Share

Bab 177

Author: Hare Ra
last update publish date: 2026-03-03 09:17:01

"Ibu!" panggil Selena lagi.

Bu Meli membuka matanya kembali dan tersenyum, senyum yang sangat manis. Dan senyum itu diturunkan pada Haisa, begitu mirip.

"Bangun, Bu," ucap Selena memegang tangan ibunya.

Namun, mata wanita paruh baya itu kembali terpejam dan untuk selama-lamanya.

Perawat dan dokter masih mencoba untuk membantunya, tapi tetap tidak bisa lagi. Takdir sudah berkata lain.

Selena terdiam, dia memandangi wanita yang baru beberapa hari bertemu dengannya.

"Sayang..." panggil Haris merai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 680

    “Sayang, spill dikit dong,” rayu Haris dengan wajah penuh harap.Selena tertawa. “Gak boleh, Sayang. Tunggu kamu pulang aja dan anak-anak kumpul.”“Astaga, aku jadi penasaran,” ucap haris.“Pokoknya tunggu kamu pulang aja.”Haris mengangguk. “Iya, Sayang. Aku dan Aksa akan pulang cepat. Ari dan Miska ngopi sekalian jemput Haisa, mereka akan kesini semuanya pulang bareng aku. Termasuk Bintang.”“Kok gitu? Ruangan kerja kamu jadi kayak pasar loh, apalagi bawa Haisa.”“Gapapa, Sayang. Daripada dia di rumah gangguin kamu, sedangkan kamu harus istirahat.”“Disini kan ada nenek dan kakeknya, pasti mereka senang.”“Sudah dijemput juga dan sudah disampaikan pada Raga kalau nanti pulangnya ke kantor.”Selena hanya menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan suaminya itu. Haris begitu perhatian padanya, bahkan ia tidak masalah kerjanya diganggu oleh anak-anaknya, asal jangan mereka mengganggu Selena beristirahat.Panggilan itu berakhir, Selena kembali istirahat di kamar, sedangkan Haris

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 679

    “Gimana, Sel?” tanya Bu Wati.Begitupun dengan Pak Herman, beliau tampak tidak sabaran untuk mengetahui hasilnya. Pasangan itu yang malah deg degan menunggu Selena menyampaikan hasil tespek itu.“Positif?” tanya Bu Wati lagi saat Selena belum juga menjawab.Selena masih berjalan lemas sambil memegang tespek itu. Dan akhirnya ia menunjukkan pada Bu Wati dan Pak Herman yang membuat pasangan paruh baya itu saling pandang, lalu berpelukan.“Kan, ternyata kamu hamil,” ujar Bu Wati yang langsung memeluk Selena erat.Selena sebenarnya masih bingung, bukan ia tidak senang dengan kehamilan ini hanya saja ia sedikit bingung karena sudah menggunakan alat kontrasepsi.“Akhirnya, kita akan punya cucu lagi, Bu,” sambung Pak Herman yang kini bergantian memeluk Selena, memberikan Selena ucapan selamat.“Kalau begitu, kita buat kejutan untuk Haris pas pulang kerja nanti, jangan beritahu dia sekarang, Sel.” Pak Herman kembali bersuara, sepertinya beliau yang paling bersuka cita menyambut calon cucunya.

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 678

    “Selena, kamu kenapa?” tanya Bu Wati panik.Selena memejamkan matanya, perutnya terasa mual tapi hanya menyesak di dalam, tidak keluar muntahan. Wajahnya terlihat semakin pucat.“Gapapa, Bu. Mungkin masuk angin aja,” jawab Selena.“Semalam tidur jam berapa?”“Semalam Non Selena gak tidur, Bu. Baru tidur pagi ini, wajar kalau masuk angin. Bibi sudah siapkan ramuan herbal, rebusan jahe, sereh dan kunyit ditambah madu. Tapi, masih panas,” sahut Bi Ratih menimpali.Bu Wati mengurut pundak Selena, dan meminta minyak angin untuk dioleskan di tengkuk Selena. Berharap dengan itu sedikit mengurangi mualnya.“Astaga, kamu benar-benar masuk angin kalau begini.”Selena menghela napas berat setelah beberapa saat. Namun, setiap kali ia mencium bau durian itu rasa mualnya semakin menjadi-jadi.“Bu, kok aku mual cium bau durian,” ujar Selena lemah.Bu Wati langsung meminta Bi Ratih untuk membawa durian itu ke halaman belakang, agar baunya yang semerbak itu keluar dari rumah.Dan benar saja, Selena mu

