แชร์

Bab 177

ผู้เขียน: Hare Ra
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-03 09:17:01

"Ibu!" panggil Selena lagi.

Bu Meli membuka matanya kembali dan tersenyum, senyum yang sangat manis. Dan senyum itu diturunkan pada Haisa, begitu mirip.

"Bangun, Bu," ucap Selena memegang tangan ibunya.

Namun, mata wanita paruh baya itu kembali terpejam dan untuk selama-lamanya.

Perawat dan dokter masih mencoba untuk membantunya, tapi tetap tidak bisa lagi. Takdir sudah berkata lain.

Selena terdiam, dia memandangi wanita yang baru beberapa hari bertemu dengannya.

"Sayang..." panggil Haris merai
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 678

    “Selena, kamu kenapa?” tanya Bu Wati panik.Selena memejamkan matanya, perutnya terasa mual tapi hanya menyesak di dalam, tidak keluar muntahan. Wajahnya terlihat semakin pucat.“Gapapa, Bu. Mungkin masuk angin aja,” jawab Selena.“Semalam tidur jam berapa?”“Semalam Non Selena gak tidur, Bu. Baru tidur pagi ini, wajar kalau masuk angin. Bibi sudah siapkan ramuan herbal, rebusan jahe, sereh dan kunyit ditambah madu. Tapi, masih panas,” sahut Bi Ratih menimpali.Bu Wati mengurut pundak Selena, dan meminta minyak angin untuk dioleskan di tengkuk Selena. Berharap dengan itu sedikit mengurangi mualnya.“Astaga, kamu benar-benar masuk angin kalau begini.”Selena menghela napas berat setelah beberapa saat. Namun, setiap kali ia mencium bau durian itu rasa mualnya semakin menjadi-jadi.“Bu, kok aku mual cium bau durian,” ujar Selena lemah.Bu Wati langsung meminta Bi Ratih untuk membawa durian itu ke halaman belakang, agar baunya yang semerbak itu keluar dari rumah.Dan benar saja, Selena mu

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 677

    “Kalau dia sudah sah jadi istrimu, bawa saja kemanapun yang kamu mau. Aku tidak berhak melarang. Tapi, selagi kalian belum menikah, aku pasti melarang,” ucap Selena.Diujung telepon Yuda menghela napas berat. “Aku tahu.”“Baiklah, kamu sudah tahu. Dan aku tidak mau mendengar kalau kalian pergi diam-diam. Aku tidak pernah melarang kalian menikah, jadi jangan pergi diam-diam dariku. Bagaimanapun juga, Papa memberikan kepercayaan kepada aku dan Haris untuk menjaga Ara dan Tyas.”“Iya, Sel. Kamu kapan kesini?”“Aku sedang tidak enak badan. Mungkin siang atau bisa jadi besok.”“Terima kasih, Sel.”Panggilan itu berakhir, Selena menghela napas berat. Ia memejamkan matanya, terbayang bagaimana beratnya menjalani hubungan seperti Yuda dan Ara. Sebenarnya, lebih baik menolak sejak awal, konsisten hingga akhir seperti Bu Rita. Daripada seperti orang tua Yuda yang plin plan.“Pa, ternyata karma yang ditinggalkan Papa begitu berat untuk anak-anak Papa,” ucap Selena bergumam.Selena membuka matany

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 676

    “Nanti saya lihat dulu,” ujar Ari sambil mencuri pandang ke arah Miska.“Terima kasih, Pak Ari.”Miska ikut masuk ke dalam ruangan Haris, dan Aksa benar-benar sudah seperti bos yang sesungguhnya. Dia langsung duduk di kursi Haris, sambil meraih pena mencoret-coret pada kertas yang ada disana.“Astaga, jangan langsung tanda tangan gitu, Bos. Perlu dibaca,” ujar Ari dengan cekatan menyingkirkan dokumen penting agar tidak dicoret=coret Aksa.Haris tergelak. “Itu yang dia core tapa?”“Untungnya kertas gak penting,” jawab Ari.“Kak, aku ke bawah sebentar ya, mau ambil kertas kosong di ruang fotocopy untuk Aksa main. Nanti dia ganggu kerjaan kakak kalau gini,” ujar Miska.“Oke. Kamu sekalian pesankan makanan untuk Aksa ya. Dia suka makan soalnya.”“Eh, gak perlu ke bawah, Miska. Di mejaku banyak tuh kertas kosong, ruanganku kan ada printer khusus. Ngapain kamu capek-capek turun ke bawah?” sahut Ari.Dengan cepat Ari mengambilkan kertas dan diberikan kepada Miska. Setelah itu Miska membujuk

