Compartilhar

Bab. 10 Testpack

Autor: ORI GAMII
last update Data de publicação: 2026-09-06 19:52:39

Tiba di rumah, Hanifa diletakkan begitu saja di atas ranjang. Bahkan tanpa perlu repot-repot bertanya, Prabu memilih pergi. Namun, dengan cepat Hanifa memanggilnya.

“Mas...”

Prabu menoleh. “Apa?”

“Tolong ambilkan obat di kotak P3K. Sepertinya tadi di kantor belum sempat dikasih obat.”

“Ck!”

Prabu mendecak. Ia lalu berjalan keluar.

Tak sampai lima menit, ia kembali dengan kotak P3K dan segelas air putih. Keduanya diletakkan di atas nakas sebelum Prabu berbalik hendak pergi.

“Mas...”

“Apa sih, Fa
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (21)
goodnovel comment avatar
Elly Julita
astaghfirullah, aq yg jadi pening loh inii
goodnovel comment avatar
Tyas Ratih
jahat banget berharap Hanifa gak h4mil🫨
goodnovel comment avatar
melati 🌸
setujuu pa, mending cere abis itu ngekos aja, bapak mu ga mikirin perasaan kamu, gimana 5 tahun ini km berjuang, bertahan wlw sakit di setiiap hari. huhu
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 82 Mual

    “Bunda, dari mana saja? Kenapa teleponku nggak diangkat?” Shaka langsung menghampiri Rina. Ada sedikit kekhawatiran di wajahnya, tetapi juga rasa lega karena akhirnya bisa menemukan bundanya. Rina tersenyum dengan santai. Ia mengangkat kedua kantong belanjaannya, kemudian baru menjawab, “Bunda tadi ada sedikit urusan. Maaf, ya, sampai membuatmu menunggu.” “Urusan apa, Bun? Aku sudah menelepon Bunda berkali-kali.” “Dih, lebay kamu. Bunda baik-baik saja, kok.” Shaka mengembuskan napas lega. Ia memang sudah menduga bahwa bundanya tidak mengalami sesuatu yang buruk, tetapi sikap Rina yang tak kunjung menjawab telepon tetap membuatnya khawatir. Barulah setelah itu, Shaka teringat bahwa Rose masih berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia menoleh lalu mengenalkan perempuan itu. “Oh, iya. Bunda, kenalkan, ini Rose.” Rina mengalihkan pandangan kepada perempuan yang baru saja disebut putranya. Ia memasang senyum ramah, seolah-olah mereka baru pertama kali bertemu. “Rose?” Rose te

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 81 Sial!

    Shaka keluar dari toilet setelah hampir sepuluh menit berada di sana. Sejak tadi, ia terus memperhatikan ponselnya, dan menanti panggilan dari Bundanya, sama seperti yang terjadi siang tadi ketika Rina menguji Hanifa. Namun, hingga ia memutuskan untuk keluar, ponselnya tak kunjung berdering. Tidak ada panggilan maupun pesan baru dari Rina. Shaka mengembuskan napas pelan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh area lantai dua. Ia berharap bisa menemukan keberadaan Bundanya, tetapi sosok wanita itu tak kunjung terlihat. Hingga matanya menangkap sosok Rose yang sedang duduk di sebuah kursi sambil sibuk memainkan ponsel. Shaka segera menghampirinya. Sesekali, pandangannya masih menyapu area sekitar, dan mencari keberadaan Rina. Namun, setelah memastikan bahwa Bundanya tidak berada di dekat Rose, ia mulai mengernyit. “Apa Bunda belum ketemu Rose?” gumamnya pelan. Rose yang sejak tadi fokus pada ponselnya akhirnya mengangkat wajah ketika menyadari ada seseorang yang mendekat. Begitu

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 80 Sifat Rose

    Trik yang dilakukan Rina siang tadi kepada Hanifa, kini kembali ia gunakan untuk menguji Rose ketika mereka pulang dari kantor. Dengan begitu, ia bisa bersikap adil dalam menilai kedua perempuan tersebut, terutama bagaimana cara mereka mengendalikan emosi dan menyikapi masalah yang terjadi. Setelah menerima pesan dari Shaka bahwa putranya sudah berada di toilet dan meninggalkan Rose di lantai dua, pandangan Rina langsung beredar menyusuri area lantai dua. Sebelumnya, Shaka juga sudah mengirimkan foto Rose agar ibunya tidak salah mengenali perempuan yang akan ditemuinya. Rina terus mengamati orang-orang yang berlalu-lalang hingga matanya menangkap sosok wanita dengan kemeja merah marun dan rok span selutut. Seketika, senyum lebar terbit di bibirnya. Targetnya sudah berada tepat di depan mata. Sama seperti ketika bertemu Hanifa tadi, Rose juga sedang mencari tempat duduk untuk menunggu Shaka. Bedanya, perempuan itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya, bahkan sesekali menge

