ログイン“Ikut saya sebentar.”Andra berbalik keluar menuju koridor. Alea melirik Sera dan Keisha, lalu tasnya yang tergeletak di bawah meja. Entah kenapa rasanya dia harus membawa tasnya juga.Ia pun menyambar tasnya dan langsung keluar ruangan.“Darrel demam tinggi. Napasnya juga bermasalah,” ucap Andra begitu mereka sudah agak jauh dari pintu.Ia menatap layar ponselnya sebentar, lalu kembali menatap Alea. “Saya harus menjemputnya sekarang.”Alea mengernyit. “Bapak sudah memanggil dokter?”“Sudah. Tapi saya tidak mau menunggu terlalu lama tanpa memastikan kondisinya. Emma sedang di luar negeri untuk mengurus kerja sama dengan dokter ahli jantung yang ingin direkrut Arunika Medika. Dia tidak bisa pulang dalam waktu dekat.”Alea terdiam.Jadi, Andra harus mengurus Darrel sendirian?“Saya ingin kamu ikut dengan saya,” lanjut Andra. “Kalau kamu tidak bisa, setidaknya bantu menutupi kepergian saya sebentar di kantor. Saya akan menjelaskan kepada Pak Bas bahwa ada urusan keluarga.”Alea memandang
“Kurirnya sudah datang.”Alea menaikkan pandangannya.“Kurir apa, Pak?”“Makan siang kita.”Andra berjalan lebih dahulu menuju pintu masuk lobi. Alea terdiam sebentar, baru teringat bahwa mereka belum makan sejak pagi.“Ah, tidak. Kali ini aku harus membayar sendiri.”Ia segera menyusul pria itu, lalu melihat seorang kurir berdiri di dekat meja resepsionis sambil memegang dua kantong plastik.Andra menerima pesanannya dan mengucapkan terima kasih. Alea yang sudah mengeluarkan dompet buru-buru mendekat.“Berapa, Pak?” tanyanya kepada kurir.Kurir itu sempat melirik Andra sebelum tersenyum.“Oh, sudah dibayar, Kak.”“Sudah dibayar?”“Iya, Kak. Terima kasih, ya.”Kurir itu berpamitan dan bergegas pergi.Alea menoleh kepada Andra. Pria itu kini berdiri dengan dua kantong plastik di tangannya, sebelah alisnya terangkat melihat dompet yang masih terbuka di tangan Alea.“Apa itu?” tanyanya.Alea langsung menutup dompetnya. Ia mengerucutkan bibir, sedikit malu karena niatnya untuk membayar ga
“Pak, apakah kita harus membicarakan ini di jam makan siang?”Alea melirik Andra yang berjalan di sampingnya. Baru beberapa menit lalu, pria itu memberitahunya tentang pertemuan dengan pengacara untuk membahas kesaksian secara online. Alea mengira pertemuan itu akan dijadwalkan setelah jam kerja, bukan saat makan siang seperti sekarang.Namun, melihat Andra yang tampak santai, sepertinya hanya dia yang keberatan.“Saya tidak bisa pulang terlambat,” jawab Andra.Alea terdiam.Ah, benar juga. Andra harus menemani Darrel di rumah. Beberapa hari terakhir, bocah itu sempat demam dan bahkan meminta tidur di kamar ayahnya. Wajar jika Andra ingin menyelesaikan urusannya lebih awal.“Baiklah, Pak.”Alea akhirnya menurut. Ia mengikuti Andra menuju ruang rapat yang sudah dipesan sebelumnya. Di dalam, seorang pria berjas navy tengah duduk di salah satu sisi meja sambil memeriksa dokumen di hadapannya.Begitu melihat mereka masuk, Brian berdiri menyambut keduanya.“Selamat siang, Pak Andra. Saudar
“Apa yang aku nggak ngerti, Kak?”Alea menoleh sepenuhnya ke arah Andra. Ia sengaja menyebut pria itu dengan panggilan yang dulu biasa digunakannya, berharap panggilan itu bisa menembus dinding yang selama ini Andra bangun di antara mereka.“Kenapa Kakak sok misterius kayak gini? Kalau memang Kakak nggak mau aku tahu, setidaknya hidup bahagia. Jangan membuatku terus khawatir.”Andra tidak menjawab.Alea tertawa pendek tanpa humor. Ia menatap pria di sampingnya dengan sorot mata sinis, berusaha menahan campuran kesal dan kecewa yang sejak tadi mengganjal dadanya.“Lihat wajah sedih itu! Kak Andra selalu begini di hadapanku, tapi nggak mau bicara. Kakak pikir aku nggak tersiksa?”Tangan Andra mengerat pada kemudi. Rahangnya mengencang, tetapi mulutnya tetap terkatup.“Aku hanya…” Ia berhenti sejenak, seolah kesulitan menemukan kata yang tepat. “Belum siap.”Alea menatapnya tidak percaya.“Tujuh tahun itu kurang?”“Alea…”“Iya, apa?”Kali ini Alea benar-benar membalikkan tubuhnya, mengha
Andra baru membuka pintu mobil ketika Alea menyadari bahwa pembicaraan mereka malam ini tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.“Ayo masuk. Kita bicara di dalam.”Alea mengangguk kecil, lalu masuk ke kursi penumpang. Ia meletakkan tas di pangkuan dan memasang sabuk pengaman, sementara Andra duduk di belakang kemudi.Begitu pintu tertutup, suara riuh dari luar meredup. Kabin mobil itu terasa terlalu tenang.Tiba-tiba Alea merindukan mobilnya.‘Kapan aku bisa kembali menyetir sendiri? Agar aku tak harus ke mobil ini lagi.’ pikir Alea.Andra meletakkan kunci di tempatnya, dan suara deru mesin langsung terdengar lembut. Tak lama, mobil mulai keluar dari area parkir kantor.“Soal Lukas,” katanya setelah mobil sampai di jalan raya.Jari-jari Alea mencengkeram tali tasnya.“Dia menghubungi pengacara yang menangani kasusnya. Dia meminta kamu hadir secara langsung sebagai saksi di persidangan pertama.”Alea terdiam.Persidangan pertama.Ia pernah membayangkan hari ketika Lukas harus memperta
“Yang benar saja…”Keisha mengembuskan napas panjang. Rekan-rekannya menyusul dengan keluhan serupa.Mereka sudah berada di kantin, tempat di mana mereka berkelahi siang tadi. Setelah mengamati sekeliling, Alea menyadari sesuatu.“Ini jauh lebih berantakan daripada siang tadi,” gumamnya.Lantai lengket oleh sisa makanan yang terinjak. Meja dan kursi berlumuran saus bolognese, sementara sendok plastik, tisu, dan gelas berserakan di mana-mana.Entah tadi siang ia terlalu emosional hingga tidak memperhatikan sekeliling, atau memang ada yang menambah kekacauan setelah mereka pergi.Ia seharusnya sudah menduga bahwa perkara ini tidak akan selesai hanya dengan tanda tangan di atas kertas.“Karena kalian sudah membuat kekacauan di sini, kalian juga yang bertanggung jawab membersihkannya,” lanjut Andra. “Saya sudah berbicara dengan pengelola kantin. Mereka sudah menyediakan perlengkapan kebersihan.”Andra menunjuk sudut kantin. Dikta mengangkat tangan setengah hati.“Pak, kalau kami membayar







