LOGINAurell yang kecewa, putus asa dengan amarah yang memucat, karena gagal menikah. menarik seorang pria yang di temui nya di depan gedung,untuk menggantikan sang kekasih sebagai calon pengantin. aurell yang sejak kecil di kucilkan oleh keluarga nya, semakin di hina ketika dirinya menikah dengan seorang lelaki yang di anggap gembel. * * Aksa baru saja tiba di Indonesia, ingin memberikan kejutan kepada sang kekasih dan ingin menepati janjinya untuk melamar sang kekasih. namun sesampainya di tempat tinggal sang kekasih yang bernama alinea. dia malah di suguhkan pemandangan sang kekasih yang sedang bercumbu dengan lelaki lain. di tengah luka yang ia rasakan, tiba tiba saja datang seorang wanita yang mengajaknya untuk menikah, melihat sorot mata yang sama dengan nya, mata penuh luka. Aksa tanpa ragu menyetujui penawaran dari wanita itu.
View More"alin, kamu selalu membuat ku kecanduan di pagi ini... kamu itu selalu terasa nikmat.. aaahh"
desahan suara berat seorang pria terdengar di balik pintu yang tidak tertutup rapat dengan sempurna. terdengar suara desahan pelan yang terdengar begitu dalam. Aksa yang baru saja ingin mengetuk pintu rumah, langsung terpaku di tempat. jantung nya berdegup kencang tak karuan. suara-suara itu menganggu pikiran nya,suara yang memuji sang kekasih. wanita yang ia perjuangkan, wanita yang ingin di lamarnya hari ini. "apa yang sedang mereka lakukan" gumamnya. pikiran nya berlari liar di otak nya. mencoba menepis kemungkinan buruk di dalam pikiran nya. apa mungkin mereka sedang bercanda? atau mungkin itu bukan alin? namun nama itu.. "sayang... pelan-pelan yah...! " kali ini suara alinea yang terdengar, suaranya parau. seperti menahan sesuatu, suara napas yang tersengal dalam irama yang tak pantas. tubuh Aksa pung menegang, tangannya pung gemetar. ia ingin menepis suara itu dari indra pendengarnya tapi iya tak bisa. ia ingin mundur, dan pergi saja tapi tak bisa otak ini menuntut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. "mendesah sayang ayo mendesah aku ingin mendengar desahan dari mulut mu sayang.. ayolah" dada Aksa semakin berdegup kencang napasnya mulai tersengal di saat mendengar panggilan 'sayang' yang di berikan lelaki itu kepada sang kekasih. "mas aaahh... lebih cepat lagi, mas! aahh sampai dalam lagi mas" mata Aksa membola sempurna dan terpaku pikiran nya jelas bisa membaca situasi yang terjadi saat ini. namu,hatinya ingin memastikan semuanya. takut terjadi salah paham. dengan dada yang berdegup, ia memberanikan diri untuk membuka pintu pelan-pelan, ia berusaha tak membunyikan suara. namun begituh celah pintu terbuka, matanya langsung membelalak. di depan sana, sang kekasih yang selama ini di perjuangkan selama bertahun-tahun, yang ia jaga dan lindungi. tengah berada di dekapan lelaki lain di atas sofa ruang tamu. nyaris tanpa busana, desahan yang keluar dari mulut mereka Bersahut-sahutan. pandangan di depan matanya menghantam hatinya seperti serangan berturut-turut. buke bunga yang di bawahnya terjatuh ke lantai, suaranya cukup keras. tapi dua manusia yang memadu kasih itu tak kunjung sadar. sakit yang teramat sangat di rasakan. seakan seluruh tubuhnya tertusuk ratusan duri. dadanya sesak, napasnya tercekik oleh kenyataan di depan nya yang terlalu pahit untuk di Terima. "berengsek! kurang ajar kau! " teriak nya meledak tanpa bisa di tahan lagi. mendengar suara teriakan barulah dua manusia yang memadu kasih itu tersentak. alinea_alin menjerit kecil dengan gerakan cepat mendorong tubuh pria yang masih menindih badanya. panik di wajah alin terlihat jelas. namun berbeda dengan sang pria, yang terlihat begitu santai nya berdiri perlahan memungut dres dan memakaikan nya ke tubuh alin, seolah hal begitu udah biasa. "mas Aksa ... ini.. aku bisa jelasin, tapi jangan marah dulu oke" Aksa melangkah masuk, napasnya mulai memburuh, matanya memerah menahan gejolak amarah yang kian menumpuk. "apa kurang dan salahku sampai kamu berbuat begini hingga mengkhianati ku seperti ini"suaranya mulai bergetar " belum cukup semua