MasukEeyy... mau ngapain nungguin? eh >_<
Abra membuka matanya perlahan.Langit-langit putih menyambut pandangannya. Terdengar suara langkah kaki dan roda brankar yang bergesekan dengan lantai. Diikuti perintah-perintah singkat yang saling bersahutan.Ia menyadari tubuhnya sedang didorong dengan cepat melewati lorong rumah sakit.Beberapa orang mengelilinginya. Lalu ia dipindahkan ke sebuah bed.IGD.Abra mengenali tempat itu begitu masuk ke ruangan yang aromanya sangat ia kenal.Namun sesaat kemudian dahinya berkerut.Rumah sakit mana ini?Apa yang terjadi?Kenapa ia berada di sini?Dan kenapa ia kesulitan menggerakkan jemarinya?"Dokter Abra? Dokter bisa mendengar saya?"Seorang dokter muncul dalam pandangannya, yang dirinya yakini bahwa lelaki itu adalah dokter jaga IGD.Ia ingin menjawab. Namun bibirnya terasa kelu. Tak ada suara yang keluar."Dokter Abra, kalau bisa mendengar saya, coba kedipkan mata Anda."Abra menurut. Dokter itu mengembuskan napas lega."Baik. Bagus."Suara alat di sisinya terdengar nyaring dan ia tah
“Apa selalu begini, Capt?” tanya Abra tanpa mengalihkan pandangannya. “Sometimes. Tapi kali ini kabut cukup tebal. Di luar dugaan saya. Padahal langit belum pekat.” Kabut di luar jendela semakin rapat. Pilot mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, berusaha menangkap apa pun yang masih bisa terlihat di balik putih pekat yang menyelimuti pegunungan. Tangannya tidak pernah lepas dari kemudi. Mesin pesawat kecil itu meraung stabil. Di kursinya, Abra ikut menatap ke depan. Awalnya tidak terlihat apa-apa. Lalu samar-samar muncul pucuk pohon. Pilot segera menarik kemudi sedikit ke atas. Pesawat menanjak. Namun kabut kembali menelan pandangan. Jarak pandang semakin pendek. Terlalu pendek, hingga tiba-tiba…. Srrrkkk! Suara gesekan keras membuat tubuh Abra menegang. Pesawat terguncang saat baling-baling sebelah kanan memangkas pucuk pohon yang muncul mendadak dari balik kabut. Pilot mengumpat pelan. Tangannya bergerak cepat menstabilkan arah. Belum sempat keduanya bernapas lega, ba
Jadwal kepulangan Abra akhirnya sudah di depan mata. Bukan main bahagianya Serayu saat mendengar kabar itu. Pagi itu ia sibuk menata rumah. Beberapa tanaman baru ditambahkan untuk membuat suasana terasa lebih segar. Seorang tukang kebun yang biasa ditugaskan merawat halaman membantu mengatur letaknya. "Aduh, rumah jadi seger banget," komentar Ibu yang baru keluar dari kamar. “Jadi lebih hidup,” tambah Ibu. Ibu memperhatikan putrinya sejenak lalu tersenyum. "Kamu juga kelihatan jauh lebih ceria dari beberapa minggu lalu." Senyum Serayu semakin lebar. "Mas Abra sudah dapat jadwal pulang, Bu. Tiga hari lagi." Ibu merangkul bahu Serayu lembut. "Syukurlah." Serayu mengangguk. Hanya tiga hari lagi. Tiga hari ia bersedia menunggu kepulangan suaminya dengan suka cita. “Sudah semua, Non,” kata Mamang. “Iya. Terima kasih ya, Mas.” Serayu merangkul lengan ibunya, menuntun beliau duduk di sofa. "Oh iya, kamu jadi antar ibu mertuamu kontrol hari ini?" "Iya. Setelah makan siang." "Kont
