Share

Bab 124

Author: Hare Ra
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-04 09:26:40

"Anu siapa?" tanya Bimo.

"Anu.... Saya-"

"Anu kamu kenapa, Pak Bian?" Bimo menahan ketawa melihat Bian salah tingkah.

Selena akhirnya menarik tangan Bian untuk segera berlalu darisana.

"Pak kami permisi," ucap Selena.

Bimo menganggukkan kepalanya, ia tahu kalau Bian bukan kebetulan berada disana. Bian sedang menjaga Selena.

Semua orang tahu bagaimana dekatnya Selena dan Bian.

"Lama-lama anu nya keluar kalau gini," gumam Selena pelan, nyaris tidak terdengar.

Tapi, Bian bisa mendengarnya dan akhi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 209

    "Kami akan memesan dalam jumlah yang banyak, Bu." "Saya tahu. Tapi, saya tidak bisa ikuti harga yang ditentukan orang lain," jawab Selena. Selena tidak akan menolak jika ada yang mau bekerja sama. Tapi, harganya sesuai dengan peraturan di tokonya. "Jadi, bisa untuk mengadakan kalau kami ada permintaan?" tanya Andi. "Sudah tentu siap." "Baiklah, deal kalau begitu," jawab Andi kemudian. Selena mengangguk dan membuat list harga sesuai dengan keinginannya. "Jadi, ini list harga sesuai dengan toko kami ya," ujar Selena sebelum menandatangani kesepakatan mereka. "Iya, Bu. Apa tidak ada fee khusus untuk saya?" tanya Andi. Selena mengernyitkan keningnya. Dia heran atas permintaan Andi. Ternyata, sejak awal dia yang menurunkan harga itu hanya untuk mendapatkan keuntungan. "Bukankah kita kerja sama dengan jelas, kenapa saya harus memberikan fee?" tanya Selena. "Kalau begitu tidak perlu, Bu." Selena tampak berpikir sejenak, sejak awal penawaran kerjasama ini rasanya sudah tidak bena

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 208

    "Aku tidak akan salah menuduh orang! Kau lah memang yang mengharapkan warisan papa!""Silakan datang kesini dan lihat sendiri keadaannya," jawab Selena."Kalau aku datang kesana, kau tidak akan selamat!"Tut!Saking kesalnya mendengar Tyas yang semakin tidak ada adabnya, Selena mematikan sambungan telepon itu."Dia mirip sekali dengan ibunya," keluh Selena.Selena tidak sadar kalau sejak tadi Haris memperhatikannya dari meja makan.Tapi, disana tidak ada Haisa. Mungkin, Haisa berada di dalam ruang bermain."Ahh... Jangan pikirkan," sambungnya.Selena kembali menyalakan kompornya, melanjutkan memasak bubur untuk Haisa.Diam-diam Haris memeluknya dari belakang."Astaga...""Kamu hebat, Sayang.""Terima kasih. Entahlah, hidup ini begitu banyak kejutan untukku.""Kamu kuat, Sayang. Apapun yang terjadi, apapun yang kamu dapatkan, itu karena kamu kuat dan hebat."Selena mengangguk dan tersenyum. "Karena ada kamu.""Kamu sudah pintar menggombal sekarang."Selena tertawa. "Aku gak gombal, mem

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 207

    "Hah? Apa?"Selena kebingungan mendengarnya. Tiba-tiba saja seseorang menuduhnya begitu.Bahkan dia sendiri tidak terpikirkan untuk hal itu. Dan warisan? Warisan siapa yang dimaksud?"Jujur saja, kau sengaja mendekati Papaku hanya demi warisannya, kan? Apa kau tidak tahu? Kau tidak berhak apapun terhadap lelaki itu! Kau itu hanya anak haram!"Selena menghela nafas berat. Dia sedikit terbayang siapa yang menelponnya."Tyas, kamu salah orang," jawab Selena.Dia tahu, itu pasti Tyas. Meskipun dia belum pernah bertemu ataupun berbicara kepada Tyas.Tapi, kalau mendengar pembicaraannya dan kemana arah kata-kata itu dia sudah bisa menebak."Jika kau memang Selena, maka aku tidak salah orang. Dan kau memang tujuanku.""Berarti kamu salah tujuan.""Aku tidak pernah salah."Selena memejamkan matanya, Tyas sangat mirip dengan ibunya. Emosian dan berapi-api."Maaf, aku tutup teleponnya, Tyas. Kalau kamu tidak pernah salah, maka aku yang salah telah menjawab teleponmu.""Dasar manusia sombong da

