Share

Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri
Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri
Author: Bagel

Bab 1

Author: Bagel
Begitu aku hamil, aku dielu-elukan sebagai perempuan paling berharga di dunia mafia.

Suamiku, kepala keluarga baru Keluarga Jasman, sampai menutup satu area rumah sakit swasta khusus untuk pemeriksaan kehamilanku. Sementara ayahku, Chandra, memanggil semua koki berbintang Michelin di Kota Nordi ke kediaman keluarga, hanya agar aku bisa makan apa pun yang kuinginkan.

Bayi yang kukandung ditakdirkan menjadi satu-satunya pewaris dari dua keluarga mafia paling berkuasa.

Namun, pada hari ketika kami seharusnya menandatangani dokumen yang menjamin warisan anakku, mereka berdua menghilang.

"Ada urusan keluarga mendesak," kata suamiku, Desta, sambil mengecup keningku. "Kita bisa selesaikan urusan warisan anak ini setelah kami kembali. Nggak perlu terburu-buru."

Tak lama setelah mereka pergi, aku menerima sebuah tautan menuju siaran langsung anonim.

Suara ayahku terdengar dari video itu, dingin, lebih dingin dari yang pernah kudengar sebelumnya.

"Jadi kamu bilang kontrak pernikahanmu dengan Eva nggak pernah sah. Bukankah itu berarti anak itu adalah anak haram?"

Desta tampak bersantai di sebuah klub, mengembuskan cincin asap rokok. Dalam pelukannya ada saudari tiriku, Sarah.

"Eva selalu mendapatkan cinta dan perhatian," ujarnya santai. "Anaknya nggak akan kekurangan apa pun."

"Sarah sudah bertahun-tahun diejek karena statusnya. Aku harus memperbaiki semuanya untuknya, memberinya keadilan, memberi anak kami nama yang sah."

Saat itu juga, dadaku terasa diremas. Napasku tersengal, nyaris tak bisa bernapas.

Kemudian, ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan masuk.

[ Selamat datang kembali di Keluarga Gandara, ratuku. ]

[ Sebut saja satu kata dan anak yang kamu kandung akan menyandang nama Keluarga Gandara serta menjadi pewaris paling berkuasa di dunia mafia Amira. ]

....

Setelah meninggalkan pertemuan keluarga, aku berjalan tanpa tujuan di jalanan, dengan hati yang hancur.

Sebuah tabloid lusuh tergeletak di selokan, terendam genangan air, terinjak-injak, dan rusak. Judul utamanya kabur oleh hujan, tetapi aku masih bisa mengenali foto terkenal dari tiga bulan lalu.

Ayahku sedang mengangkat sebuah berlian merah muda langka ke arah kamera, hadiah sambutan untuk calon pewaris Keluarga Tanjung.

"Ini adalah simbol komitmen Keluarga Tanjung, untuk putriku dan kehormatan keluarga kami."

Di sudut foto itu, Desta sedang mengecup ujung jemariku. Aku masih ingat kata-katanya waktu itu, "Eva, kamu adalah satu-satunya keyakinanku."

Sekarang, judul besar itu terasa seperti ejekan. "Dongeng Dunia Mafia Kota Nordi."

Hujan menghantam wajahku dan aku tak lagi tahu apakah rasa perih yang menusuk itu berasal dari air hujan atau dari lukaku sendiri.

Ponsel di sakuku berdering. Nada dering khusus milik Desta.

Dulu, suara itu selalu membuatku berdebar. Sekarang, terdengar seperti lonceng kematian.

Setelah ragu cukup lama, aku mengangkatnya di dering terakhir.

Namun, yang kudengar hanyalah tawa keras para anak buahnya yang mabuk.

"Langkah Bos benar-benar brilian! Putri Keluarga Tanjung yang sok hebat itu pasti masih bermimpi jadi istri Bos!"

"Tentu saja. Kamu tahu bos kita. Bertahun-tahun pura-pura jadi pria terhormat cuma buat menguasai bisnis Keluarga Tanjung. Katanya perempuan itu dingin di ranjang ya?"

"Hahaha! Buat apa sok anggun? Wilayah Keluarga Tanjung sebentar lagi jadi wilayah Keluarga Jasman! Dan bagian paling lucu adalah anaknya. Begitu lahir langsung jadi anak haram!"

"Ya, tapi pertunjukan hari ini yang paling mantap! Kakak-adik berebut satu pria, cuma bos kita yang berani bikin drama kayak gitu!"

Aku mencengkeram ponsel begitu erat sampai kuku-kukuku menancap ke telapak tanganku. Air mata jatuh tanpa suara ke atas tabloid yang basah dan kotor.

Tiba-tiba, suara di seberang sana mendadak hening, lalu suara Desta terdengar.

"Siapa yang menyentuh ponselku?"

Belum sempat ada yang menjawab, nadanya berubah, terlalu lembut, hampir mustahil. "Sayang, kenapa kamu diam saja? Kamu nggak enak badan?"

Aku membuka mulut, ingin menuntut penjelasan tentang pernikahan kami, tetapi kemudian aku teringat, dalam kontrak pernikahan keluarga itu, tanda tanganku tidak memiliki kekuatan hukum apa pun.

Aku bahkan tidak punya hak atau posisi, untuk mempersoalkannya. Kami tidak pernah benar-benar menikah.

Saat itu juga, erangan manja Sarah terdengar dari ponsel.

"Desta, bayinya menendang. Ayo, coba rasakan ...."

Napas Desta tersendat. Dia terdiam sejenak, lalu berkata, "Eva, urusan dunia mafia sedang rumit. Aku akan kembali menemuimu malam ini."

Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun, sambungan itu terputus.

Aku berjalan pulang dengan tubuh basah kuyup, lalu duduk di ruang tamu yang gelap entah berapa lama, sampai kunci sidik jari berbunyi.

Ayahku dan Desta masuk bersama, wajah mereka memancarkan keberhasilan.

"Eva, Ayah membawakan jimat keberuntungan yang diberkati langsung dari Vitaka untukmu," kata ayahku dengan senyum penuh kebaikan.

Desta dengan santai melepas mantel, lalu berlutut di hadapanku. Tangan hangatnya menutupi tanganku yang dingin, mengusapnya lembut.

"Kenapa kamu basah kuyup? Kehujanan? Perlu kupanggil dokter keluarga untuk memeriksa? Bagaimana bayinya?"

Mereka sepenuhnya tenggelam dalam sandiwara mereka. Saat aku tetap diam, mereka saling bertukar pandang.

Aku mengeluarkan sebuah dokumen dari balik punggungku dan menyerahkannya pada Desta. "Tandatangani."

Ayahku langsung bercanda, "Jadi sekarang putriku cuma mengakui tanda tangan suaminya, bukan tanda tangan ayahnya?"

Desta bahkan tidak melirik isinya. Dengan senyum tipis, dia mengambil pena.

"Eva, kamu sedang hamil. Kesehatanmu itu yang terpenting. Jangan memikirkan urusan keluarga. Tinggal bilang saja apa yang kamu mau, aku akan menyediakannya."

Pena itu meluncur mulus di atas kertas, namanya tertera dengan goresan percaya diri. Dia sama sekali tidak tahu bahwa itu bukan dokumen pengiriman barang biasa.

Di saat yang sama, ponsel pribadi mereka berdua bergetar bersamaan.

Ayahku menepuk bahuku. "Ada masalah kecil di dermaga. Kami harus menanganinya."

Desta berdiri dan mengecup rambutku dengan lembut. "Mungkin aku harus lembur semalaman demi masa depan yang lebih baik untukmu dan bayi kita. Jadilah anak baik. Istirahatlah."

Dengan itu, mereka bergegas pergi.

Saat Desta berbalik, sebuah kalung terjatuh dari saku mantelnya. Kalung dari merek favorit Sarah, edisi terbatas global.

Mungkin mereka sedang menuju makan malam romantis yang diterangi lilin, merayakan keberhasilan mereka yang hampir merebut Keluarga Tanjung.

Aku memungut dokumen itu.

Di bagian atasnya tercetak jelas sebuah kalimat.

[ Pihak yang menandatangani secara sukarela melepaskan seluruh hak dan klaim atas anak yang berada dalam kandungan perempuan tersebut. ]

Tawa kecil bercampur isak lolos dari bibirku dan aku menyeka mataku dengan kasar.

