Share

Bab 35 KAU RATUKU

Author: AlenU
last update publish date: 2026-05-28 17:13:32

Moana menatap uluran tangan Rey, lalu beralih pada deretan pelayan berseragam rapi yang berdiri membungkuk hormat di dekat undakan tangga marmer. Jantungnya berdegup begitu keras, menciptakan sensasi gemuruh yang seolah memekakkan telinganya. Rasa nyeri yang samar di bagian bawah tubuhnya kembali berdenyut, mengingatkannya pada intensitas pergulatan intim mereka tadi pagi di apartemen.

​Melihat Moana yang sempat ragu dengan wajah yang sedikit pucat, gurat kekhawatiran kembali tercetak jelas di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 50 DESAKAN PERJODOHAN

    ​Moana, yang tampak anggun mengenakan kebaya modern berwarna salem dengan rambut yang disanggul modern sederhana, berdiri di samping ibunya. Ia membagikan senyum terbaiknya kepada setiap tamu yang datang, menyodorkan buku tamu, dan memberikan suvenir dengan ramah. Tugas itu awalnya terasa menyenangkan, hingga rombongan ibu-ibu dari lingkungan sekitar dan beberapa kerabat jauh mulai berdatangan dalam gelombang yang lebih besar.​Saat itulah, bisik-bisik yang tidak nyaman mulai merayap ke telinganya.​"Lho, ini Moana, kan? Anaknya Pak Dosen? Pangling ya, tambah cantik setelah kerja di kota," puji seorang wanita paruh baya berkalung emas tebal. Namun, kalimat itu tidak berhenti di sana. "Tapi, Sinta yang lebih muda saja sudah sah hari ini. Moana kapan menyusul? Dia kan sudah waktunya nikah juga, usianya sudah lebih dari cukup untuk seorang gadis menikah. Jangan terlalu asyik mengejar karier di kota besar, nanti malah kelewatan."​Senyum di wajah Moana seketika membeku. Kalimat serupa, de

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 49 ADA AJA GODAANNYA.

    Pagi hari di pedesaan selalu membawa aroma yang khas, perpaduan antara embun yang membasahi dedaunan, tanah basah, dan wangi kayu terbakar dari dapur-dapur tetangga. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar seketika menyadarkan Moana dari tidur nyenyaknya. Rasa lelah akibat perjalanan lima jam semalam telah menguap, digantikan oleh kesegaran udara kampung halaman yang mustahil ia dapatkan di ibu kota.​Moana meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu melirik ponsel di atas meja di samping ranjangnya. Ada satu pesan singkat dari Rey yang dikirimkan pada sepertiga malam. “Selamat pagi, Sayang. Semoga tidurmu nyenyak. Jangan lupa sarapan.” Senyum Moana langsung merekah. Dengan suasana hati yang membubung indah, ia bergegas mandi dan bersiap.​Ketika melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah, pendengaran Moana langsung menangkap sayup-sayup obrolan yang akrab dan hangat. Di meja makan kayu jati yang terletak di dekat dapur, dua orang paling berharga dala

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 48 TERHALANG JARAK RATUSAN KILO METER

    Malam semakin larut ketika keintiman yang hangat itu perlahan berganti menjadi keheningan yang berat akan perpisahan. Jam dinding di kamar apartemen Rey menunjukkan pukul setengah enam sore ketika bunyi alarm dari ponsel Moana memecah kesunyian. Moana tersentak pelan, menyadari bahwa waktu indahnya bersama Rey harus terjeda oleh realitas.​"Rey, travel ku akan menjemput sebentar lagi," bisik Moana lirih, suaranya masih agak serak.​Rey tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat pelukannya pada tubuh mungil Moana, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu sembari menghirup aroma familier yang pasti akan sangat dirindukannya beberapa hari ke depan. Dengan berat hati, Rey akhirnya melonggarkan pelukannya. Ia mengecup kening Moana lama sekali, seolah sedang menyalurkan seluruh energi dan perlindungan untuk perjalanan kekasihnya.​Mereka pun bersiap. Rey dengan telaten membantu Moana merapikan pakaian dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ketika mobil travel berwarna p

