LOGINMobil Mareeq akhirnya kembali memasuki area apartemen. Naomi merasa napasnya sudah jauh lebih stabil. Tidak tenang sepenuhnya, tapi cukup untuk menghadapi apa pun yang menunggu di atas.
“Naiklah,” kata Mareeq saat mobil berhenti.
Naomi membuka sabuk pengaman. “Terima kasih.”
Mareeq menoleh singkat. “Kalau kamu butuh kabur lagi, turun saja ke parkiran.”
Naomi tersenyum tipis. “Aku tidak akan kabur.”
"Naomi.."
Mobil Mareeq akhirnya kembali memasuki area apartemen. Naomi merasa napasnya sudah jauh lebih stabil. Tidak tenang sepenuhnya, tapi cukup untuk menghadapi apa pun yang menunggu di atas.“Naiklah,” kata Mareeq saat mobil berhenti.Naomi membuka sabuk pengaman. “Terima kasih.”Mareeq menoleh singkat. “Kalau kamu butuh kabur lagi, turun saja ke parkiran.”Naomi tersenyum tipis. “Aku tidak akan kabur.”"Naomi.."Tatapan mereka masih bertautan."Kamu tahu aku akan selalu ada untukmu."Naomi hanya membalas dengan senyuman, lalu menutup pintu.Apartemen gelap sebagian ketika ia masuk. Hanya lampu dapur yang menyala. Leon berdiri di dekat dapur, menuang air minum ke gelas. Ia menoleh saat mendengar pintu terbuka.“Kamu ke mana?” tanyanya santai. “Aku pikir kamu sudah tidur.”Naomi melepas sepatu perlahan, lalu meletakkan tas plastik berisi mie
“Pertanyaan yang sama.” ujar Mareeq bercanda.“Aku tinggal di sini.” jawab Naomi.“Aku tahu.” Mareeq mengatakan dengan nada datar.“Lalu kamu?”Mareeq mengangkat bahu kecil. “Kebetulan lewat.”Naomi menatapnya datar. “Tidak ada orang yang parkir di apartemen orang lain hanya karena kebetulan lewat.”Naomi tahu ia bohong. Dan Mareeq tahu Naomi tahu. Keheningan menggantung beberapa saat di parkiran yang sepi.Mareeq tidak ingin menjawab. Dia tersenyum, lalu Mareeq membuka kunci pintu penumpang dari dalam. Klik."Masuklah." pintanya.Naomi menatap Mareeq beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil. Kantong plastik ia letakkan di pangkuan dengan gerakan sedikit kesal.Pintu tertutup. Suasana di dalam mobil langsung berbeda dari parkiran yang dingin dan sunyi. Kabin itu hangat, samar beraroma parfum Mareeq dan k
Hari Sabtu datang dengan suasana yang lebih pelan. Naomi masih mengenakan pakaian rumah ketika Leon bersiap keluar dari apartemen. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut dan menyemprotkan parfum secukupnya.“Kamu mau keluar?” tanya Naomi dari sofa sambil membalik halaman majalah yang sebenarnya tidak ia baca.Leon menoleh. “Iya. Ada janji dengan teman kantor satu tim.”Naomi mengangguk singkat. “Maya?”Leon tertawa kecil. “Interogasi?”“Pertanyaan biasa.”“Ada. Bersama anak-anak lain dari timku.”Naomi menatapnya sebentar, lalu kembali ke majalah. “Oh.”Leon mengambil dompet dan kunci mobil. “Aku mungkin pulang agak malam.”“Hmm.”Ia berjalan mendekat, menunduk sedikit untuk mencium puncak kepala Naomi sebelum pergi.“Jangan lupa makan siang.”Naomi hanya bergumam.
