공유

102 — Sekarang, Alea!

작가: Ivy Morfeus
last update 게시일: 2026-10-22 16:15:57

“Kurirnya sudah datang.”

Alea menaikkan pandangannya.

“Kurir apa, Pak?”

“Makan siang kita.”

Andra berjalan lebih dahulu menuju pintu masuk lobi. Alea terdiam sebentar, baru teringat bahwa mereka belum makan sejak pagi.

“Ah, tidak. Kali ini aku harus membayar sendiri.”

Ia segera menyusul pria itu, lalu melihat seorang kurir berdiri di dekat meja resepsionis sambil memegang dua kantong plastik.

Andra menerima pesanannya dan mengucapkan terima kasih. Alea yang sudah mengeluarkan dompet buru-buru m
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   104 — Mama, Jangan Pergi

    “Saya lebih mengerti dengan siapa Darrel boleh disentuh.”Ucapan Andra terdengar tajam.“Tapi, bukankah itu wanita yang membuat Tuan Darrel makan sembarangan beberapa hari yang lalu?” “Oh, jadi waktu Nyonya mengomel itu, yang dimaksud adalah dia?” sahut pelayan lain.Pelayan berambut pendek itu melipat kedua tangannya. “Benar. Jangan-jangan dia datang ke sini untuk mencelakai Tuan Darrel lagi—”“Diam.” Andra langsung menyela dengan suara lantang. “Jangan bicara sembarangan atau kalian saya tuntut.”Dering ponsel tiba-tiba terdengar. Andra langsung mengambilnya dari saku, lalu berjalan ke luar kamar.Para pelayan itu terdiam. Namun, tatapan sinis dan cibiran mereka membuat Alea tetap waspada.“Tuan Darrel belum minum obat.”Sebuah suara menyela di tengah ketegangan itu. Dari deretan pelayan berdiri, ada seorang yang lebih tua maju selangkah. Sosoknya yang sedari tadi tersembunyi, kini terlihat lebih jelas.“Karena belum makan, saya pikir tidak baik memberikan obat penurun panas. Jadi,

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   103 — Kembali ke Rumah Itu

    “Ikut saya sebentar.”Andra berbalik keluar menuju koridor. Alea melirik Sera dan Keisha, lalu tasnya yang tergeletak di bawah meja. Entah kenapa rasanya dia harus membawa tasnya juga.Ia pun menyambar tasnya dan langsung keluar ruangan.“Darrel demam tinggi. Napasnya juga bermasalah,” ucap Andra begitu mereka sudah agak jauh dari pintu.Ia menatap layar ponselnya sebentar, lalu kembali menatap Alea. “Saya harus menjemputnya sekarang.”Alea mengernyit. “Bapak sudah memanggil dokter?”“Sudah. Tapi saya tidak mau menunggu terlalu lama tanpa memastikan kondisinya. Emma sedang di luar negeri untuk mengurus kerja sama dengan dokter ahli jantung yang ingin direkrut Arunika Medika. Dia tidak bisa pulang dalam waktu dekat.”Alea terdiam.Jadi, Andra harus mengurus Darrel sendirian?“Saya ingin kamu ikut dengan saya,” lanjut Andra. “Kalau kamu tidak bisa, setidaknya bantu menutupi kepergian saya sebentar di kantor. Saya akan menjelaskan kepada Pak Bas bahwa ada urusan keluarga.”Alea memandang

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   102 — Sekarang, Alea!

    “Kurirnya sudah datang.”Alea menaikkan pandangannya.“Kurir apa, Pak?”“Makan siang kita.”Andra berjalan lebih dahulu menuju pintu masuk lobi. Alea terdiam sebentar, baru teringat bahwa mereka belum makan sejak pagi.“Ah, tidak. Kali ini aku harus membayar sendiri.”Ia segera menyusul pria itu, lalu melihat seorang kurir berdiri di dekat meja resepsionis sambil memegang dua kantong plastik.Andra menerima pesanannya dan mengucapkan terima kasih. Alea yang sudah mengeluarkan dompet buru-buru mendekat.“Berapa, Pak?” tanyanya kepada kurir.Kurir itu sempat melirik Andra sebelum tersenyum.“Oh, sudah dibayar, Kak.”“Sudah dibayar?”“Iya, Kak. Terima kasih, ya.”Kurir itu berpamitan dan bergegas pergi.Alea menoleh kepada Andra. Pria itu kini berdiri dengan dua kantong plastik di tangannya, sebelah alisnya terangkat melihat dompet yang masih terbuka di tangan Alea.“Apa itu?” tanyanya.Alea langsung menutup dompetnya. Ia mengerucutkan bibir, sedikit malu karena niatnya untuk membayar ga

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   101 — Aku Tidak Ingin Bertemu Dengannya

    “Pak, apakah kita harus membicarakan ini di jam makan siang?”Alea melirik Andra yang berjalan di sampingnya. Baru beberapa menit lalu, pria itu memberitahunya tentang pertemuan dengan pengacara untuk membahas kesaksian secara online. Alea mengira pertemuan itu akan dijadwalkan setelah jam kerja, bukan saat makan siang seperti sekarang.Namun, melihat Andra yang tampak santai, sepertinya hanya dia yang keberatan.“Saya tidak bisa pulang terlambat,” jawab Andra.Alea terdiam.Ah, benar juga. Andra harus menemani Darrel di rumah. Beberapa hari terakhir, bocah itu sempat demam dan bahkan meminta tidur di kamar ayahnya. Wajar jika Andra ingin menyelesaikan urusannya lebih awal.“Baiklah, Pak.”Alea akhirnya menurut. Ia mengikuti Andra menuju ruang rapat yang sudah dipesan sebelumnya. Di dalam, seorang pria berjas navy tengah duduk di salah satu sisi meja sambil memeriksa dokumen di hadapannya.Begitu melihat mereka masuk, Brian berdiri menyambut keduanya.“Selamat siang, Pak Andra. Saudar

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   100 — Lihat Responsmu Itu!

    “Apa yang aku nggak ngerti, Kak?”Alea menoleh sepenuhnya ke arah Andra. Ia sengaja menyebut pria itu dengan panggilan yang dulu biasa digunakannya, berharap panggilan itu bisa menembus dinding yang selama ini Andra bangun di antara mereka.“Kenapa Kakak sok misterius kayak gini? Kalau memang Kakak nggak mau aku tahu, setidaknya hidup bahagia. Jangan membuatku terus khawatir.”Andra tidak menjawab.Alea tertawa pendek tanpa humor. Ia menatap pria di sampingnya dengan sorot mata sinis, berusaha menahan campuran kesal dan kecewa yang sejak tadi mengganjal dadanya.“Lihat wajah sedih itu! Kak Andra selalu begini di hadapanku, tapi nggak mau bicara. Kakak pikir aku nggak tersiksa?”Tangan Andra mengerat pada kemudi. Rahangnya mengencang, tetapi mulutnya tetap terkatup.“Aku hanya…” Ia berhenti sejenak, seolah kesulitan menemukan kata yang tepat. “Belum siap.”Alea menatapnya tidak percaya.“Tujuh tahun itu kurang?”“Alea…”“Iya, apa?”Kali ini Alea benar-benar membalikkan tubuhnya, mengha

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   99 — Tanggal yang Tak Ingin Diingat

    Andra baru membuka pintu mobil ketika Alea menyadari bahwa pembicaraan mereka malam ini tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.“Ayo masuk. Kita bicara di dalam.”Alea mengangguk kecil, lalu masuk ke kursi penumpang. Ia meletakkan tas di pangkuan dan memasang sabuk pengaman, sementara Andra duduk di belakang kemudi.Begitu pintu tertutup, suara riuh dari luar meredup. Kabin mobil itu terasa terlalu tenang.Tiba-tiba Alea merindukan mobilnya.‘Kapan aku bisa kembali menyetir sendiri? Agar aku tak harus ke mobil ini lagi.’ pikir Alea.Andra meletakkan kunci di tempatnya, dan suara deru mesin langsung terdengar lembut. Tak lama, mobil mulai keluar dari area parkir kantor.“Soal Lukas,” katanya setelah mobil sampai di jalan raya.Jari-jari Alea mencengkeram tali tasnya.“Dia menghubungi pengacara yang menangani kasusnya. Dia meminta kamu hadir secara langsung sebagai saksi di persidangan pertama.”Alea terdiam.Persidangan pertama.Ia pernah membayangkan hari ketika Lukas harus memperta

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status