Beranda / Romansa / Bos, Jangan! Nanti Ketahuan / Bab 37. Aku Menyusulmu

Share

Bab 37. Aku Menyusulmu

Penulis: Hare Ra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 09:55:43

"Auuu!" teriak Billy tidak sempat menghindar.

Cengkramannya pada Selena terlepas, dan Selena langsung memeluk tubuhnya dengan gemetar.

Bugh! Bugh!

Billy babak belur dihajar tanpa perlawan, karena posisinya terjepit. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.

"Selena, ayo pulang."

Selene mendongak.

"Pak Haris?"

Bahkan sejak tadi dia tidak sadar kalau yang datang dan menghajar Billy adalah Haris.

Dia pikir itu Anton yang menyusulnya ke toilet.

Selena langsung memeluk Haris dan menangis, meluapkan semua ketakutannya.

"Sudah aman, ayo kita pulang."

Selena mengangguk. Haris telah memberikannya rasa aman lebih dari apapun.

Haris menarik tubuh Billy dan menyeretnya ke meja Anton dan teman-temannya.

Bruuk!

Haris melemparkan tubuh Billy yang babak belur ke hadapan mereka.

"Billy?" panggil mereka bingung.

Dan Anton lebih terkejut juga bingung lagi saat melihat Selena berantakan dan ada Haris disana.

"Pak Haris?"

"Selena?"

"Kenapa Bapak disini?" tanya Anton kembali pada Haris.

"Aku memang sedang berada
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 119

    “Kenapa kenal dengan Anton?” tanya Bu Tini sambil menatap Haris penuh selidik.Tatapan itu tajam, seolah sedang menguliti Haris dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sepertinya, sampai detik ini pun mereka belum puas mencari celah untuk kembali menyalahkan Selena. Seolah apapun yang terjadi, selalu ada kesalahan yang bisa diarahkan pada wanita itu.“Ini Pak Haris, bos aku dulu, Ma,” jawab Anton pelan, nyaris tidak berani mengangkat wajah.“Yang dulu mentransfer uang?”“Iya, Ma.”“Jadi selama ini dia memang selingkuh? Kenapa kamu gak buka aib dia? Jangan hanya kamu yang disalahkan,” tanya Bu Tini lagi, nadanya meninggi.Selena menarik napas dalam-dalam. Kesabarannya benar-benar berada di batas paling tipis. Tangannya refleks menggenggam pergelangan Haris, berniat mengajaknya pergi dan mengakhiri semua ini.“Bu, yang selingkuh itu anak Ibu, bukan aku,” jawab Selena akhirnya, suaranya dingin dan tegas.Ia benar-benar menarik Haris, berniat melangkah pergi. Namun Haris justru menghentikann

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 118

    “Mama, mau es kim.” Haisa menarik tangan Selena sambil menunjuk ke sebuah kedai es krim yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.Sebenarnya, sejak tadi Haisa sudah merengek kepada Haris. Namun sang ayah belum mau menuruti keinginannya karena mereka belum makan siang. Haris berjanji es krim itu bisa dibeli setelah perut Haisa terisi. Menurutnya, perut kosong lalu diisi makanan dingin bukan ide bagus.Namun seperti anak kecil pada umumnya, Haisa tidak menyerah begitu saja. Kalau satu orang menolak, masih ada orang lain yang bisa diajak bersekutu. Kali ini targetnya adalah ibunya. Meski peluang dikabulkan lebih kecil, Haisa tetap mencoba.“Nak, es krimnya nanti ya,” ujar Haris sambil mendekat, mencoba menenangkan.Haisa mendengus kecil, bibirnya maju ke depan, tanda protes yang mulai muncul.“Pak Haris?”Haris mendongak. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di depan. “Pak Anton? Ada di sini juga? Kok jadi merasa dunia ini semakin sempit ya.”Anton

