah mendapat kabar bahwa Kiano dilarikan ke rumah sakit, di tengah perjalanan Cinta segera menghubungi Altaf. Ia meminta kakaknya itu menyusul ke rumah sakit dan menemaninya menemui sang papa.Namun, ada satu hal yang secara tegas Cinta ungkapkan. Untuk sementara, Altaf diminta tidak memberi tahu Briana, Ciara, maupun Farhan. Setidaknya, sampai mereka mengetahui bagaimana kondisi Kiano yang sebenarnya.Sementara itu, Cibi, Bita, dan Bian tetap Cinta titipkan di kediaman Aryan bersama Dinda. Ia tidak terlalu mengkhawatirkan ketiga anaknya itu, karena Dinda sudah berjanji akan mengantar mereka pulang ke kediaman Manggala setelah semuanya selesai bermain. Bahkan, Dinda awalnya menawarkan agar ketiga anak Cinta menginap di kediaman Aryan saja. Akan tetapi, ia tidak ingin merepotkan karena

  • Bias Cinta   BonChap~13

    “Mas Nono!” seru Bian begitu melihat pria itu menuruni tangga. Ia langsung melambai riang, memanggil pria itu agar mendekat.“Mas!” Nia pun ikut memanggil, tetapi dengan nada kesal. “Bian resek! Aku, kan, mau ikut Niel sama Bita, tapi nggak dibolehin sama Bian.”“Mas Niel, sama Kak Bita,” ucap Noah meralat sambil menunjuk Nia, memperingatkan adiknya agar bersikap sopan. “Yang bener manggilnya.” Sambil terus berjalan menuruni tangga, telunjuk Noah beralih pada Bian. Bocah ceriwis yang “baterainya” hampir tidak pernah ada habisnya. “Kenapa kamu nggak bolehin Kak Nia pergi?”“Dak ada.” Bian menggeleng cepat. “Ian bilang Kak Nia di sini aja. Bukan dak boleh pelgi.”Noah menarik napas dalam-dalam. Kalau tahu para bocah dari keluarga Manggala akan berkunjung ke rumah hari ini, ia pasti sudah kabur sejak siang dan baru muncul lagi menjelang malam. Setidaknya, dengan begitu Noah bisa terhindar dari keramaian, pertanyaan-pertanyaan aneh, dan tingkah mereka yang tidak pernah kehabisan energi.

  • Bias Cinta   BonChap~12

    “C … a, n … Ca … n.” Bian menoleh cepat pada Cibi, karena belum lancar membaca nama yang berada di sampul buku tulis sang kakak. “Apa bacana, Kak? Ca … n?”“Can!” jawab Cibi sambil mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran esok hari.“Ooo.” Bian mengangguk-angguk, lalu kembali mencoba membaca suku kata berikutnya. “T …i, k … a. T sama i itu, ti. K sama a, itu Ka.” Bian kembali menoleh cepat pada Cibi. “Kok … Can … ti, ka?”Bian menggaruk kepala. Kembali menatap nama panjang yang berada di sampul buku tulis kakaknya. Mencoba membaca kata setelah itu. “Z … a, h. Bacana Za … h, apa, Kak?”“Zah,” jawab Cibi lagi. “Habis itu, r sama a, ra. Jadi dibaca Zahra. Cantika Zahra terus habis itu Manggala,” ujarnya tidak sabaran.“Ini buku sapa?” tanya Bian mulai sedikit bingung. Ada nama Manggala yang sama seperti namanya, tetapi sisa nama yang lainnya terasa asing.“Bukuku,” jawab Cibi mengambil buku tulisnya dari tangan Bian, lalu meletakkan di rak buku. “Tapi napa namana Cantik … Cantik apa tadi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status