MasukSeperempat abad dari umurnya, Mutia habiskan untuk mengenal Alan. Namun ketika sudah menjadi istrinya, ia baru tau serapuh dan sebobrok apa lelaki idamannya ini yang berusaha untuk melupakan Karen, cinta pertamanya yang telah tiada. Sudah tidak bisa dipersalahkan, apapun akan Mutia lakukan agar tetap mempertahankan rumahtangganya bersama Alan.
Lihat lebih banyakBerdiri dibawah tiang lampu merkuri diujung jalan sembari memainkan ponsel. Itulah yang Alan lakukan selama tiga jam ini. Padahal jalan di malam itu sangat sepi dan dingin. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bersahutan.
"Maaf, anda mencari siapa ya?" tegur seorang wanita mungil dengan rambut dicepol asal. Perutnya yang membesar hanya ditutupi kaos oblong dan rok pendek selutut. Dibalik wajahnya yang tertutup masker, mata Alan tidak lepas mengamati wanita itu dari atas sampai bawah. Di tangan wanita itu ada plastik besar berwarna hitam yang ia tebak merupakan kantong plastik berisi penuh sampah. Raut ketakutan mulai tercetak di wajah wanita itu. Segera diletakan kantong sampah itu ke dalam bak dan bergegas kembali masuk kedalam rumah. Meninggalkan Alan yang tetap dalam kebisuan. Tidak lama berselang, muncul sebuah mobil SUV yang tiba saja berhenti didepan Alan. Meski sang pengemudi tidak menurunkan kaca mobilnya, Alan tau bahwa ia harus menaiki mobil ini. Mutia berusaha menahan bibirnya untuk tidak berkata apapun saat Alan berusaha mengajaknya bicara dan memandangi dirinya yang fokus menyetir. Ketika sudah berada dalam kamar dan Alan masih bersikeras berusaha menjelaskan semua, Mutia lebih memilih mengabaikannya untuk segera tidur. Sakit hati, tentu. Wanita mana yang tidak sakit hati membututi suaminya yang pergi entah kemana ternyata berdiri di bawah tiang lampu merkuri yang ada di depan rumah Kevin, kembaran mantan kekasihnya. Apalagi mantan kekasihnya itu adalah Karen, wanita yang telah tiada. Jika barusan malah Kevin yang keluar untuk membuang sampah dan kembali bertemu dengan Alan, Mutia yang masih berada dalam mobil mengawasi dari jauh sudah tidak tau harus berbuat apa. Sudah setahun mereka menikah, dengan segala perhatian serta pengorbanan yang dirinya lakukan, Mutia berharap Alan akan melupakan Karen dan menoleh padanya. Nyatanya sampai sekarang usahanya sia-sia, ia sudah tidak ingin tau apa yang tengah suaminya itu harapkan sampai kembali mendatangi rumah Kevin padahal Karen telah tiada. Sudah hampir tiga bulan ini Alan tidak melakukan itu dan biasanya Alan tidak menguntit sedekat ini. Alan ternyata lebih introvert dari yang Mutia duga. Hasil stalkernya selama bertahun-tahun tidak berguna. Seperempat abad umur yang ia habiskan untuk mengenal Alan, ketika sudah menjadi istrinya Mutia baru tau serapuh dan sebobrok apa pria idamannya ini. Awal mula terungkap, Mutia harus menahan pahit mengetahui inisial MK yang terukir pada cincin di jari manisnya bukanlah inisial dari namanya, Mutia Karina. Melainkan kepanjangan dari Michela Karen, nama seorang gadis yatim piatu miskin yang bekerja sebagai barista di Cafe Oliver dan enam bulan lalu meninggal dunia akibat kecelakaan. Ia memiliki satu saudara lelaki bernama Michael Kevin yang juga bekerja disana. Mereka kembar fraternal, wajah mereka mirip namun jenis kelamin mereka berbeda. Kematian Karen yang mendadak, tentu membuat Alan dan Kevin sama-sama terpukul. Itu pula yang membuat Kevin sudah enggan untuk melihat Alan yang ia anggap menjadi penyebab kematian Karen, sedangkan Alan masih saja terus mencari Kevin hanya agar bisa terus merasakan kehadiran Karen. Tentu fakta ini sangat membuat Mutia terpukul, ia jadi paham mengapa dulu Alan sangat sering mengajaknya untuk mengunjungi Cafe yang terletak di persimpangan jalan dekat rumahnya itu. "Maaf, anda jadi pesan apa?" tegur lelaki berambut ikal dengan tag-name Aryo. Kegetiran seketika menyergap Mutia yang tengah mengamati Kevin yang sedang melayani pelanggan lain. Dirinya sampai dibuat tergagap hanya untuk menjawab, "Moccacino satu." Rahang tegas dengan tatapan meneduhkan. Kelincahannya berinteraksi, dilengkapi lesung pipit ketika lelaki berkulit sawo matang itu tersenyum. Pesona maskulin yang dipancarkan Kevin entah mengapa dapat mengilas dan mengaduk-aduk harga diri Mutia sebagai seorang wanita. Sudah bisa dibayangkan betapa cantiknya Karen yang menawan di mata Alan hanya dengan memandangi Kevin seperti ini. Fakta berbagai foto mesra Alan bersama Karen yang tersimpan rapi dalam dompet Alan membuat Mutia saat itu sampai banting piring upaya menuntut penjelasan dari pria yang disebutnya suami. Sedang Alan sudah tidak bisa mengelak ketika foto itu ada di tangan Mutia. Ada rasa bersalah, namun apa boleh buat semua sudah terjadi. "Jadi kamu nikahin aku, karena... " Hanya isak tangis yang terdengar setelahnya, Mutia tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Alan. Pria yang tampan, cerdas dan mapan. Pria sempurna yang telah bertahun-tahun Mutia kenal. Pria yang selalu ia puja dan ia dambakan. Sanjungan saat Alan menikahinya bikin iri hati seluruh wanita. Dari awal mengenal Alan, Mutia tidak pernah luput untuk menstalkernya dari siang hingga malam dan selama ini pria itu tidak pernah menunjukan celah apapun. Alan yang selalu menjadi pusat perhatian seluruh siswa di sekolah terlihat tegas dan berwibawa. Saat sudah menjadi artis di bawah naungan agensi Starblue manajemen, perusahaan tempatnya bekerja pun, pria dengan nama lengkap Alan Ryan itu selalu terlihat dingin dan mempesona. Alan sangat terjaga, santun dan tidak pernah terlihat menyentuh wanita lain karena Mutia kira itu bentuk penghormatan. Tapi ternyata... "Dia sudah tiada, dan aku juga sudah nikahin kamu demi bisa melanjutkan hidupku." Mendengar pengakuan Alan sontak membuat gelas di genggaman tangan Mutia yang tadi hendak ia banting, luruh dengan sendirinya bersama tubuhnya yang kini terduduk di lantai. Rasanya Mutia ingin lari. Pergi sejauh-jauhnya. Tapi ia tidak tau harus kemana. Alan satu-satunya yang dia miliki. Alan adalah dunianya. Rumah dan tujuan hidupnya selama ini. Hal itu diawali hanya dari tindakan kenangan kecil yang Alan lakukan untuk Mutia. "Nih buat kamu!" Alan yang saat itu masih berumur 5 tahun menyodorkan susu coklat kepada Mutia yang sedang menangis sambil berjongkok di pekarangan samping. Rumah mereka bersebelahan, maka dari itu dengan mudah Alan menemukan dirinya ada disana. Usapan tangan Alan pada rambut Mutia untuk menghentikan tangisnya, kala itu membuat jantung Mutia berdebar kencang. Meski selanjutnya Alan ikut berjongkok disampingnya, Mutia masih terus menangis sesenggukan sebab kedua orangtuanya akan dimakamkan. Alan yang melayat bersama kakeknya pun jadi enggan untuk pulang saat kakeknya kembali mengajaknya pulang. Walau proses pemakaman kedua orangtua Mutia telah usai, Alan yang tidak tega melihat Mutia lebih memilih terus menemaninya berjongkok di pekarangan samping rumah mereka. Sesimpel itu bagaimana bisa seorang anak lelaki tetangga sebelah bernama Alan Ryan yang hidup bersama kakek dan neneknya berhasil menempati seluruh ruang di hati Mutia. Semenjak saat itu, Mutia yang masih berkuncir dua mengekori Alan kemana-mana hingga mereka dewasa. Setelah menikah, Mutia mencoba berjuta cara agar Alan tetap disisinya dan melupakan Karen. Walau terlambat untuk dipersalahkan, mungkin ini yang dinamakan terlanjur cinta. Jadi siapapun yang Alan cinta selain dirinya, Mutia akan tetap cinta.Entah harus mulai dari mana, Alan tak mampu bercerita maupun menjelaskan apapun ketika Farel menyudutkannya tentang kebenaran video berdurasi 15 menit yang menampilkan wanita mirip Karen terekam CCTV melakukan bunuh diri dengan