LOGINMirabella Jones grew up chasing success, her eyes set on fame as an actress. Her father walked out, leaving her to care for a sick mother while he built a new life with his mistress. The hunger to climb the ranks of stardom burned in her, pushing her forward. One night, a mistake rewrote her path. The drug which she had prepared for a famous actor slipped into the wrong glass. Aiden Hayes, a powerful business tycoon with a deep aversion to touch, ended up in her bed instead. Aiden didn’t let it end there. He offered Mirabella a proposal—marriage, but with strings attached. Behind the offer hid his own motive. She wasn’t a bride. She was an experiment, a possible cure for the illness that twisted his mind and body after trauma shut him off from women. As the truth begins to surface, Mirabella stands at a crossroads. Can she forgive the deception? And when Aiden confesses the feelings that crept up on him, will she accept the love he never planned to find?
View MoreBendahara. Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata ini? Salah satu jabatan yang cukup terkenal di dalam kelas itu memang paling banyak dihindari oleh kalangan siswa/siswi. Mereka tidak jahat. Tidak kasar. Tidak juga menyiksa. Tapi jika sosok itu sudah berjalan mendekati bangku, maka hawa negative dalam saku seragam tiba-tiba akan berubah menjadi panas.
Masih untung kalau bendahara kelas nya nagih secara baik-baik dan mengerti keadaan. Gimana kalau nagihnya sambil teriak-teriak, maksa pula. Udah gitu sambil melotot. Mana ngancam bakal ngaduin ke Wali kelas lagi. Dijamin 100% Bendahara yang seperti itu yang paling di hindari oleh semua murid.
“Mau bayar minggu kemarin sama minggu sekarang?”
“Iya Vee, biar nggak nunggak. Males gue kalau bayar uang kas tapi udah nunggak banyak.”
Raveena menganggukan kepala nya lalu menulis sebuah catatan di buku tulisnya. “Siap! Jadi udah lunas ya, hehe.”
Gadis itu berjalan pelan dengan mata yang masih fokus menatap nama-nama yang tertera rapih di buku yang sedang ia pegang. Ujung penanya menyentuh dagunya dengan bibir tak diam bergumam. Hingga detik selanjutnya Raveena mendongak kan kepalanya. Berjalan menuju arah bangku tengah barisan ke tiga.
“Wildan? Wawan?” panggil Raveena. Kedua cowok yang sedang asik berceloteh itu menoleh secara serempak.
“Sorry ganggu nih gue, sekarang kan hari Senin. Jadwal nya bayar uang kas.”
“Lah? Perasaan baru minggu kemarin gue bayar. Masa sekarang udah bayar lagi. Heran gue,” ujar Wawan. Wildan menengok dengan sebelah alis terangkat.
“Ya kan, minggu kemarin tuh waktu hari Senin kemarin. Sekarang minggu nya udah beda lagi, Wan,” kata Raveena.
“Lho? Mana mungkin bisa kayak gitu?! Emang nya uang kas yang minggu kemarin nggak bisa apa dibagi dua sama minggu sekarang?” Wawan bertanya.
“Nggak bisa Wan, udah beda lagi hari.”
“Sama lah! Orang sama-sama hari Senin. Apa bedanya?!” Wawan makin nyolot.
“Beda.”
“Sama.”
“Beda!”
“Sama!”
“BEDA WAWAN!” kesabaran Raveena turun level.
“DIBILANG BEDA, YA BEDA! Gimana sih jadi cewek nggak bisa ngalah dikit.”
Raveena mode cengo on.
“Banyak ngomong banget sih lo. Tinggal bayar seribu apa susah nya sih,” kini Wildan yang membuka suara. Cowok itu beralih menatap Raveena yang masih berdiri. “Gue bayar berapa minggu, Vee?” tanya Wildan sambil merogoh saku seragamnya.
Senyuman Raveena mengembang. Setidaknya, Wildan tidak sebolot Wawan. “Seribu aja Wil, soalnya minggu kemarin kan bayar. Jadi nggak nunggak,” kata Raveena setelah mengecek beberapa detik ke arah bukunya.
“Nih, dua ribu. Sekalian sama yang si Wawan gue bayarin.”
“Oke siap, gue catet ya.”
Wawan langsung menembakkan laser tatapan terkejut kearah Wildan. “Ih, kan gue udah bayar Wil. Ngapain di bayar lagi?!” Wawan kekeuh tidak terima.
“Vee? Berarti minggu depan gue nggak bayar ya," ucap Wawan.
“Heh? Loh kok gitu sih?!”
“Kan udah udah dibayar tadi sama Wildan.”
Raveena berdeham sebentar, menarik napasnya kilat. “Gini ya Wan, yang dibayar sama Wildan itu buat minggu sekarang. Kalau minggu depan ya berarti bayar lagi, kan udah beda hari. mana ada bayar uang kas dibagi dua. Ngerti kan Wawan?”
Wawan diam beberapa saat, membuat Raveena berdoa agar jawaban cowok itu tidak memaksanya untuk baku hantam hari ini. “Oh, iya gue ngerti.” Wawan menjawab dengan semangat. “Asal lo mau jadi pacar gue. Hehe.”
Raveena memutar bola matanya malas. Melihat Wawan cengengesan seperti itu membuat dirinya semakin kesal. “Bayarin dulu uang kas 3 angkatan, baru gue mau jadi pacar lo,” jawab Raveena membuat Wildan tertawa sangat keras.
Gadis itu meninggalkan tempat lalu kembali menatap bukunya, disana Wawan kecewa. Poor Wawan.
Menjadi seorang Bendahara bukan lah hal yang mudah bagi Raveena Adhisty. Seorang Bendahara kelas 12 IPA 2 yang memiliki paras yang terbilang cantik di SMA Angkasa ini. Rasanya susah sekali menagih uang kas kepada teman sekelasnya sendiri.
Apalagi kaum Adam, sering sekali Raveena mendegarkan 69 alasan jitu yang menurutnya tak masuk logika. Ditambah lagi dengan godaan-godaan receh dari mereka membuat Raveena semakin malas saja rasanya. Meski begitu, Raveena termasuk jajaran cewek yang ramah dan menyenangkan. Maka tidak heran kalau Raveena banyak diincar oleh para siswa.
Tapi, hanya ada satu mahkluk paling kamvret yang berhasil membuat Raveena menjadi sosok Raveena yang lain. Sikap ramah dan lemah lembutnya akan menghilang seketika jika sampai berbicara dengan cowok yang satu ini. Raveena kadang berubah seperti orang kesetanan minta di ruqyah. Rasanya pengen jadi psikopat aja sekarang juga.
“Rasendriya Adystha…” gumam Raveena.
--o0o--
“ENTAHH APAAAAA YANG MERASUKI MUUUUUUUU….”
“HINGGA KAU TEGA MENGKHIANATI KUUU….. YANG TULUSS MENCINTAIMU…”
“Njir, judul lagu nya apaan woy! Enak bener dah,” ujar cowok yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Daffa Pradipta namanya.
“Nggak tahu njir, apaan ya? Gue nemu lagu ini di TikTok,” sahut teman sebelahnya, Romi menggeleng-gelengkan kepalanya.
Menikmati alunan lagu yang ia nyanyikan tadi. Walau suaranya fals tingkat dewa, tapi Romi dengan pede nya nyanyi dengan suara lantang di koridor sekolah.
“Matiin dong, matiin. Gue gedek dengernya,” ucap seorang cowok yang menyumpal sebelah telinganya dengan jari telunjuk kanannya.
“ASTAGFIRULLAH MATIIN BANGKE! SEBEL WOY DENGERNYA.”
Namanya Rasendriya Adystha, pentolan SMA Angkasa dengan tingkat kepopuleran kualitas tinggi. Terlihat tampan disegala arah sudut pandang. Famous, pintar dan ramah—lebih tepatnya caper. Siapapun pasti akan terpesona dengan sosoknya yang berkharisma kuat. Rasen panggilannya, idola para siswi. Tapi…. Nyebelin, eh dikit. Nggak deng banyak.
“Ogah! Lagu enak gini malah di suruh berhentiin. Lo kalau nggak mau denger, copot aja tuh kuping.” Usulan paling sadis ini keluar dari mulut Romi.
Rasen berdecak, kemudian menegakan posisi tubuhnya setelah beberapa menit berdiri seraya menyederkan punggungnya ke arah tembok.
“Alay lo berdua! Gue tuh kayak di terror mati-matian tau sama nih lagu. Nggak di SW, IG, Line bahkan sampe di Twitter juga isinya lagu kayak gini semua! Sekarang malah—eh, hai cantik. Kok sendiri aja.”
Rasen malah gagal fokus pada adik kelas yang baru saja melewatinya.
“PEPET TEROOSSSS!!! PEPET!! NGGAK KENAL JUGA GOMBALIN SEKENANYA!!” Daffa menyindir langsung tanpa beban.
“Heran gue, liat dede emesh lewat aja langsung galfok lo, Sen.”
“Mubazir anjir, tuh adek kelas bening amat. Pusing gue liat nya,” kata Rasen malah menyahut. Kemudian kembali menatap kedua temannya setelah adik kelas tadi pergi tak terjangkau oleh pandangan.
“Oke—sampai mana tadi? Oh! Sampe lagu kan?! Pokoknya gue nggak mau lo berdua nyetel lagi lagu itu, titik.”
“Kenapa?”
“Ya karena gue—ALLAHUAKBAR! Nyebut gue.” Rasen tersentak keget mendapati Raveena berdiri tepat di sisi kirinya. Melihat sebuah pena dan buku di genggamannya membuat Rasen tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ya, senyuman Raveena itu, senyuman devil paling seram yang pernah Rasen lihat.
“Napa? Kaget banget kek liat setan.”
“Emang setan kali.”
“Apa?!”
“Nggak.” Rasen langsung mengalihkan pembicaraan. “Lo ngapain tiba-tiba disini? Ngagetin aja lo!”
Padahal Rasen sudah tau alasan kedatangan Raveena, tapi cowok itu tetap berlagak idiot.
“Bayar uang kas!” titah Raveena mulai membuka buku catatannya.
“Ogah! Males gue.”
“Sen, gue nggak lagi mau ribut. Jangan cari masalah. Bayar cepetan!” Sebelah tangan Raveena telah terulur, menagih.
“Yang ngajak ribut siapa? Gue cuma nggak mau bayar uang kas, males. Nggak guna,” lanjutnya lagi. Romi dan Daffa saling memberi kode lewat mata, seakan akan berbicara; bentar lagi adu bacot nih bocah dua.
“Ya itu sama aja! Sen, lo nunggak bayar uang kas udah 4 bulan. Gue sering kena tegur sama Wali kelas karena tunggakan lo itu. Disangkanya gue nggak becus jadi Bendahara, tau nggak?”
“Ya itu derita lo, nggak gue pikirin.”
“YA LO PIKIRIN LAH BAMBANG! Orang itu tunggakan lo juga!”
“Lo kan tau sendiri kalau gue paling nggak suka bayar uang kas, bukan suatu kewajiban tapi seakan-akan hal yang harus BANGET dilakuin. Nggak jelas juga duitnya di kemanain,” ucap Rasen makin menantang. “Lebih baik gue kasihin ke orang yang butuh daripada bayar uang kas!”
“Ya udah, sekalian anggap aja infaq. Nggak usah ribet.” Raveena berdeham menahan kesal yang mulai mejalar di dalam dadanya. “Bayar cepetan!”
“Nggak mau.”
“Sen! Lo udah nunggak 4 bulan. Seengaknya bayar dua atau tiga minggu kemarin kek. Cuma seribu ini per minggunya.” Raveena menatap tajam cowok yang katanya tampan itu. Tapi yang ditatap malah balik natap malas.
“Kalau lo nggak mau bayar juga, gue bakal bilang sama wali kelas kalau lo itu ngerokok di—hmmpphh.”
Rasen tanpa pikir panjang langsung membekap mulut Raveena sampai terhuyung beberapa langkah kebelakang. Romi dan Daffa yang kaget lantas ikut berdiri. “Diem! Lo jangan buka aib disini anjir. Kalau ada guru yang denger gimana?!” Rasen panik.
“Hmmphh!”
“Selow bro, kalau mau bunuh orang jangan ditempat umum kek gini lah. Serem gue liatnya,” ujar Romi meringis.
“Lepasin Sen! Tuh cewek asli metong gimana?” Daffa ikut berkomentar.
“Lagian nih cewek mulut nya lemes banget kayak—ARGH!! DIGIGIT ANJIR TANGAN GUE!” pekik Rasen menjauhkan tangannya dengan cepat. Lalu memandang nanar telapak tangannya yang merah dan tapakan. “Tangan gue jadi bermotif masa.”
“Vee, kok jadi suka gigit-gigitan, sih? Kalau mau dibagian yang bawah aja, jangan di tangan.”
“Lo makan apaan sih, Sen? Asin banget, cih.” Raveena berdecih sambil memeletkan lidahnya karena merasakan rasa yang aneh pada telapak tangan Rasen.
“Makan temen,” jawabnya asal. Masih meringis sakit.
Raveena mengigit bagian dalam pipinya. Benar-benar tidak akan pernah nyambung jika terus berbicara dengan cowok kampret macam Rasen. “Jadi lo mau bayar atau nggak, nih?” tanya Raveena kembali pada topik awal.
“Gimana yah—mau tau aja atau mau tau banget?”
“Banget,”
“Banget nya B aja atau banget plus plus banget?” Rasen terus mengulur waktu. Raveena menggeram kesal.
“Banget, banget, banget!!!”
“Banget tingkat kecil atau besar?”
“BANGET!! LO BILANG KAYAK GITU SEKALI LAGI GUE ANCURIN KACA MOBIL LO!” sudah dibilangkan, Rasen ini paling hobby melihat Raveena naik pitam. Mau sampai Mimi Peri kembali ke khayangan dan menemukan pangeran berkuda sekalipun, Rasen tidak akan berhenti.
“Oh silahkan, sayangnya gue masih punya kereta pribadi,” jawab Rasen meluncur begitu saja. Romi dan Daffa terkikik kecil.
Raveena melotot. Selalu saja ada jawaban yang keluar dari mulut Rasen. cowok itu sangat pintar berkata-kata. “Jadi. Lo. Mau. Bayar. Nggak. Bangsat?!” Raveena mulai khilaf.
“Lah, lain kali aja lah Vee.”
“LAIN KALI? LAIN KALI SAMPAI KAPAN? SAMPE UPIN IPIN JADI MAHASISWA DEMOSTRASI?! HAH?” teriak Raveena lantang. Membuat Rasen mundur satu langkah, kaget.
“Lo tau kan kalau 3 sapu di kelas kita itu kecolongan?! Lap pelnya juga patah nggak tau sama siapa. Wali kelas nyuruh gue nagih uang kas buat beli perlengkapan kelas lagi yang baru. Kalau nggak ada kelas kita bakalan kot—WOY!! DENGERIN DONG GUE KALAU LAGI NGOMONG!” Pekik Raveena saat melihat Rasen memalingkan wajahnya ke samping kanan.
“Iya Jubaedah, ini didengerin. Lo kata kuping gue nggak dower apa denger teriakan lo.”
“Ya udah bayar!” Raveena menghentakan kakinya keras. “Si Beni aja yang modelannya begitu, mau bayar. Masa lo nggak. Kere!”
Mendengar itu Romi dan Daffa tergelak seketika. Penuturan Raveena berhasil membuat keduanya tertawa. “Wanjir, lo disamain sama si Beni, Sen. Gila, cocok lah kalian.”
Beni—adalah salah satu siswa SMA Angkasa. Yang menjadi sorotan adalah, Beni tidak bersikap layaknya cowok seperti yang lainnya. Beni memiliki sisi kepribadian yang condong mirip wanita elegan. Sering membawa cermin, memakai kutex, berbicara lemah lembut dan bahkan sering berkumpul dengan kumpulan cewek. Oke, disetiap sekolah pasti pernah memiliki sosok seperti Beni.
Rasen menatap sebal ke arah ketiganya. “Vee. Apa maksudnya lo nyamain gue sama cowok lekong yang suka pake bando sama mascara itu. Gila aja, gue tuh cowok sejati! Gentle man!” Rasen tak terima, terasa direndahkan.
“Lah, emang iya. Masih mending Beni daripada lo. Dasar medit! Pelit! Pensiun aja lo jadi manusia!” Raveena meluapkan emosinya.
“Apa perlu gue buka celana sekarang juga, biar lo percaya betapa jantannya gue?” Sip, Rasen sudah memasang wajah mupengnya. Sedangkan Raveena mendelik sinis.
“Buka aja kalau lo nggak punya malu!” sarkas Raveena. “cepetan bayar! Atau kalau nggak gue tendang anu lo!” ucapan Raveena langsung membuat Rasen menganga. Ntah kenapa, tiba-tiba ia merasa ngilu sendiri didaerah tertentu.
Mengingat kalau Raveena pernah melakukan apa yang ia katakan barusan saat tahun lalu. Hanya masalah kecil bagi Rasen, ia tidak sengaja memegang sekilas bokong Raveena saat berdepetan dilorong sekolah. Serius, Rasen bener-bener nggak sengaja.
“Iya-iya, bawel banget Renternir.”
Rasen dengan gaya merogoh saku seragamnya. Matanya terlempar lekat menatap kedua temannya seperti sedang memberikan naskah untuk hari ini. Romi dan Daffa yang mengertipun langsung mengangguk pelan.
“Nih,” ucap Rasen mengulurkan tangannya yang mengepal.
Raveena lekas mengambil sesuatu yang ada di gengaman tangan Rasen, lalu saat dibuka ternyata hanya secarik kertas. Bukannya berhenti, Raveena malah melanjutkan membuka kertas kecil itu. Padahal dia sudah sadar sepenuhnya kalau dirinya ditipu. Terdapat satu kalimat yang terbaca di sana; Sen, no 1 sampe 5 isinya apaan? Kasih gue kode bazing! – Daffa.
“KABURRRR!!!! RENTERNIR NYA TAKUT NGEJAR GAISS!!!” teriak Rasen lantang sambil berlari menjauh di ikuti Romi dan Daffa dari belakang.
“WOY TOLONG DONG, TEMPAT TERIMA JASA SANTET DIMANA?!?!”
Mrs. Adhisty dan Mr. Adystha. Dari dulu hingga sekarang tidak ada perubahan. Tetap saling mengibarkan bendera pertikaian setinggi langit. Adakah satu alasan kuat yang mampu membuat mereka bersama tanpa pertikaian?
Hanya Tuhan yang tahu.
***
Tbc! ❤
Mirabella’s Pov“Will you marry me, Mirabella Jones?” The words sounded like a question, but the weight in his voice made it feel like an unyielding command—one I couldn’t ignore or refuse.“Yes, I will marry you,” I said, my voice loud but hollow, the words dragging out of me like chains. My chest tightened, but I clung to the thought of my mother—her fragile health, her fading strength. For her sake, I would do anything, even marry a man as terrible as Aiden.“You made the right choice, Mirabella. I’m sure Mother will be proud of you,” Aiden said, his smirk slicing through my restraint like a blade.“Shut your mouth!” I snapped, the anger erupting before I could contain it. My glare bore into him. “How dare you call her ‘Mother’? She’s my mother, not yours. You have no right.”“Hmm, so impatient, like a little monkey,” he said, his tone dripping with mockery. “By tomorrow, your mother will be my mother-in-law. Doesn’t that make it fitting to call her ‘Mother’?”His words hit like a
MIRABELLA’S POV “What are we going to do now? We’re surrounded,” I whispered, just loud enough for Ana to hear.“We’ll be fine, Mira. Stay calm, show no fear,” Ana replied. She stepped forward, heading straight for Aiden and his men.“What’s the meaning of this? Who are you, and why are you chasing us?” she asked, feigning confusion.“You all better quit chasing us, or I’ll have you arrested for harassment,” Ana said, her voice firm.The words had barely left her mouth when Aiden flicked his hand. His men grabbed Ana, dragging her away.“Let her go! Who are you? What do you want from us?” My voice trembled.Aiden kept walking toward me, each step making my fear grow. The closer he got, the harder it was to stay still. “Your little friend isn’t my concern. She’ll come back to you—depending on how this conversation goes.”“Outcome? What are you talking about?” I asked, my voice shaky. “You’ve got the wrong person. I don’t even know you.” I twisted my face into what I hoped looked like
MIRABELLA’S POV I stepped into the bar with Ana, arriving a few minutes earlier than planned. The extra time let me steady my nerves for tonight’s performance.Adam’s eyes lit up as he saw me at the entrance. “Right on time, Mira. Get ready—you’re up in five,” he said with a grin.“Give it your best, Mira. I’ll be right here cheering you on,” Ana said, her voice steady as she slid into a seat among the crowd.As the first note left my lips, a familiar calm settled over me, a quiet relief that came every time I sang. This was my safe place. Tonight was no different.When the final note faded, applause filled the room. Hands clapping, faces lit with smiles—they were cheering for me. Warmth spread through me, a quiet joy blooming in my chest.“You were amazing, Mira,” Ana said, her smile radiant, as if it could light up the entire room.“I agree,” Adam chimed in, approaching us with an easy stride. “That was a beautiful performance, Mira.”“Thank you so much,” I replied, a smile spread
MIRABELLA’S POVAna’s face tightened with panic as she turned to me. “We need to leave the city, Mira,” she said, her voice trembling. The unease in her eyes clawed its way into my chest, stirring my own panic.I frowned, confusion knotting my brows. “What nonsense are you talking about? Why do we need to leave the city? And why are you panicking just because of that man on the television?”Ana’s eyes widened as she leaned closer. “Did you just say that’s the man you drugged?” she asked, her voice sharp, needing confirmation.I shifted uncomfortably, my words tumbling out. “Well, he’s the one I drugged, but it wasn’t supposed to be him. I don’t know how this happened.”Ana froze for a moment before pacing the room, her steps quick and frantic. “Oh no, Mira. That man is Aiden Hayes—the richest man in the city.”Ana stopped pacing, her voice urgent. “The Hayes family owns businesses everywhere in the city, and Aiden Hayes is the one running it all,” she said, her words hitting me like a


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.