LOGINAlea berkedip.‘Sup ayam jahe? Kenapa tiba-tiba…?’Andra meletakkan kotak makan tersebut tepat di depan Alea. Uap tipis masih terlihat ketika ia membuka sedikit tutupnya. Aroma jahe yang hangat segera tercium.Sebelum Noah sempat menjawab, Andra mengambil satu potong sushi dari kotak di atas meja. Ia memakannya tanpa ragu.“Wah, saya suka sekali saus mentainya.” Andra mengunyah sebentar, lalu menatap Alea. “Mengingatkan saya pada dimsum mentai yang baru viral. Kamu suka dimsum, Alea?”Alea menatapnya dengan bingung.“Suka, Pak,” jawab Alea canggung.Andra mengangguk dengan senyuman lebar. Kemudian, ia menepuk lengan Noah dengan ringan.“Sudah kuduga. Saya lebih pintar menebak apa yang dia suka.” katanya.Noah memandang Andra, lalu sushi yang masih dipegangnya.“Jadi, sushinya untuk Pak Kala?”Andra hampir mengangguk.Namun, Alea lebih dulu meraih kotak sushi dari tangan Noah dan memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik.“Noah bawa beberapa kotak, Pak. Yang ini buat saya makan na
“Kak Alea!”Suara ceria itu membuat Alea mengangkat kepala dari botol jamu di tangannya.Noah muncul di ambang pintu ruang kerja dengan dua kantong plastik besar di tangan. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya terdengar terburu-buru, tetapi senyumnya lebar seperti biasa.“Aku kira bakal terlambat jam makan siang. Aku sampai lari-lari. Takut Kak Alea keburu makan duluan,” katanya sambil menghampiri meja Alea.Keisha dan Sera yang mendengar suara Noah langsung mendekat. Dikta bahkan memutar kursinya, penasaran dengan apa yang dibawa pemuda itu.“Waaah, perhatian sekali brondong satu ini!” Keisha berseru ketika Noah mengeluarkan kotak Salmon Mentai Roll dari kantong pertama. “Makan sushi memang praktis buat Alenta yang lagi malas makan.”Sera melirik kantong kedua yang diletakkan Noah di atas meja.“Oh, ini apa? Dark chocolate?” Ia menoleh kepada Alea, lalu kembali menatap Noah dengan senyum penuh arti. “Wah, kalian ternyata dekat sekali, ya. Sampai tahu jadwal mens Alenta dan kasih ce
“Pak,”Alea refleks menyentuh kain celana Andra di bawah meja. Menatapnya seolah berkata,“Bukankah Anda tidak bisa bilang begitu di area kantor?”Alea sempat melirik pintu kaca ruang rapat.Di luar, beberapa rekannya tampak masih berada di dekat meja masing-masing. Salah seorang dari mereka bahkan sempat menoleh ke arah ruangan sebelum buru-buru berpaling.Tapi Andra hanya mengerjap sekali, bermaksud menenangkannya.Robert kembali menatap Andra, lalu akhirnya meletakkan map di atas meja.“Baiklah, Pak Kalandra. Kalau Anda ingin ikut mendengarkan, saya tidak keberatan.” Ia membuka map tersebut. “Namun, saya perlu menegaskan bahwa kedatangan saya bukan untuk mengintimidasi Bu Alenta.”Robert mengeluarkan selembar dokumen, merapikan posisinya, lalu mengangkat pandangan kepada Alea.“Saya datang untuk menyampaikan permintaan dari klien saya, Bapak Lukas.”Andra tidak bergerak.Alea justru semakin meremas jemarinya di atas pangkuannya.“Permintaan apa?” tanyanya lirih.Robert menggeser ta
“Kamu baik-baik saja?” tanya Andra.Alea meletakkan kembali buku catatan dan ponselnya di atas meja. Ia duduk, lalu menunduk, menghindari tatapan pria yang kini berdiri di hadapannya.“Saya baik-baik saja, Pak.”Ia meremas jemarinya sendiri. Ia sudah menduga Andra pasti menyadari tingkah anehnya hari ini.“Kamu kelihatan tidak fokus saat rapat.”“Saya cuma kurang tidur.”Begitu kalimat itu keluar, Alea langsung menggigit bibir bawahnya. Alasan itu tidak masuk akal. Andra tahu ia harus minum obat sebelum tidur, dan obat tersebut membantunya beristirahat. Mengatakan bahwa ia kurang tidur hanya akan mengundang pertanyaan lain.Andra tidak langsung menjawab.Keheningan yang menyusul justru membuat Alea semakin gelisah. Ia bisa merasakan tatapan pria itu, seakan Andra sedang menunggu sesuatu yang lebih jujur daripada jawaban singkatnya.Tanpa sadar, matanya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja.Andra mengikuti arah pandangannya.“Ada apa dengan ponselmu?”“Tidak ada.”Jawaban itu
Alea tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya hari ini.Sejak pagi, tangannya terus gemetar. Beberapa kali ia mencoba mengetik di keyboard, tetapi kalimat-kalimat tak beraturan justru muncul di layar.Ia menghapusnya, mencoba lagi, lalu berhenti ketika menyadari bahwa ia bahkan tidak tahu apa yang hendak ditulisnya.Pikirannya terus kembali pada panggilan telepon semalam.“Alenta, kamu tahu waktu itu aku hanya khilaf. Aku tidak benar-benar sengaja melakukannya. Aku… aku hanya cemburu dan kesal tentang pria lain. Tapi, bukankah itu berarti karena aku mencintaimu, kan?”Alea memejamkan mata.Bahkan sekarang, Lukas masih berusaha membenarkan perbuatannya. Seolah-olah kecemburuan bisa menjadi alasan untuk menyakitinya.Lalu, suara memelas itu kembali terngiang di telinganya.“Aku… tidak bisa tidur di tempat seperti ini. Punggungku sakit dan dingin.”Napas Lukas terdengar terputus-putus, seolah ia sedang menahan tangis.“Kamu tahu apa kata mereka? Aku mungkin akan diancam penjara lima b
‘Aku tak seharusnya berada di sini, kan?’Alea melirik ke luar jendela mobil, berusaha mengalihkan pikirannya dari pria yang duduk di sebelahnya. Sejak meninggalkan rumah sakit, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Ia sekarang berada di mobil Andra, pria yang pernah menghilang dari hidupnya selama tujuh tahun, lalu muncul kembali sebagai atasannya. Pria yang sudah memiliki istri dan seorang anak laki-laki menggemaskan.Dan pria yang, entah bagaimana, kini membiarkannya tinggal di apartemen mewah.Alea menoleh ke belakang.Darrel masih tertidur pulas. Tubuh kecilnya tertahan sabuk pengaman, sementara kepalanya sedikit miring ke samping.Alea kembali menghadap ke depan. Ia meremas tali tas yang berada di pangkuannya sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.“Pak.”“Hm?”“Apakah tidak apa-apa kalau orang melihat saya tinggal di apartemen itu?”Andra tetap memandang jalan. Kedua tangannya memegang kemudi dengan santai.“Kenapa memangnya?”Alea menoleh kepadanya. “Bukankah o