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 79 Merasa cocok

    Tujuh menit kemudian, Hanifa kembali dengan napas sedikit terengah. Ia berlari kecil sambil membawa sebuah kantong plastik berisi semangka yang baru dibelinya. “Maaf, Bu, lama menunggu. Tadi saya harus mengantre di kasir,” ujarnya begitu tiba di hadapan wanita yang masih duduk di bangku panjang. Hanifa mengeluarkan semangka dari kantong plastik, lalu menyerahkannya kepada wanita itu. “Ini, Bu. Saya sudah menggantinya dengan yang baru. Coba diperiksa dulu, siapa tahu ada yang kurang berkenan.” Rina menerima semangka tersebut, kemudian memeriksanya sekilas sebelum mengangguk. “Sudah bagus. Terima kasih, ya.” “Sama-sama, Bu. Saya juga minta maaf karena tadi kurang berhati-hati.” “Sudahlah, nggak apa-apa. Namanya juga kecelakaan. Untung kamu mau bertanggung jawab.” Hanifa tersenyum kecil. “Iya, Bu. Apalagi Ibu bilang semangka itu untuk anak Ibu. Sayang kalau anak Ibu dikasih semangka rusak dan nggak bisa dimakan.” Rina menatap perempuan di hadapannya dengan saksama. Diam-

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 78 Pebinor

    Perintah Shaka benar-benar menjadi kenyataan keesokan harinya. Tepat lima belas menit sebelum jam istirahat makan siang, lelaki itu menghampiri meja Hanifa dan langsung memintanya ikut. Maria yang melihat kejadian itu tak tampak terkejut. Ia hanya mengembuskan napas berat sambil memperhatikan keduanya. Dugaannya semakin kuat bahwa Shaka sebenarnya masih menyimpan perasaan kepada Hanifa. Namun, Maria tak berani menyampaikan kecurigaannya secara langsung kepada sang sahabat, terlebih ketika Hanifa masih menghadapi prahara dalam rumah tangganya. Sementara itu, Hanifa bahkan tak diberi kesempatan untuk menolak. Mau tak mau, ia mengikuti Shaka menuju mobil. Sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di mal terdekat, Hanifa hanya diam sambil menatap jalanan di luar jendela. Sesekali, ia melirik Shaka yang fokus menyetir, dan berharap lelaki itu berbaik hati menjelaskan tujuan mereka. Sayangnya, Shaka sama sekali tak membuka suara. "Ayo, turun," ujar Shaka begitu mobilnya memasuki area

  • Bos Dingin Itu Mantan Kekasihku    Bab 77 Pesan Shaka

    Setelah pergi bersama Maria, Hanifa tak langsung pulang ke rumah. Ia justru berbelok menuju rumah ayahnya. Tak peduli jika Prabu akan marah atau mungkin mengomelinya nanti, yang pasti malam ini Hanifa hanya ingin melakukan apa yang ia mau tanpa harus memikirkan perasaan suaminya.Setelah makan malam, Hanifa, Yudi, dan Siti duduk bersama di ruang keluarga. Meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Hanifa masih enggan beranjak pulang."Nanti pulangnya Ayah yang antar, ya, Fa."Hanifa yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya akhirnya menoleh."Nggak usah, Yah. Ifa pulang sendiri aja.""Ini sudah malam, lho."Hanifa tertawa kecil. "Malam apanya? Jalanan juga masih ramai, kok. Ayah nggak perlu khawatir."Semenjak mengetahui kisah hidup Hanifa yang sebenarnya, sikap Yudi memang mulai melunak. Pria itu tak lagi bersikap dingin seperti dahulu. Bahkan, kini ia tak segan menunjukkan perhatiannya dengan mengirim pesan dan menanyakan keadaan putrinya.Meski begitu, Y

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status