Se connecterSinar matahari pagi yang menerobos celah jendela terasa begitu menyilaukan, namun tidak sepedih rasa sesak di dada Naomi setelah percakapan tadi malam. Naomi terkejut melihat tempat tidur di seberangnya sudah rapi. Claudia tidak lagi di sana. Ia bangun jauh lebih awal, seolah ingin menunjukkan bahwa ia selalu selangkah lebih maju, bahkan dalam hal memulai hari.
Naomi bangkit dengan gontai. Di depan cermin, ia melihat sisa-sisa kegelisahan di matanya. Bayangan tentang Mareeq yang akan p
Pukul delapan lewat dua belas menit, lantai lima belas gedung kantor itu sudah dipenuhi suara khas hari kerja. Aroma kopi dari pantry, bunyi notifikasi email yang bersahutan, dan langkah terburu-buru para karyawan yang baru turun dari lift.Naomi baru saja datang ke ruangan kerja sambil merapikan ID card di lehernya. Cahaya matahari pagi memantul tipis di meja-meja kerja yang mulai penuh aktivitas. Beberapa orang masih menguap, beberapa lain sibuk mengeluh soal deadline.“Pagi, Nao!” sapa Flora dari meja sebelah.Naomi tersenyum kecil. “Pagi.”Naomi menyalakan komputer, lalu membuka jadwal meeting hari itu. Baru lima menit bekerja, suara ramai dari area tim lain terdengar melewati depan ruangan mereka. Sepertinya mereka akan ada rapat.Naomi menoleh tanpa sadar. Mencari sosok yang dia kenali. Leon. Pria itu berjalan di samping seorang pria. Ada perasaan aneh ketika tidak melihat dia ada di sebelah Maya. Apakah ini bentuk tau
Pukul sembilan pagi, divisi pemasaran sudah seperti pasar pagi yang dikasih WiFi . Rame, berisik, dan semua orang pura-pura sibuk saat atasan lewat. Naomi melihat sebuah undangan di atas mejanya. Dia membaca sekilas. Undangan pernikahan Fadlan.Naomi baru saja duduk sambil menyalakan komputer ketika Claudia berdiri dramatis di tengah ruangan.“Teman-teman!” katanya sambil tepuk tangan sekali. “Kita harus kasih hadiah nikahan yang bagus buat Fadlan.”Fadlan yang duduk di pojok langsung nyengir malu-malu sambil memeluk map presentasi seperti pengantin pria versi korporat.“Iya dong,” sahut Rio. “Masa cuma kasih amplop isi doa.”“Doa juga penting,” bela Fadlan.“Kalau doa doang, nikahnya di grup WhatsApp aja,” jawab Claudia cepat.Ruangan pecah ketawa. Claudia lalu menoleh ke arah Naomi.“Karena Naomi paling ngerti barang lucu dan estetik, kita transfer
Malam itu apartemen terasa sangat sunyi. Pintu kamar tertutup rapat sejak Naomi masuk tanpa mengatakan apa pun lagi. Sementara di ruang tengah, Leon duduk diam di sofa sambil menatap layar ponselnya yang gelap.Pertengkaran mereka masih terngiang jelas di kepalanya.“Kakakmu lagi! Keluargamu lagi!”Leon mengusap wajahnya pelan. Ia tahu kata-katanya keterlaluan. Tapi setiap kali emosi menguasainya, ia selalu mengatakan hal-hal paling tajam kepada Naomi. Dan anehnya, setelah semua itu selesai, rasa bersalah selalu datang terlambat.Sekitar satu jam kemudian, Leon akhirnya berdiri dan berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas, mengambil beberapa bahan makanan, lalu mulai memasak dalam diam.Ini selalu seperti siklus yang berulang. Mereka bertengkar. Leon melukai Naomi dengan kata-kata. Naomi menangis atau menghindar. Lalu Leon berubah menjadi lembut seolah ingin menghapus semuanya. Dan Naomi… selalu luluh pada sisi lembut itu.Sua
Naomi akhirnya tersenyum kecil meski matanya terlihat lelah. “Aku berencana memeras kakakku hari ini.”Kalimat itu terdengar seperti candaan yang meyakinkan Mareeq untuk tidak khawatir."Aku akan mengantarmu." ujar Mareeq.Naomi menahan lengan Mareeq. Naomi langsung menggeleng. “Nggak usah.”“Aku cuma antar sampai depan.”“Mareeq.”Nada suara Naomi melembut, tapi justru terdengar lebih serius. Naomi lalu menatap Mareeq lembut.“Tidak ada yang tahu kakakku.”Mareeq sedikit mengernyit sebelum akhirnya memahami maksud Naomi. Di luar sana masih ada Flora dan Claudia. Dan jika Vino datang menjemput sekarang, kemungkinan besar mereka akan melihat Naomi pergi bersama kakaknya.“Bisakah kamu memastikan mereka tidak melihat kakakku?” pinta Naomi pelan.Mareeq diam. Sebentulnya Naomi tidak peduli Flora atau pun Claudia melihat kakaknya. Itu hanya alasan.
