Se connecterSinar matahari pagi yang menerobos celah jendela terasa begitu menyilaukan, namun tidak sepedih rasa sesak di dada Naomi setelah percakapan tadi malam. Naomi terkejut melihat tempat tidur di seberangnya sudah rapi. Claudia tidak lagi di sana. Ia bangun jauh lebih awal, seolah ingin menunjukkan bahwa ia selalu selangkah lebih maju, bahkan dalam hal memulai hari.
Naomi bangkit dengan gontai. Di depan cermin, ia melihat sisa-sisa kegelisahan di matanya. Bayangan tentang Mareeq yang akan p
Hari Senin selalu terasa sedikit lebih sibuk dibanding hari-hari lainnya. Namun anehnya, jam istirahat siang di kantor justru terasa tenang. Langit cerah setelah hujan deras sepanjang akhir pekan. Angin berembus pelan di sky terrace kantor, membawa aroma tanaman hias yang ditata di sudut-sudut area terbuka itu.Naomi berdiri di dekat pagar pembatas sambil memegang sekaleng matcha dingin. Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki mendekat. Rahaal."Sendirian?" tanyanya.Naomi menoleh. "Iya."Rahaal duduk di bawah pohon tidak jauh dari Naomi berdiri. Di dekatnya ada dompet kecil yang bisa dipastikan milik wanita yang berdiri di sana. Keduanya menikmati suasana tenang beberapa saat.Naomi kemudian duduk di sebelah Rahaal. Tidak ada pembicaraan apa pun. Naomi hanya memandang ke arah langit menikmati semilir angin."Dulu..." ujar Rahaal mengawali.Naomi menoleh dan memperhatikan apa yang ingin pria itu katakan."Ketika tim kita di
Hari Jumat, langit mendung sejak siang. Menjelang jam pulang kantor, suara hujan mulai terdengar mengetuk jendela-jendela gedung. Semakin lama, semakin deras.Naomi berdiri di depan gedung. Ia menatap ke arah langit. Hujan turun tanpa ampun. Deras. Beberapa orang tampak berlari kecil menuju kendaraan mereka sambil melindungi kepala dengan tas.Naomi mengulurkan tangannya, merasakan air hujan. Tidak ada payung. Ia memang tidak membawa payung pagi tadi karena cuaca terlihat cerah."Bagaimana, ya?" gumamnya pelan.Menunggu hujan reda sepertinya tidak menjanjikan. Saat sedang berpikir, seseorang berhenti di sampingnya. Naomi menoleh. Rahaal. mPria itu masih mengenakan kemeja kerja yang rapi seperti biasa. Di tangannya tergenggam sebuah payung hitam."Kamu belum pulang?" tanya Naomi.Rahaal melihat hujan di depan mereka. "Hujannya deras.""Iya." ujar Naomi ikut memandang hujan. "Aku sedang mempertimbangkan apakah harus menerobos hujan atau
Usai menyelesaikan meeting dengan klien, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Jam makan siang telah lewat, tetapi mall masih cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa kantong belanja, beberapa keluarga terlihat mengantre di restoran, sementara alunan musik pelan terdengar dari pengeras suara.Naomi berjalan sambil memeluk beberapa map berisi dokumen meeting."Kita selamat," kata Mareeq.Naomi meliriknya. "Memangnya tadi seseram itu?""Kamu tidak lihat ekspresi klien waktu minta revisi tambahan?""Masih wajar.""Itu karena kamu sudah kebal."Naomi terkekeh kecil. "Coba bayangkan ekspresimu di depan bawahanmu. Kurang lebih sama.""Benarkah?" gumam Mareeq.Mereka melewati beberapa gerai minuman sebelum Mareeq berhenti di depan sebuah booth matcha take away."Matcha?" tanya Mareeq menawari.Naomi yang tadinya terlihat lelah langsung mendongak. Naomi tersenyum. "Mau.""Baiklah."Mereka pun ikut mengantre.Saat giliran mereka hampir t
