LOGINAryo menggiring Calys menyusuri lorong menuju gedung parkir apartemen mewah di pusat kota. Langkah kakinya diperberat secara sengaja, membiarkan wanita matang itu berkali-kali menoleh dengan pandangan memohon di bawah remang lampu koridor.
"Ke mana, Sayang?" tanya Aryo pura-pura polos. "Kejutan buat kamu," sahut Calys sambil mengedipkan sebelah mata. Pulasan riasan tebal di wajahnya tak sepenuhnya sanggup menyamarkan garis-garis usia yang mulai memakan parasnya. Namun, Aryo cukup lihai berpura-pura terpesona. Bagi Aryo, Calys adalah mesin ATM berjalan yang sudah menyetor rupiah secara rutin selama tiga bulan terakhir—menemaninya mabuk atau menghadiri pesta privat demi menumpahkan frustrasi dari pernikahan paksa yang dingin. "Enggak usah berlebihan, Tante," balas Aryo merendah. "Tuh kan, masih dipanggil Tante terus! Aku kan belum tua-tua banget," protes Calys sambil mencibirkan bibirnya yang dipoles lipstik tebal. Aryo tertawa halus, merangkul bahu wanita itu dan meremasnya pelan demi mencairkan ketegangan. "Tante itu enggak tua, cuma kalau kedengaran orang lain, nanti Tante juga yang malu." Dalam hati, Aryo menghitung bahwa rentang usia mereka sebenarnya terpaut lebih dari dua dekade. Namun, merawat ego klien adalah bagian paling krusial dari pekerjaannya demi pundi-pundi rupiah yang aman. Begitu mereka masuk ke dalam sangkar baja lift apartemen, pintu bergeser menutup rapat. Tanpa membuang waktu, Calys berbalik dan langsung membungkam mulut Aryo dengan ciuman panas bertaut sisa minuman beralkohol. Aroma vodka dan wiski yang masih tertinggal di rongga mulut Calys justru membakar gairah primitif Aryo. Tak tinggal diam, jemari Aryo merayap cepat ke balik gaun malam Calys, meremas dua gundukan padat di balik korset kencang wanita itu dengan remasan cermat yang sudah sangat terlatih. Sentuhan lambat namun sangat pas itu membuat napas Aryo sendiri memburu. Sensasi panas menjalar cepat ke bagian bawah celananya, membuat fisiknya merespons tanpa bisa ditahan. Namun, tepat ketika denyut gairahnya membengkak maksimal, Calys mendadak melepaskan tautan bibir mereka dan tersenyum licik. "Tan, jangan di sini!" bisik Aryo menahan gejolak saat jemari Calys dengan nekat menyusup ke balik pinggang celananya. "Kamu tadi bilang sudah enggak sabaran, kan?" goda Calys. Sebelum Aryo sempat memprotes atau melarangnya, Calys sudah berjongkok di lantai lift, tepat di depan ritsleting celananya yang ditarik turun. Dalam kurungan ruang lift yang terus bergerak naik, wanita itu melancarkan aksi lisan yang serta-merta membuat kepala Aryo terlempar ke belakang. Jemari Aryo mencengkeram erat pegangan besi di dinding lift, memejamkan mata rapat-rapat menikmati pijatan basah yang mengacak kesadarannya hingga melayang ke ambang pelepasan. Suara desahannya tertahan di tenggorokan, bersahut-sahutan dengan dengung halus mesin lift. Sedikit lagi. Ledakan itu sudah berada tepat di ujung tanduk. "Nanti dulu," ucap Calys tiba-tiba. Anjing! batin Aryo mengumpat hebat. Matanya melotot tajam saat Calys menyeringai gembira dan langsung berdiri membenahi penampilannya. Tepat saat bunyi ting-tong menandakan pintu lift terbuka di lantai tujuan, Calys berlari keluar menyusuri lorong dengan gaun yang setengah berantakan. "Nanggung ini, Sayang!" jerit Aryo tertahan, menggigit bibirnya sendiri demi menahan amarah dan gejolak yang hampir meluap tak terkendali. Dengan celana yang masih melorot separuh dan ritsleting terbuka lebar, Aryo terpaksa mengejar langkah cepat kliennya menyusuri lorong apartemen yang sepi. Calys sengaja memperoloknya, melambaikan tangan menggoda dari jauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu unit studio di ujung lorong. Aryo memutar kenop pintu yang ternyata sengaja tidak dikunci. Ruangan studio mewah berdinding kaca dengan ranjang besar di tengahnya langsung menyapa pandangan. Sepi. Suara AC mengembus halus menyergap kulitnya yang panas. "Tan?" panggil Aryo heran, melangkah masuk perlahan seraya membenahi ritsletingnya. "Baa!" Beban tubuh Calys mendadak menimpa punggungnya dari balik pintu kamar mandi. Kedua kaki wanita itu melingkari pinggang Aryo dari belakang sambil tertawa terbahak-bahak meluapkan kemenangan. "Ngerjain banget, ya!" seru Aryo gemas. Tanpa membuang kesempatan lagi, Aryo menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas kasur empuk yang menampung beban mereka. Ia membalikkan posisi dengan cepat, melucuti gaun mengilap Calys tanpa ampun, dan menyerang setiap inci kulit wanita itu dengan beringas. Isakan geli Calys dengan cepat berubah menjadi erangan bergelombang saat Aryo memainkan jemarinya di celah terbasah milik wanita itu. Aryo tahu persis titik-titik mana saja yang sanggup membuat kliennya menyerah pasrah. Melihat Calys mencengkeram seprai dengan mata terpejam hebat saat mencapai pelepasan memberikan Aryo kepuasan ego yang tiada tara. Tanpa menunggu jeda sejenak pun, Aryo menghunjamkan ketegangannya yang sudah tertahan sejak di lift tadi, membawa mereka berdua tenggelam dalam pusaran gairah yang panas tanpa jeda.Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,
"Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,
Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge
"Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me
Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas
Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p







