ANMELDENLeon melihat Naomi yang masih duduk diam di sofa. Terlihat masih sangat terkejut. Akhirnya, Leon mengajak Naomi keluar.
"Ayo."
Naomi mengangkat wajah. "Ke mana?"
"Kita ke dokter."
Naomi membeku. "Dokter?"
Leon mengangguk. "Biar kita nggak cuma mengandalkan test pack."
"Tapi..."
"Mumpung kita hari ini libur dan tidak ada rencana."
Nada suaranya begitu tenang. Seolah semuanya sudah diputuskan. Naomi pun tidak bisa menolak.
Sepanjang pNaomi kembali ke kantor sekitar pukul satu siang. Suasana divisi marketing sudah kembali sibuk. Suara ketikan keyboard dan dering telepon saling bersahutan. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.Senyum tipis yang dipaksakannya saat makan siang bersama Leon sudah menghilang. Begitu duduk di kursinya, ia langsung membuka komputer. Dia berharap pekerjaan mampu mengalihkan pikirannya.Namun baru beberapa menit berlalu. Mareeq datang dari luar ruangan. Mata mereka sempat bertemu sebentar. Tapi, Naomi sangat jelas menghindarinya."Naomi, ke ruanganku sebentar." ujar Mareeq lalu masuk ke ruangannya.Mareeq tidak membiarkan Naomi memberikan alasan. Dia sangat ingin tahu kebenaran itu dari mulut Naomi sendiri. Dengan sangat terpaksa Naomi pun pergi.Jalan menuju ruang kerja Mareeq terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah membuat napasnya semakin berat. Ia mencoba menenangkan diri.Naomi membuka pintu perlahan. Mareeq berdir
Claudia baru tiba di kantor setelah menghadiri meeting dengan klien. Begitu memasuki ruangan, ia mendapati beberapa orang masih membahas Leon dan Naomi."Eh, ada apa?" tanyanya.Salah seorang staf hanya menjawab singkat, "Itu. Leon katanya melamar Naomi, tapi masih ditolak."Claudia mengangkat sebelah alis. "Kenapa ditolak?"Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Matanya kemudian menemukan Flora yang sedang berdiri di dekat pantry."Flora.""Hm?""Itu benar?" tanya Claudia. "Katanya Leon melamar Naomi?"Flora melirik kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain yang mendengar."Kamu serius mau tahu?"Claudia mengangguk.Flora mendekat sedikit. "Ini masih rahasia."Claudia mulai penasaran.Flora menatap mata Claudia beberapa detik sebelum akhirnya berbisik, "Naomi hamil."Mata Claudia langsung membesar. "Apa?"Flora mengangguk pelan. "Hanya aku yang tahu di sini. Jadi, jangan
Suasana kantor dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan percakapan antarpegawai yang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.Naomi melangkah masuk dengan membawa tas kerjanya. Biasanya ia akan menyapa beberapa rekan di divisi marketing. Pagi itu, ia hanya tersenyum tipis lalu langsung menuju mejanya.Ia menyalakan komputer, membuka beberapa berkas pekerjaan, tetapi tatapannya kosong. Huruf-huruf di layar seolah tidak mampu ia cerna. Pikirannya masih dipenuhi hasil USG yang kemarin disimpan Leon dengan begitu hati-hati."Enam minggu."Angka itu terus terngiang.Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Naomi refleks mengangkat kepala. Mareeq. Pria itu baru saja tiba di kantor dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Seperti biasa, beberapa rekan menyapanya.Tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Naomi. Hanya beberapa detik. Naomi segera menundukkan kepala, berpura-pura sibuk membuka file di kom
