Share

Bab 73

Penulis: Nabila Ara
last update Tanggal publikasi: 2026-09-22 23:58:52

"Kenapa kamu lama sekali datangnya."

"Maaf Sayang, tadi ada yang harus aku selesaikan terlebih dahulu."

"Aku lelah harus berpura-pura memakai tongkat ini kayak orang cacat saja."

"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kamu nggak perlu pura-pura lagi setelah semua tujuan kita tercapai."

Tara membeku di dalam lemari.

Tadi saat mendengar gagang pintu di putar, Tara buru-buru langsung berlari menuju lemari. Untung saja lemari itu bisa menampung tubuhnya.

Ruang gerak yang sempit membuat tubuhnya harus meneku
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 73

    "Kenapa kamu lama sekali datangnya.""Maaf Sayang, tadi ada yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.""Aku lelah harus berpura-pura memakai tongkat ini kayak orang cacat saja.""Sabar, Sayang. Sebentar lagi kamu nggak perlu pura-pura lagi setelah semua tujuan kita tercapai."Tara membeku di dalam lemari.Tadi saat mendengar gagang pintu di putar, Tara buru-buru langsung berlari menuju lemari. Untung saja lemari itu bisa menampung tubuhnya.Ruang gerak yang sempit membuat tubuhnya harus menekuk sedemikian rupa, punggungnya menempel pada dinding kayu yang dingin, sementara map cokelat tua masih ia dekap erat-erat di depan dada. Ia bahkan tidak sempat berpikir apakah posisinya sekarang cukup aman atau tidak. Yang ada di kepalanya hanya satu—jangan sampai ketahuan.Dari celah sempit di antara pintu lemari yang tidak tertutup rapat, Tara bisa melihat dua sosok yang baru saja masuk ke ruang kerja itu.Tara menyipitkan mata, berusaha memastikan penglihatannya di tengah minimnya cahaya.Sua

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 72

    Tara menatap sosok yang baru datang itu.Hardiman Wibisana.Pria yang sejak tadi memang ia cari-cari keberadaannya di antara kerumunan tamu undangan.Namun, Hardiman sama sekali tidak menoleh ke arah Tara maupun Luna. Wajar saja, sebab keduanya memang belum pernah berkenalan atau bahkan sekadar bertukar sapa secara langsung.Selama ini, hanya Tara yang tahu betul siapa Hardiman. Ia mengenali wajah pria itu dari foto-foto lama dan beberapa dokumen peninggalan mendiang ayahnya. Dokumen yang selama ini disimpannya baik-baik, seolah menjadi satu-satunya benang yang menghubungkan masa lalu dengan kejanggalan yang tengah ia telusuri sekarang."Hardiman, akhirnya kamu datang juga," ucap Alvin sambil menjabat tangan pria itu."Maaf, tadi ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggal," jawab Hardiman.Keduanya lantas terlibat obrolan ringan, sesekali diselingi tawa khas basa-basi antar kolega bisnis. Tara dan Luna hanya berdiri di sisi menyimak tanpa banyak berkomentar.Tak lama, Alvin pun men

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 71

    Tara dan Luna berjalanan beriringan masuk ke dalam rumah mewah Alvin. Ada dua orang yang memakai seragam pelayan menyambut kedatangan mereka."Silakan masuk," ucap keduanya mempersilahkan mereka."Terima kasih," jawab Luna.Lalu mereka berdua di arahkan oleh pelayan untuk mengikutinya. "Acara makan malam diadakan di taman samping," ucap pelayan itu.Baik Tara maupun Luna sama-sama mengangguk saja sambil mengikuti pelayan itu. Luna mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Hampir mirip dengan rumah yang ia tempati hanya saja rumah ini lebih besar saja. Beberapa guci besar di sudut ruangan dan hiasan dinding.Ketika sudah tiba di taman samping, seperti dugaan mereka tadi memang sudah banyak yang datang.Tetapi tidak ada satu pun yang Luna kenal di sana kecuali Clarissa dan Alvin."Tara, kamu lihat Mbak Clarissa deh," bisik Luna.Tara langsung mengikuti arah pandangan Luna yang tertuju pada satu titik yaitu keberadaan Alvin dan Clarissa."Andai kita nggak melihatnya di kafe tempo

