เข้าสู่ระบบPintu kaca berbunyi klik saat Naomi melangkah masuk ke ruangan. Ia mengenakan kemeja berwarna pastel yang membuatnya tampak lebih segar dari biasanya. Baru saja ia meletakkan tas di kursinya, sebuah suara ceria menginterupsi ritual pagi itu.
"Selamat ulang tahun, Naomi!" seru Flora sambil setengah berlari menghampiri meja Naomi. Flora memberikan pelukan hangat. "Semoga tahun ini penuh dengan hal-hal luar biasa buat kamu!"
Naomi menoleh dengan tersenyum lebar, wajahnya merona kar
Pegawai itu menatap Mareeq, lalu Naomi, lalu kembali ke Mareeq. Ekspresi bingungnya kembali muncul. Naomi menahan tawanya dengan susah payah. Ia menyesap matcha latte yang baru saja diberikan Mareeq, mencoba terlihat biasa saja meskipun sudut bibirnya masih terangkat. Pegawai itu akhirnya berdeham kecil dan kembali fokus pada kuku Naomi.“Sudah selesai, Kak,” katanya sambil membereskan peralatan nail art.Naomi mengangguk. Naomi menunduk memperhatikan kukunya. Bunga-bunga kecil berwarna lembut terlihat rapi di atas kuku yang mengilap.“Cantik sekali,” gumam Naomi.Ia menoleh sedikit ke arah Mareeq dan mengangkat tangannya. “Bagaimana?”Mareeq melihat ke arah kuku tangan Naomi. “Bagus.”Naomi langsung menghela napas kecil. “Kamu bahkan tidak melihatnya dengan serius.”Mareeq tersenyum tipis. “Karena memang bagus.”Pegawai yang tadi mengerjakan nail art itu d
Suasana di dalam salon kuku eksklusif itu begitu tenang. Kontras dengan gemuruh yang baru saja mereka tinggalkan di jalan raya. Aroma esensial lavender dan musik instrumental lembut berusaha meninabubukan kecemasan yang menggelayut.Naomi duduk di kursi empuk yang besar, sementara Mareeq berada tepat di sampingnya. Petugas salon mulai merendam kaki mereka ke dalam air hangat yang bertabur kelopak bunga mawar. Uap hangatnya perlahan merayap naik, mencoba mencairkan ketegangan yang membeku di antara mereka."Berikan pijatan ekstra di bagian betis dan telapak kakinya," ujar Mareeq tiba-tiba pada petugas yang menangani Naomi. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Dia baru saja berjalan kaki cukup jauh di trotoar. Pastikan semua ototnya rileks.""Kamu pelanggan yang banyak maunya, Mareeq." gurau Naomi."Aku mengiginkan layanan terbaik untukmu." jwab Mareeq yang berusaha menikmati pijatan di kakinya.Petugas itu mengangguk patuh d
Naomi tersenyum kecil. “Itu hampir semua anak kecil.”“Iya,” Mareeq ikut tersenyum tipis. “Tapi akhir-akhir ini dia lebih suka menggambar.”“Menggambar?”“Dia bisa duduk berjam-jam hanya dengan krayon dan kertas.”Naomi tampak memikirkan sesuatu. “Berarti aku harus membelikan alat gambar.”Mareeq meliriknya lagi. “Kamu tidak perlu repot-repot.”Naomi menggeleng pelan. “Aku diundang ke taman hiburan oleh ibunya,” katanya ringan. “Aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong bukan?” Nada suaranya santai, tetapi ada kesungguhan di baliknya.Mareeq memperhatikan profil wajah Naomi yang sedang menatap ke luar jendela lagi.“Kamu tidak harus terlalu memikirkan semuanya,” kata Mareeq pelan.Naomi tersenyum tipis tanpa menoleh. “Kadang hal kecil justru yang paling diingat anak-anak.”Mob
Beberapa detik berlalu, akhirnya Mareeq menghela napas panjang dan menyerah. Dia meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Dia benar-benar gila menuruti kata-kata istrinya yang tidak masuk akal.Raya menatap ke luar jendela. Sebuah taksi berhenti di depan mobil mereka. Raya lalu menoleh pada Mareeq."Taksi sudah datang. Kamu bisa mengantar Naomi pulang." ujar Raya kemudian.Mareeq masih duduk di tempatnya beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tidak pernah benar-benar keluar. “Aku akan menghubungimu nanti,” katanya akhirnya.Raya hanya mengangguk kecil. Dia lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju taksinya. Mareeq masih terdiam di sana, memastikan bahwa itu benar-benar taksi yang Raya pesan.Raya masuk ke taksi dan duduk. Dia tertegun dengan apa yang dilakukannya. Dia menatap ke belakang, ke arah mobil Mareeq."Sesuai dengan aplikasi?" tanya sopir."Iya, pak.""Kita berangkat." ujarnya.
"Kalau begitu, hati-hati, Naomi. Aku harap kamu datang besok." ujar Raya, lalu melangkah ke tempat mobil meninggalkan Mareeq dan Naomi. Raya tahu Mareeq akan berbicara sebentar sebelum berpisah."Sampai jumpa." Naomi tersenyum, memerhatikan Raya yang menjauh."Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mareeq.Naomi menatap Mareeq. Dia memberikan senyuman paling tulus. "Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.""Kamu akan datang besok?" Mareeq masih tidak bisa melepaskan rasa khawatirnya."Kamu bertanya lagi?"Mareeq terdiam, menatap Naomi dengan tatapan yang sarat akan rasa bersalah sekaligus kekaguman. Di bawah sinar matahari yang masih terik, senyum tulus Naomi justru terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. Ia tahu, di balik kata "tidak apa-apa" itu, ada beban mental yang luar biasa berat yang baru saja dipikul Naomi sendirian di depan istrinya.Naomi tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya. "Jangan merasa khawatir. Sem
"Aku juga banyak dengar tentang kalian dari Claudia," ujar Naomi."Ya. Kami menjadi berteman ketika Mareeq mengenalkan kami ketika perjalanan bisnis ke Turki. Dia sangat ramah dan menyenangkan. Hampir setiap hari kami berkirim pesan. Dia sudah seperti CCTV yang menyanpaikan apapun yang Mareeq lakukan." puji Raya.Nama Turki yang disebut Raya seketika memicu dentum di dada Naomi. Ada sedikit rasa cemburu di dalam hati Naomi. Dulu memang Mareeq lebih sering membawa Claudia dalam perjalanan bisnis. Naomi selalu mengira itu murni urusan pekerjaan, namun mendengar Mareeq mengajaknya bertemu dengan keluarganya membuat Naomi selangkah di belakang Claudia.Naomi mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Dia tidak ingin suasana semakin canggung. Naomi memeras otaknya untuk mencari pembicaraan yang lebih hangat dan ceria.Tawa di meja makan itu berhenti ketika Raya mendapatkan sebuah panggilan. Dia melihat ke layar ponselnya sambil tersenyum. Kemudian dia menatap ke ar