LOGINAlya Pratama hanya membutuhkan uang untuk menyelamatkan rumah peninggalan ibunya ketika seorang miliarder menawarkan kontrak pernikahan selama satu tahun. Adrian Mahendra adalah pria dingin yang seharusnya menjadi orang asing baginya, tetapi setiap tatapan dan sentuhannya terasa terlalu familiar. Saat rahasia masa lalu mulai terbongkar, Alya menyadari bahwa Adrian bukan pertama kalinya menjadi suaminya—dan pria itu ternyata telah mencarinya selama tujuh tahun. Namun sebelum Alya mengetahui alasan sebenarnya di balik pernikahan mereka, seseorang dari masa lalu kembali untuk menghancurkan mereka sekali lagi.
View MoreHujan deras mengguyur kota sejak sore, menyisakan genangan di halaman rumah tua peninggalan Ibu.
Alya Pratama berdiri terpaku di ruang tengah, menggenggam selembar surat peringatan sita yang sudah lecek. Matanya terpaku pada dua kata yang tercetak tebal di bagian atas kop surat.
PERINGATAN TERAKHIR.
Tujuh hari.
Hanya tujuh hari sebelum rumah ini resmi disita bank.
Alya mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan dada yang sesak. Jumlah utang warisan yang harus dibayarnya mencapai dua ratus delapan puluh juta rupiah.
Sebuah angka yang mustahil ia kumpulkan dari gaji pas-pasan sebagai staf administrasi.
Sejak ibunya meninggal enam bulan lalu, Alya telah melakukan berbagai cara. Tabungannya habis, perhiasan peninggalan nenek telah dijual, namun utang itu seolah monster yang tak pernah kenyang.
"Kalau Ibu masih ada." bisiknya parau.
Alya buru-buru mengusap sudut matanya yang mulai panas.
Ia tidak ingin menangis. Tidak malam ini. Ia sudah cukup lemah.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja.
Nomor Tidak Dikenal.
Alya mengangkatnya setelah deringan kedua.
"Halo?"
"Apakah saya berbicara dengan Nona Alya Pratama?" Suara pria itu terdengar berat dan formal.
"Ya. Dengan siapa saya berbicara?"
"Nama saya Daniel. Saya perwakilan dari Mahendra Group."
Alya terdiam. Nama itu tidak asing. Mahendra Group adalah konglomerasi raksasa milik keluarga Mahendra, salah satu dinasti terkaya di Jakarta.
Dan ada satu nama yang langsung melintas di kepalanya.
Adrian Mahendra.
Laki-laki yang sudah tujuh tahun berusaha keras ia kubur dalam ingatan.
"Kenapa Anda menghubungi saya?" tanya Alya, berusaha terdengar tegas.
"Saya membawa pesan dari Tuan Adrian."
Jantung Alya berdegup lebih cepat, mengabaikan logikanya.
"Pesan apa?"
"Saya akan menjelaskannya secara langsung. Saya sudah berada di depan rumah Anda."
Alya menoleh ke arah jendela. Sebuah sedan hitam mengkilap baru saja berhenti di balik pagar besi yang berkarat.
Beberapa detik kemudian, seorang pria turun sambil memayungi dirinya, lalu berjalan mendekat ke teras. Daniel menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna putih.
"Ini untuk Anda."
Alya menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Dari Adrian?"
"Benar."
Daniel berbalik badan, hendak kembali ke mobilnya.
"Tunggu!" panggil Alya.
Pria itu berhenti dan menoleh.
"Dia masih di Jakarta?"
"Sudah lama," jawab Daniel singkat.
"Kenapa baru sekarang menghubungiku?"
Daniel menatapnya sejenak dengan tatapan sulit dibaca. "Pertanyaan itu sebaiknya Anda tanyakan sendiri kepadanya, Nona."
Tanpa menunggu jawaban, Daniel pergi meninggalkan Alya yang masih berdiri dengan amplop di tangan.
Alya masuk, mengunci pintu, dan menyandarkan punggungnya di sana. Tangannya gemetar saat membuka segel amplop.
Hanya ada selembar kartu tebal di dalamnya. Tulisan tangan yang tegas dan familiar itu langsung ia kenali.
Datang ke Mahendra Tower, pukul sembilan malam ini.
Alya menahan napas. Di bawahnya, tertulis satu kalimat yang membuat dunianya berhenti berputar.
Aku akan melunasi seluruh utangmu. Sebagai gantinya, menikahlah denganku.
"Apa?"
Alya melempar kartu itu ke atas meja.
Setelah tujuh tahun menghilang tanpa jejak, Adrian tiba-tiba muncul dan menawarkan pernikahan? Pria itu pasti sudah gila.
Alya tertawa kecil, namun tawa itu terdengar pilu. Matanya kembali terasa panas.
"Tujuh tahun, Adrian," gumamnya pada ruangan yang kosong. "Kamu pergi tanpa penjelasan. Sekarang kamu datang dan berpikir bisa membeli hidupku dengan uang?"
Ia berjalan mondar-mandar, mencoba menenangkan diri, namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sebuah kotak beludru hitam di atas lemari buku. Kotak yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh.
Alya mengambilnya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak sederhana dengan batu kecil di tengahnya.
Ingatan lama menyerbu paksa.
Adrian yang tersenyum tulus. Tangan hangat yang menggenggam erat jari-jarinya. Dan suara laki-laki itu pada malam terakhir mereka bersama, sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya.
"Aku akan kembali, Alya. Tunggu aku."
Alya menutup kotak tersebut dengan cepat, seolah benda itu membakarnya.
"Aku sudah menunggumu," bisiknya getir. Satu air mata jatuh, membasahi pipinya. "Tapi kamu tidak pernah kembali."
Jam di dinding menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit.
Alya duduk di tepi tempat tidur, menatap surat itu lagi. Dia tidak seharusnya datang. Harga dirinya menolak. Namun, bayangan rumah kenangan ibunya yang akan disita dan digusur membuat pikirannya kacau.
Dua ratus delapan puluh juta. Tujuh hari.
Akhirnya, Alya berdiri dan mengambil tasnya.
"Ini cuma bisnis," tegasnya pada bayangan sendiri di cermin. "Aku datang karena uangnya. Bukan karena dia."
Namun, hatinya yang paling dalam tahu, itu bukan satu-satunya alasan.
Pukul sembilan kurang lima menit, Alya tiba di Mahendra Tower.
Gedung pencakar langit memantulkan cahaya kota Jakarta yang gemerlap. Seorang sekretaris pribadi sudah menunggu di lobi dan langsung mengantarnya ke lantai paling atas menggunakan lift khusus eksekutif.
Pintu ruangan terbuka. Alya melangkah masuk.
Seorang pria berdiri membelakanginya di depan jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota.
Tinggi. Tegap. Mengenakan setelan hitam yang mahal.
Alya mengenali sosok itu bahkan sebelum pria tersebut berbalik. Adrian.
Wajahnya jauh lebih dewasa sekarang. Rahangnya lebih tegas, dan aura dingin memancar dari tubuhnya, namun sorot matanya masih sama.
Tatapan yang dulu membuat Alya merasa paling aman di dunia, kini justru membuat dadanya sesak.
"Alya," sapa Adrian. Suaranya rendah, serak, dan penuh emosi yang tertahan.
Alya mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. "Kenapa aku?"
Adrian berjalan mendekat, menghentikan langkahnya tepat di hadapan Alya. "Karena aku membutuhkanmu."
"Kamu meninggalkanku tujuh tahun lalu."
"Aku tahu."
"Kamu tidak pernah menghubungiku. Bahkan saat Ibu sakit."
"Aku tahu."
"Kamu bahkan tidak memberiku alasan!" suara Alya meningkat.
Adrian terdiam. Untuk pertama kalinya, topeng dingin di wajahnya retak. Ada rasa sakit yang terpancar dari matanya.
"Aku punya alasan," ucap Adrian pelan.
"Alasan apa?"
Adrian berbalik, mengambil sebuah map kulit dari meja kerjanya, lalu menyerahkannya kepada Alya. "Karena tujuh tahun lalu, aku pikir kamu sudah meninggal."
Alya membeku. "Apa?"
Tangannya perlahan menerima map itu dan membukanya.
Sebuah foto terjatuh ke meja. Foto dirinya dan Adrian.
Mereka berdiri di depan sebuah kapel kecil di luar negeri. Alya mengenakan gaun putih sederhana. Adrian mengenakan jas hitam. Dan di jari manis Alya, terdapat cincin yang sama dengan yang ia simpan di lemari.
Napas Alya tercekat. "Apa ini?"
Adrian menatapnya tanpa berkedip, matanya memancarkan intensitas yang menakutkan sekaligus menyakitkan. "Ada sesuatu yang hilang dari ingatanmu, Alya. Sesuatu yang diambil oleh kecelakaan itu."
"Apa maksudmu?"
Adrian menunjuk dokumen legal di dalam map tersebut. "Bahwa tujuh tahun lalu, sebelum kamu koma dan kehilangan ingatan."
Suaranya merendah, bergetar menahan emosi.
"Kamu dan aku sudah menikah."
Alya menatap halaman terakhir dokumen itu dengan mata membelalak. Satu cap stempel dan tanda tangan tercetak jelas di sana, mematahkan seluruh realitas yang ia yakini selama ini.
AKTA PERNIKAHAN STATUS: AKTIF.
