Share

Bab 3

Author: Bear
Gerakannya berbeda total dengan siang tadi. Tak ada lagi sikap kasarnya, melainkan digantikan dengan kesabaran dan teknik yang membuat seluruh tubuhku merinding.

Ujung jarinya mengusap lembut lekukan pinggangku, lalu bergerak naik, menangkap bagian sensitifku yang paling lembut, lalu meremasnya pelan.

"Hmm...." Aku tak bisa menahan desahan pelan yang tertahan dan tubuhku langsung melemas.

Tangannya yang lain menopang tengkukku, memalingkan wajahku dengan lembut ke arahnya.

Di dalam kegelapan, aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku hanya bisa merasakan hembusan napasnya yang panas menerpa bibirku.

Detik berikutnya, dia menunduk dan menciumku.

Ujung lidah pria itu sangat lincah, menyapu bibirku dengan sangat ringan, lalu turun ke daun telinga dan lanjut ke bahu.

Ujung jarinya mengusap lembut lekukan pinggangku, seolah sedang menelusuri setiap lekuk tubuhku dengan seksama.

"Hmm...."

Aku terengah-engah. Semua indraku terasa berkali-kali lipat lebih peka di dalam kegelapan dan rasa geli yang aneh menjalar dari tulang belakangku.

Pria itu terkekeh pelan, menangkup bagian sensitifku yang paling lembut, lalu meremas dan memainkannya dengan lembut.

Tekanannya terasa pas sekali, lembut dan mendominasi. Setiap remasannya dengan tepat memantik hasrat paling tersembunyi di dalam tubuhku.

"Pelan... agak pelan."

Aku tak bisa menahan desahan pelan yang tertahan. Seketika, tubuhku menjadi lemas, gemetar pelan di dalam pelukannya.

Namun, pria itu tak berhenti. Sebaliknya, dia malah terkekeh nakal dengan suara pelan.

Ujung jarinya mendongakkan daguku, melanjutkan ciumannya.

Ciuman ini benar-benar bertolak belakang dengan gaya Jason biasanya.

Jason selalu terburu-buru dan dominan, menyapu bersih semuanya bagaikan badai.

Namun, orang yang sedang bersamaku saat ini malah bersikap sangat lembut dan penuh kehangatan.

Ujung lidahnya mula-mula menyesap bibirku dengan lembut seolah sedang menenangkan, lalu perlahan membuka sela-sela gigiku, masuk lebih dalam dan saling bersahutan. Dengan teknik yang luar biasa, dia merebut semua napasku perlahan-lahan.

Seketika, otakku menjadi kosong. Yang tersisa hanyalah suara basah dari pergulatan bibir dan lidah kami, serta aroma mint lembut dari mulutnya.

Aku dibuat pening dan melayang oleh ciumannya. Kedua tanganku tanpa sadar merayap naik ke bahunya dan tubuhku pun inisiatif merapat ke dalam pelukannya.

Tangannya terus bergerak ke bawah melewati perut, bergerak lincah seperti pemburu yang sabar saat memasuki hutan.

Ujung jarinya di dalam kegelapan terasa sangat akurat, seolah-olah sudah sangat hafal semua titik sensitifku. Terkadang dia membuat gerakan melingkar yang lembut, sesekali terkekeh sambil memberi sedikit tekanan.

Setiap sentuhannya terasa seperti percikan api yang membakar seluruh saraf di tubuhku.

Aku tak bisa menahan diri untuk melengkungkan punggung, mengeluarkan desahan yang terputus-putus, sementara rasa basah yang memalukan terus terasa di selangkanganku.

“Ah… Jason….”

Aku mendesah sambil memanggil namanya dengan suara serak, tapi hal itu malah memancing dorongan yang lebih dalam darinya.

Kulit pria yang panas menempel pada punggungku dan otot dadanya yang keras bergerak seiring dengan tarikan napasnya.

Hembusan napasnya yang hangat menyapu belakang telinga dan lekuk leherku. Setiap sentuhan menghadirkan sensasi yang menjalar ke seluruh tubuh bagaikan aliran listrik.

Aku benar-benar larut dalam pesta kenikmatan yang memanjakan seluruh indraku. Di lubuk hatiku, bahkan terselip sedikit rasa syukur….

Ternyata malam mati lampu bisa membuat performa Jason meningkat drastis sampai ke tahap ini.

Gerakannya menjadi semakin mendesak, tapi tetap mempertahankan teknik yang membuatku terbuai.

