แชร์

41. First Kiss

ผู้เขียน: Dinis Selmara
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-13 19:24:27
Serayu membeku saat tatapan Abra sedekat dan sedalam itu.

“Mas…,” bisiknya lirih, mendorong dada Abra pelan. Namun lelaki itu tetap di tempatnya, menatap pahatan indah di hadapannya.

Tangan Abra terulur, mengusap pipi Serayu yang bersemu merah. Jarak di antara mereka perlahan memudar, hingga napas terasa berpadu. Saat Serayu memejamkan mata, sebuah kecupan singkat mendarat, mengguncang seluruh hatinya.

Abra menarik diri sesaat, menatap dalam ke mata Serayu yang kembali terbuka—mata yang menaw
Dinis Selmara

Eeyy... mau ngapain nungguin? eh >_<

| 99+
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (24)
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
candu di candain jadi tercandu candu deh
goodnovel comment avatar
Adelia Chubby2499
pakai nanya kenapa Serayu tiba-tiba menghindari kamu ya karena dia malu gue itu The First kiss nya itu kamu ambil. seharusnya kalau misalkan kamu mau melakukan itu jangan setengah-setengah langsung aja sikat biar sekalian gitu loh canggungnya wkwkwk
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
pengen nyicip lagi ya massss bi bir yang bikin can du itu
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   310. The Day

    "Aduh, aduh... ada suami bucin yang sudah nggak sabar mau ketemu istrinya." Amalia menggeleng sejak tadi ia memperhatikan Abra yang sedang berbicara dengan Aksa melalui telepon. Begitu dokter mengizinkannya melakukan perjalanan pulang karena kondisi yang terus membaik dan mumpuni, lelaki itu langsung meminta asistennya memesan tiket penerbangan pertama yang tersedia. Abra melirik sinis ke arah sepupunya. “Berisik.” "Kapan ya aku ketemu suami yang bucin juga?" gumam Amalia sambil menopang dagu. "Saya nggak ada duanya." Jawaban itu meluncur begitu saja. Nadanya terdengar datar, penuh percaya diri, semi sombong. Sangat Abra sekali. Amalia spontan memutar bola matanya. "Idih. Lagi sakit aja masih sempat arogan." Namun senyum di bibirnya tak juga hilang. Tidak heran dengan kakak sepupunya itu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Oke, aku pamit ya, Mas. Aku mau diskusi sebentar sama dokter, habis itu langsung balik ke camp sama timku." Abra mengangguk singkat. Saat Am

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   309. Ditemani

    Seharian Abra hanya berada di dalam kamar perawatan. Sepi. Sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya yang tak pernah bisa diam. Namun kali ini ia harus patuh. Jika ingin pulang dalam minggu ini, ia tidak punya pilihan selain mengikuti semua instruksi dokter. Matanya terpejam sesaat. Lalu terbuka lagi. Ia tak pernah benar-benar bisa tidur dengan lena. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal. Pulih lebih cepat. Sore nanti masih ada visit lanjutan. Ia harus menunjukkan perkembangan yang baik agar dokter mengizinkannya segera pulang. Baru saja ia hendak memejamkan mata lagi, pintu kamar terbuka setelah satu ketukan singkat yang terdengar tergesa. Rahangnya mengeras. Siapa lagi kali ini? Tak lama kemudian tirai pembatas tersibak. Abra melirik jengah saat melihat seorang wanita yang tampak khawatir. Amalia berjalan mendekati ranjangnya. "Mas, kok bisa begini?" Tangan Amalia terulur hati-hati menyentuh perban yang membalut tangan sepupunya. "Aku dapat kabar dari Dokter Ryan ka

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   308. Larangan

    Tangan Abra terulur hendak meraih tangan yang berada tak jauh darinya. Namun tangannya tak terangkat. Terasa berat. Nyeri kembali menjalar hingga ia mengurungkan niat. Kenapa Serayu ada di sini? Pikiran itu muncul begitu saja saat ia baru membuka mata. Namun semakin lama ia menatap sosok di hadapannya, semakin jelas bahwa wanita itu bukan istrinya. Postur tubuhnya berbeda. Wanginya juga berbeda. Kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya. Lantas siapa? "Siapa kamu?" suara Abra terdengar serak. Wanita yang sedang membelakangi Abra itu langsung menoleh. "Dokter Abra sudah bangun?" Abra mengernyit saat mengenali wajahnya. Sarah. Wanita itu mengenakan crop top lengan panjang yang memperlihatkan sedikit bagian pinggangnya setiap kali bergerak. "Semalam saya tanya ke perawat. Katanya dokter di sini sendirian, jadi saya inisiatif datang," ujarnya sambil tersenyum canggung. Dahi Abra berkerut. "Untuk apa—" Ting! Keduanya sama-sama terkejut saat sendok di tangan Sarah terjatuh ke lan