yang ku lakukan selama ini untuk mu? aku menanggung pendidikan mu, dan biaya hidupmu tapi ini yang kau berikan untuk ku, sebuah penghianatan " alin berdiri membenahi rambut dan dress nya, berusaha berbicara "tolong.jangan marah dulu, oke! kita bicarakan secara baik-baik?... sebenarnya aku.. " "sudah lah buat apa lagi sih di sembunyikan" ucap sang pria santai. memotong ucapan yang belum selesai dari alin yang berada di sampingnya, dan kini pria itu mengenakan celana nya dengan santai. "kita bahkan udah dua tahun pacaran kan, dan juga sebentar lagi kita akan menikah bukan, lagi pula, kamu kan sendiri yang bilang lebih mencintai ku yang kaya ini. dari pada si dia yang cuma modal tampang doang, yang jadi babu di luar negeri. Aksa mengepalkan tangan, tubuhnya bergetar karena amarah, tapi dia berusaha menahan diri. matanya seakan ingin membakar pria itu Hidup-hidup. "dua tahun yah? selama itu, berarti sejak aku pergi kamu malah malah berdua dengannya yah? lalu untuk apa semua penantian ku ini, kamu sengaja untuk membohongi ku, dan menipu ku" sebelum alin menjawab, tersengar suara lain dari arah belakang. "aku pun tidak setuju kalau putirku menikah denganmu" ibunya alin berdiri di ambang pintu. wajahnya, dagunya terangkat penuh kesombongan. "coba lihat lelaki yang bersama alin sekarang, dia itu orang kaya. dia punya minimarket dan beberapa toko. kalau kamu itu tidak sepadan. jadi lupakan mimpi mu untuk menikahi putri ku" ia berjalan maju berdiri di samping alin sang putri "putri ku berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari kamu. lebih sekedar lelaki yang hanya menjadi babu di luar negeri". Aksa terpaku, mendengar ucapan dari ibunya alin seakan dirinya di tampar berkali-kali. bukan saja sang kekasih, bahkan ibunya pun ikut adil menusuk nya diri di dalam hatinya. Aksa tak dapat berkata apa apa lagi. menghela napas dalam-dalam, menatap sang kekasih, lalu memasukkan kalung yang tadi hendakbia berikan ke dalam saku celananya. "baik kalau begitu, jika kita ketemu, anggap saja kita tidak pernah saling kenal sebelum nya,dan jangan pernah sebut namaku" alin yang mendengar itu mendengus kesal, "pergi sana! dasar pria miskin! memangnya kamu kira saya pengen ketemu dengan mu" Aksa menutup mata sebentar lalu menarik napas dalam-dalam, kemudian membelikan badan dan keluar dari rumah itu. cincin lamaran yang sudah ia siapkan untuk sang kekasih entah jatuh di mana. mungkin jatuh bersama buket nya atau mungkin semesta pun tak merestui rencana ini. Aksa berjalan tak tentu arah ,menyusuri jalan yang juga begitu sepih, seperti hatinya saat ini. namun entah kenapa, langkah kakinya malah membawa nya berbelok dan duduk di samping jalan dekat sebuah gedung "berengsek kau! kamu pikir bisa memperlakukan diriku seperti ini? memang nya mereka pikir mereka siapa" Aksa seperti orang gila yang tertawa sendirih.Aurell mendengus kesal, kemudian tertawa pelan namu terdengar menyakitkan. "kalau kami nggak mau melakukan semua itu, apa yang akan kalian lakukan? " semua mata kini tertuju padanya. "kenapa tidak kalian saja yang membereskan kekacauan ini?" ucap Aurell menantang mereka. "bukannya perut yang perlu di isi itu kalian semua, kan? lalu kenapa kita yang harus repot-repot mengurusnya. apa kalian pikir kami ini pelayan di sini? " "beraninya kamu....! " bu Citra melangkah maju, tapi belum sempat ia mengeluarkan amarahnya, bu Alissa segera menarik lengan adiknya. "sudah-sudah jangan di perpanjangan, nanti mereka tambah melawan kita" bisiknya pelan, kemudian ia menatap Aurell dengan wajah yang di buat sebijak mungkin. "oke oke, baiklah. kalian boleh istrahat hari ini,kami akan memberikan waktu untuk kalian beristirahat. tapi..... dengar kan baik-baik besok kalian tetap harus membantu kami untuk memasak. dan untukmu Aurell jangan dulu kembali ke kota pada hari senin besok... kam
"hah, kelamaan basa-basi dengan kalian lebih baik kita temui ibu saja" ujar bu Marissa, ia segera melangkah meninggalkan tempat itu di susul yang lainnya. "bu, bagaimana ini, mereka benar-benar ingin menemui nenek. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan nenek. apalagi kondisinya sekarang ini sedang tidak baik-baik saja" Aurell terlihat begitu cemas. di dalam hati bu kamala sejujurnya juga khawatir. tetapi ia berusaha tetap terlihat tenang. "tak perlu khawatir. tidak akan terjadi sesuatu pada nenek, dia akan baik-baik saja"Aksa menunjukkan kunci ruangan nenek yang telah ia amankan. Bu Kamala dan Aurell menghela napas dengan lega. bu Kamala pun menyusul saudara-saudaranya tapi dengan langkah yang pelan.dia hanya ingin memastikan kalau mereka tidak bisa memasuki ruangan bu debbira. "kurang ajar, siapa yang telah mengunci ruangan tempat ibu. kembalikan kuncinya padaku sekarang juga" bu Marissa menoleh ke belakang dengan wajah marah. namun, belum sempat dari mereka ada yan
bu Marissa mundur setengah langkah, ia merasa sedikit takut dengan tatapan yang di berikan oleh Bu Kamala. ia merasa wanita di depannya ini sedikit berbeda, tapi egonya mengalahkan semuanya. ia berusaha tetap keliatan kuat di depan bu Kamala. "dengar dan ingat, aku baka aduin kamu ke ibu. kamu udah nggak mau urus rumah ini lagi" Bu Kamala maju satu langkah. "silahkan! kamu pikir aku takut dengan ancaman mu itu" katanya dengan suara berat yang penuh emosi. tanganya bergerak meraih baju bu Marissa dan menarik nya untuk mendekat. "selama ini aku diam karena aku menghormati keinginan ibu. tapi kalian semua sudah keterlaluan!. selalu pakai ibu buat bikin aku nurut dengan perintah kalian. kalian itu taunya cuma bisa teriak teriak, nggak pernah tahu rasanya kerja di rumah besar ini dari pagi sampai malam kan". Aksa menyipitkan mata nya, senyum kecil terukir di sudut bibirnya. akhirnya mertuanya yang pendiam dan penurut itu mulai menunjukkan taringnya juga. "Kamala, lepasin tang
suasana kamar yang kecil dan mungil itu terasa sunyi. terdengar suara derit pelan dari kipas angin tua di sudut langit-langit. sedangkan di luar sana, suara jangkrik bersahut-sahutan. seolah-olah tahu kalau malam ini adalah malam pertama bagi dia orang yang baru saja resmi menjadi suami istri. Aurell duduk di pinggir ranjang, menunduk. sementara Aksa sudah berbaring menyandarkan diri ke dinding, sesekali ia melirik sang istri dengan senyuman yang di tahan tahan. "tempat tidur ini sempit yah. mas" ucap Aurell pelan. tanpa menoleh ke arah Aksa "pasti mas Aksa nggak merasa nyaman tidur di sini"Aksa menoleh pelan. nada suara nya ia buat senyaman mungkin. "justru itu bagus, kalau sempit begini kan nggak ada jarak di antara kita lagi, dan kita malah bisa berpelukan loh. "Aurell spontan merenggut, wajahnya memerah karna malu. "tadi mas Aksa katakan kita ini baru pacaran. mana bisa ada orang pacaran langsung tidur bersama.? "Aksa tertawa pelan mendengar ucapan sang istri yang terlihat
Azalea pun menyipitkan matanya, tak Terima dengan ucapan Aurell. "tentu saja mas Zaki akan memilih ku!, kamu itu hanya bekas, bekas dari mainan banyak lelaki. mas Zaki pun tau semua rahasia tentang mu. kamu itu barang bergilir kan Aurell" Aurell yang mendengar ucapan itu pun akhirnya terperang
Aurell menunduk, lalu berkata dengan lirih. "maaf yah.. tadi aku nangis karena... aku tersentuh saat mendengar bacaan sholat dari mas Aksa.. begitu merdu banget,dan begitu terasa tenang. aku malu karena aku pikir aku yang selama ini berpendidikan malah belum tentu bisa sebaik itu mas" Aksa men
"Aurell, jangan perna ngomong seperti begitu yah, aku tidak ingin kamu berbicara seperti itu" Ia menatap Aurell dengan tatapan tajam, bukan karena ia marah, tapi karena ia kecewa"pernikahan bukan sebuah permainan, aku tahu pernikahan ini mendadak. bahkan nyaris absurd, tapi itu bukan sebuah alasa
Rumah kecil itu berada di dalam rumah panjang itu, dengan ruangan yang sempit. tapi penuh dengan banyak kenangan, tumpukan pengorbanan, air mata, dan perjuangan mereka yang tidak perna di lihat oleh siapa pun. Aksa mengekor di belakang mereka, membawa sebuah tas kecil yang entah apa isinya. ia t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.