Kaos yang kupakai sudah tersingkap hingga ke atas dada. Dia menundukkan kepalanya, lalu membuka bibirnya sedikit.

“Jangan!”

Seluruh tubuhku gemetar hebat. Kedua tanganku mencengkeram erat lengannya. Kuku-kukuku hampir menancap ke kulitnya dan pinggulku melengkung seperti udang.

Namun, gerakan ini malah terlihat seperti menyambutnya.

Reaksiku tampaknya membuat Jason senang. Tenggorokannya mengeluarkan suara getaran halus dan sentuhan ujung lidahnya membuatku semakin lemas tak berdaya.

Kami nyaris saling menempel tanpa penghalang. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang membara dan begitu tak sabaran.

Pria itu bergesekan dengan lembut, siap menembus pertahanan terakhirku kapan saja.

Tepat di saat kami akan benar-benar menyatu, dalam kondisi yang sudah mabuk kepayang, aku mengangkat kedua lenganku dan memeluk erat leher pria di atasku.

Tiba-tiba, ujung jariku menyentuh sebuah tahi lalat kecil yang agak menonjol di bahu kirinya.

Seketika, seluruh tubuhku seperti terjatuh ke dalam jurang es.

Di bahu Jason tidak ada tahi lalat seperti ini.

Orang yang punya tahi lalat ini adalah… Jeff!

Kesadaran ini membuat napasku terhenti.

Di saat ini juga, semua gairah bercinta langsung hancur berkeping-keping oleh rasa takut dan malu yang luar biasa.

Pria yang sedang menindihku tampaknya menyadari perubahan tubuhku yang tiba-tiba membeku.

Dia menghentikan seluruh gerakannya. Hembusan napasnya yang panas tetap menerpa daun telingaku.

Kemudian, sebuah suara yang berat… yang sama sekali bukan milik Jason terdengar berbisik dengan misterius.

“Kakak ipar… kok berhenti?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 10

    Aku tak berani menimbulkan suara gesekan kain sekecil apapun. Dengan kaki telanjang yang menginjak karpet tebal, aku melangkah mundur setapak demi setapak, sangat lambat dan penuh perjuangan menuju pintu utama kamar suite itu.“Ketrin?”Baru lewat setengah menit, Jeff yang berada di atas ranjang tampaknya mulai menyadari keheningan yang mematikan di sekitarnya. Suhu tubuh dan deru napasku sudah tidak ada lagi di udara.Dia agak mengerutkan kening, lalu meraba-raba sisi kasur di sampingnya dengan mata tertutup.“Ketrin, kamu lagi apain?”Suaranya memberat, membawa nada curiga yang berbahaya. Sejenak kemudian, dia mengulurkan tangan untuk melepaskan penutup mata wajahnya.Tepat di detik saat dia berhasil melepas ikat pinggang tersebut….Aku langsung menarik paksa pintu kayu kamar suite yang tebal itu, lalu berlari keluar dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kupunya!“Brak!”Setelah pintu tertutup rapat di belakangku, aku sempat mendengar suara raungan marah Jeff yang tertahan dari

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 9

    “Harus merangsang Jason di tempat-tempat yang bisa terekam CCTV, seperti pintu masuk atau ruang tamu.”Tanganku gemetar hebat sampai-sampai hampir tak bisa memegang ponsel, lalu dengan kaku menekan tombol kembali untuk keluar dari ruang obrolan itu.Namun, di bagian paling atas pesan yang di pin pada halaman utama Whatsapp, aku melihat sebuah nama [Pak Oman - Tukang Listrik Apartemen].“Jam dua belas malam ini, gunting kabel di dalam kotak sekring gedung utama, buat seolah-olah terjadi insiden mati lampu yang nggak disengaja. Uang transferan yang kemarin sudah diterima, ‘kan?”Ponsel itu jatuh keras ke selimut.Aku menutup mulut kuat-kuat. Air mata karena rasa ngeri dan takut yang luar biasa mengalir deras, sementara perutku terasa diaduk-aduk hingga rasanya hampir mau muntah.Ternyata… tidak ada yang namanya kebetulan!Mulai dari pintu kamar tidur di siang hari yang sengaja tak ditutup rapat untuk memperlihatkan kondisiku yang memalukan.Lalu mati lampu di tengah malam yang terjadi di