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 47 PENYATUAN YANG HANGAT SEBELUM PERPISAHAN

    ​Moana buru-buru menyembunyikan kartu ucapan tersebut ke dalam laci mejanya, mengabaikan godaan bertubi-tubi dari rekan-rekan kerjanya yang masih menatap buket mawar raksasa itu dengan mata berbinar. Jantungnya berdegup kencang, memompakan kebahagiaan yang memuncak hingga ke ujung jemari. Mengambil ponselnya dengan gerakan samar di bawah meja, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan sesuatu untuk sang CEO.​Moana: Pak CEO, ini berlebihan sekali! Satu kantor langsung heboh. Tapi... terima kasih banyak untuk bunganya yang cantik dan cokelatnya. Aku suka sekali. Pria pemilik huruf R ternyata bisa romantis juga ya?​Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponsel Moana bergetar di telapak tangannya.​Rey: Apapun untuk membuat senyum itu kembali di wajahmu, Sayang. Habiskan cokelatnya, dan pastikan kamu tidak kelelahan. Aku tidak sabar menunggu jam pulang kantor.​Membaca balasan itu, Moana harus menggigit bibir dalamnya kuat-kuat agar tidak memekik pelan di tempat. Sisa h

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 46 AKTIVITAS PANAS DI RUANG KANTOR

    ​Setelah pagutan panjang yang melepas seluruh rindu yang tertahan sejak pagi, Rey tidak membiarkan Moana menjauh begitu saja. Dengan gerakan protektif yang posesif, ia menuntun Moana menuju sofa kulit berukuran besar di sudut ruang kerjanya. Rey mendudukkan dirinya terlebih dahulu, lalu menarik Moana ke dalam pangkuannya, mendekap tubuh mungil itu erat-erat seolah sang kekasih bisa menghilang dalam sekejap mata jika ia melonggarkan pelukannya.​"Rey, astaga... ini masih jam kantor. Bagaimana kalau ada yang tiba-tiba mengetuk pintu?" bisik Moana panik, meskipun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia sangat menikmati kehangatan dada bidang Rey yang berdegup kencang. ​Rey justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Moana, menghirup aroma familier yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya yang tegang setelah menghadapi tumpukan dokumen perusahaan. "Biarkan saja. Pintu sudah dikunci, dan tidak ada yang boleh menggangguku saat ini. Aku tidak bisa lama-lama tanpamu, Moana

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 45 KEINTIMAN YANG MENGALIR

    ​Tiba-tiba, sebuah binar antusias terpancar dari sepasang mata indah Moana. Ia menegakkan tubuhnya, menepis sisa-sisa kesedihan yang baru saja mereka bahas. "Oh ya, Rey! Ada satu hal lagi yang belum kuberi tahu padamu," ucap Moana dengan nada suara yang naik satu oktav, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.​Rey menaikkan sebelah alisnya, tersenyum geli melihat perubahan ekspresi kekasihnya yang begitu cepat. "Apa itu, hm?"​"Buku novel romansa dewasaku... yang versi digitalnya sangat laris itu, bulan depan akan segera terbit cetak!" seru Moana riang. Tangannya bergerak antusias di udara. ​Moana menunggu reaksi heboh atau setidaknya gurat terkejut dari wajah Ret. Namun, Rey justru mengecup ujung hidung Moana dengan gemas.​"Selamat, Sayang. Aku tahu kerja kerasmu pasti akan membuahkan hasil yang luar biasa," ucap Rey tenang, suaranya terdengar begitu bangga.​Moana mengerutkan keningnya, sedikit kecewa karena reaksinya terlalu datar. "Kok kamu biasa saja sih, Rey?"​Rey terkekeh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status