로그인Restoran ini berada di lantai tertinggi salah satu gedung ikonik. Begitu pintu lift terbuka di lantai 18, Naomi disambut oleh pemandangan cakrawala kota di balik dinding kaca raksasa. Suasananya begitu sunyi, hanya ada alunan musik jazz instrumental yang sangat halus.
"Selamat siang, Tuan Rahaal. Meja sudut favorit Anda sudah siap," sapa seorang manajer restoran bersetelan jas rapi, membungkuk hormat.
Rahaal tidak perlu menyebutkan reservasi. Ia membimbing Naomi ke sebuah meja d
Langit sudah gelap ketika mobil memasuki area hotel. Naomi mengurus check-in di resepsionis, sementara Mareeq berdiri di dekat sofa sambil memegang ponselnya. Beberapa menit kemudian Naomi menghampirinya sambil membawa dua kartu kamar.“Lantai enam,” katanya. “Kamarmu di ujung koridor. Kamarku di sebelahnya.”Mareeq menerima kartu itu.“Kita makan malam tiga puluh menit lagi, kalau kamu tidak terlalu lelah.”Mareeq mengangguk. “Aku akan turun.”Kamar Naomi sederhana tapi nyaman. Jendela besar menghadap jalan utama kota, tempat lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di kejauhan.Ia mandi lalu mengganti pakaian dengan mini dress santai. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan pas, membingkai siluetnya dengan anggun namun tetap terlihat sopan. Detail tali kecil membentuk korset di bagian depan memberikan sentuhan manis. Seolah-olah Naomi baru saja keluar dari sebuah cerita klasik tentang gadi
Pagi itu kantor masih belum ramai ketika Naomi tiba sambil membawa tas kerja dan map berisi dokumen supplier. Lampu di beberapa ruangan sudah dinyalakan, udara gedung masih dingin dan tenang.Ia mengira dirinya datang paling awal, sampai melihat sosok Mareeq berdiri di pantry. Dia terlihat sedang memegang secangkir kopi hitam. Pria itu menoleh saat mendengar langkahnya.“Kamu datang lebih pagi,” ucap Mareeq singkat.Naomi melirik jam tangan. “Kamu datang dua puluh menit lebih cepat.”"Butuh kopi lebih dulu."Naomi mengangguk mengerti alasannya. Dia pun melangkah ke mejanya. Ia meletakkan tas di meja, lalu duduk sambil membuka kembali catatan perjalanan mereka hari ini. Dia harus mengecek ulang agar tidak ada yang tertinggal.Perusahaan mengirim mereka ke luar kota untuk meninjau pemasok bahan baku baru. Perkebunan leci dan persik calon mitra utama untuk rpoduk baru nanti. Biasanya tugas seperti ini dipegang Claudia. N
Setelah rapat selesai, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari ruang meeting menuju lorong kantor. Naomi masih membawa map di dadanya. Langkahnya ringan, meski ia berusaha terlihat biasa saja.Saat melewati lorong, Mareeq justru berhenti di depan vending machine. Naomi ikut berhenti. Mareeq memasukkan uang ke mesin. Mareeq menekan tombol minuman.Mesin berdengung pelan, lalu satu kaleng jatuh ke rak bawah. Matcha. Naomi menatapnya beberapa detik.Mareeq mengambil kaleng itu dan menyerahkan ke Naomi."Ah!" ujar Mareeq yang membuat Naomi terheran. "Kebiasaanku membeli americano dan matcha." lebih terdengar seperti Mareeq sedang menggoda.Naomi menerima kaleng dingin itu dengan senyuman malu. Seolah Mareeq tahu apa yang pernah terjadi padanya.Saat itu dua staf dari divisi lain lewat dan melihat mereka berdiri berdua di depan vending machine. Mareeq tenang saja. Naomi langsung menurunkan senyum dan kembali datar.“Kita kembali kerja.
