INICIAR SESIÓNEeyy... mau ngapain nungguin? eh >_<
Lelaki itu memang Ezra. Ia masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya tergulung seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. “Dokter Ezra,” sapa Aksa membuat Ezra tersentak saat menoleh. Ia sedikit salah tingkah melihat keberadaan Aksa. “Mas Aksa,” balasnya menyapa. "Ada sesuatu yang membawa Dokter ke sini?" tanya Aksa tanpa basa-basi. Ezra tampak sedikit terkejut mendapat pertanyaan itu. "Saya... saya mau menjenguk sepupu saya yang dirawat di sini." "Oh ya?" Aksa mengangguk pelan. "Di lantai berapa?" Untuk sesaat Ezra terdiam. "Saya harus menghubungi keluarganya dulu." Jawaban itu membuat Aksa menatapnya beberapa detik lebih lama. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik raut wajah lelaki di hadapannya. Namun akhirnya ia hanya mengangguk. "Mau menunggu di kafetaria saja?" "Boleh." Keduanya berjalan menuju meja yang Ezra duduki tadi. Setelah beberapa saat hening usai memesan minuman, Ezra membuka percakapan. "Saya
Serayu menarik tangannya dari genggaman Ezra. Genggaman dokter itu terasa lebih erat dari sebelumnya. Saat menatap wajahnya, Serayu baru menyadari bahwa Ezra tampak sama paniknya dengan Riani. "Tidak perlu, Dok. Kami bersama sopir." "Memangnya sopirmu masih menunggu?" Kali ini Riani yang bertanya. Nada suaranya penuh kekhawatiran. Serayu mengangguk pelan. Ia sudah jauh lebih tenang karena tidak ada lagi cairan yang mengalir. "Mamang nggak mungkin meninggalkan saya, Ma." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Kalau pun nggak di parkiran depan, paling beliau lagi ngopi di sekitar sini. Saya telepon saja. Lagian semua perlengkapan bayi dan kebutuhan saya sudah ada di mobil." Semua perlengkapan lahiran sudah standby di mobil sejak beberapa hari lalu. Suara Serayu terdengar begitu tenang hingga sedikit meredakan kepanikan di ruangan itu. "Dok, lantainya..." Ia menunjuk genangan cairan yang masih terlihat di lantai. Ezra menggeleng. "Nggak apa-apa. Saya bisa panggil OB." Lalu ia kemb
"Aduh, aduh... ada suami bucin yang sudah nggak sabar mau ketemu istrinya." Amalia menggeleng sejak tadi ia memperhatikan Abra yang sedang berbicara dengan Aksa melalui telepon. Begitu dokter mengizinkannya melakukan perjalanan pulang karena kondisi yang terus membaik dan mumpuni, lelaki itu langsung meminta asistennya memesan tiket penerbangan pertama yang tersedia. Abra melirik sinis ke arah sepupunya. “Berisik.” "Kapan ya aku ketemu suami yang bucin juga?" gumam Amalia sambil menopang dagu. "Saya nggak ada duanya." Jawaban itu meluncur begitu saja. Nadanya terdengar datar, penuh percaya diri, semi sombong. Sangat Abra sekali. Amalia spontan memutar bola matanya. "Idih. Lagi sakit aja masih sempat arogan." Namun senyum di bibirnya tak juga hilang. Tidak heran dengan kakak sepupunya itu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Oke, aku pamit ya, Mas. Aku mau diskusi sebentar sama dokter, habis itu langsung balik ke camp sama timku." Abra mengangguk singkat. Saat Am
Seharian Abra hanya berada di dalam kamar perawatan. Sepi. Sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya yang tak pernah bisa diam. Namun kali ini ia harus patuh. Jika ingin pulang dalam minggu ini, ia tidak punya pilihan selain mengikuti semua instruksi dokter. Matanya terpejam sesaat. Lalu terbuka lagi. Ia tak pernah benar-benar bisa tidur dengan lena. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal. Pulih lebih cepat. Sore nanti masih ada visit lanjutan. Ia harus menunjukkan perkembangan yang baik agar dokter mengizinkannya segera pulang. Baru saja ia hendak memejamkan mata lagi, pintu kamar terbuka setelah satu ketukan singkat yang terdengar tergesa. Rahangnya mengeras. Siapa lagi kali ini? Tak lama kemudian tirai pembatas tersibak. Abra melirik jengah saat melihat seorang wanita yang tampak khawatir. Amalia berjalan mendekati ranjangnya. "Mas, kok bisa begini?" Tangan Amalia terulur hati-hati menyentuh perban yang membalut tangan sepupunya. "Aku dapat kabar dari Dokter Ryan ka