Semuanya tertulis jelas, hitam di atas putih. Andai saja dia sedikit peduli, andai dia sempat melirik isinya, dia pasti tahu ada yang tidak beres.

Namun sekarang, dengan dokumen ini, anakku tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengan Keluarga Jasman, atau dengan Desta.

Darah mafia paling murni mengalir dalam nadiku. Perempuan-perempuan Keluarga Tanjung tahu kapan harus bertahan dan kami tahu lebih baik dari siapa pun kapan harus melepaskan.

Menghapus sisa air mata terakhirku, aku menghubungi Antonio, orang paling setia dalam keluargaku.

"Antonio, tutup semua jalur penyelundupan Keluarga Jasman. Malam ini, aku ingin semua kapal mereka terjebak di pelabuhan."

"Dan satu hal lagi. Aku mau mengaktifkan Garis Darah Murni."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 9

    Desta menerima sebuah kiriman khusus. Seorang kepala pelayan menyerahkan sebuah USB padanya dengan tangan gemetar.Itu adalah "hadiah balasan" dari orang-orang Rafael.Layar menyala, menampilkan klinik bawah tanah yang lembap dan gelap. Aku meringkuk di lantai kotor, tubuhku berlumuran darah, mati-matian melindungi perutku.Sarah menginjak tanganku dengan tumitnya sementara para anak buahnya mengejek dan mempermalukanku.Sedangkan di latar belakang, terdengar sebuah suara, suaranya sendiri yang dingin dan tak berperasaan."Aku nggak peduli siapa orangnya. Ajari si bodoh itu pelajaran. Aku akan membersihkan kekacauannya."Gelas di tangan Desta terlepas dan pecah berkeping-keping. Dia menatap sosok putus asa di layar yang hancur dan tak sanggup bangkit.Apa yang sedang dia lakukan hari itu?Dia memanjakan Sarah selama ini, memilih perhiasan, dan merencanakan bagaimana mengambil alih dermaga Keluarga Tanjung seluruhnya.Dia mengira dia sedang menjinakkan hewan peliharaan yang membangkang.

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 8

    Dalam beberapa hari berikutnya, Rafael mengerahkan tim hukum terbaik Keluarga Gandara.Setiap uang yang pernah Chandra dan Caterina gelapkan, setiap properti, bahkan perhiasan antik kesayangan ibuku, semuanya direbut kembali dari tangan mereka oleh kekuatan yang tak terlihat.Para pengkhianat yang dulu meninggalkan Keluarga Tanjung kini berbaris di luar kediaman, berlutut dan memohon ampun.Namun, aku tak punya waktu untuk mereka. Hari ini jadwal pemeriksaan kehamilanku.Seperti biasa, Rafael menutup seluruh jalan. Iring-iringan dua puluh SUV hitam antipeluru berjajar rapi di sepanjang jalan.Aku menangkap tatapan iri dari luar dan kembali merasakan bobot kekuasaan saat duduk di mobil pribadi Rafael. Orang-orang yang dulu mengejekku karena mengandung "anak haram", yang menunggu-nunggu kejatuhanku, kini bahkan tak punya keberanian untuk menatap mataku."Gugup?" Rafael menggenggam tanganku, telapak tangannya kering dan hangat."Nggak," kataku sambil mengelus perutku yang membesar. "Selam

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 7

    Begitu Desta berteriak menyebutkan angka itu, seluruh ruangan jatuh dalam keheningan yang mematikan.Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin saat dia menatapku. "Kamu dengar itu, Eva? Demi membawamu pulang, aku mempertaruhkan warisan Keluarga Jasman yang sudah bertahan ratusan tahun."Dia mengulurkan tangan ke arahku, senyumnya lebih mirip seringai. "Pulanglah denganku. Hentikan semua ini."Di barisan depan, Chandra nyaris kejang karena kegirangan. Dia menggosok-gosok tangannya dengan rakus. Caterina dan Sarah saling berpegangan, seolah-olah sedang menatap gunung emas yang belum pernah mereka lihat seumur hidup.Inilah keluargaku. Yang satu menjualku demi uang, yang satu lagi mencoba membeliku karena obsesi.Tangan di pinggangku mengencang. Rafael terkekeh pelan. Dia bahkan tidak repot mengangkat papan penawar, hanya mengangguk kecil ke arah juru lelang."Tiga puluh triliun.""Tunai. Sekarang juga.""Terjual."Juru lelang hampir melompat kegirangan. "Selamat kepada Pak Rafael atas ke

