Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Rasa Cheese Cake yang Tertinggal

Share

Rasa Cheese Cake yang Tertinggal

Author: NaoMiura
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-04 20:00:37

Restoran ini berada di lantai tertinggi salah satu gedung ikonik. Begitu pintu lift terbuka di lantai 18, Naomi disambut oleh pemandangan cakrawala kota di balik dinding kaca raksasa. Suasananya begitu sunyi, hanya ada alunan musik jazz instrumental yang sangat halus.

"Selamat siang, Tuan Rahaal. Meja sudut favorit Anda sudah siap," sapa seorang manajer restoran bersetelan jas rapi, membungkuk hormat.

Rahaal tidak perlu menyebutkan reservasi. Ia membimbing Naomi ke sebuah meja d

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bilur Bulir Bertaut   Batas yang Dilewati

    Langit sudah gelap ketika mobil memasuki area hotel. Naomi mengurus check-in di resepsionis, sementara Mareeq berdiri di dekat sofa sambil memegang ponselnya. Beberapa menit kemudian Naomi menghampirinya sambil membawa dua kartu kamar.“Lantai enam,” katanya. “Kamarmu di ujung koridor. Kamarku di sebelahnya.”Mareeq menerima kartu itu.“Kita makan malam tiga puluh menit lagi, kalau kamu tidak terlalu lelah.”Mareeq mengangguk. “Aku akan turun.”Kamar Naomi sederhana tapi nyaman. Jendela besar menghadap jalan utama kota, tempat lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di kejauhan.Ia mandi lalu mengganti pakaian dengan mini dress santai. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan pas, membingkai siluetnya dengan anggun namun tetap terlihat sopan. Detail tali kecil membentuk korset di bagian depan memberikan sentuhan manis. Seolah-olah Naomi baru saja keluar dari sebuah cerita klasik tentang gadi

  • Bilur Bulir Bertaut   Perkebunan

    Pagi itu kantor masih belum ramai ketika Naomi tiba sambil membawa tas kerja dan map berisi dokumen supplier. Lampu di beberapa ruangan sudah dinyalakan, udara gedung masih dingin dan tenang.Ia mengira dirinya datang paling awal, sampai melihat sosok Mareeq berdiri di pantry. Dia terlihat sedang memegang secangkir kopi hitam. Pria itu menoleh saat mendengar langkahnya.“Kamu datang lebih pagi,” ucap Mareeq singkat.Naomi melirik jam tangan. “Kamu datang dua puluh menit lebih cepat.”"Butuh kopi lebih dulu."Naomi mengangguk mengerti alasannya. Dia pun melangkah ke mejanya. Ia meletakkan tas di meja, lalu duduk sambil membuka kembali catatan perjalanan mereka hari ini. Dia harus mengecek ulang agar tidak ada yang tertinggal.Perusahaan mengirim mereka ke luar kota untuk meninjau pemasok bahan baku baru. Perkebunan leci dan persik calon mitra utama untuk rpoduk baru nanti. Biasanya tugas seperti ini dipegang Claudia. N

  • Bilur Bulir Bertaut   Perjalanan Bisnis

    Setelah rapat selesai, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari ruang meeting menuju lorong kantor. Naomi masih membawa map di dadanya. Langkahnya ringan, meski ia berusaha terlihat biasa saja.Saat melewati lorong, Mareeq justru berhenti di depan vending machine. Naomi ikut berhenti. Mareeq memasukkan uang ke mesin. Mareeq menekan tombol minuman.Mesin berdengung pelan, lalu satu kaleng jatuh ke rak bawah. Matcha. Naomi menatapnya beberapa detik.Mareeq mengambil kaleng itu dan menyerahkan ke Naomi."Ah!" ujar Mareeq yang membuat Naomi terheran. "Kebiasaanku membeli americano dan matcha." lebih terdengar seperti Mareeq sedang menggoda.Naomi menerima kaleng dingin itu dengan senyuman malu. Seolah Mareeq tahu apa yang pernah terjadi padanya.Saat itu dua staf dari divisi lain lewat dan melihat mereka berdiri berdua di depan vending machine. Mareeq tenang saja. Naomi langsung menurunkan senyum dan kembali datar.“Kita kembali kerja.