Seharusnya Abra bahagia menerima kabar baik itu. Buah cintanya tumbuh sehat. Ia menatap hasil USG pada layar ponselnya. Lagi, ia tidak bisa menemani istrinya menjalani kontrol kehamilan. Sudah dua minggu berlalu sejak keberangkatannya ke lokasi bencana. [Dua minggu lagi kontrol lagi, Mas. Tapi kenapa rasanya aku nggak akan sampai dua minggu ke depan?] Abra mengusap wajahnya kasar. Janggut tipis mulai memenuhi dagunya. Dadanya sesak membaca pesan itu. Komunikasi mereka semakin sulit. Untuk sekadar mengirim kabar, Abra harus berjalan cukup jauh meninggalkan camp demi menangkap setitik sinyal. Masa tugasnya pun terpaksa diperpanjang setelah salah satu rekan dokter dipulangkan karena kondisi kesehatannya memburuk. [Mas jadi pulang?] [Mas temani aku lahiran, kan?] [Kapan, Mas?] Abra menatap lama deretan pesan itu. [Saya akan pulang, Sayang.] Untuk pertama kalinya, janji itu terasa begitu berat untuk ia kirimkan. Abra tidak pernah seragu ini sebelumnya. Sementara itu, di tempat y
Apa yang disarankan Riani sebenarnya tidak ada ruginya bagi Serayu. Namun, Serayu dan Abra telah memiliki rencana mereka sendiri. Lagi pula, ia tidak berani mengambil keputusan sebesar itu tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan sang suami. Pada akhirnya Riani kembali kecewa. Meski begitu, wanita itu tampaknya tak pernah lelah memberi arahan tentang banyak hal yang menurutnya terbaik. Berbeda dengan semalam, setiap pesannya mendapat balasan dari Abra, malam ini Serayu hanya ditemani kesunyian. Sejak pagi, pesan terakhir yang ia kirim masih bertanda centang satu. “Belum tidur?” Suara ibunya membuat Serayu mengalihkan pandangan dari televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. “Tumben nonton di luar.” “Belum ngantuk, Bu.” Ibunya meletakkan segelas susu hangat di atas meja. “Diminum dulu.” Serayu menatap gelas itu cukup lama. Ia teringat Abra. Lelaki itu selalu menyiapkan susu malam untuknya, bahkan saat sang suamu sedang kelelahan. Baru dua hari. Kenapa rasa
Balasan pesan dari Abra membuat senyum Serayu merekah. Suaminya itu membalas satu per satu bubble chat yang seharian tadi ia kirimkan. Di pesan terakhir, Abra bahkan mengirim foto dirinya yang tengah bersandar di kepala ranjang. “Narsis banget,” gumam Serayu sambil tersenyum. Senyum lelaki itu tipis sekali, tapi dilihat dari sisi mana pun tampannya tidak berkurang. Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. “Serayu, ayo makan,” panggil ibunya. “Iya, Bu.” Serayu membawa ponselnya ke ruang makan. Ia terus bertukar pesan dengan sang suami, seperti gadis yang sedang dimabuk asmara. [Wow! Your favorite dinner.] Serayu tersenyum saat membaca balasan Abra setelah mengirim foto makan malamnya. Ibunya melirik sekilas. Sejak duduk di meja makan, putrinya tak berhenti tersenyum menatap layar ponsel. Sesekali menyuap makanan, lalu kembali mengetik dengan gerak yang cepat. “Keburu dingin itu makanannya,” tegur sang ibu. Serayu mengangkat wajahnya. Ia meringis tipis. “Kayak ABG aja ka
Serayu duduk di depan meja rias memoles wajahnya tipis. Sementara Abra menatap istrinya dengan tatapan tak suka. “Mau tugas apa mau ngapain kamu?” tanya Abra sinis. Hari ini akhirnya tiba, hari pertama internship yang sudah lama Serayu tunggu. “Ayo, Mas. Saya sudah siap,” ajaknya sambil meraih le
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempua
Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Ha
“Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu







