로그인"Oh ya Tuan Rey, bisakah anda membocorkannya sedikit pada kita semua, apakah wanita yang sesuai kriteria tuan Rey ada di sini, diantara kita?"
Rey menatap ke arah Moana kembali. Tersenyum sekilas sebelum menjawabnya. "Ya, dia ada di sini." Dan ucapan tersebut mampu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut ikut menatap kemana tatapan mata Rey berada. Dan tepat detik itu juga, datanglah seorang wanita cantik yang baru masuk, kebetulan pintunya ada di belakang tubuh Moana. Tampak semua orang yang melihat kedatangan wanita tersebut begitu puas. Mereka benar-benar tidak akan percaya jika yang Rey maksud adalah Moana. Wanita cantik itu mendekat ke arah si pembawa acara, memberi isyarat seakan ia baru saja tiba di tempat dan telat. "Waaaaahhh... kami menantikan kabar baiknya Tuan Rey," ucap si pembawa acara tersebut. Hingga acara tersebut selesai, wanita itu lalu mendekat ke arah Rey yang masih duduk di tempatnya. "Kenapa kamu meninggalkanku Rey? bukankah kau baru datang tadi ke perusahaan, harusnya kau mencariku untuk urusan begini dan bukan malah membawa Asisten yang... jauh dari kata enak di pandang." "Kenapa aku harus membawamu? dan sejak kapan keputusanku harus aku katakan padamu?" balas Rey. "Di perusahaan kan kamu hanya kenal baik aku saja, dan acara ini pun rasanya kurang pantas jika seorang Rey membawa Asisten yang... " ucap wanita itu yang tertahan karena Rey sudah menyahutnya. "Kau hanya teman biasa bagiku, dan acara ini juga sudah tiga bulan yang lalu aku terima. Jadi, siapa yang aku ajak datang ke sini juga bukan urusanmu," balas Rey yang lalu beranjak dari tempat kemudian melewati wanita itu begitu saja menuju ke arah Moana. "Ayo!" ajak Rey. Moana lalu mengekori Rey seperti apa yang lelaki itu inginkan. "Ki kita mau ke mana Bos?" ucapnya dengan nada suara lirih, saat mereka akan masuk ke dalam mobil. "Kau yang bawa mobilnya, kembali ke apartemen," balas Rey. "Tapi, Bos. Asiaten anda masih menunggu di kantor," balas Moana sembari masuk ke dalam mobil setelah Rey masuk. "Biarkan saja. Nanti kalau dia butuh pasti datang ke rumah." Akhirnya mereka kembali ke apartemen sore itu. Tidak berselang lama mereka tiba di lantai 42 dimana apartemen mereka yang bersebelahan. "Pak Rey, berhubung acara anda sudah selesai, bisakah saya kembali pulang sekarang?" tanya Moana. Wanita itu mengira tugasnya sudah selesai dan ia diperbolehkan untuk kembali pulang. Bahkan tanpa menunggu jawaban Rey, Moana sudah melangkah akan menuju ke pintu apartemennya. Untuk sesaat Rey terdiam sembari menatap kearah Moana berada. "Untuk merevisi naskah novel panas kamu itu?" Moana terperanjat di tempat. Wanita itu lalu berbalik menghadap ke arah Rey kembali. "Bisakah anda tidak terus menyebutkan itu?" Rey menggeleng pelan. "Aku suka menggodamu dengan cara demikian." "Lalu apa yang pak Rey mau dari saya? pak Rey dapat apa dari menggoda saya?" ucap Moana yang tampak protes. "Aku lapar, buatkan aku makanan." Ucap Rey yang lalu membuka pintu apartemennya dan tampak tidak merasa bersalah. Sedangkan Moana masih terdiam mematung di tempat. "Tunggu apa lagi? masuk!" ucap Rey yang menyadarkan Moana dan membuat wanita itu akhirnya ikut masuk ke dalam apartemen Rey. Seketika itu pula kedua mata Moana membelalak saat melihat keseluruhan ruangan yang di dominasi warna abu arang. Kontras dengan ruangan yang ada di apartemen Moana. Rey melepas jas yang ia kenakan, meletakkannya asal-asalan di atas sofa. Sedangkan ia sendiri terduduk di sofa yang menghadap langsung ke arah jendela besar setinggi langit-langit. Tirai otomatis terbuka perlahan hingga apartemen yang berada di lantai 42 itu pun langsung bisa menatap pemandangan kota sore itu. "Kau bisa membuat makanan apa?" tanya Rey. Moana hanya bisa mendengus pelan. "Aku hanya bisa masak nasi goreng." "Yasudah, buatkan itu saja," balasnya. Moana lalu berjalan menuju ke arah dapur. Dapur yang begitu bersih dan rapi, terlihat jarang di gunakan tapi menyimpan semua perlengkapan masak yang lengkap dan fungsional. Wanita itu lalu menghentikan langkah kakinya sejenak. "Eh, bukankah saat ini sudah waktunya pulang kerja? haruskah aku langsung pergi saja? masak di sini bukan pekerjaanku." Dan saat Moana akan protes pada atasannya tersebut, lelaki itu sedang tertidur dengan kepala menyandar pada sofa yang ia tempati. "Dia tidur begitu saja?" suaranya lirih. "Apa terlalu melelahkan hanya berkeliling kantor?" Moana melihat ada yang tidak beres di sana. Wajah memerah bosnya tersebut tampak tidak biasa. "Apa dia sakit?" Wanita itu segera bergegas menuju ke arah Bosnya, mengulurkan salah satu tangannya dan menyentuh dahi Rey. "Hua, panas sekali?" Ternyata Rey segera membuka mata, menarik tangan itu yang lalu membuat Moana ambruk menindih tubuh Rey seketika. "Ugh," suara Rey mengaduh pelan. "Kau mau apa? mau mencuri kesempatan saat aku tidak berdaya?" ucap Rey dengan tangan yang masih memegangi pinggang ramping Moana dan menahannya. "Kau yang menarik ku! lepaskan aku!" ucap Moana sembari meronta dari pelukan Rey. Lelaki itu lalu semakin mengeratkan pelukannya. Dagunya dengan nyaman menyandar pada salah satu sisi pundak Moana. Wanita itu bisa mencium aroma parfum maskulin yang menyegarkan meskipun saat itu sudah sore. "Kau harus tanggung jawab padaku. Gara-gara naskah novelmu yang tidak sengaja aku baca. Aku jadi mandi air dingin kemarin dan sekarang aku merasakan tubuhku panas."Ayah Moana menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan malam menyelimuti ruang tamu selama beberapa saat sebelum akhirnya beliau kembali bersuara. Tatapan matanya yang teduh namun tajam menembus langsung ke dalam manik mata Arga, mencoba mencari celah kebohongan yang mungkin tersembunyi di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sorot mata seorang pria yang sedang bertaruh demi masa depannya."Arga," panggil Ayah Moana, suaranya berat dan sarat akan penekanan. "Moana ini adalah putri kami satu-satunya. Dia adalah anak perempuan tunggal yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang, kami rawat dengan cucuran keringat, dan kami jaga kehormatannya sejak dia masih bayi hingga sebesar ini. Bagi kami, dia adalah harta paling berharga yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun."Arga mendengarkan dengan khidmat, tidak berani menyela sepatah kata pun."Jadi, dengarkan saya baik-baik," lanjut Ayah Moana, nada suaranya mengeras, memancarkan wibawa seorang kepala keluarga. "Kalau kedatan
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Moana, lalu mengangguk mantap dengan sorot mata yang mengunci seluruh keraguan wanita itu.Melihat kesungguhan di mata Arga, Ayah Moana akhirnya menghela napas panjang. Ketegangan yang sempat menguar di teras rumah lambat laun mencair, digantikan oleh atmosfer yang jauh lebih tenang, walau sisa-sisa keterkejutan masih menggelayuti benak mereka."Sudah, tidak enak dilihat tetangga kalau bicara di luar seperti ini," ucap Ayah Moana sambil membetulkan letak sarungnya. "Mari masuk ke dalam. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin."Mereka berempat kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah Moana yang sederhana. Dindingnya yang bercat putih bersih dihiasi beberapa foto keluarga, kontras dengan sosok Arga yang malam ini tampak begitu mencolok dengan setelan jas mahalnya. Arga dan Moana duduk berdampingan di sofa kayu panjang, sementara Ayah dan Ibu Moana duduk di hadapan mereka.Namun, ketenangan di dalam ruangan itu tidak b
Pria itu merapikan jas hitamnya sekilas, lalu melangkah mantap mendekati pagar. Sorot lampu mobil yang begitu terang membuat siluet tubuhnya tampak begitu tegas dan dominan. Ayah dan Ibu Moana spontan maju satu langkah, bersiap menyambut orang asing tersebut dengan keramahan khas orang desa."Selamat malam, Bapak, Ibu," sapa Arga dengan suara yang terdengar berwibawa namun menyiratkan kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. "Maaf mengganggu kenyamanan malam-malam begini. Saya mau bertanya, apa benar ini alamat rumah Moana?"Belum sempat Ayah atau Ibu Moana membuka mulut untuk menjawab, pandangan Arga secara tidak sengaja melewati bahu kedua orang tua itu. Di ambang pintu yang remang-remang, ia menangkap sosok wanita yang dicarinya setengah mati sejak sore tadi. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan wajah pucatnya yang terbelalak kaget sama sekali tidak mengurangi pengenalan Arga."Moana!" seru Arga, matanya seketika berbinar mengabaikan rasa lelahnya.Tanpa mempedulikan etika
"Danu ada urusan mendadak di kantornya, Bu. Katanya ada berkas penting yang harus segera dia periksa sore ini juga," dusta Moana, menyusun alasan selogis mungkin agar ibunya tidak menaruh curiga. "Dia tadi mau pamit langsung ke Ibu, tapi saya larang karena Ibu lagi sibuk di dalam. Jadi, Danu titip salam dan permohonan maaf saja tadi sama Ibu."Mendengar penjelasan itu, helaan napas kecewa terdengar berat dari mulut ibunya. "Aduh, sayang sekali ya. Padahal Ibu sengaja panaskan kue lapis ini buat dia. Jarang-jarang ada pemuda sesopan dan punya tata krama seperti Danu itu, Moana. Tadi siang di gedung pernikahan saja, tantemu tidak berhenti memujinya." Ibu Moana menggeleng-gelengkan kepala sambil merapikan piring kue yang kini terasa sia-sia. "Ya sudah kalau begitu. Kamu juga kenapa masih berdiri di situ? Wajahmu pucat sekali, seperti orang kurang tidur."Moana menyentuh pipinya sendiri, merasakan sensasi dingin di kulitnya. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh s
"Arga, jangan nekat! Jarak dari kota ke sini itu butuh waktu berjam-jam, kamu jangan..."Belum sempat Moana menyelesaikan kalimatnya, layar ponselnya sudah berubah gelap. Arga memutuskan panggilan video itu secara sepihak, meninggalkan Moana yang terpaku dengan dada yang bergemuruh hebat karena cemas. Ia tahu betul jika Arga sudah berada di titik puncaknya, laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Merutuki situasi yang mendadak menjadi begitu rumit dalam hitungan menit.Di seberang meja kecil itu, Danu yang sejak tadi menyimak perdebatan Moana di telepon tampak terdiam. Senyum menawan yang sebelumnya ia pamerkan kini telah memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. Danu meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan kaca dengan bunyi denting. Udara sore di teras itu mendadak terasa jauh lebih dingin."Moana," panggil Danu dengan nada suara yang kini jauh lebih serius, kehilangan nada menggoda yang ia gunakan sejak siang tadi. "Laki-laki di telepon tadi...
Begitu kakinya melangkah turun dari anak tangga pelaminan, Moana langsung mengembuskan napas panjang, berharap bisa segera meloloskan diri ke ruang ganti. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Danu, yang sejak tadi mengekor di belakangnya, dengan cekatan langsung memotong jalan dan berdiri tepat di hadapan Moana."Moana, tunggu sebentar," ucap Danu sembari menyunggingkan senyum yang menurutnya paling menawan. "Tadi di atas kita belum sempat mengobrol formal. Saya Danu. Ibu kita sebenarnya masih sepupu jauh. Boleh saya minta nomor WhatsApp kamu? Biar kalau sama-sama balik ke kota nanti, kita bisa janjian ngopi."Moana baru saja membuka mulut untuk menyusun penolakan yang paling halus, ketika tiba-tiba rombongan ibunya, bersama Bulik dan para uwak yang usil, merapat bagikan barikade yang mengunci ruang geraknya."Lho, Danu! Pintar ya curi-curi kesempatan," goda Bulik dengan tawa renyah yang sengaja dikeras-keraskan.Ibu Moana ikut tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedekatan k
Sekilas tatapan mata mereka bertemu, datar, dingin. Tubuh itu berdiri di depan Moana membelakanginya."Kenapa harus bertemu di sini?"Sesaat Moana tanpak memberi nilai setiap inci postur tersebut. Bahkan yang paling menyita perhatian Moana adalah wajahnya, wajah tampan dengan sorot mata tajam yang
Ujung-ujung bibir merah muda alami gadis itu berkedut. Jilatan lembut yang basah masih terasa nyata, membuat rambut halus di sepanjang tubuhnya menggelenyar. Darah berdesir menderu kencang di telinga saat lelaki itu menyusup masuk, menggoda lidah, memagut manis bibir bagian bawah dan atasnya secara
"Ingin sekali rasanya saat ini aku mengubur diriku ke dalam lautan pasir. Atau menghilang seperti kabut." Kini Moana tidak bisa mengelak lagi jika naskah novel itu adalah miliknya sendiri. Penyamarannya sudah terbongkar dan kemungkinan besar akan tersebar cepat atau lambat. Hingga hidangan yang
Moana membelalakkan mata karena terkejut. "Ba baik bos, saya akan iku."Setelah keluar dari ruangan Bosnya, Moana segera menuju ke tempat meja kerjanya kembali, ia segera merapikan tempatnya karena sudah pasti tugasnya di kantor hari itu sudah selesai. Ia harus mengikuti bosnya untuk acara wawancar