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 677

    “Kalau dia sudah sah jadi istrimu, bawa saja kemanapun yang kamu mau. Aku tidak berhak melarang. Tapi, selagi kalian belum menikah, aku pasti melarang,” ucap Selena.Diujung telepon Yuda menghela napas berat. “Aku tahu.”“Baiklah, kamu sudah tahu. Dan aku tidak mau mendengar kalau kalian pergi diam-diam. Aku tidak pernah melarang kalian menikah, jadi jangan pergi diam-diam dariku. Bagaimanapun juga, Papa memberikan kepercayaan kepada aku dan Haris untuk menjaga Ara dan Tyas.”“Iya, Sel. Kamu kapan kesini?”“Aku sedang tidak enak badan. Mungkin siang atau bisa jadi besok.”“Terima kasih, Sel.”Panggilan itu berakhir, Selena menghela napas berat. Ia memejamkan matanya, terbayang bagaimana beratnya menjalani hubungan seperti Yuda dan Ara. Sebenarnya, lebih baik menolak sejak awal, konsisten hingga akhir seperti Bu Rita. Daripada seperti orang tua Yuda yang plin plan.“Pa, ternyata karma yang ditinggalkan Papa begitu berat untuk anak-anak Papa,” ucap Selena bergumam.Selena membuka matany

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 676

    “Nanti saya lihat dulu,” ujar Ari sambil mencuri pandang ke arah Miska.“Terima kasih, Pak Ari.”Miska ikut masuk ke dalam ruangan Haris, dan Aksa benar-benar sudah seperti bos yang sesungguhnya. Dia langsung duduk di kursi Haris, sambil meraih pena mencoret-coret pada kertas yang ada disana.“Astaga, jangan langsung tanda tangan gitu, Bos. Perlu dibaca,” ujar Ari dengan cekatan menyingkirkan dokumen penting agar tidak dicoret=coret Aksa.Haris tergelak. “Itu yang dia core tapa?”“Untungnya kertas gak penting,” jawab Ari.“Kak, aku ke bawah sebentar ya, mau ambil kertas kosong di ruang fotocopy untuk Aksa main. Nanti dia ganggu kerjaan kakak kalau gini,” ujar Miska.“Oke. Kamu sekalian pesankan makanan untuk Aksa ya. Dia suka makan soalnya.”“Eh, gak perlu ke bawah, Miska. Di mejaku banyak tuh kertas kosong, ruanganku kan ada printer khusus. Ngapain kamu capek-capek turun ke bawah?” sahut Ari.Dengan cepat Ari mengambilkan kertas dan diberikan kepada Miska. Setelah itu Miska membujuk

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 675

    “Terima kasih, Bintang,” ucap Selena.Bintang tersenyum. “Iya, Mama.”“Mama, kita sudah bersih-bersih kamar loh. Sampah juga sudah dibuang,” ucap Haisa melaporkan.Sepertinya, dia bangga sekali telah melakukan itu pagi ini. Sehingga dia tidak sabar langsung melaporkan pada sang ibu.“Oh ya, anak Mama hebat sekali,” puji Selena.Akhirnya, Selena dan Haris menemani anak-anaknya sarapan dan mengantarkan mereka berangkat sekolah.“Aksa biar sama aku aja, Sayang. Kamu istirahat aja,” ujar Haris setelah Bintang dan Haisa meninggalkan rumah.Haris menggendong Aksa dan sebelah tangannya meraih tangan Selena untuk mengajak sang istri masuk ke dalam rumah.“Kamu gak kerja?” tanya Selena.“Aksa ikut aku kerja aja.”Selena membulatkan matanya. “Mana boleh begitu.”“Tenang, Sayang. Di kantor kan ada Miska juga yang nanti bisa bantuin aku jagain Aksa kalau aku sibuk. Sebenarnya hari ini aku masih mau cuti aja, tapi banyak sekali pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Karena Yuda cuti, Afran juga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status