INICIAR SESIÓNReihan mematung cukup lama. Keheningan malam yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan, dipenuhi oleh detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Ia segera memasukkan kembali benda berbahan tipis itu ke dalam paper bag dengan gerakan yang sedikit terburu-buru, seolah-olah kain itu baru saja menyengat jemarinya.Ia menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikiran logisnya yang mulai kacau. Namun, bayangan Alya yang selalu tampak malu-malu, gadis yang pipinya akan merona merah hanya karena godaan kecil darinya, kini tumpang tindih dengan keberadaan lingerie hitam itu."Kecil-kecil sudah berani, ya?" gumam Reihan dengan senyum miring yang tertahan.Reihan membawa tas belanja itu ke lantai atas. Ia memasuki kamar dengan langkah yang jauh lebih pelan dari sebelumnya. Di atas ranjang, Alya masih terlelap, sama sekali tidak menyadari badai yang baru saja ia ciptakan di dalam kepala suaminya.Reihan meletakkan tas hitam itu di atas nakas, tepat di samping tempat tidur. Ia kemud
Langkah kaki Alya menyusuri koridor kampus terasa sedikit lebih lambat sore itu. Kelas terakhir baru saja usai, dan kepalanya terasa penuh dengan teori-teori sosiologi yang rumit. Saat ia merogoh tas untuk mengambil botol minum, ponselnya bergetar pelan . Sebuah pesan singkat muncul di layar, membuat dahi Alya sedikit berkerut.Dosen [ Aku akan pulang larut malam ini dan tidak bisa menjemputmu. Pulanglah naik taksi online, kabari aku jika sudah sampai rumah.]Alya menghela napas panjang, ada sedikit rasa hampa yang menyelinap. Padahal, baru tadi pagi ia merasakan hangatnya kecupan kening dari pria itu, sebuah momen yang membuatnya melayang sepanjang jam kuliah. Namun, ia segera menepis rasa kecewa itu. Ia tahu betul tanggung jawab suaminya bukan hanya sebagai dosen, tapi juga pemegang kendali di perusahaan keluarganya.“Alya,” panggil Dina sambil menyenggol lengannya pelan. “Hari ini Pak Reihan jemput kamu, kan?”Alya menggeleng sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. “Engga
Saat Reihan tengah menikmati kehangatan dekapannya pada tubuh Alya, keheningan pagi itu tiba-tiba pecah oleh dering ponsel di atas nakas.Reihan mendesah malas, terlihat jelas ia enggan melepaskan momen intim ini. Namun, dering itu tak kunjung berhenti. Dengan berat hati, ia melonggarkan pelukannya dan meraih ponsel tersebut."Halo," ucap Reihan dengan suara serak khas bangun tidur, sedikit ketus karena merasa terganggu.Sejenak ia mendengarkan suara di seberang telepon dengan kening berkerut. "Baiklah, aku akan segera ke sana," ucapnya singkat sebelum memutus sambungan.Alya yang menyadari suasana telah berubah, perlahan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia kembali membalut tubuh polosnya dengan selimut putih tebal, menatap punggung suaminya dengan tatapan bertanya-tanya."Kenapa, Mas?" tanya Alya pelan."Ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan," jawab Reihan tanpa menoleh. Ia beranjak dari ranjang, menunduk untuk memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai semalam. Se
Setelah gairah yang membara itu perlahan surut, menyisakan keheningan yang nyaman di antara mereka, Alya perlahan mengumpulkan kembali kesadarannya. Dengan gerakan yang masih terasa lemas, ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Tubuh polosnya hanya tertutup selembar selimut putih yang ia lilitkan seadanya untuk menutupi kulitnya yang masih terasa hangat.Reihan, yang masih terbaring telentang di sisi Alya dengan napas yang sudah mulai teratur, memperhatikannya dalam diam.Alya menoleh sedikit, menatap suaminya dengan tatapan ragu. "Mas... aku kembali ke kamarku dulu, ya," pamitnya pelan. Ia sudah bersiap untuk berdiri dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.Namun, sebelum kaki Alya sempat menyentuh lantai dingin, sebuah tangan kokoh mencekal pergelangan tangannya dengan lembut namun pasti. Reihan menariknya pelan hingga Alya kembali terduduk di atas kasur."Mau ke mana?" tanya Reihan dengan suara serak, karena kelelahan."Ke kamarku, Mas. Aku harus bersih-bersih dan tidur d
Langkah kaki Reihan terasa begitu mantap saat ia menaiki satu per satu anak tangga, sementara Alya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Aroma sabun maskulin dan sisa uap air dari tubuh Reihan seolah membius kesadaran Alya, membuatnya hanya bisa melingkarkan lengan dengan erat pada leher kokoh pria itu.Sesampainya di kamar utama, Reihan mendorong pintu dengan bahunya lalu menutupnya rapat. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan kesan hangat sekaligus intim di ruangan yang luas itu.Reihan meletakkan tubuh Alya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, Ia tidak langsung melanjutkan aksinya, melainkan bertumpu pada kedua tangannya, mengunci posisi Alya di bawah naungannya."Jadi... kenapa kamu berbohong tadi siang?" tanya Reihan rendah, mengungkit alasan "datang bulan" yang sempat Alya gunakan untuk menghindar.Alya menggigit bibir bawahnya, merasa terpojok oleh tatapan intens suaminya. "Itu... itu karena aku sedang kesal," akunya jujur dengan suara nyaris berbisik.
Setelah menghabiskan hidangan penutup, Reihan menyelesaikan pembayaran dan meninggalkan tips untuk pelayan. Malam itu ditutup dengan perjalanan pulang yang tenang, tanpa banyak percakapan, seolah masing-masing menikmati sisa hangat dari kebersamaan mereka. Sesampainya di rumah, mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Alya langsung membersihkan diri. Air hangat mengalir, membawa pergi rasa canggung dan sisa gugup yang masih menempel. Setelah itu, ia mengenakan pakaian longgar dan duduk di kursi meja rias. Pantulan wajahnya di cermin masih tampak bersemu merah, entah karena malu, lelah, atau sisa rasa senang yang belum benar-benar reda. Namun, ada satu hal yang mengganggu. Alya menyentuh perutnya pelan. Ia lapar Lagi. "Makanannya memang enak dan mahal sih, tapi porsinya benar-benar tidak manusiawi untuk perutku," gumam Alya sambil menyentuh perutnya yang terasa kosong. Steak wagyu tadi seolah hanya numpang lewat di kerongkongannya. “Mie instan kayaknya enak,” gumamnya lir