  • Bilur Bulir Bertaut   Rapat yang Menyenangkan

    Hari Senin datang dengan ritme kantor yang kembali sibuk. Suara printer, langkah cepat di koridor, dan dering notifikasi email sudah memenuhi pagi bahkan sebelum Naomi selesai meletakkan tas di mejanya.Ia menyalakan komputer sambil menyapu ruangan dengan pandangan sekilas. Lalu matanya berhenti pada satu meja. Meja Claudia kosong.Tidak ada tas bermerek yang biasa diletakkan di sudut. Tidak ada botol minum beningnya. Tidak ada suara hak sepatu yang biasanya terdengar lebih dulu daripada orangnya. Naomi mengernyit kecil. Aneh.Ia lalu menoleh ke meja sebelah tempat Flora sedang merapikan beberapa dokumen. “Flora.”Flora langsung mendongak. “Hmm.”Naomi menunjuk samar ke arah meja kosong itu. “Claudia tidak masuk?”Flora melirik ke arah meja Claudia, lalu mendekat sedikit seperti hendak bergosip meski tak ada orang lain yang benar-benar memperhatikan.“Cuti hari ini.”“Kenapa?&

  • Bilur Bulir Bertaut   Kemarahan yang Mereda

    Mobil Mareeq akhirnya kembali memasuki area apartemen. Naomi merasa napasnya sudah jauh lebih stabil. Tidak tenang sepenuhnya, tapi cukup untuk menghadapi apa pun yang menunggu di atas.“Naiklah,” kata Mareeq saat mobil berhenti.Naomi membuka sabuk pengaman. “Terima kasih.”Mareeq menoleh singkat. “Kalau kamu butuh kabur lagi, turun saja ke parkiran.”Naomi tersenyum tipis. “Aku tidak akan kabur.”"Naomi.."Tatapan mereka masih bertautan."Kamu tahu aku akan selalu ada untukmu."Naomi hanya membalas dengan senyuman, lalu menutup pintu.Apartemen gelap sebagian ketika ia masuk. Hanya lampu dapur yang menyala. Leon berdiri di dekat dapur, menuang air minum ke gelas. Ia menoleh saat mendengar pintu terbuka.“Kamu ke mana?” tanyanya santai. “Aku pikir kamu sudah tidur.”Naomi melepas sepatu perlahan, lalu meletakkan tas plastik berisi mie

  • Bilur Bulir Bertaut   Hening yang Menghibur

    “Pertanyaan yang sama.” ujar Mareeq bercanda.“Aku tinggal di sini.” jawab Naomi.“Aku tahu.” Mareeq mengatakan dengan nada datar.“Lalu kamu?”Mareeq mengangkat bahu kecil. “Kebetulan lewat.”Naomi menatapnya datar. “Tidak ada orang yang parkir di apartemen orang lain hanya karena kebetulan lewat.”Naomi tahu ia bohong. Dan Mareeq tahu Naomi tahu. Keheningan menggantung beberapa saat di parkiran yang sepi.Mareeq tidak ingin menjawab. Dia tersenyum, lalu Mareeq membuka kunci pintu penumpang dari dalam. Klik."Masuklah." pintanya.Naomi menatap Mareeq beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil. Kantong plastik ia letakkan di pangkuan dengan gerakan sedikit kesal.Pintu tertutup. Suasana di dalam mobil langsung berbeda dari parkiran yang dingin dan sunyi. Kabin itu hangat, samar beraroma parfum Mareeq dan k

  • Bilur Bulir Bertaut   Sahabat

    Naomi menyesap matcha latte-nya dengan lemas. Satu-satunya awan mendung yang menggelayuti kepalanya hanyalah kerinduan pada Mareeq. Anehnya padahal baru kemarin mereka bersama. Itulah alasan utama mengapa ia langsung mengiyakan ajakan Killa untuk makan siang. Ia butuh pengalihan. Ia butuh mengobr

  • Bilur Bulir Bertaut   Ruang Tengah

    Raya, yang masih duduk di sampingnya, tertegun melihat transisi cepat itu. Ia menatap bagaimana Mareeq dengan telaten membersihkan sisa gula yang menempel di pipi Freya menggunakan ibu jarinya. Ia sangat mengagumi sisi kelembutan Mareeq sebagai ayah, namun di sisi lain ia menyadari bahwa pria yan

  • Bilur Bulir Bertaut   Pekan Raya

    Udara musim dingin di Istanbul menyambut Mareeq saat ia melangkah keluar bandara. Namun, tujuannya bukan untuk urusan bisnis semata. Dia akan menyelesaikan hal yang mengganjal dalam hatinya.Mareeq berdiri tegak di depan pintu rumah yang elegan. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia muncul be

  • Bilur Bulir Bertaut   Perjalanan Pulang

    Di dalam kabin mobil yang tenang, Naomi duduk dengan perasaan campur aduk. Ia melirik profil samping wajah Mareeq yang fokus pada jalan di depannya, lalu teringat akan sesuatu."Mareeq," panggil Naomi, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang sejuk."Ya," jawab Mareeq singkat ta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status