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 8

    Melihat pesan itu, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, sementara jantungku berdetak sangat liar di dalam rongga dada.Karena Jason sudah menginjak-injak hubungan kami… lalu untuk apa lagi aku mempertahankan batasan yang konyol ini dan berpura-pura menjadi korban yang malang?Sensasi kepuasan untuk membalas dendam, berpadu dengan harapan tersembunyi di dalam lubuk hati, benar-benar memutuskan jalinan saraf akal sehatku.Dengan jari yang gemetar, aku mengetikkan beberapa patah kata di atas layar.[Waktu dan tempat.]….Begitu pintu kamar suite di lantai teratas hotel dibuka, aroma terapi mawar yang pekat dan cahaya lampu kuning yang hangat langsung menyatu menyambutku.Jeff yang memakai jubah mandi sedang bersandar di depan jendela besar setinggi langit-langit, sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi anggur merah di tangannya.Begitu melihatku, senyuman di sudut bibirnya perlahan melebar.Jeff meletakkan gelas anggurnya, lalu berjalan menghampiriku tanpa tergesa-gesa, layaknya seekor

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 7

    Sesaat kemudian, keduanya mengeluarkan suara-suara rayuan yang memuakkan, sambil saling mendekap dan berjalan terhuyung-huyung masuk ke dalam kamar tidur.Pintu kamar itu dibiarkan agak terbuka dan apa yang terjadi selanjutnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi.Sekujur tubuhku gemetar hebat di luar kendali, langsung membuat asam lambungku naik hingga terasa sangat mual.Rasa muak, penghinaan dan amarah bercampur aduk menjadi satu, layaknya sebuah tamparan keras yang menghantam kata ‘cinta sempurna’ yang kubangga-banggakan selama tiga tahun ini.“Kakak ipar, sudah lihat?”Jeff perlahan menarik kembali ponselnya, lalu menatap wajahku dari posisinya yang lebih tinggi dengan tatapan matanya yang tajam.Dia agak menundukkan kepalanya, sementara suaranya terdengar membawa hasutan seperti iblis.“Dia itu hanya pria brengsek yang memikirkan nafsu, sama sekali nggak tahu cara menyayangimu.”Ujung jari Jeff mengusap lembut sudut bibirku yang gemetar karena amarah.“Mau balas dendam padanya? Iku

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 6

    Jeff memunculkan tubuhnya dari dalam kegelapan. Bukannya menyudahi aksinya, dia malah merendahkan tubuhnya, lalu dengan sangat kurang ajar menggigit tulang selangkaku dengan keras!“Ssst… kamu sudah gila?!”Aku tersentak dan menarik napas dalam-dalam karena rasa sakit!“Kakak ipar….”Suara Jeff di dalam kegelapan berbisik menyusup ke telingaku, membawa nada tawa yang tenang, tapi berbahaya layaknya seorang pemburu.“Perjalanan kita… masih panjang.”Di luar kamar tidur terdengar suara Jason yang sedang menerima telepon.Kemudian, Jeff keluar dari kamar dan mengambil ponselnya untuk menelepon Jason.Suara lantang Jason pun terdengar.“Halo? Jeff? Kamu juga belum tidur? Oh… kamu tanya posisi kotak sekring? Ya sudah, jangan asal pegang, biar aku keluar untuk periksa saja.”Mendengar percakapan di luar, sekujur tubuhku langsung dibanjiri keringat dingin.Saat bersembunyi di bawah selimut tadi, Jeff benar-benar sudah memperhitungkan waktu dengan tepat untuk menelepon kakaknya. Dia dengan san

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 5

    Namun, Jeff yang sedang menindihku sama sekali tak menghentikan aksinya. Sebaliknya, malah memanfaatkan momen di saat tubuhku menegang, dia mendongak dan menciumku dengan agresif.“Ketrin? Sayang, kamu sudah bangun?”Suara langkah kaki Jason terdengar di ruang tamu, selangkah demi selangkah berjalan menuju kamar tidur.Bunyi gesekan sandal di atas lantai kayu saat ini benar-benar terdengar bagaikan lonceng kematian dari neraka.“Hmm!”Aku membelalak ketakutan. Tubuhku menegang hingga ke titik maksimal karena tingkah Jeff yang sangat kurang ajar, berpadu dengan suara langkah kaki di luar pintu.Sebuah sensasi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata melesat dari tulang belakang langsung menuju otak. Di bawah kedua rangsangan ini, aku hampir menjerit sampai mencapai puncak gairah.Terdengar suara ‘krek’.Gagang pintu kamar tidur diputar dari luar.Seketika, otakku menjadi kosong, sementara tubuhku masih gemetar hebat tanpa bisa ditahan.Sedangkan Jeff tetap mempertahankan posisinya yang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status