Share

41. First Kiss

Author: Dinis Selmara
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-13 19:24:27
Serayu membeku saat tatapan Abra sedekat dan sedalam itu.

“Mas…,” bisiknya lirih, mendorong dada Abra pelan. Namun lelaki itu tetap di tempatnya, menatap pahatan indah di hadapannya.

Tangan Abra terulur, mengusap pipi Serayu yang bersemu merah. Jarak di antara mereka perlahan memudar, hingga napas terasa berpadu. Saat Serayu memejamkan mata, sebuah kecupan singkat mendarat, mengguncang seluruh hatinya.

Abra menarik diri sesaat, menatap dalam ke mata Serayu yang kembali terbuka—mata yang menaw
Dinis Selmara

Eeyy... mau ngapain nungguin? eh >_<

| 99+
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (25)
goodnovel comment avatar
Nur Efia
ih ...gak ngerti gimana pulak ni dokter ..kadang Baek ...kadang ngeselin ...
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
candu di candain jadi tercandu candu deh
goodnovel comment avatar
Adelia Chubby2499
pakai nanya kenapa Serayu tiba-tiba menghindari kamu ya karena dia malu gue itu The First kiss nya itu kamu ambil. seharusnya kalau misalkan kamu mau melakukan itu jangan setengah-setengah langsung aja sikat biar sekalian gitu loh canggungnya wkwkwk
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   355. Bincang Sebelum Tidur

    Jangan tanya seperti apa kekhawatiran Riani ketika mengetahui cucunya yang baru berusia enam bulan akan ditinggal kedua orang tuanya karena pekerjaan. Kegagalan yang pernah dialaminya di masa lalu membuatnya tak ingin hal serupa terjadi pada cucunya.“Satria sama Mama saja, ya?” pintanya.Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Riani mengajukan permintaan itu, tetapi tidak pernah dikabulkan Abra. Abra tidak pernah melarang sang nenek menemui cucunya. Riani bebas datang kapan saja. Mereka pun beberapa kali berkunjung ke rumah Oma dan Opanya untuk bermain.Namun, Abra belum pernah terpikir untuk benar-benar menitipkan Satria kepada Riani. Menurutnya, semua yang sudah dipersiapkannya di rumah jauh lebih dari cukup. Orang-orang yang bekerja di rumah pun sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Ia sangat mempercayai mereka untuk menjaga Satria.“Soal menu MPASI, Serayu aja yang siapin. Nanny juga ikut aja bersama Satria dan Mama.”Kepala Abra langsung dipenuhi berbagai pertimbangan. Ia

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   354. Tak Bisa Menemani

    Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan bulan pun berlalu silih berganti. Tanpa disadari, waktu ternyata berlalu sesingkat itu. Ini bukan kali pertama Serayu meninggalkan suami dan anaknya untuk menjalani dinas malam. Jangan tanya seberapa gundahnya ia tetap harus melewati semuanya. Serayu selalu menyempatkan diri melakukan video call meski hanya sekejap sudah cukup untuk sedikit mengobati rasa rindunya.Pagi kembali menyapa setelah malam yang tidak terlalu padat, tetapi juga tidak bisa disebut lengang. Serayu masih harus melanjutkan tugasnya hingga sore nanti.Sebelum memulai tugas berikutnya, ia segera meraih ponselnya lalu duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Dering panggilan dari seberang membuat jantungnya berdebar. Tak lama kemudian, wajah Abra memenuhi layar, lengkap dengan senyum hangat yang langsung membuat Serayu ikut tersenyum. Lalu, raut wajahnya berubah.“Sayang,” sapa Abra lebih dulu. “Saya tahu sekali wajah kamu akan seperti itu.”“Sedih nggak bisa n

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   353. Romantis?

