Share

Bab 4

Author: Bagel
Aku terlalu kesakitan untuk berbicara.

Tubuhku ambruk ke lantai, penglihatanku kabur saat cairan hangat merembes membasahi ujung gaunku.

Semua orang memandangku dengan jijik.

"Keterlaluan sekali. Gadis itu sudah berlutut memohon, tapi dia masih menyerangnya."

"Jadi yang katanya putri mafia itu ternyata memang sombong dan manja seperti gosipnya. Nggak punya etika sama sekali."

"Kejam sekali. Melakukan hal seperti itu pada saudari sendiri."

Desta seolah-olah baru menyadari ada yang tidak beres. Dia memanggil namaku dan melangkah ke arahku. "Eva, ada apa ...."

"Ah! Pergelangan kakiku!" Kata-katanya terpotong oleh jeritan Sarah.

Dia menangis tersedu, di sampingnya tergeletak deretan gelas sampanye yang terbalik, gambaran sempurna seorang korban.

Pada akhirnya, Desta kembali ke sisinya. Ayahku juga bergegas menghampiri Sarah. "Cepat, bawa dia ke rumah sakit keluarga!"

Kerumunan orang mengerubungi mereka lalu pergi. Saat melangkah menjauh, Desta mengucapkan satu kalimat tanpa menoleh. "Lantainya dingin. Bangunlah."

Pada akhirnya, dia bahkan tidak memerhatikan genangan darah di bawah tubuhku.

Aula pesta yang luas itu mendadak sunyi.

Aku mengeluarkan ponsel untuk menghubungi dokter keluarga, tetapi yang masuk justru pesan dari bankku.

[ Semua rekening Anda telah dibekukan. ]

Aku menatap pesan itu, lalu menatap Hati Cinta Sejati di jariku, dan tertawa sampai tubuhku gemetar.

Cinta yang katanya suci ini hanyalah sangkar emas.

Mereka memberiku sangkar paling megah, perhiasan paling mahal. Namun, yang mereka berikan padaku hanyalah racun yang bekerja perlahan, menggerogoti sedikit demi sedikit, menungguku merangkak kembali seperti anjing dan meminta penawarnya.

Aku merobek kain dari rokku, menggulungnya, lalu menekannya kuat-kuat ke luka di punggung bawahku.

Aku tidak butuh dokter. Para perempuan Keluarga Tanjung tidak mati semudah itu.

Aku pergi ke klinik mafia murahan yang tak pernah bertanya apa pun.

Aku meletakkan Hati Cinta Sejati ke meja. Mata perawat itu langsung berbinar dan dia mengizinkanku dirawat.

Aku meringkuk di ranjang rumah sakit yang penuh noda. Di ponselku, akun media sosial pribadi Sarah sedang siaran langsung.

Dia berada di jet pribadi, memutar-mutar segelas wiski.

"Kalau kakakku yang terhormat itu mau menundukkan kepala, mungkin Desta akan memberi sisa-sisa padanya."

"Lagian, aku bukan nyonya yang nggak bisa menoleransi keberadaan saingan."

Desta memanjakannya dengan jet pribadi, bahkan membiarkannya memamerkan dunia mafia ke hadapan publik.

Saat itu juga, aku menerima pesan terenkripsi dari Antonio. Aset-aset Keluarga Tanjung sedang dipindahkan dengan cepat atas nama Caterina.

[ Dalam pertemuan para pimpinan seminggu lagi, ayahmu berencana menjual seluruh saham proksinya. Kalau Ibu hadir, Ibu bisa merebut kembali semua aset yang sudah dipindahkan. ]

Aku menggenggam pecahan mutiara peninggalan ibuku dan membalas dengan satu kata.

[ Baik. ]

Malam itu, Sarah mengunggah foto akta pernikahan. Kalangan elite Kota Nordi langsung meledak.

"Jadi selama ini pewaris Keluarga Tanjung adalah selingkuhan!"

"Ibunya dulu menindas Sarah dan ibunya selama bertahun-tahun, sekarang putrinya sendiri jadi perempuan yang dibuang. Syukurin."

Namun, hanya dalam tiga menit, unggahan itu sudah menghilang secara misterius.

Aku masih mencoba memahami apa yang terjadi ketika pintu tipis kamarku didobrak terbuka.

Sarah berdiri di sana, dikelilingi para pengawal, tampak sempurna dan tanpa cela.

"Wah, wah," katanya manja, suaranya sarat simpati palsu. "Lihatlah Nyonya Keluarga Tanjung yang sok hebat ini. Berakhir di gubuk seperti ini. Aku hampir kasihan padamu."

Rasa sakit tajam menusuk perutku. Aku membungkuk, suaraku gemetar. "Tolong, dokter ...."

Aku menatap melewati Sarah ke arah perawat yang berdiri di ambang pintu. Perawat itu hanya menatap balik tanpa ekspresi, tak bergerak sedikit pun.

"Nggak akan ada yang menolongmu, perebut suami orang yang menyedihkan," ejek Sarah.

Sebelum aku sempat bereaksi, dia melangkah maju dan menampar wajahku dengan keras.

Bunyi tamparan menggema di ruangan sempit itu. Kepalaku terpelanting ke samping, pipiku terasa perih.

Rasa darah memenuhi mulutku. Aku memegangi perutku, suaraku nyaris tak terdengar. "Aku ... aku akan telepon Desta. Dia nggak akan membiarkanmu melakukan ini."

Sarah menengadahkan kepala dan tertawa. "Oh, silakan. Atau lebih baik," katanya sambil mengeluarkan ponselnya sendiri. "Biar aku yang melakukannya untukmu."

Dia menekan nomor Desta dan mengaktifkan pengeras suara. Setelah dua dering, Desta mengangkat.

"Desta sayang." Suara Sarah langsung berubah menjadi manja dan teraniaya. "Aku sedang menghadapi perempuan cemburu. Dia mencoba merusak hubungan kita dan mengatakan hal-hal buruk tentang kita."

Suara Desta terdengar dari ponsel. "Siapa yang berani membuatmu kesal? Jangan biarkan siapa pun membuatmu nggak bahagia. Berikan dia pelajaran yang nggak akan dia lupakan."

"Penting nggak orangnya siapa?" tanya Sarah, melirikku dengan senyum kemenangan.

"Sama sekali nggak," jawab Desta. "Keluarga Jasman bisa menangani apa pun, Sarah. Aku akan membersihkan kekacauannya."

Sambungan terputus.

Begitu pula hatiku. Sisa harapan terakhirku berubah menjadi abu. Desta memberinya izin. Dia memberinya izin untuk menghancurkanku.

"Kamu dengar sendiri, kakakku," kata Sarah, matanya berkilat kejam. "Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan."

Dia mencengkeram segenggam rambutku dan menarik kepalaku ke belakang. Dia menamparku lagi, kali ini lebih keras, lalu menghantamku. Dia memukulku lagi dan lagi, amarah dan kegembiraan mengubah wajahnya menjadi mengerikan.

"Dia milikku!" jeritnya, menendang sisi tubuhku dengan brutal. "Semua yang pernah kamu miliki sekarang milikku!"

Aku meringkuk, mati-matian melindungi perutku, duniaku larut dalam rasa sakit dan penghinaan. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa untuk bayiku.

Sarah memberi isyarat pada dua pria besar yang dibawanya. "Tahan dia."

"Aku mau kalian memberinya pelajaran, tepat di perut berharganya itu. Pastikan anak haram di dalam perutnya tahu siapa yang berkuasa sekarang."

"Jangan! Tolong, jangan bayiku!" Jeritan kesakitan murni keluar dari tenggorokanku.

Mereka menahan tangan dan kakiku. Aku melawan, tetapi tubuhku sudah lemah karena kehilangan darah dan benturan. Tendangan pertama menghantam tepat ke perutku.

Rasanya seperti isi perutku tercabik. Tendangan kedua menyusul, lalu yang ketiga.

Air mata dan keringat mengaburkan penglihatanku. Dunia di sekelilingku mulai menggelap.

'Aku akan mati di sini,' pikirku. Bayiku yang malang, kami akan mati bersama di tempat kotor ini.

Aku bisa merasakan tenagaku menghilang dan kesadaranku perlahan terlepas.

Tepat saat Sarah mengangkat vas kaca berat untuk menghantamkannya ke arahku, pintu klinik ditendang terbuka dengan suara menggelegar.

Sarah menjerit ketika sebuah tangan kuat mencengkeram pergelangan tangannya, menghentikannya di tengah ayunan. Cengkeramannya begitu kuat sampai wajahnya pucat menahan sakit.

Sosok tinggi melangkah ke depanku, melindungiku dari dirinya. Suaranya rendah, sarat niat membunuh.

"Siapa yang memberimu keberanian untuk menyentuh ibu dari pewaris Keluarga Gandara?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 9

    Desta menerima sebuah kiriman khusus. Seorang kepala pelayan menyerahkan sebuah USB padanya dengan tangan gemetar.Itu adalah "hadiah balasan" dari orang-orang Rafael.Layar menyala, menampilkan klinik bawah tanah yang lembap dan gelap. Aku meringkuk di lantai kotor, tubuhku berlumuran darah, mati-matian melindungi perutku.Sarah menginjak tanganku dengan tumitnya sementara para anak buahnya mengejek dan mempermalukanku.Sedangkan di latar belakang, terdengar sebuah suara, suaranya sendiri yang dingin dan tak berperasaan."Aku nggak peduli siapa orangnya. Ajari si bodoh itu pelajaran. Aku akan membersihkan kekacauannya."Gelas di tangan Desta terlepas dan pecah berkeping-keping. Dia menatap sosok putus asa di layar yang hancur dan tak sanggup bangkit.Apa yang sedang dia lakukan hari itu?Dia memanjakan Sarah selama ini, memilih perhiasan, dan merencanakan bagaimana mengambil alih dermaga Keluarga Tanjung seluruhnya.Dia mengira dia sedang menjinakkan hewan peliharaan yang membangkang.

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 8

    Dalam beberapa hari berikutnya, Rafael mengerahkan tim hukum terbaik Keluarga Gandara.Setiap uang yang pernah Chandra dan Caterina gelapkan, setiap properti, bahkan perhiasan antik kesayangan ibuku, semuanya direbut kembali dari tangan mereka oleh kekuatan yang tak terlihat.Para pengkhianat yang dulu meninggalkan Keluarga Tanjung kini berbaris di luar kediaman, berlutut dan memohon ampun.Namun, aku tak punya waktu untuk mereka. Hari ini jadwal pemeriksaan kehamilanku.Seperti biasa, Rafael menutup seluruh jalan. Iring-iringan dua puluh SUV hitam antipeluru berjajar rapi di sepanjang jalan.Aku menangkap tatapan iri dari luar dan kembali merasakan bobot kekuasaan saat duduk di mobil pribadi Rafael. Orang-orang yang dulu mengejekku karena mengandung "anak haram", yang menunggu-nunggu kejatuhanku, kini bahkan tak punya keberanian untuk menatap mataku."Gugup?" Rafael menggenggam tanganku, telapak tangannya kering dan hangat."Nggak," kataku sambil mengelus perutku yang membesar. "Selam

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 7

    Begitu Desta berteriak menyebutkan angka itu, seluruh ruangan jatuh dalam keheningan yang mematikan.Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin saat dia menatapku. "Kamu dengar itu, Eva? Demi membawamu pulang, aku mempertaruhkan warisan Keluarga Jasman yang sudah bertahan ratusan tahun."Dia mengulurkan tangan ke arahku, senyumnya lebih mirip seringai. "Pulanglah denganku. Hentikan semua ini."Di barisan depan, Chandra nyaris kejang karena kegirangan. Dia menggosok-gosok tangannya dengan rakus. Caterina dan Sarah saling berpegangan, seolah-olah sedang menatap gunung emas yang belum pernah mereka lihat seumur hidup.Inilah keluargaku. Yang satu menjualku demi uang, yang satu lagi mencoba membeliku karena obsesi.Tangan di pinggangku mengencang. Rafael terkekeh pelan. Dia bahkan tidak repot mengangkat papan penawar, hanya mengangguk kecil ke arah juru lelang."Tiga puluh triliun.""Tunai. Sekarang juga.""Terjual."Juru lelang hampir melompat kegirangan. "Selamat kepada Pak Rafael atas ke

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 6

    Sebuah rumah lelang privat di Hanma dipenuhi para elite dunia mafia Amira Utara.Tempat ini adalah pusat pencucian uang dan transaksi gelap mafia Kota Nordi. Suasana di dalamnya pekat oleh "aroma" kekuasaan dan keserakahan.Ayahku, Chandra, duduk di barisan depan, diapit Caterina dan Sarah yang berdandan mencolok.Senyum mereka seperti burung nasar yang mengitari bangkai, yakin aku tak akan berani menunjukkan diri hari ini, atau kalaupun datang, hanya sebagai pecundang yang menyedihkan."Ini adalah sepotong 'daging' terakhir dari Keluarga Tanjung." Chandra membual kepada para bos kriminal di sekelilingnya. "Siapa penawar tertinggi, dialah yang mendapatkan semuanya."Katanya, dia berencana pensiun dan menikmati masa tuanya di Silia bersama Caterina. Kemunafikan pria itu tak mengenal batas, dia rela menjual sisa martabat terakhir keluarganya demi uang.Yang tak dia duga adalah, saat pintu dibuka kembali, akulah yang melangkah masuk ke aula itu.Seluruh ruangan langsung sunyi.Gelas sampa

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 5

    "P ... Pak Rafael?"Sarah yang barusan masih angkuh, kini gemetar hebat, giginya beradu tak terkendali.Dalam sekejap, pria-pria berpakaian hitam dari Keluarga Gandara memenuhi klinik sempit itu.Anak buah Sarah bahkan tak sempat menarik senjata sebelum mereka dihantam ke lantai. Bunyi tulang retak yang mengerikan menggema di ruangan.Rafael Gandara.Pemimpin termuda Keluarga Gandara, pria yang mengendalikan seluruh dunia mafia Kota Nordi.Bahkan pemimpin dari empat keluarga lainnya pun harus menunduk hormat dan mencium cincinnya saat berhadapan dengannya.Baru bulan lalu, dalam pertemuan para pemimpin, dia mengumumkan tidak akan lagi menerima aliansi pernikahan, mematahkan harapan semua keluarga besar.Semua orang bilang dia gila.Kalau begitu, siapa yang akan mewarisi kerajaan bisnis besar Keluarga Gandara?Dia melepaskan mantel hitam mahalnya, menyelubungkannya ke tubuhku yang berlumuran darah, lalu mengangkatku ke dalam pelukannya."Kosongkan ruangan," perintahnya dingin. "Singkirk

  • Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri   Bab 4

    Aku terlalu kesakitan untuk berbicara.Tubuhku ambruk ke lantai, penglihatanku kabur saat cairan hangat merembes membasahi ujung gaunku.Semua orang memandangku dengan jijik."Keterlaluan sekali. Gadis itu sudah berlutut memohon, tapi dia masih menyerangnya.""Jadi yang katanya putri mafia itu ternyata memang sombong dan manja seperti gosipnya. Nggak punya etika sama sekali.""Kejam sekali. Melakukan hal seperti itu pada saudari sendiri."Desta seolah-olah baru menyadari ada yang tidak beres. Dia memanggil namaku dan melangkah ke arahku. "Eva, ada apa ....""Ah! Pergelangan kakiku!" Kata-katanya terpotong oleh jeritan Sarah.Dia menangis tersedu, di sampingnya tergeletak deretan gelas sampanye yang terbalik, gambaran sempurna seorang korban.Pada akhirnya, Desta kembali ke sisinya. Ayahku juga bergegas menghampiri Sarah. "Cepat, bawa dia ke rumah sakit keluarga!"Kerumunan orang mengerubungi mereka lalu pergi. Saat melangkah menjauh, Desta mengucapkan satu kalimat tanpa menoleh. "Lanta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status