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   307. Peringatan

    "Dok, saya Sarah dari Medistra Technologies." Wanita itu tersenyum penuh semangat. "Ingat nggak? Saya yang mendampingi direktur waktu pertemuan kita beberapa waktu lalu." Ah… Abra mengingatnya. Ia hanya mengangguk singkat dengan ekspresi datarnya. "Dokter... maaf, dokter dirawat di sini?" Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Abra, seketika dokter yang mendampingi Abra menyela. "Mungkin bisa bicara di dalam saja? Dokter Abra perlu segera kembali ke ruangannya." "Maaf, kalau tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan, saya ingin beristirahat,” tolak Abra atas saran dokternya. Namun jelas ditujukan kepada wanita di hadapannya yang mengenakan pakaian mini meski dibalut jas. Sarah tampak salah tingkah. "Oh iya, maaf, Dok. Saya cuma ingin menyapa. Jujur saya cukup kaget melihat dokter di sini dalam keadaan..." Kalimatnya menggantung. Tatapannya jatuh pada perban yang membalut tangan Abra. "Kalau begitu saya permisi istirahat. Terima kasih sudah menyapa..." "Sarah,

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   306. Ingin Cepat Pulang

    "Saya harus bisa pulang di tanggal itu, Aksa. Saya nggak bisa menunggu hari lain." Abra berbicara tegas duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Keadaannya kian membaik, sudah bisa ngomel-ngomel memaksa sang asisten agar memesankan tiket untuk dirinya dalam minggu ini. "Tapi saya belum dapat izin dari dokter yang menangani Bapak," sahut Aksa dari seberang telepon. "Saya juga dokter. Saya paling tahu kondisi tubuh saya sendiri. Kamu tinggal pesan tiketnya." Aksa memejamkan mata sambil meremas pangkal hidungnya. Kemarin ia masih merasa iba melihat keadaan atasannya. Sekarang pria itu sudah kembali ke setelan pabrik. Keras kepala, sulit dibantah. "Saya akan bicara dulu dengan dokter yang menangani Bapak—" "Kamu nggak mau bonus dua kali lipat?" tanya Abra. Aksa menggeleng pelan meski tahu gerakannya tak akan terlihat. Ini bukan soal bonus yang menggiurkan karena biasanya bonus dari Abra memang tidak main-main angkanya. Dokter yang menangani sang atasan bahkan belum merek

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   305. Rasa Kehilangan

    Abra membuka matanya perlahan. Langit-langit putih menyambut pandangannya. Terdengar suara langkah kaki dan roda brankar yang bergesekan dengan lantai. Diikuti perintah-perintah singkat yang saling bersahutan. Ia menyadari tubuhnya sedang didorong dengan cepat melewati lorong rumah sakit. Beberapa orang mengelilinginya. Lalu ia dipindahkan ke sebuah bed. IGD. Abra mengenali tempat itu begitu masuk ke ruangan yang aromanya sangat ia kenal. Namun sesaat kemudian dahinya berkerut. Rumah sakit mana ini? Apa yang terjadi? Kenapa ia berada di sini? Dan kenapa ia kesulitan menggerakkan jemarinya? "Dokter Abra? Dokter bisa mendengar saya?" Seorang dokter muncul dalam pandangannya, yang dirinya yakini bahwa lelaki itu adalah dokter jaga IGD. Ia ingin menjawab. Namun bibirnya terasa kelu. Tak ada suara yang keluar. "Dokter Abra, kalau bisa mendengar saya, coba kedipkan mata Anda." Abra menurut. Dokter itu mengembuskan napas lega. "Baik. Bagus." Suara alat di sisinya terdengar ny

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   109. Si Paling Sombong

    Lorong sore itu mulai lengang, Serayu baru saja selesai bertugas, pundaknya terasa pegal tetapi langkahnya ringan menuju ruangan Abra.Namun langkahnya tertahan ketika Ryan muncul.“Koas,” panggilnya singkat.Tatapan Ryan berubah serius, sedikit cemas. Meski larut dalam cerita, Ryan sempat melirik k

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-26
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   105. Dokter Pribadi #2

    Serayu menimbang-nimbang. Rasanya ia belum membuka botol itu… tapi mungkin juga sudah. Kalau bukan dia, siapa lagi?“Mungkin saja saya yang buka waktu cobain jamu, lupa,” ujarnya meringis kecil.Abra naik ke ranjang, mendekat perlahan sebelum melingkarkan kedua lengannya di tubuh Serayu yang terasa

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-25
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   86. Lelaki di Masa Lalu

    Serayu tiba di apartemen bersama Abra. Ragu-ragu, wanita itu melangkah. Sepanjang jalan menuju apartemen tadi pun, ia lebih banyak diam.Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah foto besar pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang tamu—foto yang sejak lama tergantung di san

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   84. Istri Dokter Abra #1

    Tiga hari berlalu, Serayu terus diliputi kebingungan. Abra selalu datang menemuinya—menemani sarapan, makan siang, hingga makan malam. Ia sempat menolak saat Abra menyiapkan segala kebutuhannya, tapi wajah datar lelaki itu yang diam-diam menyiratkan tak menerima penolakan membuat Serayu tak enak hat

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status