Share

Bab. 9 Seringai tipis

Author: ORI GAMII
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-06 18:11:52
“Permisi.”

Semua kepala menoleh ke arah pintu, termasuk Hanifa. Tatapannya langsung bertemu dengan kedua manik tajam milik Shaka.

Hanifa menelan ludah pelan. Ketika memiringkan kepalanya seperti ini, masih ada sisa air mata yang mengalir dari sudut matanya. Dan ia tahu, pasti Shaka bisa melihatnya.

Tapi, kenapa Shaka berada di sini? Dan sudah berapa lama ia berdiri di ambang pintu? Apakah ia mendengar semua kalimat yang Damayanti lontarkan tadi?

Matanya memejam. Malu, pasrah, dan masa bo
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (21)
goodnovel comment avatar
Elly Julita
ka jan sampe kamu nyesel loh karna udah salah faham duluan
goodnovel comment avatar
melati 🌸
ini juga kenapa sih han msh bertahan aja , udah gedeg sekali ama mulutnya si damayanti yg ga ada damai²nya jadi ibu mertua. dia tuh spek mertua indosiram bener ih, beneran greget, d tambah suami nya se gendeng itu. makin d buat gemess,
goodnovel comment avatar
melati 🌸
mas shakaa juga ga d cari tau dulu ih .main hakim dan fitnah sendirii, kenapa bisa begini siapa ug adu domba mereka dulu sampai berpisah secara ga baik begini, yg menyebabkan shaka se sakit hati inii. huhu sedih nya jadi hanii
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 81 Sial!

    Shaka keluar dari toilet setelah hampir sepuluh menit berada di sana. Sejak tadi, ia terus memperhatikan ponselnya, dan menanti panggilan dari Bundanya, sama seperti yang terjadi siang tadi ketika Rina menguji Hanifa. Namun, hingga ia memutuskan untuk keluar, ponselnya tak kunjung berdering. Tidak ada panggilan maupun pesan baru dari Rina. Shaka mengembuskan napas pelan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh area lantai dua. Ia berharap bisa menemukan keberadaan Bundanya, tetapi sosok wanita itu tak kunjung terlihat. Hingga matanya menangkap sosok Rose yang sedang duduk di sebuah kursi sambil sibuk memainkan ponsel. Shaka segera menghampirinya. Sesekali, pandangannya masih menyapu area sekitar, dan mencari keberadaan Rina. Namun, setelah memastikan bahwa Bundanya tidak berada di dekat Rose, ia mulai mengernyit. “Apa Bunda belum ketemu Rose?” gumamnya pelan. Rose yang sejak tadi fokus pada ponselnya akhirnya mengangkat wajah ketika menyadari ada seseorang yang mendekat. Begitu

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 80 Sifat Rose

    Trik yang dilakukan Rina siang tadi kepada Hanifa, kini kembali ia gunakan untuk menguji Rose ketika mereka pulang dari kantor. Dengan begitu, ia bisa bersikap adil dalam menilai kedua perempuan tersebut, terutama bagaimana cara mereka mengendalikan emosi dan menyikapi masalah yang terjadi. Setelah menerima pesan dari Shaka bahwa putranya sudah berada di toilet dan meninggalkan Rose di lantai dua, pandangan Rina langsung beredar menyusuri area lantai dua. Sebelumnya, Shaka juga sudah mengirimkan foto Rose agar ibunya tidak salah mengenali perempuan yang akan ditemuinya. Rina terus mengamati orang-orang yang berlalu-lalang hingga matanya menangkap sosok wanita dengan kemeja merah marun dan rok span selutut. Seketika, senyum lebar terbit di bibirnya. Targetnya sudah berada tepat di depan mata. Sama seperti ketika bertemu Hanifa tadi, Rose juga sedang mencari tempat duduk untuk menunggu Shaka. Bedanya, perempuan itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya, bahkan sesekali menge