menabrakan diri ke sebuah truk viral di sosial media. Video itu tiba saja tersebar tepat keesokan hari setelah foto - foto mesra Alan bersama Karen terekspos di ajang bergensi Indonesia Entertaiment Award 2022. Mutia yang tengah memonitor jutaan hate komen di halaman website fansbase Alanisme juga memilih bungkam ketika Farel berganti menanyainya. "Kalian menganggap aku patung, hah! Jika kalian tetap diam tentang video sinting editan itu, maaf aku angkat tangan dan kita berhenti sampai disini!" bentak Farel. Sebagai manajer Alan, ia merasa dikorbankan atas semua hal gila ini. Dimana sudah dua hari Alan dan Mutia mengurung diri di rumah dan tidak memberikan klarifikasi apapun terhadap media, padahal spekulasi media kian memanas. Banyak job pemotretan majalah h
Malam ini berbeda dengan malam kemarin dan bahkan sebelumnya belum pernah terjadi, dimana Alan tiba-tiba berinisiatif memasakan makan malam untuk Mutia. Walau Mutia heran dengan perilaku tidak biasa suaminya, ia lahap sampai habis capcay sosis yang disajikan. "Ada yang ingin aku bicaran..." mulut Mutia yang masih sibuk mengunyah membentuk seulas senyum tipis mendengar ucapan Alan barusan. Sudah ia duga, pasti Alan ada maunya. "...ini tentang Tika, aku..." Alan nampak ragu ingin mengucapkan kalimat dalam otaknya, "kamu mau ngajak dia dan Kevin tinggal bareng kita disini, gitu?" lanjut Mutia yang mudah menebak alur berpikir suaminya itu. Mata Alan membulat sempurna, didetik berikutnya ia hanya mampu memohon pada Mutia, "Boleh ya Tia, ku mohon! Tidak ada maksud lain, ini ku lakukan murni untuk kompensasi atas apa yang sudah ku perbuat sampai foto Tika tersebar dimana-mana. Kamu juga tau penghasilan Kevin tidak seberapa, dan rumah mereka masih kredit. Meski mereka punya pembantu tap
Teringat jelas saat Kevin mengucapkan, "Selamat malam, nona. Terima kasih sudah mau menunggu." sebagai kalimat pembuka obrolan dengan Mutia. Setelan seragam Cafe Oliver yang biasa saja terlihat sangat stylish di tubuh kekar Kevin. Senyum tipisnya mempertegas garis rahang yang menawan. Mutia akui, dengan tampang seperti ini keberadaan Kevin sulit untuk diabaikan. "Perkenalkan, saya—" "Berita pernikahan Alan ada dimana - mana. Mustahil saya tidak tahu siapa nama nona." sergahnya cepat, menghentikan Mutia memperkenalkan diri. "Langsung pada intinya. Apa yang nona ingin sampaikan sampai menemuiku kemari?" "Saya turut berduka cita atas meninggalnya Karen, tapi saya mohon mulai sekarang tolong anda jauhi Alan dan jauhkan pula seluruh kenangan tentang Karen dari hidupnya." Dan sebelum Kevin berhasil membalas apa yang Mutia ucapkan. Mutia meraih ponsel Kevin, mengetikan nomer ponselnya disana dan melakukan sekali panggilan agar nomer pria itu ada dalam radarnya yang ia lakukan. Setelah
Seulas senyum di bibir Alan terbit menatap wajah teduh Karen yang masih terlelap disampingnya. Sebuah kecupan Alan layangkan tepat disana, di bibir Karen yang tipis dan menggoda. Karen tarik tubuh Alan dalam dekapannya, menyadarkan Alan bahwa ia itu telah bangun dari tadi dan hanya pura-pura tidur. Matahari kian merangkak keatas. Debaran jantung kian berpacu. Terpaut dengan cumbu yang sangat candu. Baik Alan maupun Karen enggan untuk beranjak, aktivitas malam mereka rasa belum tuntas. Sayangnya Kevin tiba saja hadir diantara mereka dan menggeret tubuh Alan keluar kamar. Teriakan frustasi Karen yang melerainya pun tidak Kevin hiraukan."Jauhi Karen!" bentak Kevin singkat dan saat Alan akan bertanya apa alasannya, pintu apartemen dihadapannya langsung tertutup rapat dan tidak pernah terbuka lagi untuknya.Jalinan kasih sesaat antara Alan dan Karen yang ditentang berbagai pihak itu namun mampu mengoyak hidup Alan. Dirinya sempat memakai narkoba untuk bisa melupakan Karen. Jika saja Farel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.