Keluar dari klinik, Leon masih beberapa kali membuka map berisi hasil pemeriksaan. Senyum di wajahnya tak kunjung hilang. Leon mengangkat lembar foto USG kecil itu sekali lagi."Sayang. Aku masih nggak percaya ini."Naomi hanya tersenyum tipis."Kalau bukan karena dokter yang bilang langsung, mungkin aku bakal mengira ini mimpi."Ia tertawa kecil seorang diri.Naomi memperhatikan wajah Leon. Sudah lama ia tidak melihat pria itu tersenyum selepas ini.Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Leon tidak langsung menyalakan mesin. Ia justru menoleh ke arah Naomi. Leon melirik tanggal yang terpampang di layar mobil."Hari ini valentine lho."Naomi ikut melihat. Karena sejak pagi pikirannya dipenuhi hasil test pack dan pemeriksaan dokter, ia bahkan lupa hari itu adalah Hari Valentine.Leon mengembuskan napas pelan sambil tersenyum. "Setiap tahun orang-orang sibuk kasih hadiah cokelat atau bunga."Ia menatap map hasil USG di
Leon melihat Naomi yang masih duduk diam di sofa. Terlihat masih sangat terkejut. Akhirnya, Leon mengajak Naomi keluar."Ayo."Naomi mengangkat wajah. "Ke mana?""Kita ke dokter."Naomi membeku. "Dokter?"Leon mengangguk. "Biar kita nggak cuma mengandalkan test pack.""Tapi...""Mumpung kita hari ini libur dan tidak ada rencana."Nada suaranya begitu tenang. Seolah semuanya sudah diputuskan. Naomi pun tidak bisa menolak.Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Leon beberapa kali melirik Naomi."Kamu mual?""Nggak.""Pusing?""Sedikit."Leon mengulurkan tangan, menggenggam jemari Naomi yang berada di atas pahanya. Pandangan Naomi tetap lurus ke depan. Sementara pikirannya entah ke mana.Mereka tiba di sebuah klinik spesialis kandungan. Ruang tunggunya dipenuhi beberapa pasangan suami istri. Seorang wanita hamil dengan perut yang sudah membesar sedang tertawa kecil
Naomi masih duduk di atas kloset yang tertutup. Air matanya sudah berhenti mengalir. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Tatapannya kosong.Di tangannya, test pack itu masih tergenggam begitu erat hingga jemarinya memutih. Ia tidak tahu sudah berapa lama berada di sana. Lima menit. Sepuluh menit. Atau mungkin lebih. Yang ia tahu hanyalah pikirannya terasa kacau. Semua rencana hidup yang selama ini ia susun seakan runtuh dalam satu pagi.Tok... Tok..."Sayang?"Suara Leon terdengar dari balik pintu. Naomi tidak menjawab."Naomi?"Masih hening. Leon mulai merasa ada yang tidak beres. Perlahan ia memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Pintu kamar mandi terbuka."Naomi."Leon mengamati kekasihnya. Ia mendapati Naomi masih mengenakan piyamanya, duduk diam di atas kloset dengan wajah yang sangat pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya sembap."Kamu kenapa?" Leon langsung berjongkok di depan
Sabtu sore di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai menjadi waktu "keramat" bagi Naomi. Meskipun usianya sudah dewasa dan ia sudah memiliki Leon. Ada satu sisi dalam dirinya yang tetap menjadi adik kecil yang posesif.Bagi Naomi, Alina tetaplah sosok "penyusup" yang telah merebut perhatian
Naomi bisa merasakan panas yang samar dari tubuh Rahaal karena jarak mereka yang kini terkikis. Pria ini tidak sedang bernegosiasi. Dia sedang memberikan ultimatum yang dibungkus dengan pengorbanan yang tidak masuk akal."Jika keberadaan Mareeq adalah satu-satunya cara agar kamu merasa nya
Ruangan Rahaal terasa seperti kotak kaca yang kedap suara, di mana waktu seolah dipaksa untuk berjalan lebih lambat dan teratur. Berbeda dengan ruangan Mareeq yang hangat, penuh dengan tumpukan kertas yang agak berantakan dan aroma kopi yang ramah, ruangan Rahaal adalah definisi dari minimalisme
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan







