Share

40. Jarak

last update Tanggal publikasi: 2026-07-31 02:10:00

Sejak melangkah masuk ke lantai eksekutif pagi itu, Lara telah memancarkan aura yang berbeda. 

Ucapan sang ayah terus bergema di kepalanya bagaikan dentang lonceng yang memperingatkan tentang batas, norma, dan jurang status sosial.

Saat menyerahkan dokumen laporan harian ke meja kerja Damian, Lara berdiri dengan jarak dua langkah penuh.

"Ini dokumen revisi untuk rapat siang nanti, Pak Damian," ujar Lara dengan suara datar.

Damian, yang sedang menatap layar lap

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   152. Quality Time

    Mobil hitam itu merayap lambat di jalan lingkar yang memutari taman kota. Damian memegang kemudi dengan satu tangan, sementara kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati deretan trotoar dengan kening berkerut dalam. Matanya menatap para pedagang kaki lima seolah sedang memindai laporan keuangan bermasalah."Itu bukan?" tunjuk Damian ke arah sebuah gerobak kayu kecil di dekat halte bus.Lara mencondongkan tubuhnya ke kaca depan, lalu mendengus geli seraya menepuk lengan pria itu. "Damian, itu bapak sol sepatu. Mana ada es krim digantung pakai benang nilon sama palu?""Lalu yang payung merah di seberang sana?" tanya Damian lagi, sama sekali tidak putus asa."Itu siomay!" sahut Lara, tawanya pecah melihat ekspresi serius di wajah mantan CEO tersebut. "Cari yang gerobaknya ada ember kaleng seng besar di tengahnya, biasanya ada tulisan Es Potong Celup. Dan yang jual biasanya bawa lonceng kecil."Damian menarik napas pendek, menggeleng heran seraya kembali menginjak pedal gas pelan-

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   151. Menikmati Hidup Sederhana

    Langkah kaki Lara mantap saat menaiki tangga gedung pengadilan. Angin siang yang cukup terik meniup ujung rambutnya yang diikat rapi ke belakang.Di sampingnya, Damian berjalan dengan langkah tenang, membiarkan tangan kiri Lara bertaut erat di lengan kemeja abu-abunya.Di lobi, Arman sudah menunggu dengan map tipis di tangan."Pak, Bu," sapa Arman seraya membungkuk sedikit. "Sidang pembacaan putusan Faris sebentar lagi dimulai di ruang dua. Majelis hakim sudah masuk."Damian mengangguk singkat. "Urusan Amara gimana?""Berkas perkaranya sudah dilimpahkan jaksa ke meja penuntutan, Pak," lapor Arman dengan bahasa lugas. "Tuduhannya jelas soal keterlibatan mendanai penculikan dan menyewa preman. Nggak ada penangguhan penahanan, jadi dia tetap ditahan di rutan sampai persidangannya sendiri jalan bulan depan."Damian tidak merespons panjang. Ia hanya menepuk

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   150. Mendapat Restu

    Hening yang panjang menyergap ruang tamu itu.Ayah Lara tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu meletakkan kedua tangannya di atas paha, menunduk memandangi lantai keramik putih. Sorot matanya bergerak lambat, menimbang setiap patah kata yang baru saja keluar dari mulut mantan bos besar di hadapannya.Lara menahan napas. Jari-jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, dingin seperti es.Setelah hampir satu menit yang terasa mencekik, sang Ayah perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang lelah menatap Damian lurus-lurus."Nak Damian," suara Ayah terdengar berat dan serak, memecah kesunyian ruangan. "Dulu, waktu kamu nanggung biaya operasi istri saya... saya pikir kamu cuma orang kaya yang lagi bersimpati sama anak buahnya."Damian tetap diam, duduk tegak tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari pria tua itu."Tapi kemudian, kamu melakukan hal y

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   149. Lamaran Resmi

    Seminggu di kaki bukit mengubah banyak hal.Udara dingin yang bersih dan rutinitas tanpa pekerjaan kantor perlahan mengembalikan tenaga Lara.Pagi itu, dokter pribadi yang memeriksa kondisi Lara di kamar vila akhirnya merapikan stetoskop dan tensimeternya ke dalam tas medis."Pemulihan pasca kuretase berjalan sangat bagus, Bu Lara," ujar dokter paruh baya itu seraya tersenyum ramah. "Jaringan rahim sudah bersih, tekanan darah normal, dan lebam di tubuh juga sudah hilang total. Mulai sekarang sudah aman untuk aktivitas normal, asal jangan angkat beban berat dulu."Damian, yang berdiri menyandarkan bahu di dekat kusen pintu kamar, mengangguk lega. "Terima kasih, Dok."Setelah mengantar dokter ke depan bersama Arman, Damian kembali ke kamar.Ia melihat Lara sedang melipat kardigan rajut tebalnya dan memasukkannya ke dalam koper kecil. Gerakan wanita

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   148. Membusuk di Sel Tahanan

    Di ruang kunjungan tahanan, bau keringat apek dan dinding lembab mengendap pekat. Faris duduk di bangku kayu panjang seraya menggigit kuku jempolnya hingga berdarah. Baju tahanan oranye nomor empat puluh delapan yang ia kenakan tampak kebesaran di tubuhnya yang semakin kurus. Bekas lebam ungu di pelipis dan sudut bibirnya—sisa pukulan bertubi-tubi dari Damian di gudang—kini mengering menjadi kerak gelap yang kotor.Langkah sepatu berderap pelan mendekat.Seorang petugas jaga membuka gembok rantai, membiarkan seorang pria berjaket lusuh dengan tas selempang kulit imitasi masuk. Pria itu meletakkan sebuah map tipis di atas meja pembatas kayu.Faris langsung menegakkan punggungnya. Matanya yang merah menyala menatap pria itu dengan penuh tuntutan."Mana tim pengacara dari Jakarta?" cerocos Faris, suaranya parau dan terburu-buru. "Orang suruhan Amara bilang mau kirim tim hukum terbaik dari firma ternama buat ngurus penangguhan penahanan gue! Kenapa cuma lu yang datang?!"Pria di sebera

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   147. Kamu, Tempatku Pulang

    Pagi itu, bunyi ketukan kapak yang membelah kayu terdengar memenuhi pekarangan belakang vila.Brak!Sebongkah kayu gelondongan terbelah dua di atas landasan kayu tebal.Damian menurunkan kapaknya ke tanah, menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan. Kaus oblong abu-abunya lembap oleh peluh, dan celana kain panjangnya kotor oleh serpihan kulit kayu. Namun, meski begitu, bahunya tampak jauh lebih rileks, dan napasnya berhembus teratur di udara pagi yang sejuk.Dari arah pintu kaca geser teras, langkah kaki pelan terdengar mendekat.Lara berdiri di ambang pintu, mengenakan kardigan rajut tebal dan celana panjang longgar. Wajahnya yang pucat perlahan mulai diisi semburat merah segar berkat udara bersih pegunungan. Lebam di tulang pipinya kini hanya menyisakan bayang samar kekuningan, dan perban di pergelangan tangannya sudah dilepas sejak kemarin.Ia memegang dua cangkir keramik yang mengepulkan aroma teh melati hangat.Damian menoleh, lalu buru-buru menyandarkan kapak ke dindin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status