Hari Senin datang dengan ritme kantor yang kembali sibuk. Suara printer, langkah cepat di koridor, dan dering notifikasi email sudah memenuhi pagi bahkan sebelum Naomi selesai meletakkan tas di mejanya.Ia menyalakan komputer sambil menyapu ruangan dengan pandangan sekilas. Lalu matanya berhenti pada satu meja. Meja Claudia kosong.Tidak ada tas bermerek yang biasa diletakkan di sudut. Tidak ada botol minum beningnya. Tidak ada suara hak sepatu yang biasanya terdengar lebih dulu daripada orangnya. Naomi mengernyit kecil. Aneh.Ia lalu menoleh ke meja sebelah tempat Flora sedang merapikan beberapa dokumen. “Flora.”Flora langsung mendongak. “Hmm.”Naomi menunjuk samar ke arah meja kosong itu. “Claudia tidak masuk?”Flora melirik ke arah meja Claudia, lalu mendekat sedikit seperti hendak bergosip meski tak ada orang lain yang benar-benar memperhatikan.“Cuti hari ini.”“Kenapa?&
Mobil Mareeq akhirnya kembali memasuki area apartemen. Naomi merasa napasnya sudah jauh lebih stabil. Tidak tenang sepenuhnya, tapi cukup untuk menghadapi apa pun yang menunggu di atas.“Naiklah,” kata Mareeq saat mobil berhenti.Naomi membuka sabuk pengaman. “Terima kasih.”Mareeq menoleh singkat. “Kalau kamu butuh kabur lagi, turun saja ke parkiran.”Naomi tersenyum tipis. “Aku tidak akan kabur.”"Naomi.."Tatapan mereka masih bertautan."Kamu tahu aku akan selalu ada untukmu."Naomi hanya membalas dengan senyuman, lalu menutup pintu.Apartemen gelap sebagian ketika ia masuk. Hanya lampu dapur yang menyala. Leon berdiri di dekat dapur, menuang air minum ke gelas. Ia menoleh saat mendengar pintu terbuka.“Kamu ke mana?” tanyanya santai. “Aku pikir kamu sudah tidur.”Naomi melepas sepatu perlahan, lalu meletakkan tas plastik berisi mie
“Pertanyaan yang sama.” ujar Mareeq bercanda.“Aku tinggal di sini.” jawab Naomi.“Aku tahu.” Mareeq mengatakan dengan nada datar.“Lalu kamu?”Mareeq mengangkat bahu kecil. “Kebetulan lewat.”Naomi menatapnya datar. “Tidak ada orang yang parkir di apartemen orang lain hanya karena kebetulan lewat.”Naomi tahu ia bohong. Dan Mareeq tahu Naomi tahu. Keheningan menggantung beberapa saat di parkiran yang sepi.Mareeq tidak ingin menjawab. Dia tersenyum, lalu Mareeq membuka kunci pintu penumpang dari dalam. Klik."Masuklah." pintanya.Naomi menatap Mareeq beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil. Kantong plastik ia letakkan di pangkuan dengan gerakan sedikit kesal.Pintu tertutup. Suasana di dalam mobil langsung berbeda dari parkiran yang dingin dan sunyi. Kabin itu hangat, samar beraroma parfum Mareeq dan k
Raya terdiam. Kalimat itu seperti cermin yang tiba-tiba dipasang tepat di depannya. Sepanjang hari ini, yang ia pikirkan hanyalah kemungkinan Naomi mengambil sesuatu darinya. Padahal perempuan itu bahkan sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Raya menghembuskan napas pelan. Ia tiba-tiba merasa&hellip
Naomi tersenyum kecil. “Itu hampir semua anak kecil.”“Iya,” Mareeq ikut tersenyum tipis. “Tapi akhir-akhir ini dia lebih suka menggambar.”“Menggambar?”“Dia bisa duduk berjam-jam hanya dengan krayon dan kertas.”
"Mareeq mungkin juga sama. Dia tidak akan mengingat hal kecil," jawab Naomi, mencoba memberikan senyum paling profesional yang ia miliki. "Cheese cake dan matcha, Mareeq ingat karena aku sering memesannya setiap hari. Tidak lebih dari itu."Raya manggut-manggut. Namun kilatan di matanya me
Pertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama,