“Aku bukan Laras.”Kalimat itu membuat Alya tidak mampu bergerak.Perempuan yang berdiri di ambang pintu memiliki wajah yang begitu mirip dengannya hingga sulit dipercaya.Bukan sekadar kemiripan.Bentuk mata, garis rahang, bahkan lekukan bibirnya seperti melihat versi dirinya sendiri dua puluh tahun lebih tua.Alya mundur perlahan.“Siapa kau?”Perempuan itu tidak menjawab.Tatapannya justru berpindah kepada Adrian.“Kau membawa dia kembali ke sini.”Nada suaranya terdengar kecewa.Adrian langsung berdiri di depan Alya.“Siapa kau?”Perempuan itu tersenyum tipis.“Orang yang seharusnya tidak pernah kau temukan.”Raka mengangkat pistol.“Jangan bergerak.”Perempuan itu sama sekali tidak takut.“Kalau aku ingin membunuh kalian, kalian tidak akan sampai ke lantai ini.”Alya menatapnya tajam.“Kenapa wajahmu mirip denganku?”Perempuan itu terdiam.Kemudian matanya berkaca-kaca.“Karena kau mewarisi wajahku.”Jantung Alya berdegup keras.“Kau…”Perempuan itu mengangguk.“Aku yang melahirk
“Sekarang tanyakan kepada ayahmu mengapa dia menjualmu tujuh tahun lalu.”Alya membaca kalimat itu berulang kali.Tangannya gemetar.Tidak mungkin.Ayahnya sudah meninggal.Setidaknya, itulah yang selama ini dipercayainya.Namun foto di layar ponselnya menunjukkan sesuatu yang mustahil.Laras masih hidup.Alex masih hidup.Dan pria yang berdiri di samping mereka memiliki wajah yang sama persis dengan ayah Alya.“Tidak…” Alya mundur selangkah. “Ini tidak mungkin.”Adrian mengambil ponsel dari tangannya.“Alya, kita tidak tahu apakah foto ini asli.”“Wajahnya ayahku.”“Aku tahu.”“Dia berdiri di samping Laras!”“Aku tahu.”“Kalau begitu kenapa kau terus bilang kita belum tahu?”Adrian terdiam.Karena kali ini dia sendiri tidak memiliki jawaban.Raka segera memeriksa foto itu.“Metadata-nya sudah dihapus.”“Berarti palsu?” tanya Alya.“Belum tentu.”Raka memperbesar bagian belakang foto.Ada tulisan kecil di dinding rumah sakit.**SAINT HELENA — LANTAI 7.**Adrian langsung mengambil jake
“Itu ayahku.”Kalimat Alex membuat ruangan mendadak sunyi.Alya menatap anak itu, lalu kembali melihat foto di tangannya.Pria yang berdiri di samping Laras memang sangat mirip dengan ayahnya.Namun Alex mengatakan pria itu adalah ayahnya.Bukan ayah Alya.“Alex…” suara Alya nyaris berbisik. “Apa maksudmu?”Alex menelan ludah.“Aku pernah melihat foto itu.”“Di mana?”“Di rumah tempat aku dulu tinggal.”Alya berjongkok di hadapan Alex.“Siapa nama ayahmu?”Alex menggeleng.“Aku tidak tahu.”“Coba ingat.”Anak itu memejamkan mata.Beberapa detik berlalu.Kemudian wajahnya berubah.“Namanya…”Alex memegang kepalanya.“Rasanya sakit.”Adrian segera mendekat.“Jangan dipaksa.”“Tapi aku tahu dia.”Alex membuka mata.“Dia sering datang ke kamarku.”Alya menahan napas.“Seperti apa wajahnya?”Alex memandang foto itu.“Wajahnya seperti…”Dia menunjuk pria di foto.“Seperti ayah Kak Alya.”Alya berdiri perlahan.Tidak masuk akal.Pria di foto adalah ayahnya.Tapi Alex menyebutnya sebagai ayah
“Karena dia sebenarnya belum mati.”Suara perempuan itu masih menggema di balik pintu.Alya tidak bergerak.Seluruh tubuhnya terasa kaku.Laras.Nama itu berputar di kepalanya.Ibunya.Perempuan yang selama ini dia percaya telah meninggal bertahun-tahun lalu.Perempuan yang hanya dia kenal melalui foto, rekaman, dan cerita Rina.“Buka pintunya!” teriak Adrian.Tidak ada jawaban.Arga langsung mendekati pintu dan mencoba membukanya.Terkunci.Raka membantu mendorongnya.Sekali.Dua kali.Pintu akhirnya terbuka.Namun lorong di luar kosong.Tidak ada siapa pun.Hanya sebuah pengeras suara kecil tergeletak di lantai.Adrian mengambilnya.“Dia sengaja memancing kita.”Alya masih terpaku.“Kalau itu benar-benar Laras…”Suaranya bergetar.“Berarti selama ini aku hidup dengan kebohongan.”Adrian mendekatinya.“Kita belum tahu apakah dia mengatakan yang sebenarnya.”“Tapi bagaimana dia tahu tentang Laras?”“Karena orang itu tahu terlalu banyak.”Alex tiba-tiba menarik tangan Alya.“Kak.”Alya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.