Naomi membalas tatapan itu. Keduanya sama-sama tampak bingung. Suasana mendadak hening. Killa, yang baru duduk di sebelah Naomi sambil membawa minuman, membeku. Orang-orang di sekitar yang menyadari kejadian itu mulai menahan senyum.Wanita itu berkedip. "Eh..."Naomi juga berkedip. Lalu, entah kenapa wanita itu perlahan mengulurkan tangan. "Makasih." Ia mengambil segenggam popcorn.Kress. Dimakannya dengan santai. Naomi melotot kecil. Dia benar-benar mengambilnya. Wanita itu mengunyah beberapa detik. Pria di sampingnya tampak tidak percaya.Killa menunduk sambil menggigit bibirnya sendiri. Bahu pria itu mulai bergetar. Ia sedang berjuang keras untuk tidak tertawa.Wanita itu menoleh lagi pada Naomi. "Makasih, ya."Naomi menatap ember popcornnya. Lalu menatap wanita itu. Kemudian, dengan ekspresi datar dan polos, ia berkata, "popcorn buat kakak saja. Tapi, jangan marahin kakaknya. Kasihan." Naomi melirik pria di samping wanita itu.He
Ketika Naomi sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum kecil. Killa. Dia pun segera membuka isi pesannya.Killa: Mau nonton nggak?Naomi membalas cepat.Naomi: Tumben ngajakin nonton?Tak lama kemudian balasan masuk.Killa: Iya. Zara ada urusan keluarga mendadak. Sayang tiketnya kalau hangus. Daripada nonton sendirian.Naomi tertawa pelan.Naomi: Baiklah. Kamu yang jemput ke sini ya? Jam4 sore.Killa: Oke.Setelah membalas, Naomi kembali bekerja. Namun, tanpa sadar, senyumnya masih tertinggal di wajah."Ada kabar baik?"Naomi menoleh. Flora duduk di samping mejanya sambil memegang mug kopi."Hah?""Senyum-senyum sendiri natap HP kayak orang gila."Naomi terkekeh kecil. "Oh, bukan apa-apa. Killa ngajak nonton.""Killa?" Mata Flora membesar. "Kamu masih berteman dengannya?""Iya. Kami sahabata
Usai dari toilet,Naomi tidak tahu apakah harus segera kembali ke booth atau dia harus jalan-jalan di sekitar mall. Saat sedang berjalan santai, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah butik parfum premium. Dan di sanalah ia melihat seseorang yang dikenalnya. Rahaal.Naomi otomatis melambat. Bukan karena ingin menguping. Hanya saja cukup mengejutkan rupanya keperluan lain ituy adalah membeli parfum. Apalagi di atas meja kasir sudah ada beberapa kotak parfum.Satu. Dua. Tiga. Empat. Naomi mengernyit. Sebanyak itu? Seolah sedang menimbun stok. Aneh. Namun sebelum rasa penasarannya berubah menjadi tindakan yang lebih memalukan, Naomi segera pergi dari sana.Ketika kembali, suasana di area booth jauh lebih tenang. Yang ada hanya Claudia yang duduk di kursi dekat meja display sambil memainkan ponselnya. Naomi menghampiri lalu duduk di kursi sebelahnya."Mareeq ke mana?" tanya Naomi.Claudia mengangkat kepala. "Pergi sebentar.""Ke mana?"
Mareeq memecah keheningan dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. Seolah kalimat itu hanya ditujukan untuk ruang kecil di antara mereka.“Aku sudah dengar,” katanya perlahan, “kalau kamu ngotot mempertahankan proyekku. Sampai akhirnya dipilih.” Ia menatap Naomi dengan sungguh-sungguh
Lampu-lampu kota menyala seperti bintang yang turun ke bumi ketika Mareeq berhenti di depan kantor. Mobilnya tenang, berkilau tipis, seolah menyimpan rahasia malam itu di balik kaca gelap. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit, seharusnya ini sudah waktunya Naomi kelu
Jumat siang yang terik itu terasa berbeda bagi Naomi. Saat ia berjalan menuju area parkir kantor untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil, langkahnya mendadak terkunci. Di sana, di sebelah mobilnya, seharusnya itu tempat kosong. Tapi, dia melihat sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali.
Suasana di ruang rapat terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah disetel ke suhu normal. Di ujung meja, Rahaal duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara kursi di sampingnya, yang seharusnya ditempati Mareeq, kosong melompong karena yang bersangkutan masih berada di luar negeri.