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 206

    "Besok pagi aja, bagaimana?" tanya Selena."Mama benar-benar maksa harus sekarang, Kak. Aku tidak mau kakak jadi dapat masalah."Selena menghela nafas berat. "Biar aku antar ke bandara ya."Ara mengangguk pelan. "Terima kasih, Kak.""Beritahu kakak kalau ada yang kamu butuhkan."Kembali Ara mengangguk. Meskipun kalau boleh jujur, dia lebih senang hidup disini.Tidak ada tekanan, tidak ada teriakan dan tidak bertanggung jawab terhadap semua orang."Nak, jangan berhenti kuliah ya, Papa mohon," ujar Benny menatap Ara dengan penuh harap."Iya, Pa."Meski rasanya berat melepaskan Ara untuk pulang, tapi Benny juga sama seperti Ara, tidak mau Selena yang mendapatkan masalah.**Selena dan Haris mengantarkan Ara ke bandara, untung masih bisa mendapatkan tiket untuk keberangkatan hari ini."Kabari kakak kalau ada apa-apa," ujar Selena."Iya kak. Maaf ya kak, aku jadi merepotkan."Selena memeluk Ara erat. "Kakak tidak repot dan juga tidak merasa direpotkan."Ara masuk ke bandara sambil melambai

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 205

    “Tidak akan ada fitnah, kan?” tanya Selena kemudian.“Iya, tapi Papa jadi merepotkan kamu.”“Aku tidak merasa direpotkan. Hiduplah dengan baik, dan jangan terlalu banyak pikiran. Juga, jangan lagi melakukan hal yang nekat, semua masalah pasti ada solusinya,” jawab Selena.Selena tidak mau menasehati sang ayah, dia tahu apa yang dilakukan ayahnya pastinya karena sebuah alasan yang kuat.Tapi, dia juga tidak bisa melihat ayahnya hidup menderita seperti itu. Apalagi dia tahu, keadaan mantan istrinya masih sama seperti dulu, Selena tidak mau ayahnya dimanfaatkan. Kalau menghabiskan uang untuk hal yang berguna dan untuk anak-anaknya itu tidak masalah.Tapi, dari cerita Ara, utang-utang yang dimiliki dan harus dilunaskan oleh Pak Benny itu semuanya hanya untuk gaya hidup. Mengikuti gaya hidup sosialita, padahal gaji suaminya tidak mendukung untuk gaya seperti itu.Sekarang, Bu Asti malah menggantungkan hidupnya pada Ara. Tidak mau bekerja, tapi mau uang terus menerus.“Iya, Nak. Maaf.”“Pap

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 204

    “Sayang, ini kamu serius atau lagi bercanda?” tanya Haris.Dia langsung panas mendengar apa yang Selena katakan, enak sekali Anton mengakui Haisa anaknya. Sedangkan jelas kalau dia yang bermasalah dan sulit memiliki anak.Kenapa sekarang dia malah mengganggu hidup Selena dan Haris.“Tentu saja aku serius. Tadi, aku baru saja membuka pesan yang dia kirimkan. Lihat saja sendiri,” jawab Selena menunjukkan ponselnya.“Tapi, kamu menceritakannya dengan tenang sekali.”“Ya, aku juga tidak tahu harus ngapain. Mau teriak juga gak bisa, malah mengganggu para tetangga dan aku akan dikira gila nantinya. Mau menangis untuk apa? Lagian juga, aku yang hamil, aku yang melahirkan. Dan aku juga yang tahu aku berhubungan dengan siapa,” jawab Selena.Ada benarnya apa yang Selena katakan, tapi tetap saja Haris merasa heran melihat ketenangan Selena menghadapi masalah.Apa karena Selena merasa benar?Haris membaca pesan dari Anton, lelaki itu meminta Selena mengakui kalau dia adalah ayah kandung Haisa. Da

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 22. Curhat

    Bapak gila?” tanya Selena spontan.“Kok gila?”Haris menatapnya heran. Tangannya yang memang tidak pernah bisa diam kalau dekat dengan Selena, bergerak refleks merapikan anak rambut Selena yang sebenarnya sudah tertata rapi. Gerakan kecil yang terlalu akrab untuk sekadar atasan dan bawahan.“Tidak

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 15. Layani Aku!

    “Ngapain kita kesini, Pak?” tanya Selena heran ketika mobil yang dikemudikan oleh Haris bukan ke arah tempat meeting yang disebutkan.“Gapapa.”“Bapak bohong ada meeting diluar?” tanya Selena.Bos nya ini benar-benar penuh kejutan, tadi melarang sopir mengantarkan, sekarang malah mengubah arah.“Ga

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 14. Kunci Pintunya

    “Kamu ini apa-apaan sih? Jangan menuduh sembarangan!” kesal Anton sambil berdiri dan meninggalkan Selena dalam diam.“Aku tidak menuduh. Memang semalam kamu menyebut namanya,” jawab Selena.“Jangan melibatkan orang lain dalam rumah tangga kita!”Anton pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.Saat Sele

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 7. Aku Menginginkanmu

    Tubuh Selena merinding, dia bisa merasakan embusan nafas Haris begitu dekat. Tapi, dia tidak menghindar.Tin! Tin!Suara klakson dari dua motor satpam yang sedang berpatroli itu mengagetkan mereka.Sontak saja Haris langsung menarik dirinya, begitu juga dengan Selena.“Saya masuk dulu, Pak,” ujar S

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status