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 6

    Sebuah rumah lelang privat di Hanma dipenuhi para elite dunia mafia Amira Utara.Tempat ini adalah pusat pencucian uang dan transaksi gelap mafia Kota Nordi. Suasana di dalamnya pekat oleh "aroma" kekuasaan dan keserakahan.Ayahku, Chandra, duduk di barisan depan, diapit Caterina dan Sarah yang berdandan mencolok.Senyum mereka seperti burung nasar yang mengitari bangkai, yakin aku tak akan berani menunjukkan diri hari ini, atau kalaupun datang, hanya sebagai pecundang yang menyedihkan."Ini adalah sepotong 'daging' terakhir dari Keluarga Tanjung." Chandra membual kepada para bos kriminal di sekelilingnya. "Siapa penawar tertinggi, dialah yang mendapatkan semuanya."Katanya, dia berencana pensiun dan menikmati masa tuanya di Silia bersama Caterina. Kemunafikan pria itu tak mengenal batas, dia rela menjual sisa martabat terakhir keluarganya demi uang.Yang tak dia duga adalah, saat pintu dibuka kembali, akulah yang melangkah masuk ke aula itu.Seluruh ruangan langsung sunyi.Gelas sampa

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 5

    "P ... Pak Rafael?"Sarah yang barusan masih angkuh, kini gemetar hebat, giginya beradu tak terkendali.Dalam sekejap, pria-pria berpakaian hitam dari Keluarga Gandara memenuhi klinik sempit itu.Anak buah Sarah bahkan tak sempat menarik senjata sebelum mereka dihantam ke lantai. Bunyi tulang retak yang mengerikan menggema di ruangan.Rafael Gandara.Pemimpin termuda Keluarga Gandara, pria yang mengendalikan seluruh dunia mafia Kota Nordi.Bahkan pemimpin dari empat keluarga lainnya pun harus menunduk hormat dan mencium cincinnya saat berhadapan dengannya.Baru bulan lalu, dalam pertemuan para pemimpin, dia mengumumkan tidak akan lagi menerima aliansi pernikahan, mematahkan harapan semua keluarga besar.Semua orang bilang dia gila.Kalau begitu, siapa yang akan mewarisi kerajaan bisnis besar Keluarga Gandara?Dia melepaskan mantel hitam mahalnya, menyelubungkannya ke tubuhku yang berlumuran darah, lalu mengangkatku ke dalam pelukannya."Kosongkan ruangan," perintahnya dingin. "Singkirk

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 4

    Aku terlalu kesakitan untuk berbicara.Tubuhku ambruk ke lantai, penglihatanku kabur saat cairan hangat merembes membasahi ujung gaunku.Semua orang memandangku dengan jijik."Keterlaluan sekali. Gadis itu sudah berlutut memohon, tapi dia masih menyerangnya.""Jadi yang katanya putri mafia itu ternyata memang sombong dan manja seperti gosipnya. Nggak punya etika sama sekali.""Kejam sekali. Melakukan hal seperti itu pada saudari sendiri."Desta seolah-olah baru menyadari ada yang tidak beres. Dia memanggil namaku dan melangkah ke arahku. "Eva, ada apa ....""Ah! Pergelangan kakiku!" Kata-katanya terpotong oleh jeritan Sarah.Dia menangis tersedu, di sampingnya tergeletak deretan gelas sampanye yang terbalik, gambaran sempurna seorang korban.Pada akhirnya, Desta kembali ke sisinya. Ayahku juga bergegas menghampiri Sarah. "Cepat, bawa dia ke rumah sakit keluarga!"Kerumunan orang mengerubungi mereka lalu pergi. Saat melangkah menjauh, Desta mengucapkan satu kalimat tanpa menoleh. "Lanta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status