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 80 Merasa cocok

    Tujuh menit kemudian, Hanifa kembali dengan napas sedikit terengah. Ia berlari kecil sambil membawa sebuah kantong plastik berisi semangka yang baru dibelinya. “Maaf, Bu, lama menunggu. Tadi saya harus mengantre di kasir,” ujarnya begitu tiba di hadapan wanita yang masih duduk di bangku panjang. Hanifa mengeluarkan semangka dari kantong plastik, lalu menyerahkannya kepada wanita itu. “Ini, Bu. Saya sudah menggantinya dengan yang baru. Coba diperiksa dulu, siapa tahu ada yang kurang berkenan.” Rina menerima semangka tersebut, kemudian memeriksanya sekilas sebelum mengangguk. “Sudah bagus. Terima kasih, ya.” “Sama-sama, Bu. Saya juga minta maaf karena tadi kurang berhati-hati.” “Sudahlah, nggak apa-apa. Namanya juga kecelakaan. Untung kamu mau bertanggung jawab.” Hanifa tersenyum kecil. “Iya, Bu. Apalagi Ibu bilang semangka itu untuk anak Ibu. Sayang kalau anak Ibu dikasih semangka rusak dan nggak bisa dimakan.” Rina menatap perempuan di hadapannya dengan saksama. Diam-diam, ia

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 78 Pebinor

    Perintah Shaka benar-benar menjadi kenyataan keesokan harinya. Tepat lima belas menit sebelum jam istirahat makan siang, lelaki itu menghampiri meja Hanifa dan langsung memintanya ikut. Maria yang melihat kejadian itu tak tampak terkejut. Ia hanya mengembuskan napas berat sambil memperhatikan keduanya. Dugaannya semakin kuat bahwa Shaka sebenarnya masih menyimpan perasaan kepada Hanifa. Namun, Maria tak berani menyampaikan kecurigaannya secara langsung kepada sang sahabat, terlebih ketika Hanifa masih menghadapi prahara dalam rumah tangganya. Sementara itu, Hanifa bahkan tak diberi kesempatan untuk menolak. Mau tak mau, ia mengikuti Shaka menuju mobil. Sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di mal terdekat, Hanifa hanya diam sambil menatap jalanan di luar jendela. Sesekali, ia melirik Shaka yang fokus menyetir, dan berharap lelaki itu berbaik hati menjelaskan tujuan mereka. Sayangnya, Shaka sama sekali tak membuka suara. "Ayo, turun," ujar Shaka begitu mobilnya memasuki area

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 77 Pesan Shaka

    Setelah pergi bersama Maria, Hanifa tak langsung pulang ke rumah. Ia justru berbelok menuju rumah ayahnya. Tak peduli jika Prabu akan marah atau mungkin mengomelinya nanti, yang pasti malam ini Hanifa hanya ingin melakukan apa yang ia mau tanpa harus memikirkan perasaan suaminya.Setelah makan malam, Hanifa, Yudi, dan Siti duduk bersama di ruang keluarga. Meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Hanifa masih enggan beranjak pulang."Nanti pulangnya Ayah yang antar, ya, Fa."Hanifa yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya akhirnya menoleh."Nggak usah, Yah. Ifa pulang sendiri aja.""Ini sudah malam, lho."Hanifa tertawa kecil. "Malam apanya? Jalanan juga masih ramai, kok. Ayah nggak perlu khawatir."Semenjak mengetahui kisah hidup Hanifa yang sebenarnya, sikap Yudi memang mulai melunak. Pria itu tak lagi bersikap dingin seperti dahulu. Bahkan, kini ia tak segan menunjukkan perhatiannya dengan mengirim pesan dan menanyakan keadaan putrinya.Meski begitu, Y

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab. 76 Penuh kejutan

    "Shaka, kok malah melamun!" Rina menepuk lengan putranya karena Shaka tak kunjung memberikan jawaban. Sejak tadi, lelaki itu justru sibuk dengan pikirannya sendiri. "Tapi, kayaknya nggak usah ketemu, deh, Bun. Aku takutnya Rose malah bertingkah macam-macam setelah bertemu Bunda." "Nggak akan ada yang begitu. Pokoknya, kamu bilang sama Rose kalau Bunda ingin bertemu dengannya." Shaka membuka mulut hendak membantah, tetapi Rina lebih dulu melayangkan tatapan tegas. Seketika, niatnya untuk menolak kembali urung. Tak ada lagi kesempatan bagi Shaka untuk mengelak. Kalau sudah begini, perkataan Rina memang lebih mirip titah seorang raja daripada permintaan seorang ibu. Rina kemudian memiringkan tubuhnya, ia memperhatikan putranya yang masih terlihat gelisah. Sebuah senyum samar terbit di bibirnya sebelum ia melontarkan pertanyaan. "Ada yang kamu sembunyikan dari Bunda?" "Nggak ada," jawab Shaka cepat. Rina menyipitkan mata. "Jangan bohong. Bunda paling tahu anak Bunda sendiri." Sh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status