หน้าหลัก / Romansa / Budak Cinta Si Tante / 6 - Permainan Gila Dalam Lift

แชร์

6 - Permainan Gila Dalam Lift

ผู้เขียน: Aldrich Candra
last update วันที่เผยแพร่: 2021-09-02 23:52:50

Aryo menggiring Calys menyusuri lorong menuju gedung parkir apartemen mewah di pusat kota. Langkah kakinya diperberat secara sengaja, membiarkan wanita matang itu berkali-kali menoleh dengan pandangan memohon di bawah remang lampu koridor.

"Ke mana, Sayang?" tanya Aryo pura-pura polos.

"Kejutan buat kamu," sahut Calys sambil mengedipkan sebelah mata. Pulasan riasan tebal di wajahnya tak sepenuhnya sanggup menyamarkan garis-garis usia yang mulai memakan parasnya. Namun, Aryo cukup lihai berpura-pura terpesona. Bagi Aryo, Calys adalah mesin ATM berjalan yang sudah menyetor rupiah secara rutin selama tiga bulan terakhir—menemaninya mabuk atau menghadiri pesta privat demi menumpahkan frustrasi dari pernikahan paksa yang dingin.

"Enggak usah berlebihan, Tante," balas Aryo merendah.

"Tuh kan, masih dipanggil Tante terus! Aku kan belum tua-tua banget," protes Calys sambil mencibirkan bibirnya yang dipoles lipstik tebal.

Aryo tertawa halus, merangkul bahu wanita itu dan meremasnya pelan demi mencairkan ketegangan. "Tante itu enggak tua, cuma kalau kedengaran orang lain, nanti Tante juga yang malu." Dalam hati, Aryo menghitung bahwa rentang usia mereka sebenarnya terpaut lebih dari dua dekade. Namun, merawat ego klien adalah bagian paling krusial dari pekerjaannya demi pundi-pundi rupiah yang aman.

Begitu mereka masuk ke dalam sangkar baja lift apartemen, pintu bergeser menutup rapat. Tanpa membuang waktu, Calys berbalik dan langsung membungkam mulut Aryo dengan ciuman panas bertaut sisa minuman beralkohol.

Aroma vodka dan wiski yang masih tertinggal di rongga mulut Calys justru membakar gairah primitif Aryo. Tak tinggal diam, jemari Aryo merayap cepat ke balik gaun malam Calys, meremas dua gundukan padat di balik korset kencang wanita itu dengan remasan cermat yang sudah sangat terlatih.

Sentuhan lambat namun sangat pas itu membuat napas Aryo sendiri memburu. Sensasi panas menjalar cepat ke bagian bawah celananya, membuat fisiknya merespons tanpa bisa ditahan. Namun, tepat ketika denyut gairahnya membengkak maksimal, Calys mendadak melepaskan tautan bibir mereka dan tersenyum licik.

"Tan, jangan di sini!" bisik Aryo menahan gejolak saat jemari Calys dengan nekat menyusup ke balik pinggang celananya.

"Kamu tadi bilang sudah enggak sabaran, kan?" goda Calys.

Sebelum Aryo sempat memprotes atau melarangnya, Calys sudah berjongkok di lantai lift, tepat di depan ritsleting celananya yang ditarik turun. Dalam kurungan ruang lift yang terus bergerak naik, wanita itu melancarkan aksi lisan yang serta-merta membuat kepala Aryo terlempar ke belakang. Jemari Aryo mencengkeram erat pegangan besi di dinding lift, memejamkan mata rapat-rapat menikmati pijatan basah yang mengacak kesadarannya hingga melayang ke ambang pelepasan.

Suara desahannya tertahan di tenggorokan, bersahut-sahutan dengan dengung halus mesin lift. Sedikit lagi. Ledakan itu sudah berada tepat di ujung tanduk.

"Nanti dulu," ucap Calys tiba-tiba.

Anjing! batin Aryo mengumpat hebat. Matanya melotot tajam saat Calys menyeringai gembira dan langsung berdiri membenahi penampilannya.

Tepat saat bunyi ting-tong menandakan pintu lift terbuka di lantai tujuan, Calys berlari keluar menyusuri lorong dengan gaun yang setengah berantakan.

"Nanggung ini, Sayang!" jerit Aryo tertahan, menggigit bibirnya sendiri demi menahan amarah dan gejolak yang hampir meluap tak terkendali.

Dengan celana yang masih melorot separuh dan ritsleting terbuka lebar, Aryo terpaksa mengejar langkah cepat kliennya menyusuri lorong apartemen yang sepi. Calys sengaja memperoloknya, melambaikan tangan menggoda dari jauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu unit studio di ujung lorong.

