ANMELDENCahaya matahari Sabtu pagi yang biasanya menenangkan kini terasa menyengat di mata Naomi. Ia masih bergelung di bawah selimut, menikmati aroma kopi yang sedang diseduh Leon di dapur, sampai getaran ponsel di atas nakas menghancurkan ketenangannya. Nama Mareeq berkedip di layar.
"Ya, Mareeq?" jawab Naomi dengan suara serak khas bangun tidur.
"Naomi..." Suara Mareeq terdengar ragu, ada kebisingan latar belakang yang terdengar seperti suara tawa anak kecil dan seorang wanita yang b
Naomi masuk ke gedung. Koridor mulai sepi. Beberapa karyawan sudah bersiap pulang. Ia melangkah masuk dengan tenang, hingga langkahnya terhenti.Mareeq berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Tatapannya langsung tertuju pada Naomi. Naomi sedikit terkejut, tapi segera tersenyum kecil.“Kamu belum pulang?” tanya Mareeq.“Baru saja dari sky terrace. Mencari udara segar.”Mareeq mengangguk pelan. Ia memperhatikan Naomi beberapa detik, terlalu lama untuk sekadar percakapan biasa."Bisa kita bicara?" tanya Mareeq kemudian."Tentu." jawab Naomi."Aku tunggu di mobil."Naomi pikir dia akan berbicara di sini atau sekitar sini. Jika Mareeq ingin bicara di mobil, pasti dia ingin mengatakan hal penting. Dia lalu mengangguk."Baiklah, aku ambil tasku dulu."Mereka pun berpisah. Naomi kembali ke ruang kerja untuk mengambil tas. Sementara Mareeq pergi ke tempat parkir.Area parkir sudah lebih lengang
Rahaal menatapnya beberapa detik. Lalu berkata pelan,“Kalau kamu terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Orang akan terus memperlakukanmu seperti itu.”Naomi terdiam. Ia tidak menyangka itu. Bukan karena kata-katanya keras, tapi karena tidak ada yang pernah berbicara seperti itu padanya.“Aku hanya tidak ingin membuat semuanya terasa tidak adil,” jawab Naomi pelan. "Bagaimana denganku dan Mareeq?" Naomi menatap Rahaal."Apakah kalian berselingkuh?" tanya Rahaal.Naomi terdiam. Pertanyaan yang menusuk. Badannya terasa panas dan dingin bersamaan. Memikirkan perjalanan bisnis kemarin. Malam itu. Seolah Rahaal telah membaca semuanya, meskipun Naomi tahu bahwa Rahaal tidak tahu kejadian itu."Kami ada di posisi yang sama bukan?""Jika itu hanya perasaan saling menyukai atau mencintai itu bukan selingkuh." lanjut Rahaal.Naomi mengalihkan pandangannya. "Sama dengan mereka bukan? Mungkin mereka hanya be
Leon hanya mengangguk singkat. Naomi menatap Maya yang pergi, lalu kembali ke Leon. Beberapa detik hening.“Aku benar-benar mengganggu, kan?” tanya Naomi pelan.Leon menggeleng lagi, kali ini lebih santai. “Kamu hanya datang di waktu yang kebetulan.”Naomi tersenyum kecil. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di baliknya. Bukan hanya sindiran ringan. Tapi juga sesuatu yang lebih dalam.Leon melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Naomi. “Aku harus ke ruang meeting, Sayang.” katanya pelan. “Nanti kita bicara lagi.”Naomi mengangguk. “Iya.”Leon sempat menahan pandangannya sebentar, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu tersenyum tipis sambil mengusap pucuk kepala Naomi sebelum akhirnya pergi. Langkahnya menjauh di koridor. Dan Naomi tetap berdiri di tempatnya. Sendirian.“Naomi?”Suara lain menyapanya. Naomi menoleh dan melihat Diky berjalan me
Pagi dengan ritme yang biasa. Suara keyboard, langkah kaki, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Semua terlihat normal. Terlalu normal, jika dibandingkan dengan apa yang Naomi rasakan di dalam dirinya.Ia baru saja duduk ketika melihat sosok Claudia di mejanya. Naomi sedikit terkejut. Claudia terlihat seperti biasa, rapi, profesional, bahkan tersenyum tipis saat mata mereka bertemu.“Aku senang kamu sudah kembali. Kondisimu sudah membaik?” tanya Naomi lembut.“Yah, semuanya baik-baik saja.” Claudia menutup map di tangannya. “Sayang sekali aku melewatkan perjalanan itu.”Naomi tersenyum kecil. “Lain kali kamu bisa.”Claudia membalas senyuman itu. Rapi dan terukur. “Tapi tidak apa,” lanjutnya. “Sesekali kamu bisa merasakan perjalanan bisnis yang menyenangkan.”Naomi menoleh sedikit. Kalimat itu terdengar seperti ada sesuatu di baliknya yang tidak sepenuhnya hangat. Naomi
Malam itu berlalu tanpa benar-benar mereka sadari kapan semuanya berhenti. Yang tersisa hanya keheningan. Lampu kamar sudah diredupkan. Kota di luar jendela hanya tinggal bayangan cahaya yang samar.Naomi terbangun lebih dulu. Perlahan. Seolah kesadarannya kembali satu per satu.Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat yang masih tertinggal. Lalu kelembutan kasur yang bukan miliknya.Dan beberapa detik kemudian, kesadaran itu datang sepenuhnya. Ia membuka mata. Menutup matanya lagi berusaha mengingat sekaligus melupakan apa yang telah terjadi.Dia menoleh ke samping. Mareeq masih tertidur pulas. Napasnya terdengar halus. Wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Tidak ada garis tegang, tidak ada ekspresi yang selalu ia jaga di siang hari.Naomi menatapnya cukup lama. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan hanya tentang apa yang telah terjadi. Tapi juga tentang dirinya sendiri.Perlahan, Naomi menarik napas dan duduk. Gerakannya hati-
Langit sudah gelap ketika mobil memasuki area hotel. Naomi mengurus check-in di resepsionis, sementara Mareeq berdiri di dekat sofa sambil memegang ponselnya. Beberapa menit kemudian Naomi menghampirinya sambil membawa dua kartu kamar.“Lantai enam,” katanya. “Kamarmu di ujung koridor. Kamarku di sebelahnya.”Mareeq menerima kartu itu.“Kita makan malam tiga puluh menit lagi, kalau kamu tidak terlalu lelah.”Mareeq mengangguk. “Aku akan turun.”Kamar Naomi sederhana tapi nyaman. Jendela besar menghadap jalan utama kota, tempat lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di kejauhan.Ia mandi lalu mengganti pakaian dengan mini dress santai. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan pas, membingkai siluetnya dengan anggun namun tetap terlihat sopan. Detail tali kecil membentuk korset di bagian depan memberikan sentuhan manis. Seolah-olah Naomi baru saja keluar dari sebuah cerita klasik tentang gadi
Jumat pagi itu, udara di kantor Legacy terasa lebih berat dari biasanya. Naomi melangkah masuk dengan setelan blazer yang rapi dan riasan wajah yang sedikit lebih tebal untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menanamkan pada dirinya sendiri bahwa hari in
"Aku senang mendengarnya," ujar Naomi datar. Suaranya terdengar seperti robot, kering dan tanpa nyawa. Hanya basa-basi itu yang bisa ia ucapkan demi menutupi gemuruh di dadanya. Dia tidak benar-benar senang. Dia justru merasa mual oleh rasa bersalah yang mendadak meluap.Mareeq menoleh, ma
Setelah perdebatan teknis yang menguras energi, suasana ruang rapat perlahan mencair saat para staf senior Legacy mulai berbenah. Mereka akhirnya mengakhiri perang dingin tentang kemasan produk kolaborasi mereka.Namun, pemandangan berbeda tersaji di sudut meja. Ridel, salah satu perwakila
Pintu ruangan kaca itu berdentum pelan saat Rahaal melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan seisi ruangan. Jas di tangan segera dia pakai untuk membuat sempurna penampilan. Seolah menunjukkan dia sedang dalam mode "pemburu".Langkahnya terhenti tepat di deretan meja Naomi. Tanp







