LOGINEeyy... mau ngapain nungguin? eh >_<
Hubungan Jarak jauh be like … Hari kedua Serayu mengikuti seminar. Sementara itu, Abra sudah tiba di Malaysia untuk menjalani rangkaian pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. Baru beberapa saat lalu Serayu akhirnya bisa menghubungi suaminya. “Mas, maaf, ya… Saya hectic banget,” rajuk Serayu begitu panggilan mereka tersambung. Abra yang sedang duduk di tepi ranjang hotel hanya mengembuskan napas. “Nggak sesuai ekspektasi.” Serayu mengerjapkan mata. “Mas…” “Komunikasi kita jelek banget.” “Iya, maaf, Mas.” Serayu langsung membujuk dengan suara lembut. “Besok saya usahain lebih sering kabarin Mas yaaa….” “Ya sudah.” Abra mengalah. “Mas juga nggak bisa lama-lama. Harus cukup tidur sebelum besok pemeriksaan.” “Sedihnya…” Serayu mengerucutkan bibir. “But it's okay, Mas. Besok bangun langsung kabari, ya?” “Saya selalu kabari kamu.” Serayu terdiam sebentar, lalu buru-buru mengoreksi ucapannya. “Eh, iya. Maksudnya saya yang akan kabari Mas kalau saya sudah bangun.” Abra
“Mbak,” cegat Abra membuat Riani menoleh. “Biar istri saya yang bawa Satria ke kamar.” Hati Serayu yang sendu seketika menghangat. Ia kembali meraih buah hatinya ke dalam pelukan, lalu mengangguk pamit pada sang mertua. “Kalian ini lebay sekali. Kasihan cucu Mama. Udah kelihatan capek banget,” ujar Riani, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya. “Serayu masih mau berlama-lama dengan Satria, Ma,” kata Abra mencoba memberi pengertian. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Serayu menciumi seluruh wajah anaknya. Sayangnya, Satria sekali tidak terbangun. Sepertinya, bocah kecil itu benar-benar kelelahan. Serayu tidak pernah menyesali pekerjaannya. Ia mencintai profesinya dan paham tanggung jawabnya. Namun, tidak bisa di pungkiri, setiap harus meninggalkan Satria, ada rasa berat yang memenuhi dadanya. Cukup lama Serayu hanya duduk menikmati wajah lelap Satria. Ia mengusap rambut halus anaknya perlahan penuh sayang. Cukup lama serayu hanya menikmati wa
“Selalu aktifkan live location kamu. Wajib video call setiap hari, terutama sebelum tidur,” oceh Abra sambil memeluk istrinya dari belakang. Saat ini Serayu sedang duduk di pangkuan suaminya. Tangannya sibuk memasukkan pakaian Abra satu per satu ke dalam koper. “Iya... saya ingat,” jawabnya. “Tidak boleh ada rekan dokter laki-laki yang masuk ke kamar kamu,” tambah Abra. Serayu langsung menoleh. “Mau dituduh main serong atau gimana ini?” “Hanya mengingatkan.” Abra mengecup pipi istrinya. “Intinya, tidak boleh berdua-duaan dengan rekan dokter laki-laki.” “Ya kali kalau mau membahas materi?” “Harus ada yang menemani. Nggak baik berduaan dengan lawan jenis. Sayang, yang ketiganya bisa saja setan.” Abra kembali mengingatkan. “Makan yang teratur. Saya tahu kamu kalau sudah belajar bisa lupa segalanya.” Serayu melirik Abra tajam. Bukannya merasa bersalah, lelaki itu justru memajukan wajahnya dan kembali mengecup pipi sang istri. Serayu mengembuskan napas pelan. Ia masih beta
Hari kedua MPASI, Serayu sendiri yang menyiapkan makanan untuk Satria. Seantusias itu istri Dokter Abra. Pagi-pagi sekali ia sudah sibuk di dapur, memastikan makanan sang buah hati siap sebelum dirinya berangkat ke rumah sakit. “Masakan mamanya juga nggak kalah enak,” kata Abra sambil memperhatikan Satria yang tampak bersemangat menyantap makanan di hadapannya. “Lucu banget sih, Mas. Cepat banget anaknya gede. Udah makan aja.” Serayu merajuk dengan nada manja. “Padahal kemarin masih nemplok terus, nen.” Abra menatap Satria dengan senyum bangga. Rasanya baru kemarin ia masih menggendong bayi kecil yang hanya bisa menangis dan menyusu. Kini, anak itu sudah mulai belajar menikmati makanan pertamanya. “Kamu sudah mulai cicil perlengkapan yang mau dibawa saat seminar nanti?” tanya Abra kali ini, mengalihkan perhatian kepada istrinya. Serayu mengangguk. “Iya. Nggak banyak juga kok bawaannya.” “Bawa baju hangat juga.” “Ada, kok, Mas. Nanti saya bantuin Mas packing juga ya malam
Jangan tanya seperti apa kekhawatiran Riani ketika mengetahui cucunya yang baru berusia enam bulan akan ditinggal kedua orang tuanya karena pekerjaan. Kegagalan yang pernah dialaminya di masa lalu membuatnya tak ingin hal serupa terjadi pada cucunya. “Satria sama Mama saja, ya?” pintanya. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Riani mengajukan permintaan itu, tetapi tidak pernah dikabulkan Abra. Abra tidak pernah melarang sang nenek menemui cucunya. Riani bebas datang kapan saja. Mereka pun beberapa kali berkunjung ke rumah Oma dan Opanya untuk bermain. Namun, Abra belum pernah terpikir untuk benar-benar menitipkan Satria kepada Riani. Menurutnya, semua yang sudah dipersiapkannya di rumah jauh lebih dari cukup. Orang-orang yang bekerja di rumah pun sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Ia sangat mempercayai mereka untuk menjaga Satria. “Soal menu MPASI, Serayu aja yang siapin. Nanny juga ikut aja bersama Satria dan Mama.” Kepala Abra langsung dipenuhi berbagai pertimbangan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan bulan pun berlalu silih berganti. Tanpa disadari, waktu ternyata berlalu sesingkat itu. Ini bukan kali pertama Serayu meninggalkan suami dan anaknya untuk menjalani dinas malam. Jangan tanya seberapa gundahnya ia tetap harus melewati semuanya. Serayu selalu menyempatkan diri melakukan video call meski hanya sekejap sudah cukup untuk sedikit mengobati rasa rindunya. Pagi kembali menyapa setelah malam yang tidak terlalu padat, tetapi juga tidak bisa disebut lengang. Serayu masih harus melanjutkan tugasnya hingga sore nanti. Sebelum memulai tugas berikutnya, ia segera meraih ponselnya lalu duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Dering panggilan dari seberang membuat jantungnya berdebar. Tak lama kemudian, wajah Abra memenuhi layar, lengkap dengan senyum hangat yang langsung membuat Serayu ikut tersenyum. Lalu, raut wajahnya berubah. “Sayang,” sapa Abra lebih dulu. “Saya tahu sekali wajah kamu akan seperti itu.” “Sedih nggak bis