    Serayu memeluk suaminya erat, membenamkan wajah di dada bidang itu. Sementara Abra mengecup lama puncak kepalanya dengan penuh sayang. Tubuh polos mereka masih terbungkus selimut, menyisakan jejak lelah setelah saling berbagi kasih.Keheningan yang nyaman menyelimuti kamar hingga akhirnya Serayu bersuara pelan."Mas, ngantuk nggak?"Abra yang sedari tadi memejamkan mata menjawab, "Belum. Kenapa?"Serayu berbisik dengan nada manja. "Lapar, Mas."Seketika Abra membuka kedua matanya dan menunduk menatap istrinya."Kamu lapar?"Serayu mengangguk kecil."Mau dimasakin apa?"Abra sudah bisa menebak isi dapur mereka. Hampir semua makanan malam tadi sudah habis tanpa sisa."Mie rebus."Jawaban itu membuat wajah Abra seketika datar. Melihat reaksinya, Serayu hanya meringis sambil tersenyum bersalah."Spaghetti?" tawar Abra.Serayu menggeleng."Ramen?"Jawaban Serayu masih berupa gelengan."Mie rebus biasa aja. Pakai telur setengah matang," pinta Serayu sambil memamerkan deretan giginya yang rap

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   352. Saling Menginginkan

    “Malam masih sangat panjang ‘kan, Sayang?”Keduanya melempar tertawa kecil. Abra mengangkat Serayu dalam menggendongnya ala bride, lalu menautkan kening dan hidung mereka dengan penuh sayang.Namun, saat hendak melangkah, Abra mendadak menghentikan langkahnya. Di ambang pintu, Aksa berdiri sambil menundukkan kepala.Serayu ikut menoleh, mengikuti arah pandang suaminya. Ia lupa masih ada satu orang lagi yang belum pulang."Kamu bisa langsung pulang," ujar Abra.Serayu sempat berusaha turun dari gendongan, tetapi Abra justru mengeratkan pelukannya. Mau tak mau, Serayu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang sang suami."Semua sudah saya bersihkan dan rapikan, Pak. Bibi juga sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap beristirahat. Kalau sudah tidak ada lagi yang diperlukan, saya izin pamit," lapor Aksa."Ya, silakan. Terima kasih."Aksa mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya kepada Serayu. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya."Bu, saya pamit."Nada suara

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   351. Makan Malam Bersama

    "Di Bandung cuma sebentar. Besok mau keliling dulu, lusa lanjut ke Surabaya," ujar Nanda, teman lama Abra.Abra mengangguk paham."Aku sama Abra sudah punya buntut. Mana istrimu, Ryan?""Masih on the way," jawab Ryan santai.Nanda terkekeh geli, lalu mengalihkan pandangannya kepada Abra."Iya… tapi jujur saja, dulu aku kira yang bakal kamu nikahi itu Aileen.”Abra membalik potongan daging di atas panggangan tanpa mengangkat kepala."Dan ternyata kamu salah," balasnya datar.Nanda terkekeh kecil."Serius, kenapa bisa? Kalian dulu best couple, lho."Sejenak suasana hening. Ryan memilih diam, sementara Abra tetap fokus pada daging yang mulai matang."Takdir," jawabnya singkat."Sepertinya istrimu lebih muda dari kita, ya?""Hmm,” balas Abra.Jawaban itu terdengar singkat. Bukan karena Abra enggan. Memang begitulah dirinya sejak dulu, seperlunya saja jika bicara. Tepatnya saat tak ada lagi yang bisa ia percaya selain dirinya sendiri.Di sisi lain, Serayu yang sedang mendengar percakapan i

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   350. Teman Lama

    “Mas, malam nanti jadi, kan?” tanya Serayu melalui sambungan telepon. “Jadi, Sayang. Kamu nggak perlu repot-repot. Biar Bibi yang menyiapkan semuanya, dibantu Aksa.” “Tuan rumahnya siapa, sih? Saya atau Mas Aksa?” “Mas jemput kamu nanti. Kabari lagi kalau sudah selesai jam berapanya, ya,” balas Abra, sengaja mengabaikan pertanyaan istrinya. “Mengalihkan pembicaraan…,” gerutu Serayu pelan, membuat Abra tersenyum di seberang sana. “Tentu saja kamu,” jawab Abra meski terlambat. “Maksud Mas, keberadaan Aksa itu supaya kamu nggak kelelahan. Itu saja. Lagian tamunya juga bukan tamu yang harus disambut secara berlebihan. Tidak sespecial itu.” Malam ini Ryan akan berkunjung setelah menyelesaikan tugasnya sebagai dokter relawan. Tujuannya tapi bukan untuk bertemu Abra, melainkan melihat Satria. Selain Ryan, ada seorang teman kuliah mereka yang kebetulan sedang berlibur ke Bandung dan ingin mampir untuk reuni kecil sekaligus bertemu buah hati mereka. “Ada anaknya teman Mas juga, kan? Bole

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status