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 675

    “Terima kasih, Bintang,” ucap Selena.Bintang tersenyum. “Iya, Mama.”“Mama, kita sudah bersih-bersih kamar loh. Sampah juga sudah dibuang,” ucap Haisa melaporkan.Sepertinya, dia bangga sekali telah melakukan itu pagi ini. Sehingga dia tidak sabar langsung melaporkan pada sang ibu.“Oh ya, anak Mama hebat sekali,” puji Selena.Akhirnya, Selena dan Haris menemani anak-anaknya sarapan dan mengantarkan mereka berangkat sekolah.“Aksa biar sama aku aja, Sayang. Kamu istirahat aja,” ujar Haris setelah Bintang dan Haisa meninggalkan rumah.Haris menggendong Aksa dan sebelah tangannya meraih tangan Selena untuk mengajak sang istri masuk ke dalam rumah.“Kamu gak kerja?” tanya Selena.“Aksa ikut aku kerja aja.”Selena membulatkan matanya. “Mana boleh begitu.”“Tenang, Sayang. Di kantor kan ada Miska juga yang nanti bisa bantuin aku jagain Aksa kalau aku sibuk. Sebenarnya hari ini aku masih mau cuti aja, tapi banyak sekali pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Karena Yuda cuti, Afran juga

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 674

    “Mama dimana?” tanya Haisa heran, suaranya setengah berbisik. Biasanya juga seperti itu, setiap kali bangun tidur ia akan ke kamar ibunya dan memanggil ibunya.“Di bawah, tidur di sofa,” jawab Bintang.“Loh kok tidur dibawah? Kenapa gak di kamar? Papa mana?”Haisa memang si paling kritis, dia benar-benar ingin tahu. Apalagi, semalam sebelum tidur kedua orang tuanya ada di rumah dan semuanya baik-baik saja. Ia tahu ibunya sedih, tapi tetap saja heran kalau tidur di sofa.“Mama baru tidur, semalaman Mama gak tidur karena menunggu kabar dari rumah sakit, Tante Ara masuk rumah sakit. Dan papa sekarang masih di rumah sakit, melihat kondisi Tante Ara,” jawab Bintang menjelaskan.Haisa mengangguk paham. “Kak Bintang ngapain disini?”“Aku nungguin Aksa bangun, takut nanti dia bangun nyariin Mama dan nangis. Kasihan Mama baru tidur, dan juga takut Aksa kenapa-napa, takut dia maksa turun tangga sendirian,” jawab Bintang.“Oh. Kalau gitu aku mau ke Mama deh.”Bintang menahan Haisa. “Jangan gangg

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 673

    “Sabar gimana? Apa maksudnya?” tanya Selena.Semakin diminta untuk sabar, Selena semakin menunjukkan kepanikannya. Sebab, saat ini dalam pikirannya hanya ada dua kemungkinan, hidup atau tidak. Sejak semalam, tidak ada kabar yang menunjukkan Ara sudah membaik.Tiba-tiba saja Haris menelpon dengan ucapan pertama yang keluar memintanya sabar, apakah itu artinya Ara pun sudah pergi untuk selama-lamanya?“Kamu tenang dulu, Sayang. Aku belum bilang apa-apa.”“Cepat katakan, Sayang.”“Kondisi Ara sudah stabil, dia sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja saat ini dia belum sadarkan diri, tapi dokter mengatakan beberapa jam lagi dia akan sadar.”Selena menghela napas lega, ia mengelus dada. Rasanya ada beban yang rontok saat mendengar kondisi sang adik.“Kondisinya memang cukup mengkhawatirkan, terlambat sedikit saja Yuda membawanya ke rumah sakit kemungkinan kita akan kehilangan dia. Tapi, balik lagi semua sudah ketentuan Yang Maha Kuasa, hidup dan mati tidak bisa ditentukan. Syukurnya seka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status