Tangan Abra terulur hendak meraih tangan yang berada tak jauh darinya. Namun tangannya tak terangkat. Terasa berat. Nyeri kembali menjalar hingga ia mengurungkan niat. Kenapa Serayu ada di sini? Pikiran itu muncul begitu saja saat ia baru membuka mata. Namun semakin lama ia menatap sosok di hadapannya, semakin jelas bahwa wanita itu bukan istrinya. Postur tubuhnya berbeda. Wanginya juga berbeda. Kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya. Lantas siapa? "Siapa kamu?" suara Abra terdengar serak. Wanita yang sedang membelakangi Abra itu langsung menoleh. "Dokter Abra sudah bangun?" Abra mengernyit saat mengenali wajahnya. Sarah. Wanita itu mengenakan crop top lengan panjang yang memperlihatkan sedikit bagian pinggangnya setiap kali bergerak. "Semalam saya tanya ke perawat. Katanya dokter di sini sendirian, jadi saya inisiatif datang," ujarnya sambil tersenyum canggung. Dahi Abra berkerut. "Untuk apa—" Ting! Keduanya sama-sama terkejut saat sendok di tangan Sarah terjatuh ke lan
"Dok, saya Sarah dari Medistra Technologies." Wanita itu tersenyum penuh semangat. "Ingat nggak? Saya yang mendampingi direktur waktu pertemuan kita beberapa waktu lalu." Ah… Abra mengingatnya. Ia hanya mengangguk singkat dengan ekspresi datarnya. "Dokter... maaf, dokter dirawat di sini?" Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Abra, seketika dokter yang mendampingi Abra menyela. "Mungkin bisa bicara di dalam saja? Dokter Abra perlu segera kembali ke ruangannya." "Maaf, kalau tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan, saya ingin beristirahat,” tolak Abra atas saran dokternya. Namun jelas ditujukan kepada wanita di hadapannya yang mengenakan pakaian mini meski dibalut jas. Sarah tampak salah tingkah. "Oh iya, maaf, Dok. Saya cuma ingin menyapa. Jujur saya cukup kaget melihat dokter di sini dalam keadaan..." Kalimatnya menggantung. Tatapannya jatuh pada perban yang membalut tangan Abra. "Kalau begitu saya permisi istirahat. Terima kasih sudah menyapa..." "Sarah,
“Maaf—”Namun belum sempat Ryan lanjut bicara, suara tenang tapi tegas Abra memotong, “Saya minta kamu menjaga jarak dari istri saya, Serayu.”Nada suaranya datar, tapi dingin. Abra menatapnya hanya sebentar, lalu melempar kembali botol minuman itu. Refleks, Ryan menangkapnya dengan satu tangan. Ger
Abra gelisah. Ia bolak-balik memeriksa ponselnya, menunggu kabar yang tak juga datang. “Seminggu? Yang benar saja,” gerutunya, nada kesal menyelinap di sela napasnya. Hari itu Abra tidak tenang. Hari ini tidak ada jadwal operasi harusnya bisa fokus pada pekerjaannya sebagai pemilik rumah sakit, ta
FlashbackSeharusnya Abra marah besar. Ada seseorang yang berani mencoreng nama baiknya. Abra paling anti dengan segala jenis skandal—apa pun itu, tapi saat menatap mata wanita itu kemarahan itu luluh seketika.Abra tidak bisa membenci Serayu, ia justru tersiksa karena tak bisa memeluk wanita itu.
“Kamu istri saya, Rayu,” ujar Abra mengingatkan. “Semua orang juga sudah tahu kalau saya istri Mas Abra,” sahut Serayu. “Sangat tahu, bahkan sampai ke masa lalu—” “Sayang…,” panggil Abra tatapannya seolah tak setuju, membuat Serayu spontan menghentikan kalimatnya. Tangan lelaki itu terulur, mengg