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 70

    Acara makan malam di rumah Alvin akhirnya tiba.Sejak tadi sore, Luna sudah tampak sibuk karena gadis itu ingin tampil memukau di acara makan malam di rumah suaminya bersama istri pertamanya. Luna memilih memakai gaun hitam dengan belahan panjang di bagian kaki, gaun yang dibelinya dari butik langganannya. Bahkan, ia juga memesan satu pakaian untuk Tara dengan warna yang senada.Namun, berbeda dengan Luna yang memilih gaun, Tara cukup mengenakan setelan jas hitam sederhana dengan kemeja putih di dalamnya. Ia tidak memakai dasi karena menurutnya acara malam ini hanyalah makan malam keluarga, bukan pesta resmi. Tapi meski pria itu memakai jas hitam sederhana, pesona ketampanannya tetap saja menguar. Tara baru saja keluar dari kamarnya. Kali ini ia tidak memakai kacamata lagi karena tadi Luna memintanya untuk tidak menggunakannya. Tara menata rambutnya dengan rapi, menyisir bagian depannya sedikit ke samping."Mas Tara tampan sekali," puji Mentari yang memang berada di dekat ruang kelu

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 69

    Mobil yang dikendarai oleh Tara baru saja masuk ke pekarangan rumah Luna."Ada apa Tari?" tanya Tara saat Mentari terus melihat ke arahnya."Mas Tara nggak mau kasih tahu siapa pria tadi. Kalian tampak akrab sekali," ucap Mentari."Tadi kan aku udah bilang kalau dia itu teman aku. Nggak sengaja ketemu di sana.""Hmmm... Oke deh. Aku duluan ya Mas Tara."Mentari langsung membuka pintu mobil. Lalu ia langsung keluar sambil membawa belanjaan tadi kecuali milik Tara.Tara hanya geleng-geleng saja melihat Mentari. Lalu ia pun menyusul Mentari untuk segera masuk ke dalam rumah.Saat ia masuk ke dalam, ternyata Luna sudah berada di lantai satu. Gadis itu menatapanya dengan tatapan datar. "Kamu dari mana saja Tara?" tanya Luna."Habis dari supermarket. Tadi Mentari minta antar untuk beli jagung. Ada apa?""Alasan dia aja itu. Padahal stok jagung masih ada loh. Pasti dia sengaja ngajak kamu biar bisa berduaan sama kamu," ketus Luna.Kening Tara mengernyit pura-pura tidak tahu maksud Luna. "Ma

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 68

    "Kenapa Mas Tara terkejut seperti itu? Mas Tara nggak suka kalau aku suka sama Mas Tara?""Bukan begitu Tari. Tapi... Ehmm, lebih baik kamu tidak lanjutkan perasaaan kamu Tari," jawab Tara."Kenapa? Mas Tara sudah punya pacar?"Tara menggeleng. "Aku mana sempat untuk pacaran Tari. Lagian siapa yang mau punya pacar kayak aku.""Ish Mas Tara terlalu merendah. Mas Tara tuh ganteng kayak model-model papan atas loh. Aku yakin kalau Mas Tara jadi model, pasti akan terkenal."Tara terkekeh kecil, tetapi tidak ikut menanggapi pujian itu. Ia justru mengalihkan pandangan ke arah lain.“Jangan ngomong begitu, Tari.”“Loh Kenapa? Mas Tara bahkan lebih tampan dari Tuan Alvin loh. Tuan Alvin itu menang kayanya aja, tapi jadi pria nggak bertanggung jawab,” ucap Mentari."Nggak boleh ngomongin Tuan kamu begitu. Kamu kan kerja sama dia.""Aku bicara fakta kok Mas. Kasihan tuh Nona Luna di anggurin jadi istri kurang belaian. Aku salut sama Nona yang tahan lama nggak di sentuh sama suaminya."Uhuuk!Tib

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status