LOGIN"Morning kiss. Utang yang harus kamu bayar lunas sebelum keluar dari apartemen saya." Meira mengira pertemuan itu hanya kesepakatan gila yang terjadi satu kali saja, cukup memberikan satu kecupan manis masalah terselesaikan. Namun, kenyataan seakan menampar realita. Meira justru dipertemukan kembali dengan pria itu yang kini berstatus sebagai dosen pengganti di kampus ia belajar. Akankah asmara penuh cinta di bawah meja kampus sampai pada titik paling membara? Atau justru berakhir duka untuk cinta yang penuh rahasia?
View MoreLyra's POV
The dog darted off with my meat between its teeth, and I ran after it with my feet sliding on the damp ground. “Come back here, you thief!” I shouted, but my voice came out weak. My breath burned my chest as I chased it through the narrow path behind the cooking shed. I hated how light my steps felt, not from strength but because there was nothing in me. I felt tired even before I started running. The dog was fast, a shaggy brown thing with a tail that wagged like it was proud of itself, and I pushed harder, clutching at my skirts so I would not trip. “Please stop,” I wheezed and hated how small I sounded. It darted toward the open training fields, and I followed, cursing under my breath. I wanted to cry, but I kept running with my legs trembling. When I finally caught up, the dog had stopped near the edge of the field, chewing happily. I bent low, gasping, and grabbed the meat from its mouth. “You’re wicked,” I muttered, and my hands shook as I wiped the dirt off the steak. Then I heard the giggles behind me. I froze and slowly looked up. I had run straight into the female training grounds where a group of girls stood a few feet away with wooden staffs in their hands, and in the middle of them stood Luna Selene Moon from the Crestwood Pack, looking at me with an amused smile. “Well, well,” she said. “Look who the dog dragged in.” Another girl snorted. “Or what the dog stole from.” They laughed harder. I unconsciously gripped my meat even tighter. “I don’t want trouble,” I said quickly. “I only wanted to take back what was mine. ” Selene stepped closer. “Such bravery,” she mocked. “Running after scraps like a true Omega.” “I wasn’t…” I tried, but my voice faded. “She’s shaking,” one of the younger girls said. “Is she afraid of us or of the dog?” “She’s just weak,” Selene said with her head tilted and eyes full of pity that wasn’t real. “An Omega who can’t even hold on to her dinner. How will you ever belong here, little mouse?” The girls laughed again. I wanted to tell them to leave me alone. I wanted to say I didn’t care, but my tongue betrayed me. “Please,” I whispered. “I don’t want any trouble. ” Selene looked me over slowly. “You’re trembling all over. Maybe you should go home before you faint. ” Their laughter followed me as I turned away with my head down so they wouldn’t see the tears in my eyes. I walked quickly, clinging to the dirty meat close even though I no longer wanted it. I just wanted to get away. I was still walking down the street when the horns suddenly sounded through the streets, and people stopped talking as everyone moved to the side of the road as guards shouted for us to clear the way. “The Alpha’s procession,” someone said. I stepped back, almost bumping into a barrel. Dust rose as a line of riders came through the main street, and at the front was Alpha Kael Stormrunner, tall and proud on a black horse. He rode with calm strength and eyes sweeping over the people gracefully. For a moment, his gaze landed on me, and it stayed there longer than it should have. I felt my heart jump, but then he looked ahead and passed by with his escort close behind. When the street grew quiet again, I hurried home, clutching the meat like it might keep me safe, but my mind was all about Alpha Kael... The moment I pushed open the door, my foster mother stood waiting with her hands on her hips and her eyes narrowed into a frown. “Where have you been?” she snapped. “And what is that?” “The steak,” I said softly. Her face twisted with anger. “You let a dog take it?” “I tried to stop it,” I said. “I ran after...” “You ran?” she cut me off. “Look at you. Dirt all over, hair a mess. And you still messed it up.” She shook her head. “You’re worthless, Lyra. Dumber than the dog you chased.” I bit my lip and looked at the floor. “If I had known you would turn out like this, I’d have left you where your last family threw you,” she went on. “At least then I wouldn’t have to feed a useless mouth. ” Her words opened up a whole world of hurt inside me, and for a moment I couldn’t speak. “Go wash,” she ordered. “And don’t expect supper!” I slipped past her to the small room I shared with Mira, the youngest daughter of the house. I set the steak on the table and went to the basin. My hands were still shaking as I splashed water on my face and watched as mud streaked down my cheeks, mixing with tears I hadn’t even felt. I looked at my reflection in the cracked mirror, and a thin girl stared back with her brown hair tangled with her eyes red, and he looked like she didn’t belong anywhere. My chest tightened, and I pressed my palm to the mirror and closed my eyes. The door opened softly behind me. “Lyra?” Mira’s voice came behind. I turned to see Mira standing there holding a towel. She was the only one who ever smiled at me like that. “Don’t listen to her,” she said. “You’re not worthless". I wiped at my face. “She’s right. I can’t do anything right.” “That’s not true.” Mira came closer and wrapped the towel around my shoulders. “You had a bad day, that’s all.” “I always have bad days.” She squeezed my arm. “Someone’s here to see you.” I blinked. “What?” “You’ve got a visitor.” I laughed a little, even though it sounded sad. “You’re teasing me.” “I’m not.” Mira seemed serious. “Come to the living room. You’ll see.” I hesitated. No one ever came for me. “Come on,” she said. I followed her through the hall, still drying my face with the towel. When we entered the living room, I looked up and gasped…Pukul 8 malam.Malam itu hujan turun dengan rintik kecil, menciptakan bayangan tajam di jalanan basah. Lampu-lampu taman menyala redup, sedangkan mobil Damian berhenti dipekarangan besar milik keluarga Meira.Keduanya kompak turun dari mobil. Damian menuntun Meira dan menjadikan tangannya sebagai payung, lalu jalan beriringan menuju pintu utama. Menekan bel rumah dengan sopan.Pintu itu kemudian terbuka, menampilkan Tama dengan tatapan dingin yang mampu membekukan udara. Pria itu memang sudah menunggu sang anak pulang sedari tadi. "Silakan masuk," katanya tanpa senyum.Damian melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk sebagai tanda hormat, hal itu diikuti Meira di belakang sana. Di depan sana, tepat di sofa ruang tamu berwarna putih ia melihat sang Ibu tengah duduk dengan wajah cemas, tetapi berusaha tenang. "Papa sudah tahu semuanya," kata Tama membuka percakapan. Meira memainkan jari-jemarinya di bawah sana, gelisah tiba-tiba menyerang. Ia tahu karena tidak mungkin Ayahnya di
Ruang CEO. Damian masuk ke dalam ruangan dengan muka datarnya. Di sana terlihat sang Ayah tengah berdiri tegak menghadap ke luar jendela besar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celananya. "Putuskan hubungan kamu dengan perempuan itu," tegas Tristan langsung membalikkan badannya. Keduanya saling beradu tatap. Ruang ber-AC rupanya tidak bisa menyejukkan suasana hati sang Ayah. Sorot mata tajam penuh peringatan itu jelas terpancar di sana. "Reputasi perusahaan itu penting. Seharusnya kamu tau itu, Damian. Kalau kamu terus keras kepala, Ayah nggak bisa menjamin kenaikan jabatanmu."Damian pun protes dengan cepat. "Yah!"Tristan memutus kontak mata dan berjalan ke arah meja kerja, lalu memegang sebuah map hitam yang di dalamnya sudah dihiasi foto Damian dan Meira, lengkap dari mereka di kampus hingga bermalam di apartemen. "Jelaskan. Bagaimana kamu bisa menyelesaikan ini semua?!" Pria itu melemparnya di atas meja.Ia lantas membisu. Menatap foto itu dengan emosi yang ha
Apartemen. Damian menenteng kantong makanan yang sempat dibelinya dari luar. Kakinya berjalan menuju meja makan, menata beberapa hidangan lezat yang mereka pesan secara bersamaan. Meira duduk di kursi meja makan lebih dulu, fokusnya menatap Damian yang terlihat sibuk di sana. Tatapan kosong itu cukup ketara. Meira tampak tidak bersemangat. Siapa saja yang melihat pasti berpikir yang sama. Seolah masalah berputar di atas kepalanya.Damian berjalan, berdiri di samping Meira. "Kenapa?"Lima detik berlalu, pertanyaan itu berakhir tanpa jawaban."Meira?" Ia kembali menyadarkan. Lagi, panggilannya terabaikan. Damian mendekatkan diri, mengusap puncak rambut Meira, kemudian menariknya ke dalam pelukan. Sayangnya, pelukan itu bahkan hanya satu pihak saja. Meira tetap tidak ada pergerakan. Damian yang tidak tahu harus menghibur dengan cara apalagi pun malah makin kebingungan."Makan dulu. Ayo?" ajak Damian usai melepas dekapan itu.Meira akhirnya menurut. Mereka makan siang dengan keheninga
Pukul 12 siang.Hari ini hanya ada dua mata kuliah. Meira seorang diri selama pembelajaran berlangsung. Shelly duduk di bangku paling pojok seakan memperlihatkan jarak di antara keduanya. Meira mencoba tersenyum, tetapi perempuan itu bahkan tidak menoleh.Usai kelas selesai, Meira mulai merapikan buku-bukunya. Rumor itu masih meninggalkan bekas hebat di dalam sana. Orang-orang terus membicarakan tanpa henti. Shelly berjalan lebih dulu. Ia menatap punggung Meira sebelum benar-benar meninggalkan kelas. Namun, egonya masih terlalu tinggi. Ia memilih tidak peduli meski terdengar jelas para mahasiswa mulai mencemooh sang sahabat. "Shelly," panggil Rangga mencegahnya di luar. "Meira masih di dalam?" Perempuan itu tidak langsung menjawab. Pandangannya terpaku pada Rangga. Shelly merasa sesak di dalam dada, sebab ia tidak bisa meyangkal fakta bahwa Rangga yang ia kagumi selama ini ternyata menyukai Meira, sahabatnya sendiri. Rangga kembali menyadarkan. "Shelly?""Dia masih di dalam," jawa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.