LOGINOlivia is a hardworking, independent woman who has always prided herself on her self-reliance. But when her financial situation takes a turn for the worse, she finds herself in desperate need of a solution. That's when Nathaniel, a handsome billionaire with a reputation for being ruthless, offers her a contract marriage. In exchange for pretending to be his wife for a year, Nathaniel promises to provide Olivia with financial security for the rest of her life. Despite her reservations, Olivia decides to take Nathaniel up on his offer. As they navigate the complex world of high society and business deals, they start to develop feelings for each other. But Nathaniel's past demons threaten to tear them apart, and Olivia is forced to confront her own insecurities and fears. Will their contract marriage turn into something more? Or will their different worlds and past traumas keep them apart? Follow Olivia and Nathaniel's journey as they navigate love, trust, and the high-stakes world of the wealthy elite in " Billionaire's Forbidden Desire."
View More"Tika, Kartika kau harus cepat pulang," kata Ida. Dia datang dengan tergopoh-gopoh menjemput Kartika di kali.
Kartika yang sedang menanjak di jalan setapak tertegun sejenak. Memandang heran kepada Ida. Dia membetulkan ember cucian yang digendongnya.
"Ada apa?" tanya Kartika dengan napas memburu.
"Bapakmu ... bapakmu digebukin orang!"
"Apa!?"
Gadis itu berlari cepat meninggalkan Ida. Hatinya begitu tersentak mendengar bapaknya dipukulin orang. Bapaknya memang sering mabuk, tetapi tidak pernah berkelahi, apalagi sampai dihajar orang.
"Ada persoalan apakah gerangan? Sehingga Bapak seperti itu?" batinnya.
Berjuta tanya berkecamuk dalam hati Kartika. Gadis itu terus berlari, dia meninggalkan sandal jepitnya yang terputus di tengah jalan.
Namun, gadis itu mematung saat tiba di depan rumahnya. Tampak bapaknya babak belur dihajar seorang lelaki kekar. Ia berdiri di depan bapaknya dengan kesombongannya.
"Bayar hutangmu!" bentak lelaki itu.
Kartika melihat bapaknya hanya terdiam, sembari menyeka lelehan darah di sudut bibirnya. Mukanya biru lebam bekas tonjokan, tetapi bapaknya diam tidak melawan.
Gadis itu tidak tahan, dia tidak memedulikan bajunya yang basah. Dia juga tidak memedulikan badannya tercetak jelas pada pakaiannya tersebut, gadis itu ingin melawan.
Ingin sekali rasanya menendang mulut yang sudah meludahi muka bapaknya. Mempraktikkan ilmu silat yang diajarkan ustadz selepas ngaji. Walau tidak mungkin menang, tetapi setidaknya dia sudah membela bapaknya.
"Hentikan!" jerit Kartika.
Orang asing itu membalikkan badan, matanya membola melihat tubuh Kartika yang seolah-olah telanjang. Ia menelan ludahnya yang seketika memenuhi mulutnya. Jakunnya turun naik. Tiba-tiba ia merasa sesak di bagian bawah celananya.
"Harso!" teriak bapaknya.
Orang yang dipanggil Harso itu tetap memandang Kartika. Napasnya seketika terasa megap-megap melihat pemandangan di depan matanya.
Emaknya Kartika tergopoh-gopoh datang dengan menggendong adiknya. Secepatnya menyeret tangan Kartika dan membawanya masuk.
"Aku ingin melawan dia, Mak," sungut Kartika. Hatinya kesal karena niatnya tidak kesampaian.
"Sudahlah, gak usah ikut campur, ganti bajumu!" suruh ibunya.
Kartika masih sempat mengintip keluar, dia melihat Harso dan bapaknya tidak lagi berkelahi. Bapaknya sudah berdiri dan terlibat pembicaraan serius. Beberapa kali bapaknya menggelengkan kepalanya.
******
Kartika berganti pakaian dengan hati penuh tanda tanya. Mengapa secepat itu bapaknya dengan Harso berbaikan. Sungguh tidak masuk di akal. Mereka kini berbicara di ruang tamu rumahnya. Obrolan tentang juta-juta terdengar samar sampai ke telinganya. Kartika menduga, mungkin mereka sedang menghitung utang bapaknya.
Kartika masih ingat pandangan Harso padanya tadi. Bagaikan seorang musafir yang kehausan di tengah padang pasir, kemudian melihat sumur dengan airnya yang jernih. Dia seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat. Bulu kuduknya meremang seketika.
Kartika memandang ke luar lewat jendela. Kemarau sedang memperlihatkan keperkasaannya. Daun-daun merangkul dahannya dengan erat. Mereka tidak mau terpisah karena kekeringan, layu dan lepas tertiup angin.
Ibunya masuk dengan wajah masygul. Raut wajahnya kusut seperti cucian yang belum disetrika. Dia duduk di pinggir tempat tidur milik Kartika. Wajahnya pucat, membisu tak mampu bicara.
"Mak." Kartika menegur. Ibunya bergeming, seperti tidak mendengar suara Kartika.
Kartika turut diam, menunggu perkataan keluar dari mulut ibunya. Gadis lugu itu memperhatikan kucing yang bergelung di kakinya. Menguap dan menggesek-gesekkan bulunya yang lembut.
"Tika ... kau harus berbenah!" suruh ibunya lirih.
"Apakah laki-laki itu mengusir kita, Mak?" tanya Kartika.
Ibunya menggeleng lemah, bulir air mata yang sejak tadi ditahannya meluncur juga di pipinya. Kantung matanya seperti tak kering-kering sebab air itu tidak berhenti menetes.
"Lalu?"
"Dia menginginkanmu sebagai pelunasan utang Bapakmu," jawab ibunya.
"Maksudnya?" Kartika masih tidak mengerti.
"Kau harus bekerja padanya."
"Aku bersedia, Mak," jawab Kartika.
Meledak tangis ibunya di pundak Kartika. Menangisi kepolosan anaknya yang belum genap berusia dua puluh tahun. Dia tidak tahu pekerjaan macam apa yang akan dijalaninya nanti. Sebagai seorang ibu, perasaannya begitu hancur.
Kartika berpikir, dia hanya akan menjadi pembantu rumah tangga. Tidak apa-apa, dia rela. Asalkan ibu dan bapaknya serta adiknya hidup tentram tanpa ada yang mengganggu.
Kartika berkemas, memasukkan sebagian baju lusuhnya ke tas besar. Ibunya memandang dengan hati yang terluka.
"Emak tidak usah menangis, aku memang harus bekerja kan, Mak? Sekolahku sudah selesai," hibur Kartika.
****
"Besok aku datang lagi, menyerahkan sisa uangmu!" teriak Harso kepada bapak Kartika.
Lelaki itu tertawa penuh kepuasan melihat Kartika ikut dirinya. Tadi dia sudah menyelesaikan pembicaraan dengan temannya dari kota. Ada sebuah harga yang disebutkan yang membuat dirinya begitu bersemangat. Lima puluh juta, dia bisa ambil empat puluh juta, sisanya buat bapak Kartika. Meski utang bapak Kartika itu hanya beberapa juta saja.
Kartika pergi diiringi tangisan ibu dan adiknya. Bapaknya hanya duduk mematung di kursi reyot ruang tamunya. Mukanya merah, menahan perasaan haru serta bekas pukulan Harso tadi. Biarpun bapaknya seorang laki-laki brengsek, tetap saja hati kecilnya tidak rela Kartika pergi. Namun, lelaki miskin seperti dia, tidak mempunyai banyak pilihan.
"Nanti pulang lagi ke desa, bajumu akan bagus-bagus seperti artis," kata Harso di bis.
Kartika diam saja, mencoba menikmati perjalanannya dengan melihat ke luar. Pikirannya melanglang, teringat ibunya, adiknya, bapaknya juga ... Saiful. Lelaki itu selalu mampu membuat Kartika menyembunyikan senyum saat sedang mengaji. Tatapannya teduh membuat murid-muridnya selalu betah belajar dengannya.
"Sudah sampai," kata Harso. "Ayo!"
Lelaki itu menuntun Kartika menuju suatu tempat. Di sana sudah menunggu seorang lelaki berkacamata hitam. Dari penampilan serta mobilnya yang mengkilap, sudah bisa ditebak kalau ia orang kaya.
Harso bersama orang kaya itu berjalan menjauhi Kartika. Sebuah amplop coklat cukup tebal berpindah tangan. Kartika berdiri sambil menjinjing tasnya, tidak berani mendekat hanya memperhatikan dari kejauhan.
Harso mendekati Kartika, menyelipkan sesuatu di tangan gadis itu. Entah senyum atau seringai yang lelaki itu pamerkan. Dia berkata,"Ikutlah dengan Tuan Heru."
Kartika tidak menjawab, dia sudah pasrah dengan takdirnya. Dia sudah mengikhlaskan dirinya untuk menjadi pembantu rumah tangga. Nilai-nilai bagus di ijazahnya tidak berguna kini.
Tuan Heru membawa Kartika ke sebuah rumah kecil yang asri. Kartika suka melihatnya, dia akan betah tinggal di sini. Tuan Heru tidak banyak berbicara, lelaki ganteng itu hanya diam ketika menyetir mobilnya tadi.
"Siapa namamu?" tanya Tuan Heru.
"Kartika, Tuan," jawab Kartika.
Sejenak Tuan Heru seperti berpikir, entahlah, Kartika tidak tahu isi pikirannya. Lelaki itu melihatnya tanpa kedip, seperti hendak menelanjangi gadis cantik itu.
"Sekarang namamu, Kamilia," ujar Tuan Heru.
