LOGINRussell James called me plain. He said I didn't have what it took to drive a man crazy, then crawled back into bed with the supermodel he'd been hiding from me. I found out the hard way, with my own eyes and what little dignity I had left. By then, he'd already signed his professional football contract, become a rising star, and decided I was no longer in his league. A year later, my life is falling apart. My mother's surgery is unaffordable. My younger brother's hockey dreams are slipping away. My final semester fees are overdue. Then my half-sister offers me a deal. Seduce a powerful fashion executive at an elite Madrid nightclub and help secure her place in Europe's most prestigious fashion show. In return, my family's problems disappear. I say yes. I spend the night with the man she described. By morning, I discover I've slept with the wrong man. "Connor?" he repeats, amused. "My name's Andre." Andre Fernandez. Real Numancia de Madrid's golden boy. Europe's most sought-after footballer. Forty-eight million followers. A €150 million market value. And the biggest rival of the ex-boyfriend who shattered my heart. Before I can process what happened, Andre finds me. He clears my family's debts and makes one impossible demand: "Be my girlfriend." I say no. Andre Fernandez clearly isn't used to hearing that word. When paparazzi catch us kissing at a high-profile party, the internet explodes. To save Andre's reputation, his PR team pushes us into a fake relationship complete with staged appearances, rehearsed interviews, and public displays of affection. None of it is supposed to be real. Except the longer we pretend, the harder it becomes to remember where the performance ends. Russell sees the photographs and is annoyed at his rival's proximity to me.
View MoreTengah Malam di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Clarisa Shen terbaring di kasur bersalin wajahnya pucat, tubuhnya penuh dengan keringat. Jelas-jelas begitu sakit, tapi masih sabar menahan, sesekali terdengar tangisan dan teriakan, Clarisa merasa dirinya tidak kuat lagi menahan sakitnya kontraksi.
"Dorong lagi, sudah kelihatan kepala bayinya,” suara dokter terdengar di telinganya. Tangan Clarisa Shen memegang erat seprei di sebelah kanan kirinya, setelah kesakitan selama 2 hari satu malam, dia sudah kehabisan tenaga.
"Dokter tolong selamatkan bayinya" tangan Clarisa Shen yang penuh dengan keringat tiba-tiba memegang erat tangan dokter, suaranya terdengar dia sangat kesakitan, tapi dia yakin dapat melewati ini demi kedua putranya yang akan lahir ke dunianya.
Dokter memindahkan tangannya, berjalan dan berkata, "Baik, kita coba sekali lagi, jika tidak bisa kita akan melakukan operasi bedah.
Clarisa hanya mengangguk menandakan setuju. Kamu dengar arahan saya, tarik nafas, dorong, tarik nafas dorong..."
Diikuti dengan suara tangisan bayi, semua orang yang ada di dalam bisa bernafas, namun belum bisa bernafas lega karna masih ada satu bayi lagi yang belum lahir, selang 15 menit kemudian bayi kedua pun lahir dengan selamat.
"Selamat Nyonya Clarisa, kedua bayinya laki-laki lahir dengan selamat dan sehat.” Ucap seorang perawat wanita.
Di Kamar Pasien Sinar matahari pagi menembus kaca jendela, menyinari Clarisa Shen yang berbaring di kasur.Clarisa Shen membuka mata, melihat dua bayi yang tertidur di samping tempat tidurnya. Tidak terasa air mata menetes keluar.
Dia yang baru berusia 19 tahun, gadis lain yang seumuran dengan dia masih bermanja-manja di pelukan kedua orang tuanya. Tapi dia sudah menjadi seorang ibu dari dua orang putra kembar.
Meskipun, tidak jelas siapa ayah bayi ini, saat mengetahui bahwa dirinya hamil, rasanya hidupnya hancur. Tapi sepuluh bulan ini, bayi itu hari demi hari, bulan ganti bulan bertumbuh dan berkembang di dalam rahimnya.
Bayi itu kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Mungkin naluri ibu, jadi saat dokter mengatakan dia akan kesulitan melahirkan, dia bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan bayinya, Clarisa Shen tersenyum seraya berkata selamat datang kedua malaikat kecilku.
Tok...tok...tok... suara pintu di ketuk.
Joana Lei datang melihat Clarisa
Clarisa berkata, "Silakan masuk"
"Selamat Clarisa, sekarang kau sudah menjadi ibu, inikah putramu?" Mereka berdua sangat tampan.
"hmmmpppttt... mereka sangat tampan, aku merasa bahagia memiliki mereka tapi juga sedih, aku belum memiliki perkerjaan ditambah harus merawat mereka berdua." Clarisa sedikit termenung sementara waktu.
“Clarisa, kalau kau mau kau boleh menempati rumahku yang ada di Eropa, dan kau bisa bekerja di toko bunga milikku di sana. Mungkin jika kau tinggal di sana, kau akan merasa tenang tanpa takut orang-orang akan mencemooh dirimu dan kedua putra kecilmu.”
"Apa yang kau katakan itu apakah benar?”
“Apakah aku bisa menempati rumahmu?”
“Dan pergi ke Eropa dengan kedua putraku?”