Naomi menatap Mareeq. Dadanya sesak oleh hal yang bahkan tidak boleh ia akui. Ia menyukai cara pria itu bicara padanya. Menyukai rumah yang baru saja dibangun dari kata-kata. Menyukai kenyamanan yang seharusnya tidak ada. Tapi semuanya berbahaya.“Kita seharusnya pulang,” katanya pelan.Mareeq masih menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk. “Baik.”Ia menyalakan mesin mobil. Suara mesin memenuhi ruang yang terlalu sunyi. Namun sebelum mulai menjalankan mobil, Mareeq berkata tanpa menoleh.“Kalau suatu hari hidup berubah…”Naomi menegang.“…aku tetap ingin tahu apa yang akan kamu tambahkan di rumah itu.”Naomi tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan pulang. Sementara di kepalanya, sebuah rumah di Turki perlahan berdiri, lengkap dengan ruang kosong yang tadi sengaja ia tolak isi.Perjalanan pulang dipenuhi keheningan yang tidak nyaman, t
Setelah pesanan selesai, mereka kembali ke mobil. Mareeq meletakkan kedua gelas di cup holder tengah lalu menyalakan mesin pendingin. Di luar, jalanan sore mulai ramai. Di dalam mobil, suasananya tenang dan tertutup dari hiruk-pikuk kota.Naomi menatap dua gelas itu lama. Americano hitam dengan aroma pahit yang akrab. Matcha latte berwarna hijau lembut.Mareeq mengambil cup americano, lalu mendorongnya sedikit ke arah Naomi.“Cobalah.”Naomi menatapnya ragu. Dia tahu Mareeq suka americano, tapi dia ingin mencoba menyukai americano juga. Naomi mengambil cup itu ragu.Setelah menerima cup americano itu, Mareeq mengambil matcha dari dasbor. Dia tanpa ragu menyeruputnya tanpa ekspresi.Naomi memperhatikan dengan seksama. “Bagaimana?”“Seperti minum rumput.”Naomi tertawa kecil tanpa bisa ditahan. Kemudian dia menatap gelas americano itu seperti sedang menantang musuh lama. Kini gilirannya mencoba
Suasana kantor berjalan seperti biasa. Cepat, rapi, dan penuh suara notifikasi yang datang bergantian. Naomi baru saja meregangkan badannya setelah fokus pada pekerjaan. Pandangannya tanpa sadar bergeser ke arah ruangan kecil di sudut area kerja mereka. Ruangan Mareeq.Pintunya tertutup. Naomi sudah tahu tidak akan ada orang di dalamnya. Kemarin dia mengatakan Freya dan Raya akan kembali ke Turki hari ini, jadi sudah pasti Mareeq akan mengantarnya ke bandara.Naomi menatap beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan fokus pada komputernya. Claudia datang sambil membawa map dan secangkir kopi. Ia berhenti di dekat meja Naomi, lalu mengikuti arah pandangan Naomi yang sempat kembali melirik ke sudut ruangan.“Kamu mencari Mareeq?” tanyanya santai.Naomi langsung menatap layar. “Tidak.”Claudia tersenyum kecil, seolah jawaban itu tidak penting. “Dia cuti hari ini.”Ja
Pintu ruangan kaca itu berdentum pelan saat Rahaal melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan seisi ruangan. Jas di tangan segera dia pakai untuk membuat sempurna penampilan. Seolah menunjukkan dia sedang dalam mode "pemburu".Langkahnya terhenti tepat di deretan meja Naomi. Tanp
Mobil hitam mewah berhenti tepat di lobi samping gedung Legacy. Naomi turun dengan anggun. Hari ini, ia mengenakan baju milik mamanya yang dia modif agar sesuai dengan gaya Naomi. Rambutnya diikat ponytail sempurna, hal yang jarang Naomi lakukan pada rambutnya.Ia tidak langsung menuju mej
Begitu pintu lift tertutup dengan denting halus, Naomi langsung menyandarkan punggungnya ke dinding besi dingin. Ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Nafasnya tampak berat."Dia tahu, Ma," bisik Naomi pelan. "Rahaal sudah tahu siapa Nona."Mama Naomi terli
"Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan tinggal bersama orang yang tidak kamu cintai, Nak. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik," ujar Mama lembut namun tegas.Naomi menghela napas panjang, membiarkan uap hangat dari ruangan itu menyelimuti wajahnya. Ia memutuskan untuk sedikit membuka c







