แชร์

41. First Kiss

ผู้เขียน: Dinis Selmara
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-13 19:24:27
Serayu membeku saat tatapan Abra sedekat dan sedalam itu.

“Mas…,” bisiknya lirih, mendorong dada Abra pelan. Namun lelaki itu tetap di tempatnya, menatap pahatan indah di hadapannya.

Tangan Abra terulur, mengusap pipi Serayu yang bersemu merah. Jarak di antara mereka perlahan memudar, hingga napas terasa berpadu. Saat Serayu memejamkan mata, sebuah kecupan singkat mendarat, mengguncang seluruh hatinya.

Abra menarik diri sesaat, menatap dalam ke mata Serayu yang kembali terbuka—mata yang menaw
Dinis Selmara

Eeyy... mau ngapain nungguin? eh >_<

| 99+
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (24)
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
candu di candain jadi tercandu candu deh
goodnovel comment avatar
Adelia Chubby2499
pakai nanya kenapa Serayu tiba-tiba menghindari kamu ya karena dia malu gue itu The First kiss nya itu kamu ambil. seharusnya kalau misalkan kamu mau melakukan itu jangan setengah-setengah langsung aja sikat biar sekalian gitu loh canggungnya wkwkwk
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
pengen nyicip lagi ya massss bi bir yang bikin can du itu
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   305. Rasa Kehilangan

    Abra membuka matanya perlahan. Langit-langit putih menyambut pandangannya. Terdengar suara langkah kaki dan roda brankar yang bergesekan dengan lantai. Diikuti perintah-perintah singkat yang saling bersahutan. Ia menyadari tubuhnya sedang didorong dengan cepat melewati lorong rumah sakit. Beberapa orang mengelilinginya. Lalu ia dipindahkan ke sebuah bed. IGD. Abra mengenali tempat itu begitu masuk ke ruangan yang aromanya sangat ia kenal. Namun sesaat kemudian dahinya berkerut. Rumah sakit mana ini? Apa yang terjadi? Kenapa ia berada di sini? Dan kenapa ia kesulitan menggerakkan jemarinya? "Dokter Abra? Dokter bisa mendengar saya?" Seorang dokter muncul dalam pandangannya, yang dirinya yakini bahwa lelaki itu adalah dokter jaga IGD. Ia ingin menjawab. Namun bibirnya terasa kelu. Tak ada suara yang keluar. "Dokter Abra, kalau bisa mendengar saya, coba kedipkan mata Anda." Abra menurut. Dokter itu mengembuskan napas lega. "Baik. Bagus." Suara alat di sisinya terdengar ny

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   304. Yang Dinanti

    “Apa selalu begini, Capt?” tanya Abra tanpa mengalihkan pandangannya. “Sometimes. Tapi kali ini kabut cukup tebal. Di luar dugaan saya. Padahal langit belum pekat.” Kabut di luar jendela semakin rapat. Pilot mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, berusaha menangkap apa pun yang masih bisa terlihat di balik putih pekat yang menyelimuti pegunungan. Tangannya tidak pernah lepas dari kemudi. Mesin pesawat kecil itu meraung stabil. Di kursinya, Abra ikut menatap ke depan. Awalnya tidak terlihat apa-apa. Lalu samar-samar muncul pucuk pohon. Pilot segera menarik kemudi sedikit ke atas. Pesawat menanjak. Namun kabut kembali menelan pandangan. Jarak pandang semakin pendek. Terlalu pendek, hingga tiba-tiba…. Srrrkkk! Suara gesekan keras membuat tubuh Abra menegang. Pesawat terguncang saat baling-baling sebelah kanan memangkas pucuk pohon yang muncul mendadak dari balik kabut. Pilot mengumpat pelan. Tangannya bergerak cepat menstabilkan arah. Belum sempat keduanya bernap

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   303. Hari Kepulangan

    Jadwal kepulangan Abra akhirnya sudah di depan mata. Bukan main bahagianya Serayu saat mendengar kabar itu. Pagi itu ia sibuk menata rumah. Beberapa tanaman baru ditambahkan untuk membuat suasana terasa lebih segar. Seorang tukang kebun yang biasa ditugaskan merawat halaman membantu mengatur letaknya. "Aduh, rumah jadi seger banget," komentar Ibu yang baru keluar dari kamar. “Jadi lebih hidup,” tambah Ibu. Ibu memperhatikan putrinya sejenak lalu tersenyum. "Kamu juga kelihatan jauh lebih ceria dari beberapa minggu lalu." Senyum Serayu semakin lebar. "Mas Abra sudah dapat jadwal pulang, Bu. Tiga hari lagi." Ibu merangkul bahu Serayu lembut. "Syukurlah." Serayu mengangguk. Hanya tiga hari lagi. Tiga hari ia bersedia menunggu kepulangan suaminya dengan suka cita. “Sudah semua, Non,” kata Mamang. “Iya. Terima kasih ya, Mas.” Serayu merangkul lengan ibunya, menuntun beliau duduk di sofa. "Oh iya, kamu jadi antar ibu mertuamu kontrol hari ini?" "Iya. Setelah makan siang." "Kont

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   302. Kabar Baiknya...

    Seharusnya Abra bahagia menerima kabar baik itu. Buah cintanya tumbuh sehat. Ia menatap hasil USG pada layar ponselnya. Lagi, ia tidak bisa menemani istrinya menjalani kontrol kehamilan. Sudah dua minggu berlalu sejak keberangkatannya ke lokasi bencana. [Dua minggu lagi kontrol lagi, Mas. Tapi kenapa rasanya aku nggak akan sampai dua minggu ke depan?] Abra mengusap wajahnya kasar. Janggut tipis mulai memenuhi dagunya. Dadanya sesak membaca pesan itu. Komunikasi mereka semakin sulit. Untuk sekadar mengirim kabar, Abra harus berjalan cukup jauh meninggalkan camp demi menangkap setitik sinyal. Masa tugasnya pun terpaksa diperpanjang setelah salah satu rekan dokter dipulangkan karena kondisi kesehatannya memburuk. [Mas jadi pulang?] [Mas temani aku lahiran, kan?] [Kapan, Mas?] Abra menatap lama deretan pesan itu. [Saya akan pulang, Sayang.] Untuk pertama kalinya, janji itu terasa begitu berat untuk ia kirimkan. Abra tidak pernah seragu ini sebelumnya. Sementara itu, di tempat y

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   301. Jauh Merindu

    Apa yang disarankan Riani sebenarnya tidak ada ruginya bagi Serayu. Namun, Serayu dan Abra telah memiliki rencana mereka sendiri. Lagi pula, ia tidak berani mengambil keputusan sebesar itu tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan sang suami. Pada akhirnya Riani kembali kecewa. Meski begitu, wanita itu tampaknya tak pernah lelah memberi arahan tentang banyak hal yang menurutnya terbaik. Berbeda dengan semalam, setiap pesannya mendapat balasan dari Abra, malam ini Serayu hanya ditemani kesunyian. Sejak pagi, pesan terakhir yang ia kirim masih bertanda centang satu. “Belum tidur?” Suara ibunya membuat Serayu mengalihkan pandangan dari televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. “Tumben nonton di luar.” “Belum ngantuk, Bu.” Ibunya meletakkan segelas susu hangat di atas meja. “Diminum dulu.” Serayu menatap gelas itu cukup lama. Ia teringat Abra. Lelaki itu selalu menyiapkan susu malam untuknya, bahkan saat sang suamu sedang kelelahan. Baru dua hari. Kenapa rasa

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   300. Perhatian Lebih

    Balasan pesan dari Abra membuat senyum Serayu merekah. Suaminya itu membalas satu per satu bubble chat yang seharian tadi ia kirimkan. Di pesan terakhir, Abra bahkan mengirim foto dirinya yang tengah bersandar di kepala ranjang. “Narsis banget,” gumam Serayu sambil tersenyum. Senyum lelaki itu tipis sekali, tapi dilihat dari sisi mana pun tampannya tidak berkurang. Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. “Serayu, ayo makan,” panggil ibunya. “Iya, Bu.” Serayu membawa ponselnya ke ruang makan. Ia terus bertukar pesan dengan sang suami, seperti gadis yang sedang dimabuk asmara. [Wow! Your favorite dinner.] Serayu tersenyum saat membaca balasan Abra setelah mengirim foto makan malamnya. Ibunya melirik sekilas. Sejak duduk di meja makan, putrinya tak berhenti tersenyum menatap layar ponsel. Sesekali menyuap makanan, lalu kembali mengetik dengan gerak yang cepat. “Keburu dingin itu makanannya,” tegur sang ibu. Serayu mengangkat wajahnya. Ia meringis tipis. “Kayak ABG aja ka

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   30. Suami Istri #2

    Serayu berniat merapikan barang-barangnya agar tidak berserakan. Namun siapa sangka, tiba-tiba tubuhnya terangkat dari lantai. Refleks, ia melingkarkan kedua tangan di leher Abra yang tiba-tiba datang dan menggendongnya. “Ma—Mas ….,” suaranya tercekat. “Tidurlah,” ucap Abra datar, meletakkan tubuh

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   36. Setitik Cinta

    “Kenapa sih, Ma? Pagi-pagi udah ngereog aja,” gerutu Vera sambil membuka mata setengah. Mumpung Jay Wijaya—suami Riani—sedang dinas di luar kota, ibu dan anak itu memang tidur bersama setelah berbelanja hingga larut malam. “Kamu lihat ini.” Riani menyodorkan ponselnya. “Aileen kirim Mama foto, k

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   35. Sikap Lancang

    Serayu bersusah payah melepas pakaian dinasnya yang masih melekat di tubuh. Tidak ada luka serius, tapi seluruh badannya terasa remuk. Ada beberapa memar, tapi dokter sudah memastikan semuanya baik-baik saja.“Kamu ini ganti baju atau tidur di kamar mandi?” tegur Abra dari luar. Entah sudah berapa k

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   48. Mendapat Dukungan

    Serayu masih di depan meja belajarnya, tumpukan laporan menutupi hampir separuh permukaan meja. Lampu meja yang redup hanya menerangi wajah lelahnya yang tertunduk di atas kertas. Ia sempat berniat menyelesaikan satu berkas lagi, tapi matanya tak kuat menahan kantuk. Pulpen masih tergenggam di tanga

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status