Mag-log inEeyy... mau ngapain nungguin? eh >_<
Tangan Abra terulur hendak meraih tangan yang berada tak jauh darinya. Namun tangannya tak terangkat. Terasa berat. Nyeri kembali menjalar hingga ia mengurungkan niat.Kenapa Serayu ada di sini?Pikiran itu muncul begitu saja saat ia baru membuka mata. Namun semakin lama ia menatap sosok di hadapannya, semakin jelas bahwa wanita itu bukan istrinya.Postur tubuhnya berbeda. Wanginya juga berbeda. Kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya.Lantas siapa?"Siapa kamu?" suara Abra terdengar serak.Wanita yang sedang membelakangi Abra itu langsung menoleh."Dokter Abra sudah bangun?"Abra mengernyit saat mengenali wajahnya.Sarah.Wanita itu mengenakan crop top lengan panjang yang memperlihatkan sedikit bagian pinggangnya setiap kali bergerak."Semalam saya tanya ke perawat. Katanya dokter di sini sendirian, jadi saya inisiatif datang," ujarnya sambil tersenyum canggung.Dahi Abra berkerut."Untuk apa—"Ting!Keduanya sama-sama terkejut saat sendok di tangan Sarah terjatuh ke lantai. Denting l
"Dok, saya Sarah dari Medistra Technologies." Wanita itu tersenyum penuh semangat. "Ingat nggak? Saya yang mendampingi direktur waktu pertemuan kita beberapa waktu lalu." Ah… Abra mengingatnya. Ia hanya mengangguk singkat dengan ekspresi datarnya. "Dokter... maaf, dokter dirawat di sini?" Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Abra, seketika dokter yang mendampingi Abra menyela. "Mungkin bisa bicara di dalam saja? Dokter Abra perlu segera kembali ke ruangannya." "Maaf, kalau tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan, saya ingin beristirahat,” tolak Abra atas saran dokternya. Namun jelas ditujukan kepada wanita di hadapannya yang mengenakan pakaian mini meski dibalut jas. Sarah tampak salah tingkah. "Oh iya, maaf, Dok. Saya cuma ingin menyapa. Jujur saya cukup kaget melihat dokter di sini dalam keadaan..." Kalimatnya menggantung. Tatapannya jatuh pada perban yang membalut tangan Abra. "Kalau begitu saya permisi istirahat. Terima kasih sudah menyapa..." "Sarah, Dok." Wa
"Saya harus bisa pulang di tanggal itu, Aksa. Saya nggak bisa menunggu hari lain." Abra berbicara tegas duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Keadaannya kian membaik, sudah bisa ngomel-ngomel memaksa sang asisten agar memesankan tiket untuk dirinya dalam minggu ini. "Tapi saya belum dapat izin dari dokter yang menangani Bapak," sahut Aksa dari seberang telepon. "Saya juga dokter. Saya paling tahu kondisi tubuh saya sendiri. Kamu tinggal pesan tiketnya." Aksa memejamkan mata sambil meremas pangkal hidungnya. Kemarin ia masih merasa iba melihat keadaan atasannya. Sekarang pria itu sudah kembali ke setelan pabrik. Keras kepala, sulit dibantah. "Saya akan bicara dulu dengan dokter yang menangani Bapak—" "Kamu nggak mau bonus dua kali lipat?" tanya Abra. Aksa menggeleng pelan meski tahu gerakannya tak akan terlihat. Ini bukan soal bonus yang menggiurkan karena biasanya bonus dari Abra memang tidak main-main angkanya. Dokter yang menangani sang atasan bahkan belum merekomendasik
Abra membuka matanya perlahan. Langit-langit putih menyambut pandangannya. Terdengar suara langkah kaki dan roda brankar yang bergesekan dengan lantai. Diikuti perintah-perintah singkat yang saling bersahutan. Ia menyadari tubuhnya sedang didorong dengan cepat melewati lorong rumah sakit. Beberapa orang mengelilinginya. Lalu ia dipindahkan ke sebuah bed. IGD. Abra mengenali tempat itu begitu masuk ke ruangan yang aromanya sangat ia kenal. Namun sesaat kemudian dahinya berkerut. Rumah sakit mana ini? Apa yang terjadi? Kenapa ia berada di sini? Dan kenapa ia kesulitan menggerakkan jemarinya? "Dokter Abra? Dokter bisa mendengar saya?" Seorang dokter muncul dalam pandangannya, yang dirinya yakini bahwa lelaki itu adalah dokter jaga IGD. Ia ingin menjawab. Namun bibirnya terasa kelu. Tak ada suara yang keluar. "Dokter Abra, kalau bisa mendengar saya, coba kedipkan mata Anda." Abra menurut. Dokter itu mengembuskan napas lega. "Baik. Bagus." Suara alat di sisinya terdengar ny