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 117

    “Kamu tidak tahu akibatnya ke aku nantinya,” gumam Selena lirih. Tatapannya menunduk, seolah beban di dadanya terlalu berat untuk diangkat dengan kata-kata.Haris meraih tangan Selena, menggenggamnya dengan mantap. Dia menatap wajah wanita itu lekat, memastikan Selena benar-benar mendengarnya. “Sel, Pak Dirga bukan orang yang mudah menghakimi. Dia tidak akan menyebarkan cerita ini ke mana-mana sampai kamu sendiri siap. Seperti kamu percaya Mala dan Bian, seperti itu juga aku percaya Pak Dirga.”Selena menghela napas panjang. “Kamu baru kenal sama beliau. Kenapa bisa langsung percaya?”“Dia anak buahku juga,” jawab Haris tenang. “Aku menilainya dari caranya bekerja, dari sikapnya selama ini. Dan aku percaya.”“Bagaimana kalau dia tidak seperti yang kamu yakini?” Selena masih belum sepenuhnya yakin. Ada ketakutan yang sulit ia jelaskan, takut jika hidupnya kembali berantakan hanya karena satu keputusan.Haris tidak langsung menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Selena sedikit lebih era

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 116

    “Saya masih menunggu Bian,” ujar Haris, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meskipun pikirannya tidak berhenti berputar.Apalagi melihat tatapan mata Pak Dirga. Lelaki itu sudah dewasa, dia paham apa yang sebenarnya terjadi yang dilihatnya.Pak Dirga berjalan mendekat ke ranjang Selena. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran kepada admin kebanggaannya yang sangat pintar.“Bian masih di kantor polisi, Pak. Tadi Dion langsung kita serahkan ke pihak berwajib. Jujur saja, tidak ada yang menyangka akan sejauh ini. Selama ini Dion terlihat baik, sopan, dan tenang,” jawab Pak Dirga.Haris hanya mengangguk singkat. Pikirannya kembali ke kejadian di kantor, saat pintu ruangan itu didobrak dan Selena tergeletak dengan darah mengalir di kepalanya. Setiap detailnya masih terlalu jelas.Beberapa rekan kerja bergantian masuk ke kamar Selena. Mereka membawa buah, bunga, dan kata-kata penguatan. Namun, tatapan mereka tidak sepenuhnya netral. Ada rasa penasaran

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 115

    “Jangan berkata seperti itu,” ujar Haris mengelus kepala Selena dengan lembut.“Tapi—““Bukan kamu yang salah, tapi dia. Dan percaya padaku, dia akan menyesal setelah ini.”Airmata Selena tidak mau berhenti, rasanya begitu sesak kalau mengingat bagaimana Dion memaksanya. Lelaki itu yang selama ini terlihat santai dan sabar, dia mendekati Selena dengan caranya.Tapi, entah mengapa hari ini Dion seperti kerasukan setan.“Aku mau pulang,” rengek Selena kemudian.Selena sudah merasa baik-baik saja, dia terbayang Haisa akan mencarinya nanti kalau dia tidak pulang. Sekalipun Haisa dekat dengan Bu Wati, tapi Haisa setiap sore akan selalu menunggu kedatangan ibunya.“Kamu masih harus perlu dirawat, Sel. Besok kita akan cek kepala kamu, takutnya ada masalah dari benturan tadi,” jawab Haris.“Aku gapapa kok.”“Kita gak tahu ada apa-apa atau gaknya kalau gak periksa, Sel.”Selena menggelengkan kepalanya. “Haisa sendirian.”“Aku sudah menelpon Ibu, sudah memberitahukan keadaan kamu disini. Dan ib

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 114

    “Hah?”Bian tampak bengong, matanya menatap kosong tanpa fokus. Teriakan Mala justru membuat kepalanya semakin penuh. Otaknya seakan berhenti bekerja.Bau darah yang menyengat hidungnya membuat dadanya mendadak sesak. Napasnya memburu, keringat dingin muncul di pelipis. Trauma lama itu datang tanpa permisi.“Bian!” bentak Mala lagi, kali ini lebih keras.Haris yang mendengar teriakan Mala itu tersentak. Ia tidak menunggu lebih lama. Dengan gerakan cepat, ia segera menggendong tubuh Selena dengan hati-hati. Wajah Selena pucat, darah mengalir di bawah kepalanya, membuat jantung Haris serasa diremas kuat-kuat.“Aku akan membawanya ke rumah sakit!” ucap Haris tegas.Mala segera menarik tangan Bian agar ikut bergerak. Langkah Haris panjang dan cepat menuju mobilnya.Di belakang mereka, beberapa karyawan sudah mengamankan Dion. Lelaki itu terduduk lemas, wajahnya babak belur, sudut bibirnya berdarah. Matanya terpejam, seolah baru sadar dengan apa yang telah ia lakukan.Sebelum benar-benar p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status