"Kita bisa memesan makanan ke sini." ujar Mareeq.Mareeq melihat ke arah pantai. Claudia dan Flora mendapatkan teman bermain voli dan terlihat lebih bersemangat bermain."Sepertinya mereka masih lama bermain."Naomi melihat ke arah yang dimaksud Mareeq. Ada beberapa orang yang bergabung dan terlihat menyenangkan."Aku setuju." jawab Naomi. "Kalau begitu aku akan pesan makanan."Mareeq refleks. “Aku ikut.”Naomi menoleh sebentar. “Kamu tidak akan membiarkanku sendiri?”"Aku akan memastikan kamu tidak memesan udang."Jawaban dari Mareeq membuat Naomi hanya menggeleng kecil. Mereka lalu berjalan menuju restoran. Berjalan beriringan melewati pasir yang masih lembut dan sedikit basah. Angin pantai meniup rambut Naomi berulang kali hingga menutupi wajahnya.Gadis itu sibuk menyingkirkan rambutnya saat kakinya tiba-tiba tersangkut sedikit pada permukaan pasir yang tidak rata. Tubuhnya limbung ke depan. B
Claudia bicara lebih pelan. “Terima kasih sudah datang semalam.”Mareeq tidak langsung menjawab. Ada jeda sebentar seolah dia lebih fokus ke arah lain.“Kamu tidak perlu memikirkan itu.”Claudia tersenyum kecil hambar. “Aku sangat lega kamu tetap datang.”Tatapannya turun ke dress yang ia pakai pagi itu. Dress santai berwarna lembut yang nyaman dan jauh berbeda dari pakaian pestanya semalam.“Dan… terima kasih untuk ini juga.”Mareeq mengikuti arah pandangnya. Lalu berkata tenang, “Naomi yang membelinya.”Claudia terdiam.“Dia yang ingin membelikan untukmu. Aku cuma bayar.”Kalimat itu sederhana. Namun Claudia langsung menangkap maksudnya. Mareeq sengaja. Sengaja ingin Claudia tahu bahwa perhatian itu datang dari Naomi. Anehnya itu membuat dada Claudia terasa sesak.Claudia tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak benar-benar sampai ke mat
Raya terdiam. Kalimat itu seperti cermin yang tiba-tiba dipasang tepat di depannya. Sepanjang hari ini, yang ia pikirkan hanyalah kemungkinan Naomi mengambil sesuatu darinya. Padahal perempuan itu bahkan sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Raya menghembuskan napas pelan. Ia tiba-tiba merasa&hellip
Naomi tersenyum kecil. “Itu hampir semua anak kecil.”“Iya,” Mareeq ikut tersenyum tipis. “Tapi akhir-akhir ini dia lebih suka menggambar.”“Menggambar?”“Dia bisa duduk berjam-jam hanya dengan krayon dan kertas.”
"Mareeq mungkin juga sama. Dia tidak akan mengingat hal kecil," jawab Naomi, mencoba memberikan senyum paling profesional yang ia miliki. "Cheese cake dan matcha, Mareeq ingat karena aku sering memesannya setiap hari. Tidak lebih dari itu."Raya manggut-manggut. Namun kilatan di matanya me
Pertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama,







