MasukAlya merasakan dinginnya permukaan meja makan menyentuh perutnya yang rata, kontras tajam dengan panas tubuh Reihan yang menempel rapat di punggungnya. Napasnya tersengal, campuran antara rasa malu yang membara dan gelombang hasrat yang tak bisa lagi ia bendung. Tangan Reihan yang kuat menggenggam pinggulnya, menahannya di tempat, sementara bibir pria itu kembali menjelajah lehernya dengan ciuman basah yang penuh nafsu."Mas... tunggu," desah Alya lemah, suaranya pecah saat jemari Reihan menyusup ke balik kain lace yang tipis, menyentuh kulit sensitif di paha bagian dalam. Tubuhnya bereaksi tak terkendali, pinggulnya tanpa sadar bergoyang pelan mengikuti irama sentuhan itu. Reihan terkekeh rendah, suaranya bergetar penuh kepuasan. "Lihat, tubuhmu sudah jujur duluan, Sayang. Jangan bohongi dirimu sendiri." Ia menekan tubuh Alya lebih dalam ke meja, satu tangannya merangkul pinggang istrinya sementara yang lain mulai menyingkap kain lingerie itu perlahan. Udara malam yang sejuk menya
Alya berdiri mematung di dekat pintu kamar mandi, jemarinya meremas pinggiran kain lace yang terasa asing di kulitnya. Ia menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang terasa terbakar hebat di balik helai rambutnya yang tergerai. Keheningan di kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan suara detak jantung Alya yang berdentum keras di telinganya sendiri.Reihan bangkit dari posisi berbaringnya. Ia duduk di tepi ranjang, matanya menggelap saat memandangi bagaimana warna hitam pakaian itu kontras dengan kulit putih bersih istrinya. Desain lingerie itu memang provokatif, namun kepolosan di wajah Alya lah yang justru membuat Reihan benar-benar kehilangan kontrol atas pertahanannya sendiri."Kemari, Sayang," panggil Reihan. Suaranya rendah, serak, dan penuh otoritas.Alya melangkah dengan ragu. Setiap gesekan kain tipis itu pada tubuhnya membuatnya semakin sadar akan betapa minimnya pakaian yang ia kenakan. Saat ia sampai di depan Reihan, suaminya itu tidak langsung menyentuhnya
Reihan mematung cukup lama. Keheningan malam yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan, dipenuhi oleh detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Ia segera memasukkan kembali benda berbahan tipis itu ke dalam paper bag dengan gerakan yang sedikit terburu-buru, seolah-olah kain itu baru saja menyengat jemarinya.Ia menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikiran logisnya yang mulai kacau. Namun, bayangan Alya yang selalu tampak malu-malu, gadis yang pipinya akan merona merah hanya karena godaan kecil darinya, kini tumpang tindih dengan keberadaan lingerie hitam itu."Kecil-kecil sudah berani, ya?" gumam Reihan dengan senyum miring yang tertahan.Reihan membawa tas belanja itu ke lantai atas. Ia memasuki kamar dengan langkah yang jauh lebih pelan dari sebelumnya. Di atas ranjang, Alya masih terlelap, sama sekali tidak menyadari badai yang baru saja ia ciptakan di dalam kepala suaminya.Reihan meletakkan tas hitam itu di atas nakas, tepat di samping tempat tidur. Ia kemud
Langkah kaki Alya menyusuri koridor kampus terasa sedikit lebih lambat sore itu. Kelas terakhir baru saja usai, dan kepalanya terasa penuh dengan teori-teori sosiologi yang rumit. Saat ia merogoh tas untuk mengambil botol minum, ponselnya bergetar pelan . Sebuah pesan singkat muncul di layar, membuat dahi Alya sedikit berkerut.Dosen [ Aku akan pulang larut malam ini dan tidak bisa menjemputmu. Pulanglah naik taksi online, kabari aku jika sudah sampai rumah.]Alya menghela napas panjang, ada sedikit rasa hampa yang menyelinap. Padahal, baru tadi pagi ia merasakan hangatnya kecupan kening dari pria itu, sebuah momen yang membuatnya melayang sepanjang jam kuliah. Namun, ia segera menepis rasa kecewa itu. Ia tahu betul tanggung jawab suaminya bukan hanya sebagai dosen, tapi juga pemegang kendali di perusahaan keluarganya.“Alya,” panggil Dina sambil menyenggol lengannya pelan. “Hari ini Pak Reihan jemput kamu, kan?”Alya menggeleng sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. “Engga
Saat Reihan tengah menikmati kehangatan dekapannya pada tubuh Alya, keheningan pagi itu tiba-tiba pecah oleh dering ponsel di atas nakas.Reihan mendesah malas, terlihat jelas ia enggan melepaskan momen intim ini. Namun, dering itu tak kunjung berhenti. Dengan berat hati, ia melonggarkan pelukannya dan meraih ponsel tersebut."Halo," ucap Reihan dengan suara serak khas bangun tidur, sedikit ketus karena merasa terganggu.Sejenak ia mendengarkan suara di seberang telepon dengan kening berkerut. "Baiklah, aku akan segera ke sana," ucapnya singkat sebelum memutus sambungan.Alya yang menyadari suasana telah berubah, perlahan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia kembali membalut tubuh polosnya dengan selimut putih tebal, menatap punggung suaminya dengan tatapan bertanya-tanya."Kenapa, Mas?" tanya Alya pelan."Ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan," jawab Reihan tanpa menoleh. Ia beranjak dari ranjang, menunduk untuk memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai semalam. Se
Setelah gairah yang membara itu perlahan surut, menyisakan keheningan yang nyaman di antara mereka, Alya perlahan mengumpulkan kembali kesadarannya. Dengan gerakan yang masih terasa lemas, ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Tubuh polosnya hanya tertutup selembar selimut putih yang ia lilitkan seadanya untuk menutupi kulitnya yang masih terasa hangat.Reihan, yang masih terbaring telentang di sisi Alya dengan napas yang sudah mulai teratur, memperhatikannya dalam diam.Alya menoleh sedikit, menatap suaminya dengan tatapan ragu. "Mas... aku kembali ke kamarku dulu, ya," pamitnya pelan. Ia sudah bersiap untuk berdiri dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.Namun, sebelum kaki Alya sempat menyentuh lantai dingin, sebuah tangan kokoh mencekal pergelangan tangannya dengan lembut namun pasti. Reihan menariknya pelan hingga Alya kembali terduduk di atas kasur."Mau ke mana?" tanya Reihan dengan suara serak, karena kelelahan."Ke kamarku, Mas. Aku harus bersih-bersih dan tidur d







