MasukBeberapa waktu berlalu. Ayumi duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Ia menatap layar ponselnya sejenak sebelum sebuah helaan napas berat lolos dari bibirnya.“Uangku makin menipis,” gumam Ayumi lirih. “Aku tidak menyangka dia benar-benar menghentikan uang bulananku.”Padahal dulu, ia sendiri yang merasa tidak enak hati karena Adrian sudah mengeluarkan begitu banyak uang untuk membayar mahar keluarga tirinya. Saat itu, dengan polosnya Ayumi bilang siap memotong uang bulanan demi mengganti uang tersebut.“Tahu begitu, mending waktu itu aku tidak usah asal bicara,” sesalnya pelan.Meski seluruh kebutuhan utamanya di rumah megah ini terjamin, tetap saja ada hal-hal pribadi yang harus ia beli dengan uang sendiri. Terlebih lagi, Ayumi sadar betul ia harus mulai berhemat dan mengumpulkan tabungan. Jika kelak masa kontrak pernikahan mereka berakhir, setidaknya ia punya modal untuk memulai hidup baru.“Sepertinya aku memang harus kembali bekerja,” putusnya mantap.Setelah cukup lama berpikir,
Keesokan harinya...Bella mengendarai mobil barunya menuju kantor tempat Rakka bekerja. Meski sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, tak sedikit pun rasa senang menghiasi hatinya.Mobil baru, ponsel impian, dan berbagai barang mewah. Semua itu seharusnya cukup membuatnya bahagia. Namun, setiap kali teringat Ayumi, suasana hatinya langsung memburuk. Perempuan itu benar-benar membuatnya kesal!Bagaimana bisa Ayumi yang selama ini dianggapnya tidak lebih dari gadis kampungan justru menikah dengan pria kaya raya?“Siapa sebenarnya Adrian itu? Pria seperti apa dia?” gumam Bella.Tangannya yang menggenggam setir semakin mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.Ia benar-benar tidak habis pikir. Ayumi sudah dicampakkan oleh Rakka, tetapi bukannya menderita, perempuan itu malah mendapatkan kehidupan yang lebih baik.Sementara dirinya... Tetap saja tertinggal di belakang Ayumi.Tak lama kemudian, mobil Bella memasuki area parkir sebuah gedung perkantoran mewah. Setelah memarkirkan mobiln
“Dia baru putus dengan Kak Rakka,” kata Bella, masih tak percaya. “Lagi pula, Ayumi sangat mencintainya. Mana mungkin dia berpaling secepat itu, meski sudah dicampakkan?”Selama ini, Bella tahu betul betapa kakak tirinya itu tergila-gila pada Rakka. Ayumi bahkan rela melakukan apa saja demi pria tersebut. Jadi, bagaimana mungkin perempuan itu tiba-tiba menikah dengan pria lain.“Nggak mungkin bagaimana? Ini buktinya ada di tangan Ibu!” seru Desi seraya mengibaskan cek bernilai fantastis itu di depan wajah putrinya.Bella meraih cek tersebut dengan kasar. Matanya menyipit, membaca angka nominal yang tertera di sana. Jemarinya gemetar hebat, antara tidak percaya dan iri setengah mati. Angka nol di kertas itu seolah menampar harga dirinya keras-keras.“Siapa pria bodoh yang mau menikahi cewek udik kayak Ayumi, Bu? Nggak usah ngarang deh!” bentak Bella dengan napas memburu. Rasa dengki yang tiba-tiba menguasai kepalanya itu seketika melenyapkan sisa-sisa efek alkohol yang tadi membuatnya
Ayumi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak menyangka pria yang biasanya dingin dan tak tersentuh ini ternyata bisa kesal juga hanya karena masalah panggilan.“Baik... saya akan serius,” ucap Ayumi akhirnya.Ia mulai memutar otak, mencari nama panggilan yang kira-kira terdengar pas agar mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang saling mencintai di depan orang lain. Setelah berpikir beberapa saat, sebuah ide mendadak terlintas di kepalanya. Mata Ayumi berbinar cerah, disertai senyum tipis yang terukir di bibirnya. Ia sangat yakin Adrian pasti akan setuju dengan ini.“Saya sudah memikirkan panggilan yang pas untuk kita,” ujar Ayumi dengan senyum penuh arti.Adrian tak membalas ucapan itu. Pria itu hanya mengangkat sebelah alisnya, lalu kembali sibuk melepas kancing kemejanya satu per satu dengan santai.“Bagaimana kalau... Baby?” usul Ayumi penuh percaya diri.Deg!Panggilan itu sukses membuat gerakan tangan Adrian terhenti seketika. Tubuhnya menegang. Jantungnya mendadak b
Adrian tidak menggubris panggilan lirih Ayumi. Ia hanya melirik istrinya sekilas sebelum mengalihkan pandangan kepada orang-orang yang masih duduk di meja makan. “Kami naik dulu,” katanya tenang. “Ayumi perlu membersihkan diri dan beristirahat.” Anita langsung mengangkat alisnya. “Makan malam baru saja dimulai. Kalian mau makan di kamar?” “Iya. Ayumi tadi terjatuh. Kasihan kalau dia harus naik turun tangga,” jawab Adrian santai, tanpa ragu sedikit pun. Ayumi tertegun. Ia mendongak, hendak membantah, karena dirinya baik-baik saja, dan Adrian tak perlu menambahkan kebohongan baru. Tapi sebelum Ayumi sempat bersuara, Adrian sudah mempererat pelukannya di pinggang gadis itu, membuat Ayumi menelan kembali kata-katanya. Lukman, yang sejak tadi memilih diam, akhirnya ikut angkat bicara. Tatapannya tertuju kepada Adrian dengan raut serius. “Apa yang ibumu katakan memang benar, Adrian. Kamu terlalu memanjakan istrimu. Kalau kamu melewatkan makan malam keluarga hanya untuk menemaniny
Hari mulai gelap ketika mobil Adrian melaju membelah jalanan kota. Lampu-lampu kendaraan berderet di sepanjang jalan, sementara para pekerja yang baru pulang membuat lalu lintas semakin padat.Di kursi penumpang, Ayumi hanya diam menatap keluar jendela. Jemarinya mencengkeram sabuk pengaman dengan erat mencoba menekan rasa malu yang masih mengganjal di dadanya. Kini Adrian tahu semuanya, tahu betapa rakusnya keluarganya terhadap uang.Ayumi menarik napas dalam-dalam. Berkali-kali ia menyusun kata-kata di benaknya, tetapi semuanya terasa salah. Namun, setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya, ia akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara."Pak... Adrian," panggilnya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin mobil."Hmm?" sahut Adrian pendek tanpa menoleh."Terima kasih untuk yang tadi. Tapi..." Ayumi menggantungkan kalimatnya. Ia ragu, lidahnya mendadak terasa kelu.Adrian melirik sekilas dari sudut matanya, menyadari keraguan di wajah wanita di sampingnya, sebelum k







