LOGINUhuk! Aku terbatuk dan tersedak. Tenggorokanku seperti tercekik. Seketika aku terbangun dari tidurku. “Sayang. Kamu mimpi buruk!” Dengan cekat Alpha membantuku sedikit bangkit dari pembaringan. Menaruh bantal di belakang punggungku untuk sandaran. “Minum dulu.” Aku mengangguk lantas satu tegukan terdengar. “Mimpi apa sampai kamu seperti ini?” Aku menatapnya dengan wajah yang sulit aku artikan. “Ada yang mencekikku. Dia berniat membunuhku.” Alpha sedikit terkejut lantas mengusap dahiku yang berkeringat. “Hanya mimpi, Sayang. Aku akan selalu menjagamu.” Aku tak bisa membantah perkataan itu. Anggukan tampak jelas dari kepalaku. “Lanjutkan tidurnya.” Dan semenjak malam itu tidurku tak lagi nyenyak seperti biasanya. Sering aku tengah malam terjaga seolah ketakutan. Berada di dalam mimpi yang sudah terjadi dalam kehidupan nyata. Bertahun-tahun peristiwa itu sudah aku kubur dalam-dalam tapi nyatanya saat aku kembali bertemu dengan Gava peristiwa tragis itu hadir dalam mimpiku d
Wajahku sudah dipastikan memucat. Bahkan napasku seakan berhenti ketika melihat sosok itu. Aku juga yakin perasaan yang sama pun dirasakan pria yang tepat berdiri di hadapanku ini. “Sayang. Are you, okey?” Suara Alpha berdenging di telingaku. Menyadarkan aku dati kerterpanaan itu. “Sayang.” “Eh!” “Ada apa? Kok kamu sepertinya terkejut?” Aku berusaha menyadarkan diri secepat mungkin. Menenangkan jiwaku yang meronta dan berontak. Bahkan aku bisa melihat sosok di hadapanku itu setenang air mengalir. “Ti-tidak,” jawabku terbata sambil menatap Alpha yang terlihat cemas. “Kamu sepertinya kecapekan. Kita langsung pulang saja. Chalton. Maaf. Aku tidak bisa menemanimu makan siang. Perkenalkan ini istriku, Antonia Dior.” Alpha menatapku. Mengharap aku mengulurkan tangan. Bahkan aku melihat sosok yang tak lain Gava itu masih menyimpan kedua tangannya di saku celana. “Tidak perlu berkenalan terlalu resmi, Alpha. Istrimu butuh istirahat. Wajahnya pucat. Kalian pulang saja.” Alpha
New Zeland memang negara impian. Aku sendiri terlihat sangat betah meskipun ada kejadian yang tidak seharusnya bikin aku nyaman. “Siapa?” teriakku dari dalam saat terdengar pintu diketuk. Apartemen yang disediakan untukku sangat candu untuk membuat aku bangun dan bangkit dari pembaringan. Dengan malas aku berjalan sambil mengucek mata. Karena jujur ini sudah hampir jam setengah sepuluh waktu New Zeland. Ceklek! Seketika tubuhku mundur beberapa langkah ke belakang. “Dari mana kamu tahu tempat tinggalku?” tanyaku panik setelah melihat siapa yang berdiri di depanku. “Apa itu pekerjaan yang susah untukku sekarang kalau hanya ingin mencari tahu tempat tinggal kamu, Di. Hampir puluhan tahun aku sudah menaklukkan kota ini.” Terdengar sedikit sombong kalimat itu tapi aku mengakuinya setelah aku paham siapa sosok itu yang sesungguhnya. Pengusaha paling berkuasa di negara ini bahkan hampir semua orang mengenalnya baik rakyat jelata dari kalangan menengah sampai kalangan atas. Dia
“Aku kira kamu menikahi pria bajingan itu. 11 tahun kamu sia-siakan dengan laki-laki berengsek!” Terdengar suara itu cukup marah. Aku hanya terdiam. Masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. “Sungguh transformasi yang sangat dahsyat.” Aku memujinya. Melihat dia dari atas sampai ujung kaki. Tak ada sedikitpun yang jelek. Perfect! “Apa sudah puas melihatnya?” Ada keterkejutan di dalam mataku. “Kamu operasi seluruh tubuh kamu?” Pria itu tertawa. Sinis dan terdengar menyakitkan. “Apa aku cukup jelek waktu menjadi pacarmu sebelum pria berengsek itu sampai kamu tega mengatakan aku berubah dan operasi plastik?” Aku tertegun dan terdiam. Sepertinya apa yang aku katakan itu sangat menyinggungnya. “Tidak ada maksud aku melukai hatimu. Hanya kaget kenapa kamu berada di sini. Rupanya transformasi kamu sungguh luar biasa.” Masih dengan ketertegunan dan keterdiaman aku menatapnya. Tampan. Sangat tampan malah. Sebanding dengan Alpha, suamiku. Sayangnya perasaan itu sudah hampa.
Saat aku membuka mata aku sadar aku bukan di tempat yang seharusnya. Ada nyeri terasa di seluruh tubuhku. Entah apa yang sudah terjadi. “Kamu sudah sadar?” Aku menoleh. Mencari asal suara itu. Jelas suara itu suara pria. Ketika tatapan dan pandanganku tertuju pada pria berwajah Asia itu aku terdiam. Mendongak bahkan tubuhku terkunci. Apalagi melihat wajah dinginnya yang datar dan tak bersahabat itu. Pria itu juga menatapku dengan wajah tak berdosa. Kejam dan bengis kelihatannya. Sesungguhnya ada rasa takut menyelinap ke dalam relung hatiku. Namun tidak boleh aku perlihatkan. “Siapa kamu? Apa sebelumnya kita saling kenal?” tanyaku mencairkan suasana. Barang kali dia mau bernegosiasi denganku. “Seharusnya kamu mengenalku. Tapi karena mungkin faktor usia kamu sudah melupakan aku.” Aku tersinggung dengan ucapannya. Wajahku berubah menjadi dingin dan sinis saat menatapnya. Mencoba untuk mengingat siapa pria itu. Namun sekuat apapun aku mengingatnya aku tetap tidak tahu siapa sosok
“Selidiki!” “Baik, Nyonya.” Aku menghembuskan napas panjang. Ada keraguan dan kecurigaan menjadi satu. “Tidak mungkin Damian. Terakhir dia bilang akan pergi ke New Zeland. Memulai bisnis baru di sana. Bahkan saat memintaku kembali kepadanya pun dia sudah di sana. Lantas__ Aku berpikir keras. “Siena?” Kali ini sangat masuk akal. Namun mengingat karier Siena yang cukup cemerlang apa mungkin dia akan melakukan segala cara untuk mengembalikan cinta lamanya. Bisa saja itu malah merusak dan menghancurkan kariernya yang selama ini dia kejar. Tiba-tiba selintas bayangan Alexa lewat di benakku. “Alexa. Ya, benar. Hanya dia yang memungkinkan melakukan pekerjaan jahat ini.” Aku mendengus marah. “Selidiki adik tiriku!” Perintah itu kembali menggema di ruangan pribadiku yang tertutup itu. Bukan di kediaman Alpha Benjamin ataupun kantornya. Melainkan tempat yang baru beberapa lama ini aku miliki. Aku tak menyadari sama sekali kalau ternyata di luar sana tepatnya di tempat tertentu ju