“Tapi aku tidak memiliki cukup uang untuk biaya mengurus dokumen kedua putraku Joana!”
"Kau tidak perlu memikirkan semua itu, aku akan membantumu untuk mendapatkan dokumen, dan aku pun akan pergi bersamamu Clarisa. Kita akan merawat kedua putramu bersama-sama, Clarisa kau jangan takut aku tidak akan meninggalkanmu."
Clarisa menangis mendengar ucapan sahabatnya itu, kau sudah terlalu baik kepadaku Joana. Aku tidak tahu apa yang harus aku berikan kepadamu, kau begitu peduli padaku dan selalu melindungiku?”
"Sudahlah kita ini sahabat bukan, aku tidak akan membiarkanmu menderita, selama aku mendukungmu, dan menjagamu. Jangan terlalu banyak berpikir Clarisa, sekarang kita adalah keluarga dan mereka juga adalah anak-anakku "
Clarisa tersenyum dan bertanya "Apakah kau mau menjadi ibu baptis mereka berdua?"
"Tentu saja aku mau.” Joana dengan senang menerimanya.
1 bulan kemudian dokumen sudah lengkap tiket pesawat pun sudah dipesan mereka berempat pun terbang ke Eropa.
"Selamat tinggal... aku berharap aku bisa kembali lagi ke kota ini." Clarisa menatap daratan Kota Jincheng yang semakin menjauh, hingga tak terlihat lagi.3 tahun kemudian, putra kembar Clarisa, Conan dan Christian, sudah berusia 3 tahun, di usia nya mereka berdua sudah lancar bicara, bahkan mereka sudah lancar membaca dan berhitung. Bahkan di tempat penitipan anak pun Conan dan Christian sudah bisa mandiri, dan mereka sangat pandai.
Wajah kedua putra Clarisa sangat tampan, mereka memiliki tubuh yang tinggi, warna kulit putih seputih salju, mereka berdua memiliki sepasang mata yang indah berwarna hijau zamrud, yang sangat memesona. Semua orang sangat kagum akan ketampanan kedua putra Clarisa.
Bahkan ada anak yang usia nya di atas mereka, mengidamkan Conan, dan Christian kelak menjadi suaminya. Terkadang Clarisa menatap kedua putra nya itu, memang tidak bisa dipungkiri jika kedua putra nya itu memiliki gen yang sangat bagus.
Pernah satu kali Conan dan Christian kepergok, sedang mengisi jawaban anak Sekolah Dasar kelas 4, yang selalu menemani mereka berdua bermain.Dengan lembut Clarisa bertanya, “Apa yang kalian lakukan?”
Conan, dan Christian saling memandang bergantian, seraya berkata, “kami hanya membantu kakak, belajar!”
Clarisa sedikit tidak mengerti, dengan tingkah laku kedua putra kembarnya itu.
Clarisa meminta maaf pada anak yang buku nya di coret-coret oleh Conan, dan Christian.
Namun tak disangka saat anak itu mengumpulkan buku yang sudah di isi oleh Conan dan Christian. Guru memeriksa setiap jawaban nya itu benar, tidak ada yang salah satu pun. Guru bertanya, “kenapa buku nya sudah di isi semua?”
sang anak tidak mengerti karena dia tidak mengisi semua soal di buku nya sendiri. Hingga sang anak pun memberitahu nya bahwa 2 hari yang lalu ada teman nya yang lebih muda dari nya mencoret-coret buku nya, dia berpikir jika anak-anak itu yang menjawab semua pertanyaan yang ada di buku.
Di sore hari setelah jam pelajaran sekolah guru sekolah pun datang mengunjungi rumah Clarisa, dia ingin bertemu dengan anak yang di ceritakan oleh murid nya. Clarisa sedikit kaget kala guru itu datang ke rumahnya.
"Selamat sore..." guru itu mengucapkan salam pada Clarisa.
Clarisa bertanya, "Sore... ada yang bisa saya bantu pak?"
Guru kembali bertanya, "Apakah benar dengan nyonya Clarisa?"
Clarisa menjawab, “Benar, saya sendiri Clarisa.”
“Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Clarisa.
Guru pun menjelaskan duduk permasalahan nya,
“Begini ibu, sepertinya putra ibu memiliki kecerdasan di atas rata-rata, untuk anak seusia mereka.” Ungkap guru tersebut.
“Jadi saya ingin bertemu dengan Conan dan Christian. Ingin melihat nya sendiri seberapa Jenius nya anak-anak ini.
Clarisa tidak terlalu memahami pembicaraan yang di lontarkan guru sekolah dasar itu, namun yang Clarisa tahu adalah putra nya tumbuh lebih cepat dari anak seusia mereka berdua. Clarisa pun memanggil kedua putranya untuk menemui guru sekolah dasar itu, setelah mereka di pertemukan,
Guru tersebut memberikan beberapa soal, pada Conan, dan Christian.
“Perkenalkan, saya Edward guru di Sekolah Dasar X.”
“Kemarilah, saya hanya akan memberikan beberapa soal.”
“Apakah kalian bisa menyelesaikan soal-soal ini?” Seru Edward guru sekolah dasar.
Conan, dan Christian mencoba melihat, kumpulan soal tersebut.
Conan, tidak bersuara, sebaliknya Christian dengan antusias mengerjakan soal-soal tersebut.
Benar-benar sebuah keajaiban, anak-anak itu sungguh bisa menyelesaikan soal yang di berikan pada mereka, bahkan guru itu mencoba untuk memberi mereka soal yang sangat sulit untuk siswa sekolah dasar, dan nyata nya mereka mampu menyelesaikan soal dengan cepat di tambah semua jawabannya di sapu bersih tanpa ada kesalahan.
Sungguh mengagumkan. Bahkan Clarisa dan Joana Lei tidak menyangka anak-anak itu terlahir dengan otak yang Jenius. Setelah kedatangan guru sekolah dasar itu, Clarisa memutuskan, untuk membawa Conan, dan Christian ke suatu tempat.
Conan, dan Christian bahkan menjalani tes IQ, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah hasil IQ mereka 185 benar-benar Jenius.
Mulai dari saat itu Conan dan Christian bersekolah, bahkan mereka selalu melompati kelas hingga di usia nya yang baru 6 tahun itu sudah mengenyam pendidikan di bangku tingkat High School dengan beasiswa penuh.
Clarisa selalu menatap wajah kedua putra nya dan selalu berpikir apakah wajah pria yang tidur dengan nya 7 yang tahun lalu, itu setampan kedua putra nya. Mengingat kembali kejadian itu Clarisa tersenyum getir.
Russell's POVTanya waited three days before she brought up the cruise, which was longer than I expected from her.By then I had already sat through two training sessions, a recovery appointment and one conversation with my agent in which he managed to use the phrase "containment of unnecessary narratives" without once sounding embarrassed by himself. Nothing had leaked publicly, at least not in any useful form, but football had its own private bloodstream. News moved through dressing rooms, group chats, assistants, girlfriends, agents and people who had no business knowing anything but somehow always did.I walked into my apartment after training and found Tanya sitting at the kitchen island with one leg crossed over the other, scrolling through her phone. She did not look up immediately. That alone told me she had come to argue."Hello to you too," I said, dropping my keys beside the fruit bowl.She placed her phone face down on the counter and looked at me. "You fought Andre Fernan
Carmen's POVI was already in Andre's room when he came in, opening the door quietly. For one second he only stood there looking at me. His shirt was still the same one he had worn on the cruise, except the collar was pulled slightly out of place now, and there was redness along one side of his jaw where Russell had hit him.I was on my feet before he could say anything. "Are you okay?""I'm fine.""Andre.""I'm fine."I walked closer and reached for his face. He let me touch him this time. The skin near his jaw was warm, not badly swollen, but enough that I could see where the punch had landed."That doesn't look fine."
Russell's POVCallum got to me the moment I fell to the floor, grabbed my arm and pulled me away from the corner while one of the other England lads moved between me and the people still trying to separate the mess behind us. The music had barely stopped. That was the strangest part. A few metres away, people were still drinking, laughing and moving under the lights as though nobody had just thrown a punch.The cruise staff reacted quickly. Two of them blocked off the corner without making a scene, and one of the sponsor representatives was already speaking quietly to the people who had been closest to us. No shouting, no security dragging anyone across the deck. Nobody wanted a private event involving international footballers turning into tomorrow morning's headline."Move," Callum said."I
Andre's POVRussell came toward me, turning completely away from Carmen. Until then, most of his attention had been on her. He had been talking as though the rest of us were interruptions to a conversation Carmen had already made clear she did not want to have. The moment I stepped between them, that changed. Whatever he had failed to get from her, he seemed determined to find another way to make the night hurt.He stopped close enough that neither of us needed to raise our voices over the music. For a few seconds he said nothing. His eyes moved past my shoulder toward Carmen, and when he looked at me again, some of the arrogance had gone out of his face."I miss her."I almost thought I'd misunderstood him.Russell gave a quiet, bitter laugh when he saw my expression. "I said I miss her."There was no performance in it this time. He looked miserable saying it, which seemed to irritate him almost as much as the fact itself. His mouth tightened before he continued, like every word was
Carmen's POVI kissed him back with fervour while having my hand on the back of his neck to pull him into me. My mouth was on his like it was the only thing I had been thinking about for the last hour. There was no pause and no performance and the kiss was deep and hungry and nothing like the ones
Carmen's POVFrom across the section I had confirmed the brown hair, the dark jacket, the confident posture, all of it matching Mirabel's description close enough that I was sure. But that was at a distance. Up close, as he leaned forward to say something to one of his companions and the light caug
Carmen’s POVI called Mirabel at seven in the morning, three days after she left my apartment. Elena's surgeon had already called twice about the outstanding balance on her post-op care, politely the first time, less so the second. Mateo's academy fees were due at the end of the month and I had alr
Carmen's POV "Shit," Russell cursed the moment he saw me standing in the doorway. He scrambled out of the bed, grabbing his pants from the floor and pulling them on in a hurry, one leg at a time, like the speed of it was going to help anything. He crossed to where I was standing, took my arm witho






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews