LOGINFlora yang namanya disebut pun langsung memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak ingin disalahkan. Apalagi memang Flora yang meminta Alina menangani ini.
"Jangan mencoba melimpahkan kesalahan pada orang lain!"
Baru pertama kalinya orang-orang melihat Naomi semarah ini. Apalagi terhadap anggota baru. Flora pun menengahi mereka.
"Aku memang bilang acara satu bulan ini tidak masalah, tapi bukan berarti acara besar di luar itu tidak dimasukkan." Jelas Flora nampak
Usai dari toilet,Naomi tidak tahu apakah harus segera kembali ke booth atau dia harus jalan-jalan di sekitar mall. Saat sedang berjalan santai, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah butik parfum premium. Dan di sanalah ia melihat seseorang yang dikenalnya. Rahaal.Naomi otomatis melambat. Bukan karena ingin menguping. Hanya saja cukup mengejutkan rupanya keperluan lain ituy adalah membeli parfum. Apalagi di atas meja kasir sudah ada beberapa kotak parfum.Satu. Dua. Tiga. Empat. Naomi mengernyit. Sebanyak itu? Seolah sedang menimbun stok. Aneh. Namun sebelum rasa penasarannya berubah menjadi tindakan yang lebih memalukan, Naomi segera pergi dari sana.Ketika kembali, suasana di area booth jauh lebih tenang. Yang ada hanya Claudia yang duduk di kursi dekat meja display sambil memainkan ponselnya. Naomi menghampiri lalu duduk di kursi sebelahnya."Mareeq ke mana?" tanya Naomi.Claudia mengangkat kepala. "Pergi sebentar.""Ke mana?"
Mareeq keluar dari ruangannya dan berjalan ke depan meja Naomi."Naomi, ikut aku ke area bazar, ya. Aku mau lihat persiapan booth." ujar Mareeq.Naomi yang sedang memeriksa dokumen langsung mengangguk. "Baik."Belum sempat berdiri, Claudia yang mendengar percakapan itu segera menoleh. Mareeq lalu menatap ke arah Claudia."Claudia juga ikut." ucap Mareeq tegas.Claudia tersenyum lega. Mareeq masih mengajaknya untuk ikut dalam pekerjaannya. Claudia menganggap Mareeq masih mengandalkannya."Booth kita di Hall B, dekat pintu samping. Katanya backdrop-nya sudah dipasang," katanya.Claudia langsung mengangguk semangat. "Bagus. Aku mau lihat apakah warna backdrop-nya sesuai desain yang kita kirim atau tidak."Sejujurnya Naomi tidak terlalu antusias melihat booth. Bekerja bersama Claudia kadang membuatnya lelah. Dia harus menahan diri dengan Mareeq. Terkadang ada hal-hal yang dilakukan Claudia seperti menyerangnya secara halus.
Hari Senin selalu datang terlalu cepat. Rasanya baru kemarin kejadian menangkap buket bunga. Lalu, Naomi duduk di bangku taman sambil makan siomay bersama Killa. Sekarang ia sudah kembali berada di depan layar komputer dengan daftar pekerjaan yang terasa tidak ada habisnya.Pagi itu suasana kantor jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa proyek sedang berjalan bersamaan dan semua orang terlihat bergerak cepat sejak jam kerja dimulai. Tim pemasaran terlihat mondar-mandir sejak pagi.Naomi baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua orang berjalan melewati koridor. Bahkan Flora yang biasanya masih sempat bergosip sebelum jam sembilan kini terlihat serius menatap layar monitornya.Naomi selesai dari meeting ketika melihat dua sosok yang cukup dikenalnya. Leon dan Maya. Mereka berjalan berdampingan dari arah lift. Maya sedang menjelaskan sesuatu sambil menunjuk di beberapa dokumen. Leon mendengarkan sambil sesekali mengangguk.Naomi memperlambat la
Minggu pagi. Naomi membuka mata perlahan saat sinar matahari masuk melalui celah tirai kamarnya. Ia berguling ke samping. Lalu matanya tertuju pada sesuatu yang berdiri di atas meja. Buket bunga.Buket yang kemarin diberikan Mareeq setelah insiden lempar bunga yang memalukan itu. Naomi menatapnya beberapa detik. Kemudian menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya."Kenapa aku bawa pulang sih..."Meski begitu, ia tidak memindahkannya. Buket itu tetap berada di sana.Beberapa saat kemudian Naomi sudah bersiap pergi. Hari ini ia berencana mengunjungi rumahnya. Meski semalam kakaknya sudah memberi tahu bahwa pagi hari ia akan pergi ke gym terlebih dahulu. Artinya saat Naomi sampai nanti, rumah kemungkinan masih kosong.Naomi tetap berangkat karena hari Minggunya tidak ada rencana lain. Dia berencana bermalas-malasan dengan kakaknya. Ia pun memesan ojek mobil.Perjalanan berlangsung lancar hingga kendaraan memasuki area dekat kompleks peru
Beberapa menit setelah insiden buket yang sangat memalukan itu, rombongan tim pemasaran akhirnya keluar dari gedung. Naomi masih membawa buket bunga tersebut. Awalnya ia ingin meninggalkannya di meja. Namun Flora memaksa."Kamu harus bawa.""Kenapa?" tanya Naomi."Karena itu hasil perjuangan.""Itu hasil salah tempat.""Itu tetap hasil." eyel Flora. "Lagi pula kan Mareeq sudah memberikan padamu."Setelah dipikir lagi, benar Mareeq yang memberikan bunga ini. Jadilah sekarang Naomi berdiri memegang buket yang terus membuatnya teringat pada sorakan memalukan tadi. Beberapa rekan kerja masih berada di dalam.Setelah berpamitan kepada Fadlan dan istrinya, mereka satu per satu keluar dari gedung. Ada yang ke toilet. Ada yang mengambil barang. Ada juga yang masih mengobrol dengan Fadlan.Rombongan yang tidak ada tujuan lagi pun menunggu di area depan gedung.Naomi berdiri di dekat tangga bersama Flora. Sementara Mareeq berdiri
Sebelum rombongan tim pemasaran memutuskan pulang, pembawa acara tiba-tiba mengumumkan satu sesi terakhir. Informasinya khusus untuk tim pemasaran."Baik, para tamu wanita yang belum menikah, silakan berkumpul di depan panggung untuk sesi lempar buket!"Suasana langsung ramai. Beberapa tamu wanita tertawa. Banyak yang langsung berdiri dan bersemangat mengikuti acara. Sebagian lain langsung mundur.Di meja tim pemasaran, Flora langsung berdiri. "Ayo!"Naomi yang sedang minum langsung menggeleng. "Tidak.""Ayo." Flora langsung menarik lengan Naomi. "Kamu harus ikut.""Kenapa?" tanya Naomi."Karena seru. Itu tradisi bagi wanita yang belum menikah agar bisa segera menikah.""Itu bukan tradisiku dan aku tidak ingin segera menikah." ujar Naomi.Flora mengabaikannya. Dia tetap menyeret Noami untuk ikut berebut buket bunga.Tak jauh dari sana, Claudia juga berdiri. Begitu mendengar ada lempar buket, entah kenapa semangatn
Suasana di ruang tamu apartemen terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Naomi duduk di pinggiran sofa, meremas jemarinya yang dingin. Sementara Leon berdiri di dekat jendela, membelakangi Naomi. Ia baru saja menceritakan kejadian di parkiran itu, meski dengan nada yang sangat hati-hati.
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du
Naomi melangkah masuk ke ruangan, atmosfer berat menyergapnya. Aroma cuka beras yang tajam bercampur dengan kesegaran ikan mentah langsung memenuhi indra penciumannya. Di meja tengah, dokumen-dokumen yang biasanya berserakan telah disingkirkan, digantikan oleh parade sushi mewah yang tertata sang
Langkah Naomi terasa berat saat memasuki area kantor. Sebelum kembali ke meja kerjanya, ia memutuskan untuk mampir ke toilet. Sekadar untuk membasuh wajah dan memastikan tidak ada sisa ketegangan yang tertinggal di matanya setelah percakapan emosional dengan Mareeq.Begitu pintu toilet yan