“Apa selalu begini, Capt?” tanya Abra tanpa mengalihkan pandangannya. “Sometimes. Tapi kali ini kabut cukup tebal. Di luar dugaan saya. Padahal langit belum pekat.” Kabut di luar jendela semakin rapat. Pilot mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, berusaha menangkap apa pun yang masih bisa terlihat di balik putih pekat yang menyelimuti pegunungan. Tangannya tidak pernah lepas dari kemudi. Mesin pesawat kecil itu meraung stabil. Di kursinya, Abra ikut menatap ke depan. Awalnya tidak terlihat apa-apa. Lalu samar-samar muncul pucuk pohon. Pilot segera menarik kemudi sedikit ke atas. Pesawat menanjak. Namun kabut kembali menelan pandangan. Jarak pandang semakin pendek. Terlalu pendek, hingga tiba-tiba…. Srrrkkk! Suara gesekan keras membuat tubuh Abra menegang. Pesawat terguncang saat baling-baling sebelah kanan memangkas pucuk pohon yang muncul mendadak dari balik kabut. Pilot mengumpat pelan. Tangannya bergerak cepat menstabilkan arah. Belum sempat keduanya bernap
Jadwal kepulangan Abra akhirnya sudah di depan mata. Bukan main bahagianya Serayu saat mendengar kabar itu. Pagi itu ia sibuk menata rumah. Beberapa tanaman baru ditambahkan untuk membuat suasana terasa lebih segar. Seorang tukang kebun yang biasa ditugaskan merawat halaman membantu mengatur letaknya. "Aduh, rumah jadi seger banget," komentar Ibu yang baru keluar dari kamar. “Jadi lebih hidup,” tambah Ibu. Ibu memperhatikan putrinya sejenak lalu tersenyum. "Kamu juga kelihatan jauh lebih ceria dari beberapa minggu lalu." Senyum Serayu semakin lebar. "Mas Abra sudah dapat jadwal pulang, Bu. Tiga hari lagi." Ibu merangkul bahu Serayu lembut. "Syukurlah." Serayu mengangguk. Hanya tiga hari lagi. Tiga hari ia bersedia menunggu kepulangan suaminya dengan suka cita. “Sudah semua, Non,” kata Mamang. “Iya. Terima kasih ya, Mas.” Serayu merangkul lengan ibunya, menuntun beliau duduk di sofa. "Oh iya, kamu jadi antar ibu mertuamu kontrol hari ini?" "Iya. Setelah makan siang." "Kont
Pagi itu Abra langsung berangkat ke rumah sakit, tetapi ia tidak menemukan Serayu. Hingga jam poli berakhir, wanita itu tak juga terlihat. Ponselnya pun tak bisa dihubungi. Beberapa rekan Serayu juga sempat mencarinya, sampai akhirnya menjelang siang, Serayu baru menghubungi salah seorang rekan kerj
Serayu masih di depan meja belajarnya, tumpukan laporan menutupi hampir separuh permukaan meja. Lampu meja yang redup hanya menerangi wajah lelahnya yang tertunduk di atas kertas. Ia sempat berniat menyelesaikan satu berkas lagi, tapi matanya tak kuat menahan kantuk. Pulpen masih tergenggam di tanga
Serayu berniat merapikan barang-barangnya agar tidak berserakan. Namun siapa sangka, tiba-tiba tubuhnya terangkat dari lantai. Refleks, ia melingkarkan kedua tangan di leher Abra yang tiba-tiba datang dan menggendongnya. “Ma—Mas ….,” suaranya tercekat. “Tidurlah,” ucap Abra datar, meletakkan tubuh
“Kenapa sih, Ma? Pagi-pagi udah ngereog aja,” gerutu Vera sambil membuka mata setengah. Mumpung Jay Wijaya—suami Riani—sedang dinas di luar kota, ibu dan anak itu memang tidur bersama setelah berbelanja hingga larut malam. “Kamu lihat ini.” Riani menyodorkan ponselnya. “Aileen kirim Mama foto, k