Aryo memutar kenop pintu yang ternyata sengaja tidak dikunci. Ruangan studio mewah berdinding kaca dengan ranjang besar di tengahnya langsung menyapa pandangan. Sepi. Suara AC mengembus halus menyergap kulitnya yang panas.

"Tan?" panggil Aryo heran, melangkah masuk perlahan seraya membenahi ritsletingnya.

"Baa!"

Beban tubuh Calys mendadak menimpa punggungnya dari balik pintu kamar mandi. Kedua kaki wanita itu melingkari pinggang Aryo dari belakang sambil tertawa terbahak-bahak meluapkan kemenangan.

"Ngerjain banget, ya!" seru Aryo gemas.

Tanpa membuang kesempatan lagi, Aryo menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas kasur empuk yang menampung beban mereka. Ia membalikkan posisi dengan cepat, melucuti gaun mengilap Calys tanpa ampun, dan menyerang setiap inci kulit wanita itu dengan beringas.

Isakan geli Calys dengan cepat berubah menjadi erangan bergelombang saat Aryo memainkan jemarinya di celah terbasah milik wanita itu. Aryo tahu persis titik-titik mana saja yang sanggup membuat kliennya menyerah pasrah.

Melihat Calys mencengkeram seprai dengan mata terpejam hebat saat mencapai pelepasan memberikan Aryo kepuasan ego yang tiada tara. Tanpa menunggu jeda sejenak pun, Aryo menghunjamkan ketegangannya yang sudah tertahan sejak di lift tadi, membawa mereka berdua tenggelam dalam pusaran gairah yang panas tanpa jeda.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Budak Cinta Si Tante   30 - Dinding Kampus

    Nabas menyusuri jalan setapak berkerikil menuju sebuah bangunan kafe berkonsep industrial-minimalis yang terletak persis di seberang gerbang samping kampus. Suara musik indie ber-aliran pop-akustik terdengar halus dari pengeras suara luar kafe. Di sudut area teras terbuka, dua sosok yang sangat familiar baginya sedang duduk di meja kayu panjang dikelilingi draf kertas kalkir dan laptop yang menyala. Dean dan Kea. "Panjang umur lo, Bas!" seru Dean begitu mendapati figur tegap Nabas melangkah mendekati meja mereka. Dean—pemuda berambut ikal dengan kaus oblong hitam bercak cat kayu—menepuk kursi kosong di sampingnya. "Gue kira lo diculik sama klien proyek interior lo dari pagi." Nabas menyeringai tipis, menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu. "Sembarangan lo. Urusan proyek luar harus kelar tepat waktu, biar pundi-pundi rupiah tetap mengalir deras." Kea langsung menyodorkan tumpukan kertas modul kalkulus ke hadapan Nabas dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat. "Alasan lo proyek mulu, B

  • Budak Cinta Si Tante   29 - Persiapan di Rumah

    Nabas melangkah turun dari taksi, membetulkan letak ransel hitam di bahunya, lalu merapatkan jaket menghalau hawa dingin malam yang menyengat kulit. Sebelum menuju pintu utama, ia mengamati sekeliling selasar jalan. Matanya menyapu sudut-sudut gelap parkiran, deretan pohon mangga di seberang rumah, hingga memastikan tidak ada mobil sedan milik Zaki atau orang-orang suruhannya yang mengintai. Setelah merasa benar-benar aman, Nabas menekan tombol bel dan memasukkan kode sandi pintu yang sudah diperbarui. Pintu kayu tebal berukir itu bergeser terbuka dari dalam. Anin berdiri di sana dalam balutan piyama sutra berlengan panjang berwarna merah marun. Kacamata berbingkai tipis masih terpasang ramping di wajahnya, sementara rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas dengan jepit rambut plastik, memperlihatkan tengkuk mulusnya yang terbuka. "Kamu sudah sampai, Yo...," bisik Anin pelan, melangkah mundur sedikit memberi ruang bagi Nabas untuk masuk. Nabas melangkah melintasi ambang pintu,

  • Budak Cinta Si Tante   28 - Profesionalisme Dua Dunia

    Nabas berjalan menyusuri selasar lantai dua dengan langkah tegap nan teratur. Ransel kulit sintetis hitam yang sudah agak menipis di bagian sudutnya tersemat santai di bahu kirinya. Di tangan kanannya, ia menggenggam map bening berisi tumpukan kertas draf revisi bab tiga skripsinya yang berfokus pada analisis model pembelajaran matematika. Penampilannya siang ini sepenuhnya kembali ke setelan asal. Kemeja kasual berlengan panjang berwarna abu-abu netral yang digulung rapi hingga ke siku, celana jins gelap yang bersih, dan sepatu kets yang agak usang di bagian solnya. Tidak ada lagi setelan jas sewaan yang megah, tidak ada lagi aroma parfum mahal, dan tidak ada lagi sosok "Aryo" si pria panggilan karismatik yang semalam memangku dan mengecup leher seorang dosen di vila privat. Di kampus ini, ia murni Nabastala—mahasiswa semester akhir Pendidikan Matematika yang sedang berjuang keras mengumpulkan lembar demi lembar rekomendasi lulus demi menyenangkan hati Ibunya. Nabas berhenti di dep

  • Budak Cinta Si Tante   27 - Menjaga Aset Pelanggan

    Di atas meja, dua cangkir kopi yang sudah tidak lagi beruap bersisian dengan piring bekas sarapan yang tersisa sedikit. Anin duduk di kursi kayu, mengenakan kaus polos kebesaran milik Nabas yang kedodoran di tubuh ringkasnya. Ia menatap layar ponsel, membaca ulang draf berkas hukum dan catatan gugatan perceraian yang dikirimkan pengacaranya. Wajahnya tampak lebih segar dibanding semalam, meski lingkaran hitam tipis di bawah matanya belum sepenuhnya sirna. Di sisinya, Nabas duduk bersandar di kursi. Pria muda itu sibuk memperhatikan setiap inci pergerakan Anin dari balik cangkir kopinya. "Tan..." bisik Nabas rendah. Anin tidak menoleh, jemari lentiknya masih lincah mengusap layar ponselnya. "Apa, Yo? Jangan mengganggu, aku sedang membaca ulang poin gugatan dari Pak Hendra." Nabas mengulas senyum tipis. Tanpa peringatan, ia memiringkan tubuhnya, meluncurkan kepalanya mendekat hingga berlabuh santai di bahu Anin. Hidungnya dengan sengaja menghidu aroma lembut khas sabun penginapan yan

  • Budak Cinta Si Tante   26 - Panggilan Ibu

    Di atas kasur, Anin masih terlelap nyenyak di balik selimut tebal. Deru napasnya teratur, tanpa lagi diwarnai rintihan panik atau mimpi buruk yang biasa mengusik. Nabas sudah terbangun lebih dulu. Pria muda itu duduk di tepi ranjang, baru saja selesai mengenakan celana jinsnya. Matanya yang sedikit sembab menatap lurus ke arah jendela.. Ponsel di saku jaket kasualnya yang tergeletak di atas kursi kayu mendadak bergetar halus. Nabas meraih dengan cepat, jemarinya menekan tombol volume agar deringnya tidak sampai membangunkan Anin yang sedang beristirahat. Layar ponsel memancarkan nama kontak yang seketika menarik fokus pikirannya kembali ke dunia nyata. Ibu. Nabas beranjak pelan, melangkah melintasi kamar berlantai parket menuju teras privat yang menghadap rimbunnya pepohonan hijau di luar vila. Begitu pintu kaca teras bergeser dan tertutup rapat di belakangnya, Nabas mengangkat panggilan dengan menggeser tombol hijau. "Halo, Ibu?" sapa Nabas pelan, merapatkan kemejanya, meng

  • Budak Cinta Si Tante   25 - Kehangatan yang Dibayar

    Di dalam kamar berlantai parket kayu, hanya ada pendar lampu tidur kuning temaram yang membiaskan bayangan halus di peraduan megah berseprai putih bersih. Hawa dingin yang membelai udara perlahan mengikis sisa-sisa histeria yang sempat melumpuhkan Anin di luar hotel beberapa jam yang lalu. Namun, ketakutan trauma yang mengendap belasan tahun tidak serta-merta menguap begitu saja. Anin terbaring miring di kasur empuk, meringkuk di balik selimut tebal yang membalut tubuhnya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan wajah Zaki yang merah padam oleh amarah, bentakan kasarnya yang melengking dari pengeras suara ponsel, serta ancaman kembali bergema mendenging di dalam kepala. Tubuhnya sesekali masih tersentak, memancarkan keputusasaan yang teramat dalam. Di sisinya, Nabas berbaring telentang. Kemeja putihnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidang yang naik-turun teratur seirama napasnya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kayu ruangan. Pikiran Nabas sendiri sebenarnya berkecam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status