MasukRestoran ini berada di lantai tertinggi salah satu gedung ikonik. Begitu pintu lift terbuka di lantai 18, Naomi disambut oleh pemandangan cakrawala kota di balik dinding kaca raksasa. Suasananya begitu sunyi, hanya ada alunan musik jazz instrumental yang sangat halus.
"Selamat siang, Tuan Rahaal. Meja sudut favorit Anda sudah siap," sapa seorang manajer restoran bersetelan jas rapi, membungkuk hormat.
Rahaal tidak perlu menyebutkan reservasi. Ia membimbing Naomi ke sebuah meja d
Naomi berjalan melangkah ke ruang HR. Dia berdiri beberapa saat di depan pintu ruang HR. Tangannya terangkat, lalu mengetuk pelan."Silakan masuk." ujar ibu Sinta dari dalam ruangan.Naomi membuka pintu. Di dalam, Manajer HR sedang memeriksa beberapa berkas. Begitu melihat Naomi, wanita itu tersenyum ramah."Silakan duduk, Naomi. Ada yang bisa saya bantu?" Ibu Sinta mempersilakan Naomi.Naomi duduk perlahan. "Saya ingin menanyakan alasan kenapa saya dikeluarkan dari proyek Gigantic."Manajer HR menutup map di hadapannya. "Saya sudah menduga kamu akan datang."Naomi menunggu dengan sabar."Keputusan itu bukan karena performamu."Naomi sedikit lega mendengarnya."Justru hasil evaluasimu sangat baik." pujinya."Lalu kenapa?" tanya Naomi.Manajer HR menyandarkan punggungnya ke kursi."Beberapa hari lalu, Pak Mareeq menyampaikan bahwa beban kerja kamu sudah terlalu tinggi. Dan kamu dalam keadaan yang tida
Suasana kantor kembali ramai setelah akhir pekan. Para karyawan berlalu-lalang membawa dokumen dan secangkir kopi. Sementara layar besar di area kerja menampilkan jadwal rapat hari itu.Naomi datang lebih awal. Ia mengenakan blazer krem dengan kemeja putih, rambutnya diurai rapi. Begitu meletakkan tas di mejanya, ia langsung menyalakan komputer dan memeriksa kembali pekerjaan untuk hari ini. Pekerjaan utama hari ini adalah meeting dengan Gigantic.naomi datang pagi agar dia bisa mempelajari materi meeting dan menyempurnakan laporan. Setidaknya bekerja membuat pikirannya tidak terus memutar persoalan yang sedang dihadapinya. Dia sangat butuh pelarian.Tak lama kemudian, pintu ruangan milik Rahaal terbuka. Rahaal melangkah keluar sambil membawa dokumen. Ia menatap ke arah beberapa anggota tim. Lagi-lagi pria itu melewati pandangan Naomi."Meeting Gigantic sekarang."Beberapa karyawan langsung berdiri, mengambil laptop dan buku catatan masing-masing.
Killa menyentuh kepala Naomi dan mengusapnya. "Baiklah. Katakan. Ngidam apa kamu sekarang? Aku akan memenuhi permintaanmu."Naomi menoleh ke arah Killa. Terlihat sekali matanya merah menahan air mata meskipun bibirnya terlihat tertawa."Aku nggak salah denger?" tanya Naomi."Nggak. Aku sungguh-sungguh." jawab Killa tanpa keraguan. "Asal bukan sesuatu yang mahal."Naomi diam sebentar dan memikirkan sesuatu. Dia terpikirkan sesuatu. Killa adalah campuran Betawi dan Sunda. Akan terasa lucu jika dia berbicara dengan bahasa Jawa.Naomi melihat sekeliling dan mencari seseuatu. Dia melihat kearah jalanan. Di kejauhan, seorang bapak tua tampak berjalan perlahan sambil memikul dua keranjang bambu di kedua ujung pikulannya. Di dalam keranjang itu tersusun berbagai buah, tetapi yang paling banyak adalah salak."Itu." tunjuk Naomi.Killa mengikuti arah telunjuk Naomi. "Salak?""Iya."Killa terkekeh. "Oke."Ia hendak mel
Naomi membelalakkan matanya. Dia menatap ke arah Killa. Dia tidak menyangka Killa akan mengatakan hal ini. Hanya sedetik dia mampu menatap mata pria di sampingnya itu."Aku tidak ingin dia melakukan itu.""Jangan melakukan setengah-setengah." ujar Killa "Karena apa pun yang kamu lakukan akan terlihat buruk. Jadi, pilih saja yang lebih menguntungkan dan membahagiakanmu.""Apakah aku bisa melakukan itu?" tanya Naomi menatap ke arah Killa."Cinta bisa mengalahkan segalanya bukan?""Cinta ya..." gumam Naomi menghela napas."Kamu masih ragu mencintai Mareeq?""Aku berharap ini obsesi saja. Kau tahu seperti otak dan pikiranku tahu itu salah, tapi hati nggak mau menuruti otakku."Killa mengangguk kecil. "Setidaknya pikiranmu masih normal."Naomi menoleh ke arah Killa dan tersenyum. "Beruntunglah orang yang kisah cintanya mudah dan lancar."Naomi berusaha mengangkat cerita hubungan Killa dengan tunangannya."Kapan
"Oh." Vino langsung mengangguk.Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang. Pepohonan rindang mengelilingi sebuah taman kecil yang berada tak jauh dari rumah nenek Naomi.Di sebuah bangku taman, seorang pria dengan kaus putih dan celana jeans sedang duduk sambil memainkan ponselnya.Begitu melihat mobil Vino berhenti, ia langsung berdiri seolah menunjukkan kehadirannya."Nah, itu dia." Naomi tersenyum.Vino menghentikan mobil di pinggir jalan. "Jangan pulang kemaleman.""Iya."Naomi turun sambil membawa kotak cheesecake. Setelah itu mobil pergi meninggalkan mereka berdua. Mobil Vino pun perlahan menghilang di tikungan.Naomi menoleh ke arah Killa dan tersenyum. "Urusan apa di sekitar sini?""Ada sama kenalan."Keduanya mulai berjalan menuju bangku taman. Naomi meletakkan kotak kuenya di sampingnya. Keheningan sementara menyelimuti mereka.Tak jauh dari sana, Killa melihat ada
"Bagaimana bisa kamu bersama mama?" tanya Vino."Mama jemput Nona di kantor. Katanya proyeknya di Legacy sudah selesai dan perlu menyelesaikan beberapa urusan di London."Vino mengangguk mengerti. "Mungkin menemui pacarnya." gurau Vino.Vino melirik ke arah adiknya. Tidak ada reaksi dari Naomi. Beberapa detik benar-benar tidak ada tanggapan."Mama tidak punya pacar. Mama masih cinta papa." ujar Naomi kemudian."Hmm.." gumam Vino.Adiknya itu masih beranggapan bahwa mama masih mencintai papa. Dan pasti dia juga berpikir papa mereka masih mencintai mama. Tapi, tidak ada cara untuk mereka bisa kembali bersama.Mereka lalu keluar menuju area parkir. Angin siang berembus pelan ketika keduanya berjalan. Benar-benar cuaca yang cerah."Kenapa nggak ikut Mama ke London beberapa hari?"Naomi menoleh. "Hm?""Liburan sebentar. Hitung-hitung refreshing."Naomi menggeleng tanpa berpikir lama. "Nggak.""Kenapa?"
Aroma kopi hangat memenuhi rumah ketika Naomi melangkah keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit berantakan, terurai tanpa usaha, daster tidurnya jatuh longgar mengikuti tubuh, tampilan pagi yang jujur dan apa adanya. Ia berhenti mendadak di ambang ruang makan.Kakaknya ada di sana. Dudu
Naomi hanya bisa mengangguk pelan, pasrah pada keputusan pria di sampingnya. Ia merasa tenaganya telah terkuras habis karena rentetan ketegangan emosional yang menyelimuti selama gathering.Dia tidak bisa marah pada Mareeq yang melakukan segalanya untuk dirinya. Saat Mareeq baru saja memat
Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin. Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakka
Mereka sampai di depan mobil Mareeq yang terparkir di bawah bayangan pohon besar. Mareeq membukakan pintu untuk Naomi. Sebuah gestur sederhana namun terasa sangat protektif bagi Naomi. Setelah itu, Mareeq berjalan mengitari sebagian badan mobil dan masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. C