"Ka ... Ka ... Kamilia, Tuan?" tanya Kartika terbata-bata.
"Ya, persiapkan dirimu, nanti malam aku ke sini," jawabnya tanpa ekspresi. "Kamu boleh memakan apa pun yang ada di sini."
Setelah Tuan Heru pergi, tinggal Kartika yang tetap berdiri. Hatinya bertanya-tanya, "Pekerjaan apa sebenarnya yang harus aku lakukan?"
"Namaku Kamilia ... Kamilia." Berulang kali Kartika mengeja nama tersebut.
The atmosphere in the room grew heavy, tension clouded the air as Nathaniel's father, the family lawyer, and other attendees gathered for the signing of the inheritance deal. They were awaiting the presence of Nathaniel's wife. Nathaniel himself was there, his heart pounding with anxiety and a sense of impending doom. He had been honest with James and had tried to find solutions, but now the moment had arrived when he would have to reveal the truth to his family. Nathaniel's father, an imposing figure, looked at his watch impatiently. "Where is she?" he again, irritation evident in his voice. "We cannot wait any longer." Nathaniel lowered his head, his hands and feet trembling. He knew that there was no way out of this situation. With a deep breath, he stood up and faced his family and the lawyer. "Father," he began, his voice strained, "there's something I need to tell you all." His father's eyes focused on him, a mixture of curiosity and impatience. "You can go ahead, Nathaniel. W
As the morning sun shined through the curtains of Olivia's room, she sat at her dressing table, contemplating on the decisions she had made in the past few days. The room was filled with a quiet stillness, a contrast to the turmoil that had unfolded in her life.With a deep sigh, Olivia picked up her phone as she debated on whether to follow through with the plan she had set in motion. She had been resolute in her determination to shut herself off from any external influences or complications, and that included Nathaniel's family, who might be seeking contact for reasons she could only guess.Taking a deep breath, she unlocked her phone and began the process of shutting down various modes of communication. Her decision was a double-edged sword. On one hand, it provided her with a sense of control over her own life and from external pressures. On the other hand, it carried an underlying sense of isolation, of self-imposed seperation from the world outside.Her first action was to switc
The atmosphere in Nathaniel's parents' home was tinged with an air of luxury and tradition. The grand entrance path was adorned with his taste of delicate paintings and luxurious furniture, an evidence of the family's long-standing legacy. As Nathaniel walked through the grand stairs, he couldn't help but feel a sense of regret. The people here, were the people he had grown with, where he had learned the values and expectations that came with his prestigious lineage.His mother, a beautiful woman in her early sixties, stood waiting for him. Dressed in an elegant gown of burgundy and pearls, her attire making her look sophisticated a true blends that was befitting for their family's stature. Her eyes sparkled with anticipation as she walked towards Nathaniel. She was eager to see Olivia, who had become a significant presence in their lives, despite the unconventional circumstances of their relationship."Nathaniel, dear," she greeted him warmly, a gentle smile gracing her face. "It's b
Nathaniel sat in his spacious office, staring at the busy city streets through the window. It had been a few days since he had last spoken with Olivia, and the weight of his inheritance had continued to bear down on him. He had known for quite some time that the deadline was fast approaching, and he couldn't ignore it any longer.His phone rang, distracting his thoughts. He glanced at the caller ID – it was James, his confidant, and friend. Nathaniel answered the call, but with a wearied voice "James, how's everything?"James, on the other end of the line, was typically jovial, but he picked up on the somber tone in Nathaniel's voice. "Nathaniel, my friend, what's eating at you? You sound as if you're carring the weight of the world on your shoulders."Nathaniel leaned back on his chair, closing his eyes for a moment. "James, it's about the inheritance deal."James knew what Nathaniel was referring to. The pending inheritance that required a wife's signature was a topic that had been
The persistent ring of Olivia's phone startled her from the depths of her slumber. She searched for the phone with her hands on the nightstand. "Who could that be?" She murmured, opening her eyes to see the caller ID displaying the name "Mrs. Margaret." Made her heart skipped a beat; the prospect of
Nathaniel returned home, he couldn't help but feel a growing sense of unease. The weight of his family's expectations and the urgency of the looming inheritance deal looks like the air he breaths in - always in his mind. Sometimes he envisions what might happen if he does and if he doesn't. But one
The car moved through the city streets, and the rhythm of the road seemed to echo the wordings and sounds of their thoughts. Nathaniel's attention was fixed on the road ahead, but he could feel Olivia's emotions as well as if they were his own. The silence hung heavy in the air, coupled with unspoke
The grand entrance of Nathaniel's mansion welcomed them as they returned from the visit to Olivia's new property. The excitement of the day still lingered in Olivia's eyes, and she couldn't stop talking about the house as they entered the Nathaniel's mansion. However, she seemed to be carried away b












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews