LOGINSatu jam pasca-urusan tuntas bersama Calys di kamar apartemen, Nabas kembali menjejakkan kaki di lantai klub malam yang sama. Rasa penasaran yang membelenggu dadanya sejak awal malam memaksanya menyisir ulang sudut-sudut remang tempat itu.
Aroma asap rokok, uap alkohol, dan dentuman musik bas yang memekakkan telinga menyambut kedatangannya kembali. Begitu indra penglihatannya menangkap keberadaan sosok wanita yang dicarinya, Nabas menghentikan langkah di tepi lantai dansa. Anin masih di sana. Dosen wanita itu tetap duduk menyendiri di meja kaca yang sama, memutar-mutar gelas minumannya dalam keterasingan. Di tengah bisingnya keriuhan pengunjung lain yang asyik berpesta, Anin tampak bagaikan sebuah pulau kecil yang kesepian dan terputus dari dunia luar. "Siapa, nih?" Dean—sahabat seangkatannya di kampus yang terkenal sebagai playboy kelas berat—mendadak muncul dari kerumunan dengan langkah sedikit sempoyongan. Pria itu menyambar gelas minuman milik Nabas yang tergeletak di atas meja bar tanpa permisi, lalu meneguk isinya hingga kandas. Di lengan kanan Dean, seorang gadis muda berpakaian amat minim bergelayut manja sambil tertawa-tawa kecil. "Kenalan aja dulu," sahut Nabas dingin, mematikan puntung rokoknya yang membara ke dalam asbak kaca. Ia memberi isyarat halus dengan jemarinya agar gadis di samping Dean bergeser sedikit. "Gue mau ke sana." "Pacar baru lo, Bas?" kekeh Dean menunjuk dengan dagunya ke arah sudut bar yang gelap. Sebagai teman seangkatan, Dean hafal betul kebiasaan Nabas yang sering terlihat bersama wanita berbeda, walau Dean tak pernah tahu pekerjaan sebenarnya dari sahabatnya itu. Di mata Dean, Nabas hanyalah mahasiswa tampan yang kebetulan selalu beruntung dikelilingi cewek-cewek. "Belum," balas Nabas singkat tanpa menoleh lagi. Ia membenahi letak kerah jaketnya, mengabaikan serangkaian pertanyaan dan godaan Dean yang tertinggal di belakang. Dengan melangkah keluar dari area lingkar teman kampusnya, Nabas mulai memasang topeng samarannya—topeng sebagai Aryo, sang pemuas dahaga yang siap berburu. Dengan langkah kaki mantap menembus remang lampu neon, ia mengarahkan tujuannya langsung menuju meja Anin. Setiap jengkal langkahnya dipenuhi rasa percaya diri yang tinggi, mengeksploitasi postur tubuhnya yang tegap dan keunggulan paras fisiknya untuk mengunci perhatian sang target. "Sendiri?" sapa Nabas begitu tiba tepat di hadapan Anin. Pria muda itu berdiri berkacak pinggang, sengaja memangkas jarak di antara mereka hingga tubuh tingginya membayangi meja kaca di mana Anin duduk. Anin tersentak kaget dari lamunannya. Kepala wanita itu terangkat seketika, namun begitu menyadari siapa yang berdiri di depannya, ia cepat-cepat menggeleng pelan dan menundukkan kepala kembali, enggan membuka suara. Bayangan sembap di bawah matanya masih terlihat kentara meski sudah coba dipoles riasan tipis yang agak berantakan. Jemari lentiknya yang gemetar makin erat mengusap pinggiran gelas kaca. "Ada masalah?" tanya Nabas lagi dengan nada suara ramah yang dibuat sehalus mungkin. Matanya dengan cermat menelisik tiap detail wajah anggun di hadapannya—alis lurusnya yang sedikit menurun di ujung, bibir tipis bersapu pewarna bata yang tampak kering, serta tulang pipi tinggi yang menawan. Di balik seragam kerja formal yang membungkus rapi tubuh Anin, Nabas membayangkan keindahan tersembunyi yang sangat ingin ia selami. Anin tetap memilih mengabaikannya. Wanita itu hanya menggeleng kecil seraya mengetukkan jemarinya di atas meja, berusaha mengikuti irama dentuman musik secara canggung demi mengalihkan perhatian. Tanpa meminta izin atau menunggu undangan, Nabas menarik kursi kosong di depan meja dan mendudukkan dirinya tepat di seberang Anin. "Aryo," ucapnya seraya mengulurkan tangan kanan di atas meja kaca, menantikan balasan selain gelengan bisu atau keheningan. Ia sengaja menyodorkan nama panggungnya, menegaskan garis batas profesional yang biasa ia gunakan pada para klien. Anin mendengkus halus. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis meremehkan yang amat tipis. "Siapa yang percaya kalau itu nama aslimu?" ucapnya ketus dengan suara bernada serak sebelum menenggak habis sisa minuman bening kecokelatan di gelasnya. Nabas terkekeh rendah. Reaksi dingin dan sinis itu justru menyulut naluri berburunya makin bergelora. "Anggap saja begitu. Kalau nama palsu, bukannya harus terdengar lebih keren?" Sebelum Anin sempat memprotes atau merespons kalimatnya, Nabas sudah bertindak lebih jauh. Dengan kecepatan jemarinya yang terampil, ia menyambar ponsel pintar milik Anin yang tergeletak pasrah di atas permukaan meja kaca. Anin panik. Matanya membelalak lebar dan ia hampir saja melonjak berdiri dari kursinya untuk merebut benda itu kembali. Namun, Nabas dengan sigap menjauhkan ponsel tersebut dari jangkauan tangan Anin. Dengan lihai dan santai, jemari Nabas menekan serangkaian angka nomor telepon pribadinya di layar ponsel Anin, memanggilnya sebentar hingga ponsel di dalam saku jinsnya sendiri bergetar halus, lalu mengembalikan ponsel Anin dalam hitungan detik. "Ini," ucap Nabas singkat seraya kembali bangkit berdiri. Ia melangkah mengitari meja, mengikis jarak hingga posisi tubuhnya membayangi Anin dari samping secara amat dekat. Nabas menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya hingga helai napas hangatnya membelai langsung kulit sensitif di daun telinga sang dosen yang seketika membeku kaku. "Hubungi aku kalau kamu perlu teman...," bisik Nabas dengan intonasi rendah dan dalam, menyalurkan pesan tersirat yang sangat tajam. Sensasi sentuhan udara hangat dan kehangatan tubuh pemuda itu membuat Anin terpejam rapat. Bahunya meremang hebat, dan jemari lentiknya mencengkeram erat tepi meja tanpa ada dorongan atau gestur penolakan saat jemari Nabas sempat bergerak perlahan, mengusap lembut pangkal lengannya yang tertutup kain blus tebal. "Aku menginginkanmu," bisik Nabas sekali lagi tepat di dekat lehernya sebelum berbalik melangkah pergi. Ia meninggalkan Anin yang terpaku bisu di kursinya, tenggelam dalam pusaran kepanikan, kebingungan, serta percikan gairah terlarang yang baru saja terbangun di dalam dadanya.Nabas menyusuri jalan setapak berkerikil menuju sebuah bangunan kafe berkonsep industrial-minimalis yang terletak persis di seberang gerbang samping kampus. Suara musik indie ber-aliran pop-akustik terdengar halus dari pengeras suara luar kafe. Di sudut area teras terbuka, dua sosok yang sangat familiar baginya sedang duduk di meja kayu panjang dikelilingi draf kertas kalkir dan laptop yang menyala. Dean dan Kea. "Panjang umur lo, Bas!" seru Dean begitu mendapati figur tegap Nabas melangkah mendekati meja mereka. Dean—pemuda berambut ikal dengan kaus oblong hitam bercak cat kayu—menepuk kursi kosong di sampingnya. "Gue kira lo diculik sama klien proyek interior lo dari pagi." Nabas menyeringai tipis, menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu. "Sembarangan lo. Urusan proyek luar harus kelar tepat waktu, biar pundi-pundi rupiah tetap mengalir deras." Kea langsung menyodorkan tumpukan kertas modul kalkulus ke hadapan Nabas dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat. "Alasan lo proyek mulu, B
Nabas melangkah turun dari taksi, membetulkan letak ransel hitam di bahunya, lalu merapatkan jaket menghalau hawa dingin malam yang menyengat kulit. Sebelum menuju pintu utama, ia mengamati sekeliling selasar jalan. Matanya menyapu sudut-sudut gelap parkiran, deretan pohon mangga di seberang rumah, hingga memastikan tidak ada mobil sedan milik Zaki atau orang-orang suruhannya yang mengintai. Setelah merasa benar-benar aman, Nabas menekan tombol bel dan memasukkan kode sandi pintu yang sudah diperbarui. Pintu kayu tebal berukir itu bergeser terbuka dari dalam. Anin berdiri di sana dalam balutan piyama sutra berlengan panjang berwarna merah marun. Kacamata berbingkai tipis masih terpasang ramping di wajahnya, sementara rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas dengan jepit rambut plastik, memperlihatkan tengkuk mulusnya yang terbuka. "Kamu sudah sampai, Yo...," bisik Anin pelan, melangkah mundur sedikit memberi ruang bagi Nabas untuk masuk. Nabas melangkah melintasi ambang pintu,
Nabas berjalan menyusuri selasar lantai dua dengan langkah tegap nan teratur. Ransel kulit sintetis hitam yang sudah agak menipis di bagian sudutnya tersemat santai di bahu kirinya. Di tangan kanannya, ia menggenggam map bening berisi tumpukan kertas draf revisi bab tiga skripsinya yang berfokus pada analisis model pembelajaran matematika. Penampilannya siang ini sepenuhnya kembali ke setelan asal. Kemeja kasual berlengan panjang berwarna abu-abu netral yang digulung rapi hingga ke siku, celana jins gelap yang bersih, dan sepatu kets yang agak usang di bagian solnya. Tidak ada lagi setelan jas sewaan yang megah, tidak ada lagi aroma parfum mahal, dan tidak ada lagi sosok "Aryo" si pria panggilan karismatik yang semalam memangku dan mengecup leher seorang dosen di vila privat. Di kampus ini, ia murni Nabastala—mahasiswa semester akhir Pendidikan Matematika yang sedang berjuang keras mengumpulkan lembar demi lembar rekomendasi lulus demi menyenangkan hati Ibunya. Nabas berhenti di dep
Di atas meja, dua cangkir kopi yang sudah tidak lagi beruap bersisian dengan piring bekas sarapan yang tersisa sedikit. Anin duduk di kursi kayu, mengenakan kaus polos kebesaran milik Nabas yang kedodoran di tubuh ringkasnya. Ia menatap layar ponsel, membaca ulang draf berkas hukum dan catatan gugatan perceraian yang dikirimkan pengacaranya. Wajahnya tampak lebih segar dibanding semalam, meski lingkaran hitam tipis di bawah matanya belum sepenuhnya sirna. Di sisinya, Nabas duduk bersandar di kursi. Pria muda itu sibuk memperhatikan setiap inci pergerakan Anin dari balik cangkir kopinya. "Tan..." bisik Nabas rendah. Anin tidak menoleh, jemari lentiknya masih lincah mengusap layar ponselnya. "Apa, Yo? Jangan mengganggu, aku sedang membaca ulang poin gugatan dari Pak Hendra." Nabas mengulas senyum tipis. Tanpa peringatan, ia memiringkan tubuhnya, meluncurkan kepalanya mendekat hingga berlabuh santai di bahu Anin. Hidungnya dengan sengaja menghidu aroma lembut khas sabun penginapan yan
Di atas kasur, Anin masih terlelap nyenyak di balik selimut tebal. Deru napasnya teratur, tanpa lagi diwarnai rintihan panik atau mimpi buruk yang biasa mengusik. Nabas sudah terbangun lebih dulu. Pria muda itu duduk di tepi ranjang, baru saja selesai mengenakan celana jinsnya. Matanya yang sedikit sembab menatap lurus ke arah jendela.. Ponsel di saku jaket kasualnya yang tergeletak di atas kursi kayu mendadak bergetar halus. Nabas meraih dengan cepat, jemarinya menekan tombol volume agar deringnya tidak sampai membangunkan Anin yang sedang beristirahat. Layar ponsel memancarkan nama kontak yang seketika menarik fokus pikirannya kembali ke dunia nyata. Ibu. Nabas beranjak pelan, melangkah melintasi kamar berlantai parket menuju teras privat yang menghadap rimbunnya pepohonan hijau di luar vila. Begitu pintu kaca teras bergeser dan tertutup rapat di belakangnya, Nabas mengangkat panggilan dengan menggeser tombol hijau. "Halo, Ibu?" sapa Nabas pelan, merapatkan kemejanya, meng
Di dalam kamar berlantai parket kayu, hanya ada pendar lampu tidur kuning temaram yang membiaskan bayangan halus di peraduan megah berseprai putih bersih. Hawa dingin yang membelai udara perlahan mengikis sisa-sisa histeria yang sempat melumpuhkan Anin di luar hotel beberapa jam yang lalu. Namun, ketakutan trauma yang mengendap belasan tahun tidak serta-merta menguap begitu saja. Anin terbaring miring di kasur empuk, meringkuk di balik selimut tebal yang membalut tubuhnya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan wajah Zaki yang merah padam oleh amarah, bentakan kasarnya yang melengking dari pengeras suara ponsel, serta ancaman kembali bergema mendenging di dalam kepala. Tubuhnya sesekali masih tersentak, memancarkan keputusasaan yang teramat dalam. Di sisinya, Nabas berbaring telentang. Kemeja putihnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidang yang naik-turun teratur seirama napasnya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kayu ruangan. Pikiran Nabas sendiri sebenarnya berkecam







