Compartilhar

41 — Efek Parfum

Autor: Ivy Morfeus
last update Data de publicação: 2026-09-21 15:30:45

“Untungnya kemarin Lukas tidak mempermasalahkannya.”

Tapi entah kenapa, rasa tidak enak itu tetap tertinggal di dada Alea. Ia menatap gelas kopi Americano di tangannya.

“Tapi ini harus dihentikan. Sekarang.”

Kakinya sedikit menghentak sebelum ia mendorong pintu kaca. Kantor masih terlalu sunyi. Lampu di beberapa sudut bahkan belum sepenuhnya menyala. Hanya suara AC yang berdengung pelan, mengisi ruang kosong yang biasanya riuh oleh percakapan dan tawa tim.

Langkah Alea terhenti sesaat.

Andra su
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   44 — Gaun yang Dilepaskan

    “Padahal ini hari sekali seumur hidup, kan? Sayang kalau tidak dimaksimalkan.”Kalimat dari Tasya kembali terngiang di telinganya. Alea sebenarnya ingin menjawab bahwa dia keberatan dengan permintaan orang asing yang bahkan tidak mengenalnya.Mulutnya sudah terbuka. Namun bayangan pintu rumahnya yang didorong paksa, suara tinggi dari istri pria di hadapannya itu, dan tatapan menuduh yang tidak memberinya kesempatan menjelaskan apa pun—bergantian muncul lagi di kepalanya.Dan entah kenapa, membuat dadanya mengeras. Ia mengalihkan pandangan.“Sebaiknya Bapak nggak perlu tahu urusan saya lagi.”Ia menjaga nada suaranya tetap datar.Andra tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Alea, seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak ia ucapkan.“Kamu masih marah karena Emma?”Alea menoleh. Tatapannya tajam. Tidak perlu dijawab dengan kata-kata.‘Menurut Bapak?’Sunyi jatuh di antara mereka.Hanya suara mesin lift yang bergerak turun perlahan, angka-angka di atas pintu yang berganti satu per sa

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   43 — Gaun yang Harus Dikirim

    “Kak, batas waktunya jam berapa ya?”Voice note dari Noah masuk tepat setelah panggilan teleponnya tak sempat Alea jawab. Alea melirik ke seluruh sudut ruangan. Situasinya kembali tenang setelah terbukanya identitas Hantu Toilet dan beberapa rahasia yang perlu ditutup rapat di luar ruangan ini. Atau mungkin… pura-pura tenang?Tapi Alea senang dengan sikap mereka. Ia merasa dihargai. Akhirnya ia menekan tombol rekam untuk membalas.“Untuk submit bab?” jawabnya. “Setiap hari jam sebelas malam. Mengikuti waktu server yang satu jam lebih cepat.”“Ohhh…” suara di seberang terdengar lega sekaligus bingung. “Pantas saja kemarin aku upload jam setengah dua belas, kok masuknya ke hari berikutnya.”Alea mengangguk kecil, tangannya menggerakkan mouse.“Coba aku cek ya.”Ia membuka dashboard penulis. Nama Noah Nyx langsung muncul di layar. Matanya sedikit menyipit.“Hmm…”Sera yang duduk di meja sebelah langsung menoleh.“Kenapa?”Alea tidak langsung menjawab. Ia menggerakkan mouse, membuka detai

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   42 — Identitas Hantu Toilet

    Andra tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke seluruh ruangan, memastikan semua orang benar-benar mendengarkan.“Ada sesuatu yang beredar di kantor,” katanya akhirnya.Lalu matanya bergeser kembali ke Alea. Wajahnya lebih tegang sekarang.Alea tidak bereaksi. Ia hanya menunggu. Sedangkan anggota tim lain segera menarik kursi masing-masing untuk mendengar lebih jauh.Andra melanjutkan, suaranya lebih rendah.“Katanya ada yang berselingkuh di kantor. Malam hari.”Sera mengernyit.“Apaan sih—”“Ada satpam yang melihat,” lanjut Andra.Kalimat itu membuat semua orang terdiam.“Rumor itu… sudah sampai ke level atas,” tambahnya. “Ke para eksekutif.”Mata Dikta bergeser ke kanan, seperti sedang mengingat sesuatu. Lalu sedetik kemudian, tangannya saling bertepuk.“Ah, berarti tadi yang diceritakan Kak Naya benar!”“Kamu dengar itu dari Naya?” Fokus Andra kini beralih pada Dikta. “Sedekat apa kamu sama dia sampai dia membocorkan hal yang masih dirahasiakan?”Andra berdecak kesal. “Seharu

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   41 — Efek Parfum

    “Untungnya kemarin Lukas tidak mempermasalahkannya.”Tapi entah kenapa, rasa tidak enak itu tetap tertinggal di dada Alea. Ia menatap gelas kopi Americano di tangannya.“Tapi ini harus dihentikan. Sekarang.”Kakinya sedikit menghentak sebelum ia mendorong pintu kaca. Kantor masih terlalu sunyi. Lampu di beberapa sudut bahkan belum sepenuhnya menyala. Hanya suara AC yang berdengung pelan, mengisi ruang kosong yang biasanya riuh oleh percakapan dan tawa tim.Langkah Alea terhenti sesaat.Andra sudah ada di sana. Pria itu duduk di kursinya, sedikit bersandar, menatap layar laptop dengan ekspresi datar. Seolah hari ini hanyalah hari kerja seperti biasa. Tapi ada yang sedikit berbeda—rambutnya tidak serapi biasanya dan kemeja itu—bukankah itu kemeja yang dipakainya kemarin?Alea menggelengkan kepalanya sedikit. Ia harus fokus pada tekadnya sejak kemarin. Rahang Alea mengeras. Ia langsung berjalan lurus ke arah meja Andra tanpa ragu. Satu gelas kopi ia letakkan di atas meja—dengan sedikit h

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   40 — Kekacauan di Pagi Hari

    “Sudah malam, Sayang,”Suara Alea pelan, tapi cukup untuk menghentikan Lukas. Ia menahan tangan pria itu dengan lembut.“Kamu akan capek. Besok kamu masih harus mengurus kontrak dengan Bu Tasya, kan?”Lukas menatapnya beberapa detik. Napasnya masih belum stabil.“Bersabarlah sampai saat itu, Lukas.”Nada suara Alea tenang. Telapak tangannya mengusap punggung pria itu. Akhirnya Lukas menghela napas.“Baik.” Tangannya terlepas. “Tapi, aku tetap tidur di ranjangmu, ya. Sama kamu.”Alea mengangkat alisnya. Itu permintaan yang tidak mungkin ia tolak.“Iya. Sudah sana, mandi dulu. Baju piyamamu ada di lemari,” Ia menjauhkan diri dari Lukas. “Aku buatkan jahe hangat dulu ya, biar tidurmu nyenyak.”Lukas mengangguk, berbalik meninggalkan Alea menuju kamar. Rumah itu milik orang tua Alea. Dan semenjak meninggalnya mereka, Alea mengalami depresi, diperparah tinggal sendiri di rumah itu.Begitu Lukas datang ke kehidupannya, ia hampir setiap hari bersama Alea di sana. Dengan sangat sabar menemani

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   39 — Ciuman Tertahan

    ‘Kenapa ekspresinya begitu?’Mata Alea bergerak gelisah.Tatapan Tasya masih terpaku pada layar ponsel Alea. Ujung jarinya menyentuh dagunya, seperti sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat.“Ini cantik,” katanya akhirnya.Alea menahan napas.“Tapi… terlalu polos.”Kalimat itu keluar dengan mudahnya. Seolah bukan hal penting. Tapi terasa cukup tajam masuk ke dada Alea.“Terlalu aman,” lanjut Tasya. “Tidak ada aksesoris yang menonjol. Tidak ada statement.”Anggukan Lukas di sampingnya semakin memperdalam lukanya. Seolah meremehkan pilihan Alea.“Padahal ini hari sekali seumur hidup, kan?” Tasya tersenyum. “Sayang kalau tidak dimaksimalkan.”Alea menatap layar ponselnya lagi. Gaun itu. Gaun yang ia pilih sendiri. Gaun yang—tanpa sengaja—dibantu Andra untuk ia temukan. Satu-satunya gaun yang ingin ia pakai di hari bersejarahnya.Bukankah itu yang paling penting? Perasaan si pemakai?“Kalau kamu tidak keberatan,” suara Tasya kembali terdengar, lembut tapi pasti, “aku bisa bantu revisi

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status